RSS

Category Archives: Hadits

Renungan Bagi Selfie & Wefie-isme

(Shollallohu ‘alaihi wa Sallam)

Dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu anhu; sesungguhnya Rosululloh Shollallohu alaihi wa Sallam pergi menuju kuburan lalu (ketika tiba di kuburan) mengucapkan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ ، وَدِدْتُ أَنِّي قَدْ رَأَيْتُ إِخْوَانَنَا . قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! أَلَسْنَا إِخْوَانَكَ ؟ قَالَ : بَلْ أَنْتُمْ أَصْحَابِي ، وَإِخْوَانِي الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ يَأْتِي بَعْدَكَ مِنْ أُمَّتِكَ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لِرَجُلٍ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ فِي خَيْلٍ بُهْمٍ دُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ ؟ قَالُوا : بَلَى . قَالَ : فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ الْوُضُوءِ ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ

“Salam atas kalian wahai penghuni (kuburan) tempat orang-orang beriman. Aku Insya Alloh akan menyusul kalian. Aku ingin sekali berjumpa saudara-saudaraku.’ Mereka (para sahabat) berkata, ‘Wahai Rosululloh, bukankah kami saudaramu?’ Beliau bersabda: ‘Kalau kalian adalah para sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka (orang-orang beriman) yang belum ada sekarang ini dan aku akan mendahului mereka di telaga.’ Mereka berkata, ‘Wahai Rosululloh, bagaimana engkau mengenali orang-orang (beriman) yang datang setelah engkau dari kalangan umatmu?’ Beliau bersabda: ‘Bukankah jika seseorang punya kuda yang sebagian kecil bulunya putih akan mengenali kudanya di tengah kuda-kuda yang hitam legam?’ Mereka menjawab, ‘Ya’ Beliau berkata: ‘Sesungguhnya mereka akan datang pada hari kiamat dengan cahaya putih karena wudhu. Dan aku akan menunggu mereka di telaga (Al – Haudh).” (HR. Muslim, no. 249, Nasai, no. 150. Silsilah Ash-Shohihah, no. 2888)

 
Leave a comment

Posted by on 8 April 2017 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Mutiara Hadits Hari Ini

“Dan sesungguhnya apabila kamu tidak ridho – senang – terhadap ketentuan (syari’at dan bagian nikmat)-Ku kepadamu…Demi Kekuasaan dan Kemuliaan-Ku, Aku akan menjadikan kesusahan dunia atasmu! Dan kamu akan berlari – lari mengejar dunia seperti hantu – hantu yang berlarian di malam hari…”

“Kemudian kamu tidak akan mendapatkan apapun (dari segala ‘amal dan do’a), kecuali apa yang aku telah tetapkan atasmu saja (di Lauhul Mahfuzh)…-tidak adanya keberkahan dari-Nya-”

Muhammad SAW

***

1. Larangan untuk membuka aib dan jejak dosa dan kemaksiatan sendiri dalam sarana apapun termasuk akun media sosial:

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam., bersabda: “Sesungguhnya Alloh akan mendekatkan seorang mukmin (kepada-Nya), lalu Dia akan meletakkan tirai-Nya padanya dan menutupinya (hijab penghalang mukmin tersebut dari orang lain). Kemudian Alloh berfirman kepadanya: ‘Apakah engkau mengetahui dosamu yang ini? apakah engkau mengetahui dosamu yang ini?’ Orang mukmin itu berkata: ‘Ya, wahai Robbku.’ Sehingga jika Alloh telah menjadikan orang mukmin itu mengakui dosa – dosanya, dan dia melihat dirinya pasti akan celaka. Alloh berfirman: ‘Aku telah menutupinya (dosa – dosa tersebut) di dunia, dan sekarang Aku akan menghapusnya untukmu pada hari ini (Hari Akhir).’ Kemudian buku kebaikan – kebaikannya diberikan kepadanya. Adapun orang – orang kafir dan orang – orang munafiq, maka para saksi mengatakan: ‘Mereka ini orang – orang yang mendustakan Robb mereka. Ketahuilah! Laknat Alloh menimpa orang – orang yang zalim.’ (HR. Ahmad)

2. Orang – orang jahil yang berfatwa tentang ‘ilmu agama:

Dari Abdulloh bin Amru bin ‘Ash Rodhiyallohu ‘anhu., dia berkata:

Aku mendengar Rosululloh Shollalohu ‘alaihi wa Sallam., bersabda: “Bahwasanya Alloh tidak akan mencabut (menghilangkan) ‘ilmu agama dengan sekaligus dari manusia. Tetapi Alloh akan menghilangkan ‘ilmu agama dengan mematikan para ‘ulama. Apabila tidak ada lagi para ‘ulama, orang – orang akan memilih orang – orang jahil – bodoh – sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang jahil itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ‘ilmu. Mereka itu sesat dan menyesatkan orang lainnya.”

(HR. Muslim)

3. Apa – apa yang diharomkan Rosululloh = diharomkan Alloh Ta’ala:

Dari Miqdam Rodhiyallohu ‘anhu., dia berkata:

Bahwasanya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam., bersabda: ‘Hampir tiba suatu zaman dimana seorang lelaki yang sedang duduk bersandar di atas kursi kemegahannya, lalu disampaikan kepadanya sebuah hadits dari haditsku, maka ia berkata: ‘Pegangan kami dan kamu hanyalah Kitabulloh saja. Apa yang dihalalkan oleh Al – Qur’an kami halalkan. Dan apa yang ia haromkan kami haromkan.’ Kemudian Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam melanjutkan sabdanya: ‘Padahal apa – apa yang diharomkan Rosululloh samalah hukumnya dengan apa yang diharomkan Alloh Jalla Jalaluhu.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

4. Penyakit ummat – ummat terdahulu:

Dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘anhu., dia berkata:

Aku mendengar Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam., bersabda: ‘Ummatku akan ditimpa penyakit – penyakit yang pernah menimpa ummat – ummat terdahulu.”  Para sahabat bertanya: “Apakah penyakit – penyakit ummat – ummat terdahulu itu? Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam menjawab:

  1. Terlalu sombong

  2. Terlalu mewah

  3. Mengumpulkan harta sebanyak mungkin

  4. Tipu – menipu dalam merebut harta benda dunia

  5. Saling marah – memarahi

  6. Dengki – mendengki (hasad), sehingga saling dzalim – mendzalimi.

(HR. Hakim)

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 24 October 2016 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Nasihat Untuk Para Muslimah Dengan Syarat Nikah Yang Banyak

[Link video dari Situs pribadi ustadz Muhammad Abdurrahman Al – Amiry.]

 

Ini adalah nasihat untuk para pemudi…Nasihat untuk para pemudi…

Jangan terlalu berlebihan dalam permintaan (syarat menikah)!

Anak perempuan semakin bertambah umurnya, maka semakin sedikit syarat – syaratnya!

Ini kenyataan, karena saya juga tinggal di masyarakat…

Dan aku tahu sebagaimana kamu juga tahu!

requirements

Ketika pemudi masih berumur 18 tahun…

Ada datang calon suami dan bertanya: “Kamu mau menikah?”

“Aku punya syarat – syarat…rumah, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, …dst”

Insya Alloh

Ketika umurnya 25 tahun…

“Kamu mau menikah?” Dia orang yang tadi bertanya (ketika dia berumur 18 tahun)

“Aku punya syarat – syarat…rumah, aku tinggal sendirian, …dst”

Ketika umurnya 30 tahun…

“Kamu mau punya syarat (dalam menikah)?”

“Ya, aku tinggal sendirian, …itu saja.”

Ketika umurnya 35 tahun…

“Apa syaratmu (dalam menikah)?”

“Yang penting agamanya! …(itu saja).”

“Hanya agama…yang penting dia bertakwa kepada Alloh!”

***

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 23 October 2016 in Hadits, Muslimah

 

Tags: ,

Merasa Aman Dari Makar Alloh

Bismillahi Ar-Rohmani Ar-Rohimi,

Assalāmu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Alhamdu lillahi Robbil ‘Aalamin. Wash Sholatu wa Sallamu ‘ala Rosulillah.

Ayyuhal Ikhwah, Alloh ‘Azza wa Jalla telah berfirman:

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٓ إِذَا فَرِحُوا بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذْنَــٰهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (٤٤)

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.(Q.S. Al – An’am (6): 44)

Hasan Al – Bashri berkata, “Barang siapa yang diberi kelapangan oleh Alloh namun ia tidak memandangnya sebagai makar-Nya, sungguh ia tidak punya pikiran. Barangsiapa diberi kesempitan oleh Alloh namun tidak memandangnya sebagai makar-Nya, sungguh ia tidak punya pikiran.” Lalu Hasan membaca penggalan ayat;

…حَتَّىٓ إِذَا فَرِحُوا بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذْنَــٰهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Ia juga berkata, “Makar terhadap suatu kaum itu – Demi Robb Ka’bah – segala keperluan mereka dipenuhi, lalu mereka diazab.”

help

‘Uqbah bin ‘Amir Rodhiyallohu anhu berkata, Rosululloh Shollallohu alaihi wa Sallam bersabda:

“Apabila kamu melihat Alloh memberikan kepada seseorang apa yang ia sukai, padahal dia tetap dalam kemaksiatannya, maka itu adalah istidroj dari-Nya.” Lalu Rosululloh membacakan ayat di atas (Al – An’am (6): 44). (Diriwayatkan oleh Ahmad: 4/145, Ad – Daulabi (Al – Kunâ) (1/111), Ath – Thobroni (17/330/913), Al – Ausath (9272), Ibnu Abi Dunya dalam Asy – Syukr (hal: 9), Al – Baihaqi Asy – Syu’ab (4540) dan dishohihkan di dalam Ash – Shohihah (414)).

Al – Iblasu (dari kata Mublisun di ayat di atas) artinya rasa putus asa untuk dapat selamat pada saat datangnya kehancuran.

Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu anhu berkata, “Mereka berputus asa terhadap semua kebaikan.”

Al – Zajjaj berkata, “Al – Mublis adalah orang yang sangat besar rasa penyesalannya, rasa putus asanya dan rasa sedihnya.”

Dari Anas bin Malik Rodhiyallohu anhu, adalah Nabi Shollallohu alaihi wa Sallam banyak membaca do’a:

يَا مُقَلِّبَلْ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوْ بَنَ عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai (Dzat) yang membolak – balikkan qolbu, teguhkanlah qolbu kami di atas Dien-Mu!”

Seseorang bertanya, “Wahai Rosululloh, apakah anda khawatir terhadap kami?” Beliau menjawab:

إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلْبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

“Sesungguhnya qolbu manusia itu berada di antara dua jari dari jari – jari Ar – Rohman. Dia membolak – balikkannya sekehendak-Nya.” (HR. Tirmidzi: 2140 dan Ibnu Majah: 2834. Dan baginya beberapa hadits pendukung yang membuat hadits ini meningkat menjadi Shohih).

Dari Ibnu Mas’ud, disebutkan dalam sebuah hadits:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَايَكُوْنَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا

“Sesunguhnya ada seseorang yang benar – benar mengerjakan ‘amalan ahli surga sehingga ketika jarak antara dia dan surga itu tinggal sehasta – karena ketetapan telah mendahuluinya – ia pun mengerjakan ‘amalan ahli neraka dan masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhori: 7454 dan Muslim: 2643)

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 2 October 2016 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Hikmah Larangan Muslimah Safar Tanpa Mahrom

Bismillahi Ar-Rohmani Ar-Rohimi,

Assalāmu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Innal hamda lillahi, hamdan katsiron thoyyiban mubārokan fiihi. Wash Sholatu wa Sallamu ‘ala Rosulillah.

Akhwati Fillah, Alloh Ta’ala telah berfirman dalam Qur’an dengan peringatan lembut nan keras:

وَمَآ ءَاتَــٰـكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَــٰـكُمْ عَنهُ فَنْتَهُواْ ۚ وَاتتَّقُواْاللّهَ ۖ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُالْعقَابِ (٧)

Apa yang diberikan Rosul kepadamu, maka terimalah! Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah! Dan bertakwalah kepada Alloh! Sesungguhnya Alloh amat keras hukumannya.(Q.S. Al Hasyr (59): 7)

Muslimah yang dirohmati Alloh Ar- Rohman Ar-Rohim. Banyak sekali ayat Qur’an dan hadits Nabawiyah yang secara khusus dan umum disampaikan kepadamu sekalian, tidak lain dan tidak bukan melainkan untuk menjaga hal – hal yang sarat penuh makna dalam maqoshid syari’ah, yaitu maksud – maksud diturunkan hukum – hukum syari’at, yang biarpun tidak secara langsung kita pahami dan rasakan, namun tekandung di dalamnya kemuliaan untuk kalian.

Tidaklah Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya melarang kalian dari suatu ‘amal perbuatan, melainkan di dalamnya ada mafsadat/ kerusakan dan mudhorot/ keburukan-kerugian yang akan diterima apabila tetap dilakukan. Mafhum mukholafah-pemahaman terbaliknya adalah; tidaklah Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya menyuruh bahkan mewajibkan kita akan suatu ‘amal perbuatan, melainkan di dalamnya ada maslahat/ keuntungan dan pahala yang akan diterima apabila dilakukan.

Di masa saat ini banyak sekali muslimah melakukan pelanggaran dosa, yang secara sadar ataupun tidak sadar dosa awal yang mereka lakukan akhirnya membuka dosa lainnya yang lebih besar, bahkan Na’udzubillah…dosa ini akan berkembang terus seperti halnya multi level biarpun kita telah dicukupkan umur kita sesuai taqdir-Nya. Salah satu dosa yang bisa kita lihat di sekitar kita adalah ber-safar tanpa mahrom.

maribaya

Safar, adalah perjalanan/ bepergian ke luar daerah/ kota tempat tinggal, dengan batasan kaidah jarak dan definisinya berdasarkan ‘urf/ kebiasaan di masyarakat.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya wanita itu adalah aurot, maka apabila keluar, syaithon akan menghiasinya.” (Dikeluarkan oleh Al Bazzar dan At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Irwaul Ghalil jilid I)

Bagi para muslimah yang bekerja di luar rumah dengan alasan untuk membantu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga dan aktualisasi diri, sangat umum safar tanpa mahrom dilakukan apabila diberi tugas luar kota, training peningkatan kompetensi skill dan keilmuan, bahkan mungkin acara ulang tahun perusahaan dan juga acara family gathering yang settingannya dibuat sampai harus menginap di luar kota, menghadiri acara pernikahan teman di luar kota/ pulau, acara reunian teman sekelas/ kuliah, berlibur ke pantai/ gunung/ desa/ pulau/ taman wisata, dan lainnya.

Bagi para muslimah yang sedang duduk di bangku pendidikan, safar tanpa mahrom untuk acara hiking-naik gunung atau susur pantai dengan para kelompok pencinta alam, pemberian bantuan relawan musibah di suatu daerah, study tour atau student exchange, atau bahkan mungkin acara tadabbur alam dengan anggota DKM pengajian di sekolah atau kampus, menghadiri acara pernikahan teman di luar kota/ pulau, acara reunian teman sekelas/ kuliah, berlibur ke pantai/ gunung/ desa/ pulau/ taman wisata, dan lainnya.

Pun bahkan begitu pula bagi para muslimah yang telah bersuami, safar tanpa mahrom untuk menengok anak cucu di luar kota, mengunjungi orang tua dan kerabat, berlibur ke pantai/ gunung/ desa/ pulau/ taman wisata bahkan dengan ustadzah dalam majlis pengajiannya, dan contoh lainnya.

Hal – hal dan contoh – contoh di atas bagi semua muslimah yang belum bersuami dan juga ummahat, adalah masuk dalam kategori safar tanpa mahrom yang harom untuk dilakukan. Definisi mahrom, adalah semua pria yang masuk dalam jalur kekerabatan muslimah dan telah melewati umur baligh, yang di-harom-kan menikah dengannya. Jadi harus sangat dipahami dan diterima mau berapapun jumlah muslimah atau na’udzubillah…wanita non muslim yang menemani untuk safar tanpa mahrom, tetap harom hukumnya.

Akhwati fillah, hukum asal bagi para muslimah adalah berdiam diri di rumah. Firman-Nya yang mulia dalam Qur’an:

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَــٰـهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَوٰ ةَ وَءَاتِينَ الزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَايُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجسَ أَهْلَ الْبيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (٣٣)

“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumahmu dan janganlah kamu tabarruj – (berhias kepada selain non mahrom) dan bertingkah laku seperti wanita – wanita Jahiliyah yang terdahulu! Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Alloh dan Rosul-Nya! Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu dengan sebersih-bersihnya. (Q.S. Al – Ahzab (33): 33)

Imam Al – Qurtubi Rohimahullohu Ta’ala menafsirkan firman Alloh Ta’ala (وقرن في بيوتكن) “Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumahmu”. Makna ayat ini adalah perintah untuk tetap tinggal di rumah. Walaupun redaksi ayat ini ditujukan kepada istri – istri Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, namun secara umum maknanya mencakup selain mereka yaitu kepada semua muslimah dan ummahat.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 25 September 2016 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,