RSS

So’al: Mengingatkan Istri dan Anak Untuk Sholat dan Kebaikan

30 Jul

So’al:

Bro, saya ada pertanyaan, saya kok banyak sekali cobaan dari Alloh. Istriku tiba – tiba membatalkan keinginannya untuk berangkat pergi umroh dengan saya, anak perempuan dan menantu saya, padahal persiapan kami sudah matang. Alasannya adalah belum siap untuk umroh bersama, dan istriku bilang kalau sholatnya saja masih jarang – jarang jadinya malu dan gak siap untuk umroh. Sudah 2 tahun ini 2 kali saya pindah tempat kerja, mengumpulkan dana untuk umroh ber-empat dari pekerjaan sebagai sales itu tidak mudah, bro.

Saya bingung, bro tau kenapa saya lebih banyak sholat di rumah daripada di masjid soalnya untuk mengingatkan dan mengajak anak perempuan dan istri saya untuk sholat. Saya pun jadi malu dengan menantu saya yang baru 2 tahun masuk Islam, tapi sholat wajibnya sudah full, sudah bisa baca qur’an biarpun masih belum fasih, dan mau diajak umroh bersama.

Bro, saya sudah sering sekali mengingatkan dengan cara halus, peringatan dan sindiran kebaikan. Tapi entah kenapa kalau saya ingatkan malah marah, kelahi dan ngancam ngajukan cerai. Saya curiga istriku banyak dipengaruhi non mahrom di instagram dan WA-nya.

Jalan keluarnya bagaimana secara Islam? Amalan – amalan apa saja yang harus saya lakukan? Terima kasih atas nasihat dan petunjuk yang bagus, semoga Alloh membalas yang terbaik untuk ente, Aamiinn.

[Dari Bapak, Ayah, Bro, Akhi Kus di BPPN. Artikel diposting seizin si penanya.]

Jawab:

Bismillahi Ar-Rohmani Ar-Rohimi.

Assalamu’alaikum wa Rohhmatullohi wa Barokatuhu.

Alhamdulillahi wahdahu, Ash-Sholatu wa Sallamu ‘ala Rosulillahi. Amma ba’du.

Bapak, Ayah, Bro, Akhi yang dirohmati Alloh Ta’ala. DIA yang bersemayam di atas ‘Arsy, yang memiliki Kebesaran dan Kemuliaan, tampaknya memang sedang menguji antum dengan titipan istri dan anak wanita. Secara fitroh, memang sifat “bengkok” inilah yang diberikan Alloh kepada setiap wanita.

Dari Abu Hurairoh Rodhiyallahu anhu dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُؤْذِيْ جَارَهُ، وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْئٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا.

“Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, janganlah ia menganggu tetangganya, dan berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, maka engkau mematahkannya dan jika engkau biarkan, maka akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuat baiklah kepada wanita.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Secara umum, para ‘ulama tafsir menjelaskan “bengkok”-nya perilaku para wanita, adalah karena perilaku mereka umumnya (biarpun tidak semuanya) lebih mengedepankan perasaan daripada akal, dalil qur’an, hadits, ajakan kebaikan, sindiran kebaikan dan lainnya. Tugas kitalah untuk “mengurut – ngurut kebengkokan” dari perilaku dan pikiran mereka.

Ketika ‘Ali bin Abi Tholib RA., sedang marah/ bertikai dengan Fathimah RA., beliau pergi dan tidur di masjid beralaskan tanah, sampai Rosululloh membangunkan “Abu Thurob”-kunyah yang lebih disukai ‘Ali daripada kunyah Abu Hasan.

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“…Dan bergaullah dengan mereka (istri) dengan cara yang ma’ruf…” (Q.S. An – Nisaa’ (4): 19)

Sabar dalam mengingatkan adalah yang utama, tidak boleh berhenti, karena timbangan kebaikan akan berbanding lurus dengan kadar cobaan. Antum menyebutkan, bahkan sampai berkelahi dan istri minta ajuan cerai kalau diingatkan sholat dan kebaikan lainnya? Bukankah benar sabda Rosululloh? Mungkin masih bisa dikatakan untung, apabila istri tidak sampai keluar rumah, kembali ke rumah orang tua. Sebagai bahan sharing, kamipun sering sekali mendapat perlakuan seperti itu dari para muslimah yang termasuk mahrom kami, maupun para muslimah yang menjadi target dakwah kami. Mulai dari langkah kaki kabur berbalik arah, cibiran dari mulut dan wajah mereka, blokir kontak dan lainnya. Namun anehnya, mereka lebih merasa enjoy apabila diajak bermaksiat, dan teman – teman mereka bermaksiat tidak mendapatkan perlakuan sama seperti kepada kita.

Pada akhirnya kami hanya bisa memilih untuk mendo’akan saja semoga hidayah diberikan kepada mereka, semoga bukan istidroj yang sedang diberikan pada mereka.

Siapapun kita di masa lalu, bukan berarti kita tidak bisa menjadi muslim/ muslimah yang baik. Lalu mengapa mereka tidak percaya kalau kita atau dia bisa berubah menjadi baik?

Islam dan takwa tidak diwariskan, melainkan dengan mengamalkannya. ‘Ilmu agama itu didatangi, bukan ditunggu atau mendatangi.

Bapak, Ayah, Bro, Akhi yang dirohmati Alloh Ta’ala. Ikhwan kita di Bandung pernah memberikan pengalamannya yang bagus, ketika bagaimana dia mau mengingatkan 2 bidadarinya yang selalu kesiangan ketika waktu sholat Shubuh. Diambilnya air wudhu’, kemudian dia masuk ke kamar bidadarinya dan sholat shubuh di samping kasur kedua bidadarinya yang masih tertidur, lantas kemudian dilanjutkan membaca Qur’an minimal 1 ‘ain. Hal ini terus dilakukannya sampai akhirnya mereka tersadar, lalu kemudian ikhwan kita bisa kembali ke masjid untuk sholat shubuh berjama’ah. Biarpun sebenarnya ikhwan kita ini menginginkan bisa sholat shubuh berjama’ah di masjid.

Jikalau antum khawatir istri keluar nusyuz-nya (durhaka), maka tahapan berikut bisa diambil:

1.Memberi nasihat.

Dengan kata – kata penuh hikmah, kiasan, sindiran yang baik, ayat qur’an dan juga hadits.

2. Hajr (boikot).

Boikot dari mulai tidak mengajak istri bicara, bahkan sampai pisah ranjang namun masih tinggal serumah.

3. Memukul istri, namun tidak boleh di muka dan merupakan pukulan yang mendidik. Yang kami khawatirkan apabila dipukul di muka dan sampai berbekas, niscaya setiap melihat cermin dia akan selalu teringat terlebih bila berbekas permanen. Satu lagi, jangan memukulnya di depan anak – anak.

وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ

Dan janganlah engkau memukul istrimu di wajahnya, dan jangan pula menjelek-jelekkannya serta jangan melakukan hajr selain di rumah(HR. Abu Daud)

Bro, dalam berdakwah ada tahapan – tahapan yang sesuai tuntunan sunnah. Contohlah pesan Nabi kita ketika akan mengutus seorang sahabat dalam berdakwah ke negeri lain:

إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب

Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada Ilah (yang sebenar – benarnya berhak disembah) selain Alloh –dalam riwayat lain: kepada tauhidulloh-. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Alloh telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Alloh telah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka kamu jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzholimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Alloh.(Muttafaqun ‘alaihi)

Bagaimana menerapkan metode ini? ambillah contoh istri dan anak wanita kita yang telah baligh. Contoh kewajiban yang telah sampai kepada mereka adalah sholat wajib dan berhijab syar’i. Jika diantara 2 hal ini sama – sama masih belum dilakukan, manakah kira – kira yang lebih wajib untuk disampaikan? ‘Ulama fiqh menjawab kewajiban sholat-lah yang menjadi kewajiban utama untk disampaikan, dengan tidak melalaikan kewajiban berhijab syar’i dan kewajiban lain. Ana tidak menjawab bahwa umroh tidak penting, tetapi tengoklah banyak sekali para artis yang kembali membuka aurot mereka biarpun telah berkali – kali umroh dan atau berangkat haji.

Namun, banyak sekali diantara muslimah saat ini, hijrah mereka terhenti pada berhijab saja. Sumber rujukan ‘ilmu mereka kebanyakan dari web/ internet, biarpun hal ini juga tidak bisa disalahkan secara mutlak. Apa yang terjadi? Setelah mereka “selesai” dengan fiqh berhijab, langsung lompat ke topik bahasan yang lebih mereka sukai, yaitu pernikahan. Bab penting aqidah dan tauhid terkadang terlewatkan. Jika kita melihat tahapan dakwah, banyak sekali topik fiqh yang mereka lewati. Mereka melewati bab fiqh thoharoh dan sholat, bab fiqh haromnya ikhtilat dan kholwat, melewati bab fiqh haromnya bersafar tanpa mahrom, bab fiqh pekerjaan dan harta halal-harom, bab fiqh hubungan dengan non muslim dan banyak lagi lainnya yang wajib dipahami sebagai fardhu ‘ain bagi muslimah.

Dari beberapa web/ media sosial yang kami amati menjadi rujukan tentang pernikahan, alangkah kurang sekali bobot ‘ilmu dan tidak terstruktur dalam menjadikannya media dakwah bertopik pernikahan. Yang banyak kami temui dari web/ sosmed tersebut hanyalah gambar kutipan hadits tanpa penjelasan tafsir, meme lucu pernikahan, pasangan cantik dan tampan yang duduk dalam pelaminan, atau bahkan aneh dan lucunya mengutip ayat dan hadits tentang pernikahan tetapi dengan gambar/ foto muslimah bersafar sendirian di tempat – tempat berwisata. Na’udzubillahi min dzalik.

Kami sering berpikir, dari media sosial bertopik pernikahan, umumnya pastilah mereka akan bertemu 2 hadits:

إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Hasan lighoirihi)

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena paras (kecantikan)-nya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Namun sayangnya dari tuntunan 2 hadits di atas yang sering mereka temui, tidak mereka jadikan rujukan. Yang jadi rujukan adalah perasaan, merasa nyaman, harta dan keturunan.

Bapak, Ayah, Bro, Akhi yang dirohmati Alloh Ta’ala. Antum pernah bercerita bagaimana bidadarimu yang telah menikah, bertemu dengan menantumu yang baru masuk Islam sekitar 2 tahun ini. Qodarulloh, mereka bertemu di masjid – rumah Alloh di muka bumi ini. Antum menguji menantumu saat itu dengan keseriusannya dalam menjadi seorang Islam sampai saat ini, antum tidak melihat rumah dan kendaraan pribadi yang belum dia miliki. Tidakkah antum berpikir, akhi…coba anak wanitamu waktu itu bertemu dengan menantumu di tempat – tempat maksiat dan ketika sedang bermaksiat dalam hal apapun, apa jadinya?

Bro, wanita mana yang tidak bisa menolak pria yang bersikap baik kepada mereka? bisa mengantar jemput mereka ke tempat aktivitas mereka? pria yang memberi mereka perasaan nyaman dan bisa membuat mereka tertawa? Ataupun pria yang bisa menunjukkan kendaraan pribadi ketika berkunjung ke rumah?

Namun, tengoklah bagaimana keseharian mereka dalam menjalankan syari’at-Nya. Sudah tahukah mereka apa itu ikhtilat dan kholwat? Tahukah mereka hukum membawa muslimah non mahrom bersafar ke tempat wisata? Tahukah mereka thoharoh dan sholat sesuai syari’at? Tahukah mereka batasan aurot pria? Apakah kebaikan mereka hanya di dunia nyata saja, tetapi tidak ketika di dunia maya? Tahukah mereka halal – haromnya pekerjaan mereka? tidak takutkah antum apabila semua kebaikannya di pandangan mata manusia ternyata tidak sesuai dengan batasan syari’at-Nya?

Bro, antum mau menyerahkan putrimu kepada pria tampan, mapan, terlihat baik, yang berani datang ke rumah untuk meminang anak gadismu padahal dia tidak paham batasan agama? Apakah saat ini batasan syari’at memilih calon suami/ istri dengan imbalan ridho dan Jannah-Nya akan dikalahkan dengan standard keduniawian?

Kalau memang mereka menolak seorang pria yang baik agamanya karena alasannya “keras dan kaku” dalam beragama, maka pikirkanlah bagaimana seorang ‘Umar bin Khoththob RA., dalam berdakwah, ketika menjadi Kholifah, dan dalam menjalankan syari’at-Nya. Syaithon pun mengambil jalan yang lain bila berpapasan dengan ‘Umar di jalanan, tidak mungkin Rosululloh sampai menyebutkan jikalau ada Nabi setelah beliau wafat maka ‘Umar-lah yang menjadi Nabi berikutnya. Akhlak dan Agama, adalah 2 hal berbeda!

Jika akhirnya mereka berdua sudah “ngebet” ingin menikah, coba tanyakan kesiapan mereka dengan 1 pertanyaan sederhana dan 1 ujian; jelaskan bagaimana fiqh sesuai sunnah dari mandi junub (tidak disertai hadits pun tidak mengapa)? Dan coba uji bacaan Qur’an-nya!

Ingatlah dan sadarilah satu hal ketika telah menikah, waktu pasutri dan keluarga untuk menuntut ‘ilmu syar’i lebih banyak berkurang jika dibandingkan dengan kewajiban mencari dan memenuhi nafkah lahir dan bathin untuk semua anggota keluarga.

Bapak, Ayah, Bro, Akhi yang dirohmati Alloh Ta’ala. Internet, media sosial dan gadget adalah perkara mubah yang bisa menjadi harom dalam tujuannya. Tidak mungkin syaithon tidak menjerumuskan kita semua bani Adam dengan media ini. Seperti yang ana sampaikan di atas, temanilah dan bimbinglah mereka ketika sedang aktif dan sibuk dengan gadget dan sosmed mereka.

Terakhir dari saya. Ketika kita mengajak istri dan anak – anak kita ke jalan yang diridhoi-Nya, berilah dan jadilah contoh yang baik, karena ingatan dari cara visual (apa yang dilihat) lebih membekas dalam memori. Lalu kemudian, maaf…perhatikanlah bagaimana antum mencari nafkah dan menafkahi keluargamu. Jadilah sales yang bisa bekerja sesuai batasan syari’at-Nya.

Dari Ka’ab bin Ujroh Rodhiyallohu ‘anhu, Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Tidak ada daging yang tumbuh dari as-suht (harta harom dan dari jalan yang harom), kecuali neraka lebih layak baginya.” (HR. Tirmidzi)

Syaikhul Islam berkata:

Makanan akan bercampur dengan tubuh dan tumbuh menjadi jaringan dan sel penyusunnya. Jika makanan itu jelek maka badan menjadi jelek, sehingga layak untuknya neraka. Karena itulah, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, ‘Setiap jasad yang tumbuh dari harta haram, maka neraka layak untuknya.‘ Sementara surga adalah kebaikan, yang tidak akan dimasuki kecuali tubuh yang baik. (Majmu’ al-Fatawa, 21: 541)

Ini saja yang bisa ana rangkum dari hasil mudzakaroh kita selama di sana. Insya Alloh di lain kesempatan kita bisa bertemu kembali. Tolong cari dan bantu saya jika antum tidak bertemu saya di Jannah-Nya kelak. Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala menaungimu dan keluargamu di usia senjamu.

Allohu A’lamu bish Showab.

Wassalamu’alaikum wa Rohhmatullohi wa Barokatuhu.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 30 July 2017 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s