RSS

Merasa Aman Dari Makar Alloh

02 Oct

Bismillahi Ar-Rohmani Ar-Rohimi,

Assalāmu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Alhamdu lillahi Robbil ‘Aalamin. Wash Sholatu wa Sallamu ‘ala Rosulillah.

Ayyuhal Ikhwah, Alloh ‘Azza wa Jalla telah berfirman:

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٓ إِذَا فَرِحُوا بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذْنَــٰهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (٤٤)

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.(Q.S. Al – An’am (6): 44)

Hasan Al – Bashri berkata, “Barang siapa yang diberi kelapangan oleh Alloh namun ia tidak memandangnya sebagai makar-Nya, sungguh ia tidak punya pikiran. Barangsiapa diberi kesempitan oleh Alloh namun tidak memandangnya sebagai makar-Nya, sungguh ia tidak punya pikiran.” Lalu Hasan membaca penggalan ayat;

…حَتَّىٓ إِذَا فَرِحُوا بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذْنَــٰهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Ia juga berkata, “Makar terhadap suatu kaum itu – Demi Robb Ka’bah – segala keperluan mereka dipenuhi, lalu mereka diazab.”

help

‘Uqbah bin ‘Amir Rodhiyallohu anhu berkata, Rosululloh Shollallohu alaihi wa Sallam bersabda:

“Apabila kamu melihat Alloh memberikan kepada seseorang apa yang ia sukai, padahal dia tetap dalam kemaksiatannya, maka itu adalah istidroj dari-Nya.” Lalu Rosululloh membacakan ayat di atas (Al – An’am (6): 44). (Diriwayatkan oleh Ahmad: 4/145, Ad – Daulabi (Al – Kunâ) (1/111), Ath – Thobroni (17/330/913), Al – Ausath (9272), Ibnu Abi Dunya dalam Asy – Syukr (hal: 9), Al – Baihaqi Asy – Syu’ab (4540) dan dishohihkan di dalam Ash – Shohihah (414)).

Al – Iblasu (dari kata Mublisun di ayat di atas) artinya rasa putus asa untuk dapat selamat pada saat datangnya kehancuran.

Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu anhu berkata, “Mereka berputus asa terhadap semua kebaikan.”

Al – Zajjaj berkata, “Al – Mublis adalah orang yang sangat besar rasa penyesalannya, rasa putus asanya dan rasa sedihnya.”

Dari Anas bin Malik Rodhiyallohu anhu, adalah Nabi Shollallohu alaihi wa Sallam banyak membaca do’a:

يَا مُقَلِّبَلْ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوْ بَنَ عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai (Dzat) yang membolak – balikkan qolbu, teguhkanlah qolbu kami di atas Dien-Mu!”

Seseorang bertanya, “Wahai Rosululloh, apakah anda khawatir terhadap kami?” Beliau menjawab:

إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلْبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

“Sesungguhnya qolbu manusia itu berada di antara dua jari dari jari – jari Ar – Rohman. Dia membolak – balikkannya sekehendak-Nya.” (HR. Tirmidzi: 2140 dan Ibnu Majah: 2834. Dan baginya beberapa hadits pendukung yang membuat hadits ini meningkat menjadi Shohih).

Dari Ibnu Mas’ud, disebutkan dalam sebuah hadits:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَايَكُوْنَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا

“Sesunguhnya ada seseorang yang benar – benar mengerjakan ‘amalan ahli surga sehingga ketika jarak antara dia dan surga itu tinggal sehasta – karena ketetapan telah mendahuluinya – ia pun mengerjakan ‘amalan ahli neraka dan masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhori: 7454 dan Muslim: 2643)

Dari riwayat Sahl bin Sa’ad As – Sa’idi, bahwa Rosululloh Shollallohu alaihi wa Sallam  bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْنَّرِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَيَعْمَلُ الرَّجُلُ بِعَمَلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّرِ وَ إِنَّمَاالْأَعْمَلَ بِاْالْخَوَاتِيْم

“Sesungguhnya ada seseorang yang mengerjakan ‘amalan ahli neraka tetapi akhirnya ia masuk surga, dan ada seseorang yang mengerjakan ‘amalan surga tetapi akhirnya ia termasuk ahli neraka. Hanya saja ‘amal – ‘amal itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhori: 6607, dan Muslim: 112).

Dikisahkan di Mesir ada seorang pria yang bertugas menjadi muadzin sekaligus imam sholat. Padanya terpancar cahaya ibadah dan keta’atan. Pada suatu ketika, ia naik ke menara seperti biasa untuk mengumandangkan adzan. Di bawah menara itu ada sebuah rumah milik nasrani dzimmy. Muadzin tersebut memandang ke rumah itu, terlihatlah olehnya putri si pemilik rumah yang cantik jelita, ia pun tergoda. Ia tidak jadi mengumandangkan adzan tetapi malah turun menemui gadis itu. Si gadis bertanya, “Anda siapa dan mau apa?” Pria itu menjawab, “Aku menginginkan dirimu.” Gadis itu berkata, “Aku tidak mau melakukannya secara tidak sah.” Pria itu menjawab, “Aku akan menikahimu.” Gadis itu berkata lagi, “Anda seorang muslim, Ayahku tentu tidak akan menikahkanku dengan anda.” Pria itu lantas berkata, “Aku akan masuk nasrani.” Gadis itu berkata, “Kalau begitu aku mau.” Selanjutnya pria itu lantas murtad, beragama nasrani lalu menikah dengan gadis itu dan tinggal bersamanya dalam satu rumah. Di tengah hari pasca pernikahan pria itu naik ke atap rumah, tiba – tiba terjatuh dan mati. Islam telah dilepaskannya, dan ia pun belum sempat menikmati hidup bersama wanita pujaannya. (Dzammul Hawa, Ibnnul Jauzi, hal. 348)

Mari kita memohon perlindungan kepada Alloh dari makar-Nya, juga su’ul khotimah.

Salim bin Abdulloh berkat, “Di dalam sumpahnya Rosululloh Shollallohu alaihi wa Sallam  sering mengucapkan:

لَا وَمُقَلِّبَ الْقُلُوبِ

“Tidak, demi (Dzat) yang membolak – balikkan qolbu.” (HR. Bukhori: 7391, Abu Dawud: 3262, At – Tirmidzi: 1540)

Maksud kata “membolak – balikkan qolbu” adalah merubah suasananya lebih cepat dari pada berhembusnya angin dari menerima menjadi menolak, dari menginginkan menjadi membenci dan sebagainya.

Dalam Al – Qur’an disebutkan;

… وَاعْلَمُوٓ اْ أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ…(٢٤)

“…Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya. (Q.S. Al – Anfal (8): 24)

Mujahid berkata, “Maksudnya adalah bahwa Alloh mendindingi antara seseorang dengan akalnya, sehingga ia tidak mengetahui antara yang akan dilakukan ujung jemarinya.”

إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ…(٣٧)

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal…”(Q.S. Qof (50): 37)

Ath – Thobari berkata, “Ayat itu merupakan pemberitahuan dari Alloh bahwa Dia lebih memiliki qolbu hamba – hamba-Nya dari pada mereka sendiri. Dia juga berkuasa mendinding antara mereka dan qolbu – qolbu mereka sendiri, jika Dia menghendaki, sehingga manusia tidak akan memahami sesuatu pun kecuali apa yang dikehendaki Alloh ‘Azza wa Jalla.”

‘Aisyah Rodhiyallohu anha berkata, Rosululloh Shollallohu alaihi wa Sallam sering mengucapkan kalimat do’a:

يَا مُقَلِّبَلْ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى طَاعَتِكَ

“Wahai (Dzat) yang membolak – balikkan qolbu, teguhkanlah qolbu untuk ta’at kepada-Mu!”

Maka aku bertanya, “Wahai Rosululloh, anda sering sekali berdo’a dengan do’a ini, apakah anda merasa takut? Beliau menjawab, “Wahai ‘Aisyah, apa yang dapat menanamkan rasa aman dalam diriku sedangkan qolbu semua hamba itu berada di antara dua jari dari jari – jari Ar – Rohman yang Dia membolak – balikkannya sekehendak-Nya. Jika Dia menghendaki untuk membolak – balikkan qolbu seorang hamba, maka Dia membaliknya.” (HR. Ahmad (6/91), Ibnu Abi Hashim (224), Abu Ya’la (4669), Al – Ajjuri dalam Asy – Syari’ah (217), dan dishohihkan dengan berbagai riwayat pendukungnya dalam Zhilal Al – Jannah).

Nah, jika hidayah sudah dimengerti, istiqomah itu tergantung kepada kehendak-Nya, akibat (dari segala sesuatu itu) tersembunyi, keinginan tidak bisa dipaksakan, maka mestinya kita tidak merasa bangga atas iman, ‘amal, sholat, shiyam, dan semua ‘amal kebaikan kita, jika itu semua merupakan usaha kita. Apalagi sebenarnya semua ini merupakan ciptaan Robb dan anugerah-Nya yang diberikan kepada kita. Jika kita membanggakannya, sesungguhnya kita membanggakan sesuatu yang bukan milik kita, yang kapan saja bisa diambil oleh yang punya. Semua ini mungkin saja dicabut dari kita sehingga qolbu kita kembali kosong dari kebaikan, lebih kosong dari perut binatang melata.

Berapa banyak kebun yang di waktu sore hari masih rimbun dengan dedaunan yang hijau menawan, keesokan harinya menjadi kering gersang dan dedaunannya berguguran karena ditiup angin topan. Begitu pulalah seorang hamba, sore hari ia berada dalam keta’atan kepada Robb-nya, qolbu-nya dipenuhi cahaya iman, namun keesokan harinya ia durhaka kepada Alloh, sehingga qolbu-nya menjadi gelap dan berkarat. Itu semua adalah kekuasaan Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Agung.

Wahai anak Adam, pena berjalan terus mencatat ‘amal – ‘amalmu, sedangkan kamu lalai dan tidak tahu. Wahai anak Adam, tinggalkanlah nyanyian – nyanyian dan alat – alat musik; tinggalkanlah rumah – rumah dan tempat tinggal (bermegah – megah dengannya-red), tinggalkanlah persaingan di dunia ini, sehingga kamu bia melihat apa yang dilakukan taqdir kepadamu.

Allohu A’lamu bish Showab.

Wassalāmu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

(Diambil dari Al – Kabâir, Dosa – dosa besar, Imam Adz – Dzahabi.)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 2 October 2016 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s