RSS

Hikmah Larangan Muslimah Safar Tanpa Mahrom

25 Sep

Bismillahi Ar-Rohmani Ar-Rohimi,

Assalāmu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Innal hamda lillahi, hamdan katsiron thoyyiban mubārokan fiihi. Wash Sholatu wa Sallamu ‘ala Rosulillah.

Akhwati Fillah, Alloh Ta’ala telah berfirman dalam Qur’an dengan peringatan lembut nan keras:

وَمَآ ءَاتَــٰـكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَــٰـكُمْ عَنهُ فَنْتَهُواْ ۚ وَاتتَّقُواْاللّهَ ۖ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُالْعقَابِ (٧)

Apa yang diberikan Rosul kepadamu, maka terimalah! Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah! Dan bertakwalah kepada Alloh! Sesungguhnya Alloh amat keras hukumannya.(Q.S. Al Hasyr (59): 7)

Muslimah yang dirohmati Alloh Ar- Rohman Ar-Rohim. Banyak sekali ayat Qur’an dan hadits Nabawiyah yang secara khusus dan umum disampaikan kepadamu sekalian, tidak lain dan tidak bukan melainkan untuk menjaga hal – hal yang sarat penuh makna dalam maqoshid syari’ah, yaitu maksud – maksud diturunkan hukum – hukum syari’at, yang biarpun tidak secara langsung kita pahami dan rasakan, namun tekandung di dalamnya kemuliaan untuk kalian.

Tidaklah Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya melarang kalian dari suatu ‘amal perbuatan, melainkan di dalamnya ada mafsadat/ kerusakan dan mudhorot/ keburukan-kerugian yang akan diterima apabila tetap dilakukan. Mafhum mukholafah-pemahaman terbaliknya adalah; tidaklah Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya menyuruh bahkan mewajibkan kita akan suatu ‘amal perbuatan, melainkan di dalamnya ada maslahat/ keuntungan dan pahala yang akan diterima apabila dilakukan.

Di masa saat ini banyak sekali muslimah melakukan pelanggaran dosa, yang secara sadar ataupun tidak sadar dosa awal yang mereka lakukan akhirnya membuka dosa lainnya yang lebih besar, bahkan Na’udzubillah…dosa ini akan berkembang terus seperti halnya multi level biarpun kita telah dicukupkan umur kita sesuai taqdir-Nya. Salah satu dosa yang bisa kita lihat di sekitar kita adalah ber-safar tanpa mahrom.

maribaya

Safar, adalah perjalanan/ bepergian ke luar daerah/ kota tempat tinggal, dengan batasan kaidah jarak dan definisinya berdasarkan ‘urf/ kebiasaan di masyarakat.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya wanita itu adalah aurot, maka apabila keluar, syaithon akan menghiasinya.” (Dikeluarkan oleh Al Bazzar dan At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Irwaul Ghalil jilid I)

Bagi para muslimah yang bekerja di luar rumah dengan alasan untuk membantu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga dan aktualisasi diri, sangat umum safar tanpa mahrom dilakukan apabila diberi tugas luar kota, training peningkatan kompetensi skill dan keilmuan, bahkan mungkin acara ulang tahun perusahaan dan juga acara family gathering yang settingannya dibuat sampai harus menginap di luar kota, menghadiri acara pernikahan teman di luar kota/ pulau, acara reunian teman sekelas/ kuliah, berlibur ke pantai/ gunung/ desa/ pulau/ taman wisata, dan lainnya.

Bagi para muslimah yang sedang duduk di bangku pendidikan, safar tanpa mahrom untuk acara hiking-naik gunung atau susur pantai dengan para kelompok pencinta alam, pemberian bantuan relawan musibah di suatu daerah, study tour atau student exchange, atau bahkan mungkin acara tadabbur alam dengan anggota DKM pengajian di sekolah atau kampus, menghadiri acara pernikahan teman di luar kota/ pulau, acara reunian teman sekelas/ kuliah, berlibur ke pantai/ gunung/ desa/ pulau/ taman wisata, dan lainnya.

Pun bahkan begitu pula bagi para muslimah yang telah bersuami, safar tanpa mahrom untuk menengok anak cucu di luar kota, mengunjungi orang tua dan kerabat, berlibur ke pantai/ gunung/ desa/ pulau/ taman wisata bahkan dengan ustadzah dalam majlis pengajiannya, dan contoh lainnya.

Hal – hal dan contoh – contoh di atas bagi semua muslimah yang belum bersuami dan juga ummahat, adalah masuk dalam kategori safar tanpa mahrom yang harom untuk dilakukan. Definisi mahrom, adalah semua pria yang masuk dalam jalur kekerabatan muslimah dan telah melewati umur baligh, yang di-harom-kan menikah dengannya. Jadi harus sangat dipahami dan diterima mau berapapun jumlah muslimah atau na’udzubillah…wanita non muslim yang menemani untuk safar tanpa mahrom, tetap harom hukumnya.

Akhwati fillah, hukum asal bagi para muslimah adalah berdiam diri di rumah. Firman-Nya yang mulia dalam Qur’an:

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَــٰـهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَوٰ ةَ وَءَاتِينَ الزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَايُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجسَ أَهْلَ الْبيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (٣٣)

“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumahmu dan janganlah kamu tabarruj – (berhias kepada selain non mahrom) dan bertingkah laku seperti wanita – wanita Jahiliyah yang terdahulu! Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Alloh dan Rosul-Nya! Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu dengan sebersih-bersihnya. (Q.S. Al – Ahzab (33): 33)

Imam Al – Qurtubi Rohimahullohu Ta’ala menafsirkan firman Alloh Ta’ala (وقرن في بيوتكن) “Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumahmu”. Makna ayat ini adalah perintah untuk tetap tinggal di rumah. Walaupun redaksi ayat ini ditujukan kepada istri – istri Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, namun secara umum maknanya mencakup selain mereka yaitu kepada semua muslimah dan ummahat.

Berikutnya kami sampaikan hadits – hadits shohih dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, yang melarang muslimah untuk safar tanpa mahrom:

  1. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah wanita melakukan safar selama 3 hari kecuali bersama mahrom.(Shohih, dikeluarkan oleh Bukhari 2/54, Muslim 9/106, Ahmad 3/7, dan Abu Dawud 1727)

  2. “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir melakukan safar (bepergian) selama satu hari satu malam yang tidak disertai mahrom.(HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

  3. Dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu anhu bahwasanya ia mendengar Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahromnya dan janganlah seorang laki-laki masuk menjumpainya kecuali disertai mahrom.Kemudian seseorang bertanya: “Wahai Rosululloh! Sungguh aku ingin keluar bersama pasukan ini dan itu sedangkan istriku ingin menunaikan haji.” Maka bersabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam: “Keluarlah bersama istrimu (untuk menunaikan haji).” (HR. Muslim dan Ahmad)

Berikut ini adalah hikmah mengapa muslimah yang belum bersuami, yang telah bersuami, yang bekerja di luar rumah, yang belum berhijab bahkan yang mengenakan cadar sekalipun, diharomkan untuk safar tanpa mahrom. Sudah sama – sama dimaklumi, hikmah pertama dari tidak bersafar tanpa mahrom adalah mematuhi larangan Alloh Ta’ala lewat lisan sabda Nabi-Nya yang mulia, juga tidak adanya jaminan keamanan terlebih di masa – masa seperti ini. Seperti di awal tulisan artikel ini, dosa safar tanpa mahrom akan membuka dosa – dosa lainnya:

1. Ikhtilat dan Kholwat

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya muslimah yang melakukan safar tanpa mahrom, dalam kondisi – kondisi tertentu tidak bisa terhindar dari kedua dosa ini, seperti contohnya ketika dinas luar kantor dengan teman pria sekantor, ataupun acara gathering/ ultah kantor. Bercampur baurnya pria dan wanita yang tidak ada hubungan mahrom adalah ikhtilat, apalagi berdua – duaan dengan non mahrom adalah kholwat. Banyak dari muslimah kita lupa (semoga bukan melupakannya) bahwa kedua hal ini adalah dosa, terlebih apabila di dalam benak dan qolbu mereka sudah tersimpan bahwa ini adalah tugas kewajiban kantor, niatnya mulia, asalkan tidak zina, saya sudah dewasa bisa jaga diri, ada teman wanita yang ikut, khawatir kena SP dan tidak naik gaji jika tidak ikut berangkat, dan lainnya.

Ikhtilat

Umum sekali dari acara family gathering ataupun ulang tahun perusahaan saat ini, yang “menyelipkan” acara bercampurnya pria dan wanita dalam jarak dekat bahkan berhimpitan. Apakah kalian tidak risih dengan hal ini, ukhtana? tidakkah kalian ingat suami dan anak – anakmu yang ditinggalkan di rumah? Senyum dan tawa lepas malah mengembang ketika berada di antara pria – pria ajnabi (non mahrom).

Dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda:

“Janganlah seorang laki-laki bersepi sepi dengan seorang wanita kecuali ada mahromnya bersamanya.” (HR. Muslim 1341)

Dalam sabda beliau lainnya menyebutkan:

“Tidaklah seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita (yang bukan mahromnya) kecuali syaithon yang ketiganya”. (HR. Tirmidzi 2165, Ahmad 115)

Juga, akan dosanya bersentuhan dengan pria ajnabi. Ibunda ‘Aisyah Rodhiallahu ‘anha berkata:

“Tangan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan wanita, kecuali tangan wanita yang dimilikinya (istri atau budak beliau).” (H.R. Bukhori no. 7214)

Dalam hadits lain:

“Sungguh salah seorang dari kalian ditusuk jarum dari besi di kepalanya lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thobroni)

Apakah dosa besar berikutnya yang bisa timbul dari ikhtilat dan kholwat ini? lanjutkan ke poin berikutnya.

2. Zina

وَلَا تَقْرَبُواْ ازِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَــٰـحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا (٣٢)

“Dan janganlah kamu mendekati zina! Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan jalan yang buruk.(Q.S. Al – Isro’ (17): 32)

Inilah dosa semua bani Adam dengan berbagai bentuk dari yang disembunyikan maupun yang terang – terangan dilakukan. Awalnya mungkin karena sering safar bersama dengan pria ajnabi (non mahrom), merasa aman karena merupakan orang ‘alim dan terpercaya. Namun, jangan lupa bahwa syaithon selalu ikut dan berada kemana pun kita berada. Dimulai dengan tatapan dan sentuhan tangan tidak disengaja, berlanjut ke angan – angan dan pikiran, dan akhirnya syaithon yang membutakan semuanya.

Telah ditentukan atas Bani Adam (manusia) bagian zinanya yang tidak dapat dihindarinya: Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah dengan meraba atau memegang (wanita yang bukan mahrom), zina kaki adalah melangkah, dan zina hati adalah menginginkan dan berangan-angan, lalu semua itu dibenarkan (diwujudkan) atau didustakan (tidak diwujudkan) oleh kemaluannya.”  (H.R. Bukhori, no. 6243 dan Muslim, no. 2657)

Buka mata dan buka telinga wahai saudariku fillah, telah banyak kasus zina dan perselingkuhan dari terbukanya pintu – pintu awal dosa yang kita buka. Ingatlah pepatah:

“Singa tidak akan menerkam kijang atau anak kijang melainkan yang lepas dari kawanannya.”

Jika semua telah terjadi, jika talak telah jatuh, jika anak – anak dijauhkan dari pelukan dan kasih sayangmu, jika perbuatan maksiat telah beredar di dunia maya, mungkin air mata tidak akan pernah berhenti dalam penyesalanmu.

3. Terlepasnya hijab fisik, dan tabarruj.

Bagi muslimah yang sering back packer-sering diistilahkan begitu saat ini dengan tujuan pantai dan tempat wisata, tentunya tidak akan menyia – nyiakan semua momen dan tempat yang telah diinginkan dengan tabungannya selama ini. Liburan ke pantai akan berbasah – basah ria, yang pergi ke gunung akan menyesuaikan gear pack dan pakaian yang dibawanya. Yang terjadi adalah mengumbar aurat karena basah, pakaian yang tidak sesuai syari’at dan lainnya. Jika lantas semua itu tidak dilakukan, lalu mencari apa dengan safar tanpa mahrom di gunung dan pantai? Mencari Ridho Alloh dengan basah – basahan di pantai dan menginap di gunung?

Hal ini pun diperburuk dengan kondisi muslimah dengan tabarruj-nya. Tidak ada memang wanita yang tidak ingin tampil rapi dan menarik, bahkan wanita sering minder dengan keadaan fisik wanita lainnya. Sehingga yang ada adalah bersolek ketika keluar rumah, tetapi ketika berada dalam istananya, hanya berpenampilan seadanya dengan daster lusuhnya. Fenomena yang terbalik, tampil menarik dan rapi di luar rumah, tetapi tidak ingin mendapat ridho dari suaminya.

4. Hilangnya Al – Haya’ (malu).

Inilah salah satu keburukan yang paling sulit untuk diingatkan. Seringkali muslimah yang masih terbiasa dan senang untuk safar tanpa mahrom, sering lupa untuk menjaga rasa malu dalam diri. Padahal Alloh Ta’ala selalu Maha Melihat, malaikat pencatat ‘amal baik dan buruk selalu bersama mereka.

Kami pribadi sering heran, banyak muslimah apabila duduk dalam majlis ‘ilmu begitu menjaga adab dan santun, pun demikian bila bertemu dengan orang ‘alim sampai menundukkan pandangan. Tetapi mereka menampakkan tabiat asli mereka ketika merasa aman diantara para muslimah lain yang punya tabiat menyimpang. Kenapa bisa begitu? Karena sesama tabiat menyimpang, akan segan dan malu untuk mengingatkan.

أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ (١٤)

“Tidakkah dia mengetahui bahwa Alloh melihat segala perbuatan mereka?” (Q.S. Al – ‘Alaq (96): 14)

Dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu anhu, ia berkata; Rosululloh Shollallohu alaihi wa Sallam bersabda:

“Iman memiliki lebih dari 70 cabang, yang paling utama adalah syahadat “Laa ilaaha illallohu” dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang keimanan. (H.R. Muslim: 35)

Dari Abu Mas’ud Al-Badri Rodhiyallohu anhu, ia berkata; Rosululloh Shollallohu alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari perkataan kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” (H.R. Bukhori no. 6120)

‘Ali Rodhiyallohu anhu pernah berkata: “Apakah kamu tidak malu…? dan apakah kamu tidak tertipu…? kamu membiarkan wanita keluar di antara kaum laki-laki untuk melihat padanya dan mereka pun (kaum laki-laki) melihat pada kaum wanita tersebut.” (Lihat AlKabair, Adz Dzahabi halaman 171-172)

Sekali lagi, di depan para penyeru kebaikan mereka bisa tertunduk kepala dan begitu menjaga rasa malunya, tetapi ketika bersama “partners in crime,” mereka tertawa lepas bersama dalam rombongan safar tanpa mahrom.

5. Contoh yang buruk.

وَإِن تُطِعْ أَ كْثَرَ مَن فِى الْأَرْ ضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهَ ۚ إِنْ يَتَّبِعُو نَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ (١١٦)

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Alloh).(Q.S. Al An’am (6) : 116)

Dalam suatu acara, kami dikejutkan dengan settingan panitia penyelenggara yang tiba – tiba membawa kue ultah lengkap dengan lilinnya, rupanya ada yang berulang tahun di hari itu. Karena tepat adzan berkumandang, kami mengajak beberapa ikhwan lainnya untuk ke musholla terdekat. Sepulangnya dari sholat, kue ultah telah dipotong dan dibagi – bagikan. Kebetulan pula perut ini masih kenyang dengan hidangan makan sebelumnya. Namun pesan singkat masuk dalam handphone, bertanya apakah saya akan makan bagian kue ultah yang ada? Seketika itu pula saya menjadi sangat takut karena ada ikhwan kita yang menanti jawaban dan sikap saya dari kue ultah yang ada.

Di suatu kesempatan lain, kebetulan pihak management sedang berulang tahun hari itu, email telah disebar untuk berkumpul saat makan siang. Tepat waktu istirahat makan siang, musholla menjadi tujuan pertama dengan beberapa ikhwan lainnya telah berwudhu dan siap sholat Dzuhur berjama’ah. Kami tidak peduli dengan hidangan nasi kotak dan kue ultah jika harus tasyabbuh-meniru kebiasaan kaum kuffar dengan ulang tahun mereka. Aqidah ini tidak akan digadai dengan dunia sekalipun, batasan wala’ dan baro’ tidak boleh diterjang.

Pesan singkat kembali masuk ke handphone, menanyakan mengapa kami dan ikhwan lainnya tidak ikut hadir ke acara ultah? Nanti kena teguran dari management atau penilaian KPI tahunan yang jelek dalam pesannya. Tetapi pihak yang bertanya malah membandingkan sikap kami yang berbeda dengan ikhwan lainnya yang mengikuti acara tersebut, kebetulan ikhwan yang disebutkan adalah seorang berumur yang dituakan dan dihormati, juga sering menjadi imam sholat di lingkungan kerja kami.

Akhwati fillah. Jika mungkin anti sudah dipanggil Ibu, teteh, mbak atau yang dituakan atau disegani, hendaknya anti lebih berhati – hati dalam bertingkah laku dan berkata terutama ketika berada dengan yang lebih muda atau yang awam terhadap syari’at Islam. Jika mungkin anti satu – satunya yang telah berhijab fisik sesuai syari’at di antara mereka yang belum, sudah menjadi keumuman bahwa mereka akan melihat contoh yang lebih baik di dekat mereka dari gerak – gerikmu.

Rosul Shollallohu alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang men-sunnahkan (mencontohkan) kebiasaan yang buruk, lalu diamalkan (oleh orang yang mencontoh), maka dia akan menanggung dosanya & dosa (orang) yang mengerjakan setelahnya, tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim & Ibnu Majah)

Inilah yang menjadi dosa multi level. Bertambah dan terus bertambah biarpun jasad kita telah tertimbun tanah. Na’udzbillah. Sudah siapkah kalau nanti ada yang membandingkan dan bilang kalau muslimah lainnya safar tanpa mahrom karena mereka bilang anti pernah dan sering dengan hal ini, atau anti pernah berkata kepada mereka tidak mengapa safar tanpa mahrom?

6. Hilangnya ampunan dosa.

Point ke-6 ini adalah pintu sumber dosa multi level berikutnya. Penyimpangan dan tabiat dosa yang dilakukan selama safar tanpa mahrom, sering sekali malah dipajang dalam akun sosmed mereka maupun teman mereka.

Foto dan video selfie dengan pose tubuh dan muka yang aneh, ikhtilat dan kholwat ketika berimpitan dengan pria ajnabi (non mahrom), buka – bukaan aurot, dan lainnya. Sekali lagi kami pribadi keheranan, aktifitas dosa malah dipajang dan dibanggakan, apalagi senang sekali apabila mendapat komen maupun  jempol “like” dari para follower-nya.

Like to be Popular?

Like to be Popular?

Dosa itu ada yang manis untuk dilakukan, dan dosa itu ada yang manis untuk ditunjukkan. Inilah salah satu perangkap syaithon dalam media maya. Foto dan video sedang berikhtilat dan kholwat tampak senyum lepas mereka, foto sedang buka – bukaan aurot dengan senyum mengembang, bahkan foto dan video sedang berzina juga dipajang, bahkan melakukan janji untuk kembali dan mengulanginya, na’udzubillah.

Rosululloh Shollallohu alaihi wa Sallam bersabda: “Semua umatku berhak dimaafkan kecuali mujahirun (orang yang terang-terangan dalam bermaksiat). Termasuk mujaharah ialah seseorang yang melakukan suatu amal (keburukan) pada malam hari kemudian pada pagi harinya ia membeberkannya, padahal Alloh telah menutupinya (memaafkannya), ia berkata, ‘Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan demikian dan demikian.’ Pada malam hari Tuhannya telah menutupi (memaafkannya) kesalahannya tetapi pada pagi harinya ia membuka tabir Alloh yang menutupinya.” (HR. Bukhori wal Muslim)

24 jam semua follower-mu bisa membuka, melihat dan menyimpan rekam jejak dosa kalian bahkan foto – foto kalian bisa diedit menjadi pose panas dan situs panas. Tetapi ketika tersadar dan disadarkan oleh mereka yang mencintaimu karena Alloh dan ingin berkumpul kembali dengan kalian di Jannah-Nya, kalian masih ada yang tidak mau menghapusnya dan tidak mau meminta teman kalian juga untuk menghapusnya dari akun sosmednya.

***

Akhwati fillah yang mengharap perjumpaan dengan Robb-Nya, Nabi-Nya juga kampung akhirat yang terbaik, hal – hal di atas adalah beberapa hikmah larangan muslimah melakukan safar tanpa mahrom. Alhamdulillah, jika point – point dosa di atas tidak dilakukan ketika safar tanpa mahrom, tetapi antunna tetap saja berdosa karena melakukan safar tanpa mahrom. Berhati – hatilah terhadap makar Alloh Ta’ala dan perkara istidroj, merasa tenang dari dosa dan terus melakukan dosa setelah mendapat petunjuk larangan-Nya.

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٓ إِذَا فَرِحُوا بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذْنَــٰهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (٤٤)

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.(Q.S. Al – An’am (6): 44)

Masih banyak ‘amaliah kebaikan yang bisa kita lakukan di rumah, dan di lingkungan sekitar kita. Berbakti kepada kedua orang tua yang lanjut usia, berbakti kepada suami dan kewajiban merawat dan mendidik anak keturunan, menghadiri majlis ‘ilmu agama untuk menghilangkan kekurangan dalam soal agama, mempersiapkan diri dan belajar untuk menjadi Ibu dan istri yang baik, dan contoh lainnya yang bisa mendatangkan ridho, rohmat dan ampunan-Nya.

Semoga qolbu kita mau menerima dan mengikuti hidayah-Nya agar menerima taufiq-Nya dan dimudahkan untuk meninggalkan dan menjaga diri dari dosa ini. Semoga mata yang kita yang masih awas dan sehat, juga kaki kita yang masih kuat dan lentur, tidak lantas membuat kita menabrak rambu – rambu larangan syari’at yang telah ditetapkan-Nya.

Mari kita selalu berdo’a agar Alloh Ta’ala memberi kita hidayah dan tawfiq-Nya, juga kemampuan untuk menjauhi diri dari dosa ini.

“Yaa Muqollibal Qulub, tsabbit qolbi ‘ala Diinika!”

(“Wahai Maha Pembolak – balik Qolbu, tetapkanlah qolbu kami di atas agama-Mu!”)

Dengan hidayah dan tawfiq dari-Nya dalam penulisan artikel ini.

Allohu a’lamu bish Showab.

Wassalamu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 25 September 2016 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s