RSS

Hanya Sampai Asimptot

19 Sep

2 orang sedang berjalan saat cuaca terik di jalan berdebu. Lama berjalan, hanya dengan 1 keyakinan ada tujuan di depan sana yang diyakini, dengan tujuan akhirnya ada 2 yaitu kecapekan juga kepayahan luar biasa dan taman yang indah.

Ada 1 penjual es kelapa muda di tepi jalan. Dengan bekal yang ada, orang kedua berkata; “Mari kita istirahat sejenak melepas dahaga, biar saya yang bayar, perjalanan kita masih jauh.” Orang pertama berkata; “Jangan disini jangan penjual yang ini, di depan sana pasti ada penjual es kelapa yang lebih segar, lebih banyak porsinya dan lebih enak tempatnya.” Namun setelah melewati penjual es kelapa yang ketiga sampai kelima orang pertama tidak kunjung mengajak berhenti. Sampai akhirnya kepalanya mulai pusing dan pandangan matanya mulai berkunang – kunang karena kekurangan cairan tubuh. Dari kejauhan ada penjual es kelapa muda di bawah pohon kelapa dan berada di tepian danau, namun jaraknya sangat jauh sekali dari posisi mereka berdua. Dengan menunjuk, dia berkata pada orang kedua; “Nanti kita istirahat di penjual es kelapa yang disana, tempat dan suasananya lebih enak, tidak usah banyak bicara dan tidak usah bertanya, saya yakin lebih enak disana.” Namun sejauh mata memandang, orang kedua hanya melihat pedagang es kelapa yang sama saja dengan penjual sebelumnya yang telah mereka lewati.

Sesampainya mereka, orang pertama segera memesan 2 gelas es kelapa muda. Dengan lahapnya mereka menghabiskan segelas porsi es kelapa muda. Ketika orang pertama akhirnya tersadar, ternyata tidak ada danau yang dilihatnya dari kejauhan. Fatamorgana pikirnya yang telah membuat dirinya melamun saat itu. Rasa manis dan segar dari es kelapa, membuat orang pertama memesan porsi gelas kedua dan ketiga tanpa menawarkan orang kedua untuk menambah. Orang kedua berkata; “Hei ingatlah sakit diabetesmu bisa kambuh, matamu yang mulai rabun bisa buta kalau sakit diabetesmu bertambah parah. Kita bungkus saja buat bekal.” Orang pertama menjawab; “Tenang saja, perjalanan kita masih jauh kita harus punya banyak bekal energi dari gula yang ada di es kelapa muda ini. Tenang saja, tubuh muda kita masih kuat. Kita pesan dibungkus juga tidak masalah.” Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan dengan bekal es kelapa muda.

Setelah berjalan cukup lama tampaknya kehausan mulai mendera keduanya kembali. Orang pertama langsung menghabiskan bekal es kelapa muda yang dibawanya, sedangkan orang yang kedua tidak demikian. Orang pertama berkata; “Kalau seperti ini bakal jadinya, kenapa kita tidak menghentikan saja perjalanan kita di tempat penjual es kelapa tadi.” Orang kedua berkata; “Ya kalau mau kembali mari kita kembali dan berhenti saja dari perjalanan ini. Soalnya tujuan kita belum jelas arahnya, orang – orang bilang tempatnya ada tapi kita hanya modal nekad dan sok tahu. Sebelum pergi para tetua kita berpesan untuk memperbanyak bekal tapi kita hanya bawa secukupnya saja.” Orang pertama berkata; “Baiklah, saya putuskan kita kembali ke penjual es kelapa tadi karena saya pemimpin perjalanan ini.”

Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke penjual es kelapa tadi untuk menyiapkan bekal lebih banyak. Tetapi ternyata pasir berdebu telah menutup jalan yang mereka lalui, jejak mereka tertimbun pasir. Hilang arah dan tujuan mereka berdua saling menyalahkan satu dan lainnya. Orang pertama berkata ke orang kedua; “Kenapa kamu tidak ingat jalan yang kita lewati? Apa salahnya kalau buat coretan peta kecil?” Orang kedua menjawab, “Loh ini kan salahmu, dirimu kan yang memimpin, yang memutuskan untuk kembali ke sana siapa? lagipula saya tidak pernah ingat kalau dirimu pernah meminta membuat peta kecil.”

Pertengkaran mulut semakin menjadi. Akhirnya orang pertama berkata; “Kalau begitu kali sekarang ini dirimu saja yang jadi pemimpin perjalanan ini. Biar kamu tahu tidak enaknya memimpin, biar kamu tahu kalau tidak ada partner yang mendukung itu bagaimana rasanya.” Orang kedua menerimanya, dia jadi pemimpin perjalanan.

Dengan pengalaman nihil, orang kedua hanya menerka – nerka jalan kembali ke penjual es kelapa tadi. Dia hanya bisa bertindak seperti apa yang orang pertama pernah lakukan dalam memimpin. Jalanan hanya terlihat datar saja dengan pasir berdebu dimana – mana. Rasa haus mendera mereka berdua. Orang kedua berkata, “Kalau kamu lihat sumur atau sumber air, kita kesana dan istirahat, tidak perlulah kita mencari tukang es kelapa tadi.”

Mereka menemukan sumur tua yang berisi air di dalamnya, namun airnya berada di dasar sumur yang sangat dalam. Ketika orang pertama hendak menurunkan gayung timba untuk mengambil air, orang kedua berkata; “Bersabarlah, sampai kita menemukan sumur lain yang lebih banyak airnya dan lebih segar rasanya.” Perjalanan dilanjutkan kembali, melewati sumur kedua ketiga dan selanjutnya. Rasa capek berubah menjadi kemarahan, orang pertama berkata; “Alasanmu selalu sama, ini kita sedang mencari sumur ke-7 tapi masih belum ketemu juga.”

Pertengkaran mulut berubah menjadi pertengkaran fisik. Luka dan darah banyak keluar dari kedua orang tersebut. Sampai akhirnya masing – masing sudah menyiapkan final blow, tiba – tiba burung gagak pemakan bangkai turun dan duduk di antara mereka berdua. Mereka berdua tersadar, akan kematian yang menunggu apabila final blow dikeluarkan. Akhirnya mereka berdua memilih berpisah mengambil jalan masing – masing.

Tanpa arah dan bekal yang cukup, keduanya mati kehausan dan menjadi santapan kawanan burung gagak tipe pemakan bangkai. Bayangan indah akan tujuan akhir taman yang indah, sirna sudah. Hanya tetesan air mata  dan penyesalan panjang yang terlintas di akhir hidup mereka, ketika satu persatu burung gagak mencabik daging tubuhnya.

***

Konon katanya, Kapten/ nakhoda kapal, akan selalu menjadi orang terakhir yang turun dari kapal apabila terjadi kecelakaan perjalanan di laut. Dialah yang bertanggung jawab atas keselamatan seluruh penumpang termasuk anggota awak kapalnya. Mungkin dia lebih rela kalau dia tidak mendapatkan tempat duduk di kapal sekoci penyelamat, ataupun akan memberikan pelampung kepada awak kapal terakhir selain dia. Mungkin dia akan menyesali ketika ada 1 penumpang kapalnya tidak bisa selamat, jika dia kabur menyelamatkan diri.

Di tengah perjalanan, kapal bisa dilubangi oleh penumpang atau bahkan ditabrakkan oleh kapten kapal, sehingga kapal tenggelam dan karam. Tidak pernah sampai ke tujuan bersama sesuai tiket yang dipesan.

***

Dunia…selalu menunda kesempurnaan, selalu menunda menjadi baik. Biarpun tidak ada yang bisa 100% sempurna, tidak ada yang bisa 100% baik. Hanya bisa asimptot saja, dan itu pun tidak mau kita pilih.

[Ada yang bisa memahami apa yang ana tulis dan coba sampaikan?]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 19 September 2016 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s