RSS

Anjangsana dari Maghribi

14 Sep

Bismillahi Ar-Rohmani Ar-Rohimi.

Maghrib baru lewat dan hari menyapa 11 Dzulhijjah 1437 H. Sepulang dari masjid, kami dikagetkan dengan seseorang di ruang tamu dengan senyum lebarnya. Jenggotnya jauh semakin lebih tebal seolah hendak menutupi deretan putih giginya. Ternyata ikhwan kita sedang datang bertamu setelah bertahun lamanya, ditemani dengan istrinya yang merupakan teman masa kecil ketika di madrosah dulu, juga lengkap dengan kedua anaknya yang sehat. Pantas saja ada mobil jeep tipe lama parkir di depan rumah.

Anjangsana dan besuk Mamah jawabnya, mumpung selagi ada di Indonesia dan sedang cuti setiap 6 bulanan. Kami perhatikan ikhwan kita tersebut, sambil menggendong anak tertuanya yang sangat manja dengan Papanya, seakan tidak mau lepas karena tinggal seminggu lagi di tanah air sini, sedangkan istrinya di ruangan lain berbicara dengan Mamah sambil menjaga anak bungsunya. Sudah 3 tahun jawabnya bekerja mencari nafkah di negara daerah “Maghribi”, LDM (long distance marriage) sudah dijalani pasutri muda ini selama 3 tahun.

Pertanyaan pertama yang kami sampaikan adalah bagaimana kehidupan beragama para WNI dan kaum muslimin di sana pada umumnya? Dengan sedikit bercanda ikhwan tersebut menjelaskan dia banyak dipengaruhi mazhab Malikiyyah seperti umumnya mazhab yang umum berkembang di daerah “Maghribi” sana. ‘Tapi jangan anggap saya kelompok sesat kalau kadang melihat saya sholat tidak sedekap kedua tangan saya, yah!’ Suasana penuh tawa mendengar jawabnya.

Sudah sekitar 1000-an WNI bekerja di sana menurut penjelasannya, hanya cuti 6 bulanan yang merupakan fasilitas yang diberikan perusahaan untuk kembali ke tanah air untuk berkumpul dengan keluarganya. Suka duka dijelaskannya dengan detil, tetapi kalimat Tahmid Alhamdulillah tidak pernah berhenti keluar dari lisannya.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (١١)

“Dan terhadap apa saja nikmat dari Robb-mu, maka hendaklah kamu (banyak – banyak) menyebutkannya!” (Q.S. Adh – Dhuhaa (93): 11)

Pertanyaan kedua yang kami sampaikan mengapa tidak membawa si Eneng – istrinya dan kedua anaknya kesana saja? Jawabnya diawali dengan senyuman.

“Sudah menjadi komitmen kami untuk menerapkan syari’at agama kita dalam berumah tangga, kewajiban mencari nafkah berupa harta adalah diwajibkan-Nya untuk para Qowwam dalam keluarga – suami, tugas dan kewajiban istri adalah menjaga dan mengatur nafkah yang diberikan suami, merawat dan mengasuh anak, dan mendo’akan suami dari awal berangkat dari rumah sampai pulang kembali untuk mencari nafkah yang halal dan thoyyib.”

Subhanalloh wa bihamdihi, terucap dalam qolbu ini.

‘Apakah ini “pengaruh” dalam ber-mazhab?’ Saya ucapkan sambil senyum untuk mencairkan suasana, karena ada beberapa ‘ulama yang menyatakan bahwa hal – hal yang dikerjakan oleh istrinya bukanlah kewajiban sebagai istri. “Ah tidak, saya hanya menjalankan kewajiban Alloh Ta’ala dan mengikuti tuntunan Rosululloh saja.” Na’am akhi, karena setiap perintah dari Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya, pastilah ada manfa’at dan menolak mudhorot yang lebih besar, hanya DIA-lah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi setiap abdi-Nya. Maqoshid Syari’ah sering kita lupakan ketika hawa nafsu datang menuntut.

Pertanyaan ketiga datang dari orang tua kami. Apa si Eneng – istrinya diberikan kesempatan untuk bekerja saja di Indonesia ini, kalau – kalau bosan dan suntuk di rumah? Tentunya dengan jam kerja fleksibel supaya kewajiban merawat dan mendidik anak tidak terlupakan.

Jawaban tegasnya kembali keluar dan inilah memang seharusnya para Qowwam berbicara untuk hal ini:

“Ya kewajiban mencari nafkah keluarga kan dibebankan ke kita para suami? Istri tidak wajib menafkahi keluarganya. Lagipula dengan kondisi kehidupan saat ini, alangkah banyaknya mudhorot – kerusakan apabila wanita kerja di luar rumah. Biarpun mereka mungkin masih bisa istiqomah berhijab syar’i, tetapi di dalam kendaraan umum dan di tempat kerja terjadi ikhtilat, tabarruj – berdandan untuk selain suami tapi di depan suami malah tampak kusam.

“Yang lebih parahnya apa coba? Kalau mereka harus keluar kota untuk urusan dinas dan training upgrade kompetensi kerja, kan itu termasuk harom karena bersafar tanpa mahrom! Belum lagi ketika family gathering ke tempat wisata atau apapun lah namanya, masa’ mereka yang sudah berhijab sesuari syari’at kok bisa tidak tahu kalau bersafar tanpa mahrom itu harom? Sudah gitu foto – foto dosa dipajang berderet di akun sosmed. Dosa kok dipajang? Waktu lagi buat dosa ikhtilat di antara pria – pria non mahrom, malah senyum puas dan tertawa senang. Aduh, itu mah lagi istidroj, lagi diulur waktu sama Alloh biar tambah banyak dosanya. Alhamdulillah, itulah mengapa si Eneng memutuskan untuk mencukupkan diri berkarir di rumah saja sebagai istri dan Mamah bagi anak – anak kami. Tawakkal dan Qona’ah, biarlah Alloh yang mencukupkan kebutuhan keluarga kami.”

Akhirnya keluarlah ayat-Nya yang mulia dari lisannya dengan jari telunjuk kanan menghadap ke langit:

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَـٰهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ … (٣٣)

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti wanita – wanita Jahiliyah dahulu ber-tabarruj…” (Q.S. Al – Ahzab (33): 33)

 Mungkin jawaban di atas akan mendapat komentar dan kritikan pedas bernada tidak setuju dari beberapa muslimah dan aktivis emansipasi wanita saat ini.

Jawaban ikhwan kita ini, mengingatkan saya akan kisah ikhwan kita yang lain. Di satu malam pergantian tahun Masehi beberapa tahun lalu, sampai pukul 9 malam istrinya belum juga datang. Pintu rumah diketuk istrinya pukul 10 malam. Tetapi pada pukul 11 malam, hape istrinya berdering. Boss-nya mengatakan istrinya ditunggu di luar rumah oleh supir dan kendaraan kantor, diminta kembali ke kantor saat itu juga untuk menyelesaikan pembukuan sebelum Boss-nya berlibur panjang akhir tahun ke luar negeri di esok paginya.

Sang suami marah besar dan kecewa akan hal ini. Pernikahan mereka di ambang perceraian karena istrinya bersikeras mempertahankan karirnya. Alhamdulillahi wahdah, mereka mengembalikan semua ke syari’at-Nya dengan niatan komitmen awal di pernikahan mereka. Na’am, mencari ridho-Nya dalam bingkai pernikahan. Sang istri memilih untuk tidak mengikuti trik keturunan Iblis untuk menceraikan pasutri, dengan ikhlas dan ridho mengikuti keinginan suaminya untuk berkarir di rumah tangga.

Obrolan kembali berlanjut setelah pulang Isya’ dari masjid. Pembicaraan kami moderasikan ke arah pra-pernikahan mereka. Lebih dari 3 kali trial seingat saya, ikhwan kita berusaha meyakinkan si Eneng untuk diajak beribadah kepada-Nya dalam bingkai pernikahan. Ketika akhirnya si Eneng luluh, cobaan kedua datang dari Papa-nya.

“Pekerjaan dan gajimu berapa sudah berani mau menikahi anak saya?” karena ikhwan tersebut baru saja lulus kuliah dan baru bekerja dengan pendapatan sedikit di atas UMK di pulau seberang. Jawaban ikhwan kita cukup sederhana:

“Mohon maaf sebelumnya kalau saya balik bertanya. Ketika Bapak dan Ibu menikah dulu, apakah gaji, rumah dan kendaraan yang ada saat ini sudah dimiliki juga? Maaf, saya yakin niatan Bapak sama seperti saya saat itu. Yaitu ingin beribadah kepada Alloh dengan menikah, dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya.”

Mantap. Jawaban logika diberikan untuk para pria yang umumnya berpikir penuh logika.

Dari Abu Hatim al-Muzany, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, bersabda:

“Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan”.

Para sahabat bertanya, “Wahai Rosululloh, sekalipun ia memiliki kekurangan (duniawi)?”

Beliau menjawab, “Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia”, beliau mengulanginya tiga kali. (HR. Tirmidzi).

Banyak sekali perbedaan tafsiran dan komentar dari para ‘ulama mengenai hadits ini, dan tidak akan ana sampaikan satu persatu. Namun, satu benang merah yang dapat diambil dari “…fitnah di muka bumi dan kerusakan”, adalah celah – celah dosa dan keburukan terutama bagi wanita apabila menunda – nunda pernikahan. Di antara dosa dan keburukan yang bisa terjadi adalah dikesampingkannya syari’at Islam, hilangnya rasa malu, tidak mau menuntut ‘ilmu syar’i, dilupakannya hijab syar’i, ikhtilat, tabarruj, bersafar tanpa mahrom, dan menunjukkan dosa secara terang – terangan di dunia maya. Na’udzubillahi min dzalik!

***

Kini, Alloh Ta’ala telah membalas niatan, usaha dan tawakkal-mu pada-Nya, akhi. Salam dan lambaian tangan dari keluarga kalian mengiringi pamit pulang dari rumah kami. Sungguh, pengalaman berharga bagi kami pada khususnya. Jeep tuamu menghilang jauh dari pandangan, diiringi salam dan ucapan Barokallohu fiika!

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 14 September 2016 in Uncategorized

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s