RSS

Ghibah yang Diperbolehkan

21 Aug

Bismillahi Ar-Rohmani Ar-Rohimi.

Assalamu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Innal hamda lillah, hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fiihi. Wash Sholatu wa Sallamu ‘ala Rosulillah.

Ayyuhal Ikhwah, artikel kali ini ana angkat sebagai pengingat lupa dan penyokong ingatan. Banyaknya tampilan di media massa, cetak, elektronik saat ini, menyuguhkan tampilan – tampilan penuh ghibah, entah dari tayangan gosip, talk show, entertainment, lifestyle dan lainnya. Kenyataan ini sebenarnya sangat membuat miris menggurat di qolbu, karena sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di bumi-Nya, tapi tayangan seperti ini malah semakin menjamur.

Ghibah adalah pengertian secara bahasa, bahasa Indonesia mengenalnya sebagai menggunjing, gosip, membicarakan tentang hal ihwal orang lain. Pengertian secara syari’at, kita mendapatkannya dari Qur’an dan hadits Rosululloh.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang ghibah ini dengan perumpamaan “memakan daging saudaranya sendiri”:

…وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُواْ اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ (١٢)

 “…Dan janganlah sebagian kamu meng-ghibah sebagian yang lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Alloh! Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(Q.S. Al – Hujurot (49): 12)

عَن أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ، قَالَ: أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالُوْا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيْلَ: أَفَرَ أَيْتَ إِن كَانَ فِي أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ، فَقَدْ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairoh RA., Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:

“Tahukah kalian apa itu Ghibah?”

Para sahabat menjawab; “Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui.”

Beliau bersabda: “Engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang tidak dia sukai (apabila hal tersebut dibicarakan).”

Seorang sahabat bertanya; “Bagaimana jika yang kami bicarakan itu memang benar – benar terjadi (ada) padanya?”

Beliau menjawab: “Maka itulah Ghibah! Tetapi apabila kamu membicarakannya tentang sesuatu yang tidak ada padaya (tidak dilakukannya), maka kamu berdusta padanya.” (HR. Muslim IV/ 2001, no. 2589)

Dalam ranah ushl fiqh, segala larangan dari Alloh Ta’ala dalam Qur’an dan larangannya juga disabdakan pula oleh Rosululloh, apabila dilakukan maka dihukumi sebagai dosa besar. Dosa besar ini akan semakin membesar kadarnya, terlebih apabila disebarkan dan diikuti orang lain.

Satu pertanyaan pernah tersampaikan, apakah ghibah dalam hal jelek tentang seseorang saja? Bagaimana jika tentang hal baiknya, dalam arti lain bagaimana jika membicarakan hal tentang kebaikan orang lain? Misalkan tentang ke-sholehan si fulan, shodaqoh si fulan, tawadhu’nya si fulan, dan lainnya. Jawabnya masih ada di hadits Rosululloh di atas dengan key word: “sesuatu yang tidak dia sukai”. Ikhwah, perihal dosa dan aib kita, sudah sangat jelas kita tidak mau seorang pun tahu dan membicarakannya bahkan sampai ke media massa, cetak ataupun elektronik. Tetapi untuk ‘amal sholih kita diangkat menjadi topik pembicaraan, tidak semua orang mau dan bisa menerimanya. Mungkin di antara kita ingat hadits “melemparkan pasir ke orang yang memuji kita.”

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنْ نَحْثِىَ فِى وُجُوهِ الْمَدَّاحِينَ التُّرَابَ. (رواه لمسْلم)

Kami diperintahkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, untuk menyiramkan pasir ke wajah orang-orang yang memuji.” (HR. Muslim no. 3002)

Kenapa? Karena hal itu bukanlah konsumsi publik, cukuplah kita pribadi dan Alloh Ta’ala yang Maha Tahu sebagai sebaik – baik penilai, dan orang lain belum tentu menerimanya dengan hal positif, bisa saja kebaikan – kebaikan seseorang malah menjadi bahan ejekan dan hinaan bagi yang di hatinya ada penyakit hati yaitu hasad dan dengki. Hal ini akan berbeda apabila dosa kita lakukan terang – terangan, juga kisah/ cerita dosa itu malah kita pajang di akun sosmed kita, atau kita membiarkannya ada di akun sosmed teman kita.

Beberapa ikhwan kita bahkan ana sendiri sempat mengalaminya, bagaimana ikhwan/ akhwat kita yang sedang mengingatkan saudara/ saudari kita yang lain malah jadi bahan ejekan dengan menyandingkannya kepada saudara/ saudari kita yang lebih sholih/ sholihah.

“Kamu sok ingetin saya aja seperti yang sudah ‘alim/ benar, seperti si fulan/ fulanah itu yang sering ingetin saya… (dengan nada mencibir).”

Lalu dimanakah perintah-Nya untuk saling ingat – mengingatkan dan saling tolong menolong dalam berbuat kebaikan dan takwa kita letakkan, ikhwah?

Dari kedua tipe ghibah yang tersirat, terkadang mungkin kita masih bingung tentang kapan ghibah menjadi terhukumi dosa? Maka dari hal itulah, para ‘ulama ahlu sunnah memberikan batasan – batasan ghibah yang diperbolehkan. Kami kutip dari kitab Riyâdhus Sholihin karya Imam An – Nawawi Rohimahullohu Ta’ala, enam hal/ batasan ghibah yang diperbolehkan:

  1. Ghibah dalam rangka untuk mengadukan orang yang menganiaya, kepada penguasa atau wali hakim (atau semisal kepada aparat polisi, TNI, hakim, jaksa dan lainnya). Misalkan orang yang dianiaya itu mengatakan:

“Si fulan telah menganiaya aku seperti ini.”

“Omongan/ sifat si fulan telah membuatku seperti ini.”

Tujuan point no.1 ini adalah memberikan informasi akurat dan faktual, agar penganiaya mendapatkan ganjaran/ hukuman atas perbuatannya yang menganiaya orang lain.

  1. Ghibah dalam rangka sebagai sarana untuk merubah kelakuan, sikap dan sifat orang yang suka berbuat kemungkaran & dosa, supaya dia mau kembali ke jalan yang benar. Contohnya seseorang berkata (meng-ghibah) orang yang berbuat kemungkaran dan dosa (si A) kepada orang lain (si B), agar si B mau menyampaikan/ mengingatkan dengan harapan si A mau kembali ke jalan-Nya yang diridhoi-Nya. Misalkan perkataannya seperti:

“Si fulan/ fulanah kemarin melakukan hal begitu/ begini, ingatkanlah dia ya kalau itu dosa!”

“Sampaikanlah kalau yang dia lakukan selama ini bisa merusak harkat dan martabatnya sendiri, juga menurunkan penilaian orang lain/ ummat lain kepada dia atau kita ummat Islam.”

Tujuan point no.2 ini adalah bertujuan agar kemungkaran dan dosa yang ia lakukan berhenti. Jika di luar tujuan ini, maka hukumnya harom.

  1. Ghibah dalam rangka meminta fatwa. Contohnya seperti seseorang berkata kepada mufti (pemberi fatwa): “Ayahku menganiaya aku begini, apakah ia dibenarkan (menurut syari’at) melakukan hal tersebut? Lalu bagaimana caraku untuk menghindari hal itu? bagaimana supaya aku memperoleh hak-ku dan menolak kezalimannya?”

Bila ada kepentingan yang mendesak maka hal itu diperbolehkan. Tetapi sebaiknya jangan menyebutkan nama orang yang berbuat aniaya secara terus terang. Cukup dengan mengatakan “Seseorang”, yang penting maksudnya tercapai/ tersampaikan, meskipun hal itu juga diperbolehkan. Seperti dari hadits tentang Hindun, yang akan kami kemukakan nanti di bawah.

  1. Ghibah dalam rangka untuk memberi peringatan kepada kaum muslimin agar tidak terjerumus ke dalam kejahatan. Contohnya adalah mencela para perawi hadits atau saksi yang cacat. Berdasarkan kesepakatan kaum muslimin hal ini hukumnya boleh, bahkan wajib karena sangat diperlukan.

“Perawi hadits itu hapalan haditsnya kacau!”

“Si perawi tersebut telinganya kurang mendengar!”

“Perawi hadits tersebut pernah berdusta dalam meriwayatkan hadits!”

“Si fulan/ fulanah hapalan qur’an dan hadits-nya sering lupa.”

“Si fulan bilang kalau Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam  tidak dijamin masuk Surga!”

Contoh lain dalam hal bermusyawaroh yang terkait hubungan besan atau menantu, atau mitra kerja, dan lain sebagainya. Hal itu supaya persoalannya menjadi menjadi jelas. Bahkan boleh mengungkapkan kejelekan dengan niat untuk memberikan nasihat.

“Hasil pekerjaan si fulan/ fulanah sering tidak rapi kalau tidak diawasi.”

“Putri saya punya udzur kedua matanya sudah minus/ plus sekian.”

“Si fulan/ fulanah sering meminta uang ke kontraktor, hati – hati jangan ikut – ikutan!”

Contoh lain bagi seorang ‘ulama ahli fiqih yang berulang – ulang kali harus bertemu muridnya yang suka membuat bid’ah atau yang fasiq. Demi menghindari bahaya yang tidak diinginkan ia harus memberi nasihat  dengan mengungkapkan keadaan yang sebenranya. Tetapi sekali lagi harus dengan syarat dalam rangka untk memberi nasihat. Hal ini memang sering menimbulkan salah paham atau salah pengertian. Oleh karena itu, setiap orang harus berhati – hati sekali di sini, karena setan akan berusaha mengaburkan masalah yang pelik. Contoh lain lagi adalah dalam rangka memperingatkan seseorang penguasa yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya karena mungkin ia bukan orang yang tepat, atau ia orang yang fasiq, atau ia orang yang lalai. Boleh hukumnya memperingatkan masyarakat dengan menuturkan kejahatan penguasa seperti ini, supaya mereka tahu keadaan yang sebenarnya, sehingga orang lain tidak tertipu, atau ada orang lain yang berani memperingatkan tindakannya atau memperbaiki keadaannya.

  1. Ghibah dalam rangka untuk menyadarkan orang yang terang – terangan melakukan kefasikan. Contohnya orang yang suka minuman keras (memabukkan), atau orang yang suka merampas harta orang lain, atau orang yang suka melakukan tindakan kriminal dan lain sebagainya. Boleh hukumnya menyadarkan orang seperti itu dengan cara mengungkapkan kejelekan – kejelekannya secara terus terang. Tetapi di luar itu harom hukumnya membuka aib orang lain tanpa ada alasan seperti yang kami kemukakan tadi.
  1. Ghibah dalam rangka memberi penjelasan atau pengertian. Misalnya ada orang yang lebih dikenal dengan panggilan “Si Buta, Si Tuli, Si Bisu, Si Bongkok, Si Pincang” dan lainnya. Contohnya:

A: “Pak, mau tanya alamat rumah si Budi.”

B: “Budi yang mana? Di sini Budi ada 2, yang pincang dan yang normal.”

A: “Iya Budi yang pincang sebelah, Pak.”

B: “Oh, kalau rumah Budi yang pincang maka alamatnya ke arah sana.”

Dalam hal ini seseorang boleh menyebutnya dengan gelar/ panggilan tersebut tetapi asal bukan dengan maksud mengejek atau menghina. Jika dengan niat mengejek atau menghina maka hukumnya harom. Tetapi sebaiknya hal itu sebisa mungkin harus dihindari.

Ayyuhal Ikhwah, enam tipe ghibah di atas adalah contoh ghibah yang diperbolehkan. Tentunya Imam An – Nawawi tidaklah membuat aturan – aturan baru daripada yang telah digariskan oleh Alloh Ta’ala dalam Qur’an maupun menyelisihi sunnah Rosululloh. Beliau membawakan beberapa dalil – dalil dari Sunnah Rosululloh, sebagai berikut:

  1. Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang bersifat jahat:

عَنْ عَا ىِٕشَةَ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَجُلًاإِسْتَأذَنَ عَلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ، فَقَالَ: إِىْٔذَنُوْالَهُ، بِىْٔسَ أَخُوْ الْعَشِيْرَةِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Dari `Aisyah RA, sesungguhnya seseorang meminta izin kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Beliau bersabda; “Berilah izin kepada orang itu, meskipun ia adalah orang yang jahat di tengah – tengah keluarganya.” (Muttafaqun ‘alaihi: HR. Bukhori X/467, no.6032 dan Muslim IV/ 2002, no. 25591)

  1. Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang yang tidak paham agama:

وَعَنهَا، قَالَت: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ: مَا أَظُنُّ فُلَا نًا وَ فُلَانً يَعْرِفَانِ مِنْ دِيْنِنَا شَيْىًٔا (رواه البخاري)

Dari `Aisyah RA, ia menuturkan bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda; “Aku tidak yakin si fulan dan si fulan mengetahui tentang agama kami sedikit pun.” (HR. Bukhori X/500, no. 6068)

  1. Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam meng-ghibah 2 sahabatnya:

وَعَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،فَقُلْتُ: إِنَّ أَبَاالْجَهْمِ وَمُعَاوِيَةَ خَطَبَانِيْ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَّا مُعَاوِيَةُ، فَصُعْلُوكٌ لَامَالَ لَهُ، وَأَمَّا أَبُوْالْجَهْمِ،فَلَا يَضَعُ الْعَصَاعَنْ عَاتِقِهِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

وَفِيْ رِوَايَةٍلِمُسْلِمٍ: وَأَمَّا أَبُوْالْجَهْمِ فَضَرَّابٌ لِلنِّسَاءِ وَهُوَ تَفْسِيْرٌ لِرِوَايَةٍ: لَا يَضَعُو الْعَصَاعَنْ عَاتِقِهِ وَقِيْلَ: مَعْنَاهُ: كَثِيْرُ الْأَسْفَارِ

Dari Fathimah binti Qois RA, ia berkata; “Aku datang menemui Nabi Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam dan berkata, `Sesungguhnya aku dilamar oleh Abu al – Jahm dan Mu’awiyah.’ Beliau bersabda; “Mu’awiyah itu miskin dan tidak mempunyai harta kekayaan. Sementara Abu al – Jahm, tongkatnya tidak pernah lepas dari pundaknya (kasar terhadap wanita).” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dari riwayat Muslim disebutkan:

“…adapun Abu al – Jahm itu orang yang tongkatnya tidak pernah lepas dari pundaknya, maknanya orang yang suka memukul istrinya.” (HR. Muslim II/ 1141, no. 1480)

  1. Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam dengan orang – orang munafiq:

وَعَنْ زَيْدٍ بْنِ أَرْقَمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ فِيْ سَفَرٍ أَصَابَ النَّاسَ فِيْهِ شِدَّةٌ، فَقَالَ عَبْدُ اللَّه بْنِ أُبَييِّ: لَا تُنْفِقُوْا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ حَتَّى يَنْفَضُّوْا، وَقَالَ: لَىِٕنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِيْنَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ، قَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ، فأَخْبَرْتُهُ بِذَلِكَ، فَأَرْسَلَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَييِّ، فَاجْتَهَدَ يَمِيْنَهُ: مَا فَعَلَ، فَقَالُوْا: كَذَبَ زَيْدٌ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ، فَوَقعَ فِيْ نَفْسِيْ مِمَّا قَالُوْهُ شِدَّةٌ حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى تَصْدِيْقِيْ: إِذَاجَآءَكَ الْمُنَــٰفِقُونَ…ثُمَّ دَعَاهُمُالنَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ لِيَسْتَغْفِرَ لَهُمْ فَلَوَّ وْارُؤُوْسَهُمْ.(مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Dari Zaid bin Arqom RA, ia bercerita ketika kami berada dalam perjalanan bersama Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, tiba – tiba rombongan kami mendapat kesulitan.

`Abdulloh bin Ubay berkata; “Kalian jangan ada yang membantu orang – orang yang bersama Rosululloh, sampai mereka meninggalkan tempat ini.:

Lebih lanjut ia mengatakan, “Jika kami sudah tiba di Madinah, tak pelak orang – orang yang mulia itu akan mengusir orang – orang yang hina.”

Aku lalu menemui Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam dan mengabarkan hal tersebut. Selanjutnya beliau mengutus seseorang untuk memanggil `Abdulloh bin Ubay. Tetapi ia tidak mengaku atas apa yang telah ia ucapkan. Bahkan untuk menguatkan pengakuannya, ia sampai berani bersumpah, sehingga orang – orang mengatakan, “Si Zaid telah berdusta kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.”

Hatiku sangat prihatin dengan apa yang terjadi, sampai akhirnya Alloh Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya membenarkan perkataanku;

إِذَاجَآءَكَ الْمُنَــٰفِقُونَ…(١)

“Apabila orang-orang munafiq datang kepadamu…” (Q.S. Al – Munafiqun (63): 1)

Kemudian Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam mendo’akan semoga mereka diampuni, tetapi mereka malah memalingkan kepala. (Muttafaqun ‘alaihi: HR. Bukhori VIII/ 515, no. 4903 dan Muslim IV/ 2140, no. 2772)

  1. Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam memberi fatwa kepada shohabiyah Hindun RA:

وَعَنْ عَاىِٕشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَتْ هِنْدٌ امْرَأَةُ أَبِيْ سُفْيَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَبَاسُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيْحٌ وَلَيْسَ يُعْطِيْنِيْ مَا يَكْفِيْنِيْ وَ وَلَدِيْ إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ؟ قَالَ: خُذِي مَايَكْفِيْكِ وَ وَلَدَكِ بِاالْمَعْرُوْفِ .(مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Dari `Aisyah RA, ia berkata; “Hindun istri Abu Sufyan berkata ke Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, ‘Abu Sufyan itu suamiku yang kikir. Dia tidak pernah memberi uang belanja yang mencukupi aku dan anakku, kecuali aku harus mengambilnya sendiri tanpa sepengetahuannya.` Beliau bersabda; “Ambillah sekedar yang dapat mencukupi belanjamu dan anakmu dengan cara yang ma’ruf.” (Muttafaqun ‘alaihi: HR. Bukhori IV/ 473, no. 2211 dan Muslim III/ 1338, no. 1714)

***

Ayyuhal Ikhwah, dari penjelasan Imam an – Nawawi di atas, telah menjelaskan kepada kita batasan tentang ghibah yang diperbolehkan. Batasan dari rambu – rambu hadits nabawiyah, seharusnya kita jadikan batasan kita dalam berucap, menjaga lisan kita. Semoga tidak menjadi kedengkian karena kesalah pahaman, karena kita tidak tahu batasan ghibah yang diperbolehkan, orang lain malah marah karena menyangka kita telah meng-ghibah dia dalam batasan yang diharomkan-Nya.

Ikhwah fillah, pisau dan senjata dapat mematikan langsung dalam sekejap dari jarak relatif dekat, namun ghibah…dapat dilakukan dari jarak jauh dan tidak perlu senjata mematikan…bisa membunuh karakter saudara/ saudari kita yang lain bahkan menancap lama, bahkan terus berlanjut biarpun mereka telah meninggal dunia. Na’udzubillahi.

Jika kita mempunyai dosa terhadap Alloh Ta’ala, dengan meninggalkan-istighfar-taubatan nasuhaInsya Alloh pasti dimaafkan-Nya, tetapi dosa antar sesama manusia…harus meminta maaf langsung dan dipenuhi hak – haknya.

Kita meminta perlindungan kepada Alloh Ta’ala, agar selalu memberikan hidayah dan tawfiq-Nya, dan kekuatan dan kemampuan untuk menjaga lisan kita dari dosa ghibah yang dilarang-Nya.

Billahit Tawfiq wal Hidayah. Wallohu A’lamu bish Showab.

Wassalamu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Rujukan:

  1. Kitab Riyâdhus Sholihin, Imam An – Nawawi Rohimahullohu Ta’ala, Bab XVIII: Hal – hal yang dilarang, sub bab Ghibah yang diperbolehkan.
Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 21 August 2016 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s