RSS

So’al: Menikahi Orang yang Dicintai atau Sebaliknya?

07 Aug

[Pertanyaan 6 tahun lalu]

So’al:

Assalamu’alaikum,

Saya seorang akhwat 27 tahun, di-khitbah oleh seorang ikhwan teman semasa kecil saya, kami bertemu kembali setelah 20 tahun lebih. Beberapa hari setelah bertemu kembali, kemudian ikhwan tersebut datang bersama kedua orang tuanya dengan niatan untuk meng-khitbah saya. Saya diberi waktu untuk berpikir dan sholat istikhoroh selama 2 minggu oleh kedua orang tua kami. Selama berpisah kami memang tidak pernah bertemu dan saya tidak tahu sama sekali infonya.

Namun info yang saya dapat dari kedua orang tua saya, agamanya memang terjaga karena ikhwan tersebut lulusan pesantren, biarpun memang kondisi ekonominya tidak seperti pekerja kantoran. Jujur, saya bingung, hati saya mencoba mencari – cari alasan untuk menerima ikhwan tersebut selain istiqomah-nya dalam hal agama, tapi perasaan khawatir itu malah datang, saya minder karena dia lulusan pesantren. Terus terang saya masih mau melanjutkan kuliah S1 dan masih ingin bekerja di PAUD dekat rumah.

Mana yang lebih baik bagi saya? Menikahi orang yang saya cintai atau mencintai orang yang saya nikahi?

Salam,

Ukhti Pur,

Jawab:

Bismillahi Ar-Rohmani Ar-Rohimi.

Wa’alaikumussalam wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Ukhti P yang dirohmati Alloh Ta’ala. Maha Suci DIA yang memiliki Kebesaran dan Kemuliaan, mempertemukan kembali antuma berdua setelah sekian puluh tahun, dan hal ini amatlah mudah bagi-Nya, dan semua telah tertulis di Lauhul Mahfuz. DIA bisa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, memisahkan, mempertemukan, mempersatukan dan memutuskan.

Dalam hal perasaan suka, kagum dan cinta – meminjam 3 kalimat yang pernah diucapkan seseorang adalah kondisi sangat ideal. Namun, apakah semua hamba-Nya akan melalui ini semua dalam jenjang sebelum pernikahan? Allohu A’lamu bish Showab, hanya DIA yang Maha Mengetahui dengan Benar. Kita bisa melihat di sekeliling kita, ataupun bahkan kedua orang tua kita yang lebih dahulu menikah, apakah mereka juga melalui 3 hal ini? belum tentu, kan?

Menikah adalah salah satu ibadah kepada-Nya, dan juga sebagai bentuk Ittiba’ (mengikuti) tuntunan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Disebutkan dalam Qur’an, pernikahan adalah perjanjian yang kuat – Mitsaqon Gholiza, sebagaimana firman-Nya:

…وَأَخَذْنَ مِنكُمْ مِّيثَــٰـقًا غَلِيظً (٢١)

“…Dan mereka (istri istrimu) telah mengambil dari kamu Perjanjian yang Kuat (ikatan pernikahan).(Q.S. An – Nisaa’ (4): 21)

Uniknya dan anehnya di masa ini, para pemuda – pemudi Islam sering menyalah artikan perasaan dan cinta, akibat apa yang telah didengar dan dibacanya dari lagu cinta yang di-haromkan-Nya, buku kaum feminis, novel berlabel “Islami”, drama dan sinetron cinta dari Jepang, Korea dan lainnya, maupun contoh menyimpang dari orang lain. Semua ini memang sangat menjual, dan pasti terjual kenapa? Karena fitrah manusia memang untuk ingin dicintai dan mencintai. Namun, media – media tersebut jauh sekali dari tuntunan Alloh Ta’ala dan Sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.

Dari yang anti sampaikan, akuilah dan imanilah sebenarnya inilah salah satu bukti dari sekian tanda – tanda Kekuasaan-Nya! 20 tahun dipisahkan-Nya, lalu bertemu kembali dan ikhwan tersebut dengan kedua orang tuanya berani mendatangi anti dan keluarga untuk meng-khitbah dirimu. Saya tanya ke diri dan “perasaan wanita” yang anti miliki, sebenarnya adakah perasaan cinta yang dimilikinya? Hanya dari sekali bertemu kembali? Na’am, pasti ada oleh karena itu ikhwan tersebut berani maju meng-khitbah dirimu biarpun dengan kondisi ekonomi yang tidak seperti pegawai kantoran yang anti sebutkan. Pastilah ikhwan tersebut pun memilih anti sebagai pendamping hidupnya untuk bersama, karena dia pasti tahu tuntunan Rosululloh dalam memilih istri sebagai pendamping hidup, biarpun mungkin agama yang anti miliki saat ini tidak selevel dengannya. Bukankah ini cara dan kesempatan yang baik untuk menjadi baik bersama di hadapan Alloh Ta’ala dalam bentuk pernikahan?

Allohu ‘Alimun, Alloh (selamanya) Maha Tahu apa yang terbaik bagi setiap abdi-Nya. Anti menyebutkan minder karena dia lulusan pesantren? Kenapa tidak Husnuzon kepada Alloh? Bukankah Alloh mempertemukan ikhwan tersebut kepada anti, agar anti bisa menutupi kekurangan diri dalam hal agama? Anti bisa belajar lebih dalam soal agama, bisa menapaki hidup berumah tangga dalam tuntunan Qur’an dan sunnah Rosululloh, bisa membesarkan dan men-tarbiyah anak keturunan dengan syari’at. Bersyukurlah karena ini, dan pergunakanlah kesempatan baik ini karena Alloh telah mengatur dan mempertemukan.

Dari Abu Hatim al-Muzany, Rosululloh SAW, bersabda:

“Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan”.

Para sahabat bertanya, “Wahai Rosululloh, sekalipun ia memiliki (kekurangan duniawi)?”

Beliau menjawab, “Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia”, beliau mengulanginya tiga kali. (HR. Tirmidzi).

Tidakkah anti meresapi dan berpikir lebih dalam dalam perenungan dan istikhoroh-mu? Setelah membaca berulang – ulang biarpun hanya sebatas yang anti sampaikan, ana pribadi berpikir bahwa ikhwan tersebut telah mempunyai alasan untuk anti terima, yaitu karena agama yang dimiliknya. Na’am, tidak ada insan yang sempurna seperti halnya ikhwan tersebut pasti punya kekurangan, mungkin di balik ketinggian ‘ilmu agamanya dia belum bisa atau masih belum paham bagaimana cara menyampaikan yang tepat ke pihak lain, sampai mungkin dianggap keras, dapat label sebutan kelompok tertentu, atau bahkan disebut tukang ghibah karena tidak bisa dan segan menyampaikan secara langsung.

Ukhti Fillah yang dirohmati Alloh Ar – Rohim. Tidak ada yang bisa menyelami cara berpikir dan yang ada di qolbu orang lain, bahkan kita pun terkadang bingung apa dan bagaimana yang kita inginkan sebenarnya termasuk dalam pasangan hidup. Coba anti sebutkan dari sifat dan yang harus ada dari calon yang anti inginkan dalam pasangan hidup. Rata – rata jawabannya adalah fisik dan muka yang proporsional dan rupawan, berpendidikan sederajat atau lebih tinggi, bertanggung jawab, satu suku, keturunan/ keluarga terhormat, agama yang dimilikinya, pekerjaan tetap dan penghasilannya, merasa nyaman dan nyambung dengan dia, … (Silahkan isi yang lainnya).

Apakah itu yang kita inginkan? Semua ada dari dia? Semuanya?

Lalu lihatlah diri kita sendiri, ukhtana! Apakah semua itu ada di diri kita? Apakah kita sudah pantas untuk dicintai dan dipilih?

Maka itulah Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan petunjuk dalam Qur’an dan lisan mulia Nabi-Nya Shollallohu ‘alaihi wa Sallam,  rambu – rambu pedoman hidup kita sebagai ummat Islam dalam bertindak dan bertingkah laku untuk mengisi sisa hidup ini, yaitu dengan syari’at Islam!

Persoalan merasa minder atau tidak pantas untuk dipilih dan dicintai, terkadang memang sering terlintas untuk masa – masa pra nikah ini. Dan luar biasanya syaithon memperburuk suasana ini dengan rasa waswas, mimpi buruk dan menyeramkan tentang dia, mencoba berpacaran dulu, bisikan – bisikan yang selalu mengingatkan tentang keburukan dia saja, dan lainnya.

Setelah memilih mundur, banyak sekali di antara para muslimah saat ini mencoba “menghibur diri” dengan aktifitas kesibukan di luar agama. Hari demi hari, minggu berganti minggu, bulan berganti, hingga tahun berganti, sehingga niatan mulia untuk menjaga diri dari fitnah terlupakan. Alasannya adalah (mungkin) memantaskan diri untuk dicintai, tetapi mereka tidak tahu memulai dari mana dan bagaimana. Memperbaiki diri dengan hijab sesuai syari’at menunggu THR saja, merasa suntuk dan bosan di rumah pergi ke luar reunian dan hang out dengan non mahrom bahkan non muslim, belajar agama hanya sebatas dari gadget dan ustadz artis saja, foto – foto ikhtilat dan dosa kian bertumpuk di akun sosmednya dan teman – temannya, dan lainnya. Fitnah yang mengundang adzab-Nya di masyarakat akhirnya muncul dari diri sendiri karena menolak dan terus menolak ikhwan yang datang. Di manakah dan bagaimanakah do’a ingin meminta pasangan hidup yang pernah dan sering anti munajat-kan pada-Nya?

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَـٰهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ … (٣٣)

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti wanita – wanita Jahiliyah dahulu ber-tabarruj…” (Q.S. Al – Ahzab (33): 33)

Dan hal – hal di atas adalah bentuk bujuk rayu syaithon yang akhirnya menjauhkan muslimah dari menyegerakan pernikahan, padahal telah datang seorang ikhwan yang baik agama dan akhlaknya, meminangnya untuk beribadah dalam pernikahan.

Setelah paparan yang lebar ini, akhirnya inilah jawaban yang sama yang ana sampaikan ke anti waktu itu:

Cintailah orang yang anti nikahi kelak, biarpun keduniawian tidak dimilikinya. Cintailah dia yang anti nikahi kelak, biarpun anti tidak pernah mencintainya dia sebelumnya. Cintailah orang yang anti nikahi dengan 1 alasan, yaitu karena agama yang dimilikinya!

Karena 3 pertanyaan fitnah kubur setelah nyawa berpisah dari raga bukanlah darimana kamu berasal? apa sukumu? berapa hartamu?

Siapakah Robb-mu?

Apakah agama-mu?

Dan siapakah orang yang telah diutus-Nya kepadamu?

Ini saja yang bisa ana sampaikan,  bertakwalah kepada Alloh Ta’ala wahai saudariku fillah! Dan semoga alasan memilihnya karena agama yang dimilikinya membuat Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan ridho memberikan rohmat dan barokah-Nya kepada kalian berdua.

Untuk bersama – sama menjaga, melindungi, mendidik, membimbing, membina dan mentarbiyah diri dalam majlis pernikahan.

Untuk bersama – sama mencari sakinah, mawaddah, ridho, rohmat, ampunan dan barokah-Nya!

Allohu A’lamu bish Showab.

Wasalamu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

***

[Kini 6 tahun telah berlalu. Alasan tepatmu memilihnya karena agama yang dimilikinya, tidaklah disia – siakan oleh Alloh Ta’ala. Kehidupan harmonis, buah hati yang sehat dan sholih, juga usaha yang barokah telah dipenuhi sesuai janji-Nya. Innaka Laa Tukhliful Mi’ad!]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 7 August 2016 in Uncategorized

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s