RSS

Hidayah wa Tawfiq bag.2

06 Aug

[Sambungan dari https://hanifroad.wordpress.com/2014/01/19/hidayah-wa-tawfiq/]

Bagian 2.

Pengertian dan Pemahaman

4-tipe-penerima-hidayah

Bismillahi Ar-Rohmani Ar-Rohimi.

Ayyuhal Ikhwah, artikel ini kami mulai dengan beberapa pernyataan dan pertanyaan yang sering disampaikan kepada kami.

“Ini sudah hidayah dan hijrah yang keberapa kalinya, Ustadz.”

“Si fulan/ fulanah sudah sering ke pengajian tapi kok masih begitu saja kelakuannya?”

“Sudah berhijab syar’i kok masih sukanya jalan – jalan dengan non mahrom dan lebih akrab dengan non muslim?”

“Tolonglah disampaikan ke si fulan/ fulanah, masa kemarin dia begini dan begitu, kan dia saudara/ saudari kita juga di jalan Alloh!?”

Akhi/ ukhti, kemarin si fulan/ fulanah kembali melakukan hal serupa seperti di masa lalunya.”

Dan sederet pernyataan juga pertanyaan serupa lainnya, dari ikwan dan akhwat seakidah kita. Ikhwah, beberapa pernyataan dan pertanyaan di atas, memang sangat erat terkait dengan Hidayah dan Taufiq. Terkadang kita hanya bisa senyum kecut menyadari kebenaran tanda cinta kita atau mereka kepada saudara/ saudari kita yang masih menyia – nyiakan hidayah-Nya.

Kenyataan ini lebih menusuk relung qolbu kita apabila mereka malah menganggap kita meng-ghibah mereka karena sejatinya kita ingin menarik mereka kembali bersama – sama kita ke jalan-Nya yang benar, (mungkin) mereka belum tahu kalau ada batasan ghibah yang diperbolehkan seperti dalam urusan ingat mengingatkan dalam soal kebaikan dan takwa.

Ikhwah fillah, kita harus selalu ingat bahwa Alloh Ta’ala mempunyai salah satu nama yang termasuk dalam Asma’ul Husna terkait dalam hal ini, yaitu Al – Hadi yang artinya adalah Maha Pemberi Petunjuk. Namun, apakah semua hamba ini memang pasti akan menerima petunjuk? Lalu setelah mendapat petunjuk dari Alloh Al – Hadi, apakah akan mengikuti dan mengamalkannya? Inilah 2 point penting dalam hal ini, point pertama adalah mendapat petunjuk, sedangkan point kedua adalah mengikuti dan mengamalkan petunjuk. Persoalan Pemberi Petunjuk, hanyalah Alloh Al – Hadi yang memiliki hak prerogatifnya.

Ikhwah, Hidayah dari kata HadâyatuHidayatan yang diambil dari kata ArsyadaYursyiduIrsyadu, yang berarti membimbing, menunjukkan. Peribahasa yang dimaklumi bersama yaitu “Malu bertanya akan sesat di jalan” memanglah benar adanya.

Bagaimana mungkin seseorang yang buta arah bisa sampai di tujuan? Bagaimana mungkin seseorang bisa menyelesaikan persoalan matematika bila tidak tahu rumus dan cara penyelesaiannya? Jadi, tidak ada ceritanya “Siapa yang berjalan maka dia akan sampai”1 kalau dia tidak tahu arah jalan yang benar! Di sinilah diperlukannya bimbingan dan penunjuk jalan dan arah untuk menuju tujuan.

Sebelum lebih lanjut, kita pahami dulu pengertian Hidayah dan pembagiannya.

1. Hidayatul ‘Ilmu wal Bayan.

Hidayah berupa ‘ilmu dan penjelasannya (al – bayan, bayyinah). Hidayah ini termasuk hidayah level – 1 yang masih berupa umum. Output dari hidayah bersifat umum ini adalah membuat dari tidak tahu menjadi tahu. Yang harus DIINGAT adalah point “membuat dari tidak tahu menjadi tahu”, belum membuat dari tidak tahu menjadi tahu dan menjadi BENAR.

Jalan untuk mendapatkan hidayah ‘ilmu wal bayan sangatlah variatif. Antum bisa mendapatkannya dari Qur’an dan sunnah Rosululloh SAW, dari mendengar nasihat, membaca media koran/ elektronik, buku, poster, dari ustadz/ guru/ ahli ‘ilmu, dari sesama muslim/ muslimah, bahkan dari orang – orang di luar Dien ini sekalipun. Tidaklah mengherankan kalau ada universitas di Amerika yang juga mengajarkan tafsir Qur’an dan hadits, tetapi dosen/ professor yang mengajarkan tetaplah non muslim.

Kasus-1: Antum mau ke Bandung tetapi tidak pernah sebelumnya. Apa yang akan antum lakukan? Pasti bertanya ke orang Bandung, atau mencari info dari media cetak/ elektronik, minimal 2 hal ini. Antum lalu akan dapat info arah jalan dan jalur yang harus dilalui, kendaraan umum yang harus dinaiki bila tidak membawa kendaraan sendiri, tentatif biaya yang harus dikeluarkan, harus mulai dari mana dan berhenti di mana, juga semua info untuk kembali ke tempat asal. Jikalau semua info ini telah didapat, maka apa yang akan antum lakukan? Mau mengikuti atau nekad saja? Atau mengikuti arah burung terbang seperti ‘Arab Jahiliyah?

Kasus-2: Anti diberi tahu atau telah mendapat petunjuk bahwa ber-hijab fisik itu wajib hukumnya bagi setiap muslimah. Selanjutnya bagaimana? Tentunya ada batasan wajb dan larangan dalam berhijab fisik, kan? Apakah celana pantalon dan jeans termasuk yang diperbolehkan? Kaki termasuk aurat bukan? Khimar-kerudung boleh cukup sampai leher saja apat tidak? Kain pashmina yang dililit lilit di kepala berikut sejumlah jarum pentul apa sudah cukup? Masih boleh pakai rok ketat atau tidak? Atau cukup ikut rumah mode yang memaksa untuk menulis sesuai syari’at? Atau ikut mode majalah “Feminis”? atau ikut mode ber-hijab dari ustadz artis/ artis ustadz saja?

Kasus-3: Alhamdulillah kalau antum termasuk yang rutin mendatangi majlis ‘ilmu pengajian agama. Para ikhwan dan akhwat sudah mulai mengikuti sunnah – sunnah Rosululloh SAW. Kitab dan catatan kajian selalu penuh dengan hasil ‘ilmu dari majlis pengajian agama. Lalu apakah para muslim/ muslimah cukup dengan itu saja dalam hidupnya? Tentunya tidak, kan? Karena Islam menjabarkan bagaimana hukum – hukum dari bangun tidur sampai tidur lagi, apalagi batasan bermu’amalah dengan orang tua, saudara, non mahrom bahkan non muslim. Tentunya antum harus tahu juga kalau teman semasa kecil, teman kantor dan teman perumahan tidak langsung menjadikan mereka menjadi mahrom kita, tidak lantas kita boleh berikhtilat, keluar rumah dan bersafar, juga memghadiri perayaan dalam agama mereka.

Dari ketiga contoh kasus di atas, kami pikir sudah cukup untuk menjelaskan Hidayatul ‘Ilmu wal Bayan.

Ketahuilah Ikhwah, dari hidayah level – 1 ini saja pun, banyak dari kita yang sudah terputus dari Tawfiq-Nya. Dari sekian banyak media dan pihak yang menyampaikan hidayah dari-Nya, semuanya akan sia – sia karena berbagai alasan dari dalam diri. Apa dampak buruk yang terjadi selanjutnya? silahkan lihat ke diri kita masing – masing.

2. Hidayatul Tawfiq.

Taufiq/ tawfiq, tersusun dari huruf wau (و), fa’ (ف) dan qof (ق), menjadi wafaqo’ – sepakat menerima. Bahasa Indonesia menyerapnya menjadi mufakat – sepakat/ kesepakatan. Lengkapnya, Hidayatul Tawfiq adalah level – 2 dan bersifat khusus, petunjuk dari Alloh Ta’ala yang meresap dan dibenarkan di qolbu, sehingga memberi kesesuaian, kemudahan dan semangat untuk mengikuti dan mengamalkan ‘ilmu petunjuk-Nya. Output dari Hidayatul Tawfiq ini adalah kesepahaman, kesesuaian dan kemudahan dari-Nya untuk mengamalkan ilmu petunjuk syari’at Yang BENAR dalam setiap aspek langkah hidup kita.

Kata kunci/ key word dari Hidayatul Tawfiq ini adalah kesepakatan dari diri kita terhadap petunjuk aturan-Nya. Kesepakatan dari diri kita terhadap petunjuk aturan-Nya, akan membuat Alloh Ta’ala ridho memberikan kemudahan dalam menjalani syari’at-Nya. Rosululloh SAW telah bersabda:

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَه

“Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Alloh maka tidak ada sesuatu pun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada sesuatu pun yang dapat memberinya hidayah.” (Kutipan hadits Khutbatul Hajat/ Khutbatul Nikah)

Dari kasus-1 sebelumnya, adakah antum akan sampai di tujuan dan kembali dengan selamat? Yang ada hanyalah sesat di jalan, bertanya ke orang lain ketika sesat, dan atau kembali ke titik nol perjalanan. 3 hal ini akan membuat kita tidak sampai di tujuan dan akan memperlama perjalanan kita ke tujuan. Bayangkan jika kita meminta petunjuk ke orang lain,  tetapi langsung menyalahkan orang tersebut setelah diberi petunjuk yang benar? Pikirkanlah hal yang sama ketika kita membaca “Ihdinash Shirothol Mustaqim” dalam tiap sholat kita, tetapi ketika Alloh Al – Hadi memberikan kita petunjuk tapi malah dicampakkan karena merasa berat, merasa rugi, merasa akan mengungkung aktifitas hidup, dan tidak sesuai zaman. Na’udzubillah min dzalik! Kita akan selalu kembali ke titik nol, yaitu ke masa lalu kita yang penuh ke-jahiliyah-an padahal kita pasti ingin menjadi muslim/ muslimah yang baik tidak seperti di masa lalu. Bagaimana mungkin bisa mendapat kemudahan dalam perjalanan apabila tidak sepakat pada petunjuk?

Dari kasus-2, adakah anti akan berhijab sesuai syari’at yang diridhoi-Nya? Kalau yang terpikirkan ribet, panas, tidak luwes bergerak, terlebih mengikuti kiblat fashion hijab dan mode, maka yang terjadi adalah Hijab fisik yang akan anti pakai malah jauh dari tuntunan syari’at. Jika anti tidak mau sepakat pada aturan-Nya dalam soal berhijab, bagaimana mungkin Alloh Ta’ala akan ridho padamu? Bagaimana mungkin anti akan diberi-Nya kemudahan dalam berhijab dan beribadah kalau tidak sepakat pada aturan-Nya? hati – hatilah Ukhtana! Memberi contoh yang salah dalam ber-hijab apabila diikuti muslimah lainnya maka antunna akan mendapat dosa juga tanpa mengurangi dosa mereka, terlebih apabila anti menjadi public figure, guru/ dosen, ataupun panutan dalam suatu perkumpulan.

Dari kasus-3, adakah Alloh Ta’ala memberimu ‘ilmu wal bayan hanya untuk menghabiskan dan memenuhi lembar catatan kertas saja dari majlis ‘ilmu? Tidak ada gunanya ‘ilmu apabila tidak diamalkan dan terus diasah. Jenggot yang lebat dan celana yang tidak isbal lagi, khimar dan gamis lebar yang kalian kenakan, tidak langsung membuat antum diperbolehkan menabrak batasan bermu’amalah terlebih dengan non mahrom dan orang – orang di luar Dien ini. Antum tidak imun, tidak resisten terhadap ujian dan cobaan dari non mahrom dan non muslim. Bagaimana mungkin kehormatan dan kemuliaan Islam bisa dibangun apabila kita masih bermudah – mudah berkasih sayang dengan non muslim? Kewajiban kita adalah mendakwahi mereka dengan perbuatan, lisan dan kelakuan! Bukan malah memberikan kue ulang tahun kepada mereka, mengucapkan selamat hari raya mereka, memberi kado dan bingkisan kepada mereka, dan jalan – jalan ke tempat wisata bersama mereka! Sekali lagi, bagaimana mungkin kehormatan dan kemuliaan Islam akan bisa kita bangun? Justru mereka akan terus berani mengajak kita ke jalan mereka yang sesat dan dimurkai-Nya!

وَلَنْ تَرْضَٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَـٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآ ءَهُمْ بَعْدَ الَّذِى جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَالَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِىٍّ وَلَا نَصِيرٍ (١٢٠)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Alloh Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Alloh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(Q.S. Al – Baqoroh (2): 120)

الْأَ خِلَّآءُ يَوْمَىِٕذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ (٦٧)

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf (43): 67).

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَ لَّوْاْ قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَّا هُمْ مِّنْكُم وَلَا مِنْهُمْ وَيَهْلِفُو نَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٤)

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Alloh sebagai teman? orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.(Q.S. Al – Mujaadilah (58): 14)

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِااللَّهِ وَالْيَوْمِ الْأَخِرِ يُوَ آدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللَّهَ وَرَسُو لَهُ، وَلَوْ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰ نَهُمْ أَوْ عَشِيْرَ تَهُمْ (٢٢)

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orangorang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, Sekalipun orangorang itu bapakbapak, atau anakanak atau saudarasaudara ataupun keluarga mereka...” (Q.S. Mujaadilah (58): 22)

Yang bisa menolong dan menarik kita berkumpul di akhirat kelak, adalah saudara/ saudari seakidah kita, bukan…bukan mereka…mengapa malah lebih akrab dan lebih banyak teman dengan mereka di luar Dien ini? Apabila Alloh Ar-Rohim memberimu teman yang bisa membantumu dalam ketaatan, dekatilah dan ikutilah langkahnya! Karena mendapatkan teman seakidah seperti ini amatlah langka, Ikhwah! Dan ini adalah cara dan bentuk cinta Ar – Rohim untuk menjaga kita juga.

Ayyuhal Ikhwah. Sebegitu cintanya kita kepada istri, anak, Ayah, Ibu dan saudara/ saudari fillah kita, tentunya kita ingin bersama – sama kembali di Jannah-Nya kelak. Tentunya kita tahu bagaimana paman Rosululloh SAW, yang bernama Abu Tholib. Begitu sayangnya Abu Tholib kepada keponakannya, sampai dirinya yang musyrik pun melindungi dakwah Rosululloh yang Haqq. Beliau-Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, sampai ketika menjelang ajal pamannya masih mengajaknya untuk masuk Islam dan men-Tauhid-kan Alloh. Namun apa dikata, keangkuhan hati dan kedudukan sebagai bangsawan Quraisy membuatnya enggan menerima Hidayah dan mati dalam kemusyrikan dan kekafiran…Tawfiq itu tidak pernah dimiliki Abu Tholib karena dia tidak mau sepakat pada hidayah-Nya. Na’udzubillahi min dzalik.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَخْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَــٰـمَةِ أَعْمَىٰ (١٢٤)

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan-nya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Q.S. Thoha (20): 124)

Kalau seseorang tahu bahwa sholat itu wajib tetapi mereka tidak sepakat untuk mendirikannya, maka dia tidak akan pernah mendapatkan tawfiq – kemudahan dalam mendirikan sholat. Kalau seorang muslimah tidak mau meyakini bahwa hijab fisik yang sesuai syari’at adalah cara yang benar, maka sampai kapanpun ancaman hadits “berpakaian tapi telanjang” dengan hukuman tidak akan bisa mencium bau Surga dari sekian jarak perjalanan akan melekat pada mereka. Kalau seorang muslimah yang sudah mendapatkan hidayah berupa ayat kewajiban berdiam diri di rumah malah merasa tidak relevan dan mengungkung hidup mereka, maka yang akan terjadi adalah ikhtilat tanpa batas di luar rumah, reuni dengan non mahrom bahkan orang – orang di luar Dienul Islam, bahkan ber-safar tanpa mahrom ke tempat – tempat wisata penuh umbar aurat dan kemusyrikan.

Na’udzubillah…maka hancurlah Islam oleh kita ummat Islam ini sendiri.

Terkadang, kita dapat pembenaran akan dosa dari mereka atau mulut kita sendiri dengan kalimat bijak yang SALAH:

“Kalau saya salah, maka salahkanlah saya, jangan salahkan agama saya. Saya meyakini agama Islam saya adalah agama yang sempurna.”

Akuilah, memang sangat sulit mengajak orang lain atau bahkan diri kita sendiri untuk mengikuti hidayah-Nya, karena hanya Alloh-lah yang memberi hidayah dan Maha Tahu siapa saja yang mau menerima dan mengikuti hidayah-Nya.

إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَــٰــكِنَّ اللَّهَ يَحْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِاالْمُهْتَدِينَ (٥٦)

Sesungguhnya kamu (Wahai Muhammad) sekali – kali tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu cintai, tetapi Alloh-lah yang memberi hidayah kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh Maha Mengetahui orang-orang yang mau menerima hidayah.(Q.S. Al – Qoshosh (28): 56)

Ketika hidayah-Nya tiba lewat orang terdekat kita maupun saudara/ saudari kita untuk bersama – sama meniti jalan-Nya, maka terimalah, peganglah erat – erat, datangilah dan sepakatilah Ikhwah! Karena menyepakati hidayah yang hadir itu sulit, terlebih jika tidak sesuai dengan pikiran dan nafsu kita, karena tidak sesuai dengan yang kita lakukan selama ini, bahkan dari orang yang tidak pernah mau kita lihat di mata dan terlintas di pikiran kita.

Tetapi ingatlah ikhwah, apabila hidayah-Nya itu telah sampai kepada kita tetapi malah kita campakkan dan bergelimang dalam dosa dan tidak di atas petunjuk syari’at-Nya, dan malah mendapatkan dunia dan seisinya, maka berhati – hatilah akan Istidroj. Alloh Ta’ala telah berfirman:

فَلَمَّا نَسُواْ مَاذُ كِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُتُوٓاْ أَخَذْنَٰهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (٤٤)

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.(Q.S. Al – An’am (6): 44)

Dengan hidayah dan tawfiq yang hanya diberikan oleh Alloh Ta’ala dalam penulisan artikel ini.

Allohu A’lamu bish Showab.

[Bersambung, Insya Alloh…]

Catatan Kaki:

  1. Terjemahan ungkapan ini akan sering ditemukan dalam kursus pelatihan bahasa ‘Arab tingkat dasar.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on 6 August 2016 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

One response to “Hidayah wa Tawfiq bag.2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s