RSS

Sekarang Pinangan Telah Datang

20 Feb

[Diambil dari Kado Pernikahan]

Sekarang pinangan telah datang. Jawaban atas pinangan itu sedang dinantikan. Maka pertimbangkanlah matang – matang, dengan melihat berbagai kondisi yang ada di sekeliling, serta kondisi yang ada di dalam keluarga dan diri sendiri. Ayah perlu memikirkan kemaslahatan anak gadisnya, sebelum mengambil keputusan. Engkau pun perlu mempertimbangkan pinangan itu.

Ada Ladang Amal Shalih

Pernikahan adalah keagungan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Di dalamnya ada keindahan dan ketenteraman. Di dalamnya ada rasa cinta kepada kekasih yang menemukan tamannya. Di dalamnya juga ada ladang amal shalih. Jodoh ada di tangan Tuhan. Kadang-kadang seorang wanita mendapatkan pendamping yang sekilas menurut pandangan mata zhohir manusia, tidak sepadan ilmu maupun ibadahnya. Wanitanya sangat khusyuk dalam beribadah, kuat menegakkan sholat malam – barangkali seperti Robi’ah Asy-Syamiyah – dan tinggi ilmu agamanya. Sedangkan laki-laki yang menikahinya, ternyata tidak sebanding dalam hal ilmu maupun ibadah.

Sebaliknya juga bisa terjadi. Laki – lakinya sangat luas pengetahuannya mengenai kitab – kitab yang berisi ilmu – ilmu agama. Bekas shalatnya tampak di kening. Tetapi istrinya sekilas tidak mencapai kedudukan yang sederajat karena ilmu dan ibadahnya yang kurang.

Ada pertanyaan, mengapa demikian? Jawab saya sederhana, Wallohu a’lam bish Showab. Alloh Maha Bijaksana. Ia mengetahui kebaikan – kebaikan besar yang tidak nampak dalam penglihatan mata akal kita. Sebagian dari pernikahan semacam itu adalah ujian, kecuali jika mereka memang memilih bukan atas dasar agama. Mereka menikahi laki – laki atau wanita yang tidak sepadan karena mengejar kemuliaan, harta, atau martabat. Tentang ini Rosululloh telah memperingatkan agar kita tidak terjerumus ke dalamnya.

Tetapi, adakalanya pernikahan semacam ini berlangsung tidak karena dorongan – dorongan rendah seperti itu. Pernikahan yang sepintas tidak seimbang itu, membuka ladang amal sholih yang tidak bisa dilakukan oleh mereka yang belum menikah. Tugas suami memang memberi pendidikan dan pengarahan kepada istri. Tetapi ketika istri mempunyai pengetahuan agama yang lebih banyak, dia dapat mengajarkan kepada suaminya apa-apa yang belum diketahui suaminya, dengan niat berbakti kepada suami dalam rangka mencari ridho Alloh. Insya-Alloh, pada pernikahan yang semacam ini Alloh melimpahkan barokah dan kelak memberikan keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat Laa ilaaha illalloh.

Seorang istri yang mengajarkan beberapa pengetahuan agama kepada suaminya, perlu berhati-hati agar tidak terjatuh kepada sikap meninggikan diri di hadapan suami. Sehingga ia tidak mendengarkan kata-kata suaminya dan tidak menaati. Juga, seorang wanita sholihah perlu menjaga diri benar-benar agar sikapnya tidak menjauhkan suami dari Ibunya sedemikian sehingga si suami lebih mendengar kata-kata istrinya dan mengabaikan nasehat Ibunya.

Seorang suami yang memiliki ilmu agama yang lebih tinggi dari istri, dapat menjadi pegangan bagi istri untuk bertanya hal-hal yang tidak diketahuinya. Suami yang demikian ini perlu memiliki sifat yang penuh kasih – sayang, membimbing dan ridho ketika mendidik dan mengarahkan istrinya. Mudah-mudahan istri dapat belajar kepada suaminya bagaimana memberikan pengajaran dan pendidikan kepada anak – anak yang lahir dari rohimnya, kelak ketika Alloh telah menjadikan dia merelakan rasa sakitnya untuk melahirkan.

Setiap ilmu yang sampai kepada manusia dan diamalkan, maka Alloh mengalirkan pahala kepada yang menyampaikan tanpa mengurangi pahala yang melaksanakan sedikit pun. Kalau amalan suami yang diridhoi Alloh berawal dari ilmu yang disampaikan istri, maka baginya pahala sebanyak yang dilakukan oleh suami tanpa terkurangi. Demikian juga sebaliknya, istri yang mengerjakan kebajikan setelah mendapatkan pendidikan dari suaminya, maka Alloh akan mencatat kebaikan yang sama. Insya-Alloh, di sinilah ilmu akan barokah sampai anak-cucu.

Kalau suami-istri itu adalah ahli ibadah, Insya-Alloh mereka dapat saling membantu dalam ketakwaan. Kalau istri sudah menjadikan shalat malam sebagai perhiasan hidupnya, sedangkan suami masih belum terbiasa, istri dapat membiasakan suaminya untuk mulai menegakkan sholat malam. Demikian pula bagi seorang suami, ia dapat membimbing istri untuk melakukan sholat malam di rumah. Adapun kalau keduanya belum terbiasa untuk sholat malam, mereka dapat saling membantu.

Ada banyak hadits yang dapat kita renungkan, misalnya hadis yang diriwayatkan oleh Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya serta al-Hakim, bahwa Rosululloh SAW., bersabda, “Barangsiapa bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian keduanya sholat dua raka’at –Nasa’i menambahkan, berjama’ah—maka keduanya ditulis di antara orang-orang lelaki dan orang-orang perempuan yang banyak berdzikir”. (Al-Hakim berkata: shohih menurut syarat Bukhari dan Muslim. Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan, hadis ini shohih).

Saat ini, yang penting adalah memeriksa sikap calon suami yang datang meminang Anda. Sikap dan semangat yang baik, Insya-Alloh lebih dapat mengantarkan suami-istri kepada jalan kebaikan. Betapa banyak orang yang mempunyai pengetahuan luas, tetapi kurang memiliki keyakinan. Jadi, inilah jawaban saya atas pertanyaan sebagian akhwat mengenai (calon) suami yang ilmu agamanya kurang atau suami yang ilmu agamanya jauh lebih tinggi. Di luar itu, saya ingin menambahkan. Kita tidak bisa mengukur tinggi tidaknya derajat ketakwaan seseorang. Ada kalanya seseorang mencapai derajat yang tinggi bukan karena banyaknya ibadah yang dilakukan maupun luasnya pengetahuan yang dimiliki. Ia mencapai derajat yang lebih tinggi karena kejujurannya dalam berdagang maupun hati yang tidak pernah memiliki prasangka buruk kepada saudaranya sesama muslim, misalnya. Allohu A’lam bish Showab Wallohul musta’an.

Nikah dan Menuntut Ilmu

Islam memandang pernikahan sebagai kemuliaan yang sangat tinggi derajatnya. Alloh menyebut ikatan pernikahan sebagai mitsaqon-gholizho (perjanjian yang sangat berat/ agung-red). Hanya tiga kali istilah ini disebutkan dalam Al-Qur’an, dua lainnya berkenaan dengan Tauhid. Sedang Tauhid adalah inti agama.

Islam menganjurkan ummatnya untuk menikah. Demikian tingginya kedudukan pernikahan dalam Islam, sehingga menikah merupakan jalan penyempurnaan separuh agama. Rosululloh SAW., bersabda, “Apabila seorang hamba telah berkeluarga, berarti dia telah menyempurnakan separuh dari agamanya. Maka takutlah kepada Alloh terhadap separuh yang lainnya.” (HR. Ath-Thobroni).

Islam juga meletakkan penghormatan yang sangat tinggi terhadap ilmu dan orang yang menuntutnya. Banyak sekali hadis shohih maupun hasan yang menunjukkan keutamaan menuntut ilmu. Dalam surat Al-Mujadilah, Alloh SWT. telah berfirman:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَتٍ…

“Alloh mengangkat derajat orang-orang beriman dan orang-orang berilmu beberapa derajat.” (Q.S. Al – Mujadilah (58): 11)

Shofwan bin ‘Assal al-Muradi RA., mengatakan bahwa Rosululloh SAW. Pernah bersabda, “Selamat datang kepada penuntut ilmu, sesungguhnya penuntut ilmu dikitari oleh para malaikat dengan sayap – sayapnya kemudian sebagian mereka menaiki sebagian yang lain hingga mencapai langit dunia karena kecintaan mereka kepada apa yang ia tuntut.” (HR. Ahmad dan Thobroni).

“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim,” kata Rosululloh SAW. Dalam hadits shohih yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya. Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim, laki-laki maupun perempuan, sejak lahir hingga masuk ke liang lahat. Menikah juga diarahkan untuk tetap utuh dalam keluarga yang Sakinah Mawaddah wa Rohmah sampai kematian menjemput mereka. Mudah – mudahan keduanya akan mendapati pernikahan sebagai jalan yang di-ridhoi Alloh dan mengantarkan kepada keselamatan dari pedihnya siksa api neraka.

Pernikahan dan menuntut ilmu diharapkan untuk seumur hidup. Maka mestinya keduanya berjalan seiring. Menuntut ilmu seharusnya lebih memberikan kesiapan dan bekal bagi penuntutnya untuk menikah, serta menegakkan kehangatan keluarga. Menuntut ilmu seharusnya mendorong seseorang untuk lebih bersemangat menikah, dan lebih yakin terhadap janji Alloh kepada orang yang menikah demi menyelamatkan kehormatannya dari lawan jenis yang masih belum halal. Sementara menikah, seharusnya membuat orang lebih matang dalam berilmu. Seharusnya, ….ya seharusnya…!

Seharusnya, pernikahan dan mencari ilmu bisa berjalan beriringan. Tidak saling mengacaukan. Insya-Alloh, pernikahan tidak menjadikan orang tidak bisa menuntut ilmu. Kurangnya gairah menuntut ilmu, bukanlah karena melakukan pernikahan.

Rasanya, agak mustahil Alloh menyerukan dua hal yang sama-sama mulia, tetapi sifatnya justru saling bertentangan (Mudah-mudahan anggapan saya ini tidak salah).

Kalau kita mau lebih jujur sedikit saja, Insya-Alloh kita akan mendapati bahwa masalahnya bukan terletak pada status pernikahannya. Sesekali tengoklah rumah kost mahasiswa di Yogya. Anda akan menemukan Jam Belajar Masyarakat, Pukul 19:00 – 21:00. Tapi, ini bukan jam belajar mahasiswa, sebab ujian masih jauh. Padahal mereka hidup sejahtera dengan shodaqah tetap dari orangtua.

Dengan demikian, mudah – mudahan keinginan mencari ilmu tidak membuat Anda mempersulit pernikahan. Pertimbangkanlah masak – masak madhorot dan mafsadahnya jika Anda berat untuk menerima pinangan semata-mata karena ingin tetap menuntut ilmu, sedangkan Anda telah memiliki kesiapan dan mempunyai bekal yang cukup. Saya khawatir, menunda – nunda pernikahan karena alasan ini sementara mental telah siap, justru melahirkan madhorot. Antara lain kompleks psikis yang berat.

Sekali saat, luangkanlah waktu untuk merenungkan masalah ini sejenak. Pikirkanlah secara jernih. Apalagi pada masa-masa yang rawan fitnah seperti sekarang ini.

Ukhti fillah, marilah kita berdo’a semoga Alloh menjernihkan hati kita setelah kita berkali-kali jatuh dalam kekeruhan jiwa dan pekatnya Zhon (prasangka-red) yang kurang baik.

Allohu A’lamu bish Showab.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 20 February 2016 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s