RSS

Hadits Qudsi: Taubat dan Istighfar

16 Feb

عنْ أبى هريْرة رضي اللّه عنْه قال: سمعْت النّبي صلّى اللّه عليْه وسلّم قال: إنّ عبدا أصاب ذنْبا – وربما قال: أذْنب ذنْبا – فقال: ربّى أذْنبْة – وربّما قال: أصبْة – فاغْفرْلى. فقال ربّه: أعلم عبدي أنّ له ربّا يغْفر الذّنْب، ويأْخذ به؟ غفرْت لعبْدي. ثمّ مكث ما شاء اللّه ثمّ أصاب ذنْبا – أوْ: أذْنبا ذنْبا-فاقل: ربّى، أذْنبْة – أوْ أصبْت آخر، فاغْفرْه. فاقل: أعلم عبْدي أنّ له ربّا يغْفر الذّنب، ويأْخذ به؟ غفرْت لعبْدي ثلاثا، فلْيعْمل ما شاء

(رواه البخري)

Dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata, saya mendengar Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang terperosok suatu dosa (atau berkata: berbuat dosa) lalu ia berkata: ‘Wahai Robbku, aku telah berbuat dosa (atau beliau SAW berkata, ‘Aku telah terperosok ke dalam suatu dosa’), oleh karenanya ampunilah aku.’

Maka Robb-nya berfirman: “Apakah hamba-Ku mengetahui kalau dia mempunyai Robb yang mengampuni dosa dan menghapuskannya? Aku telah mengampuni hamba-Ku. Lalu hamba tersebut berhenti (dari berbuat dosa) beberapa waktu, sekehendak Alloh, kemudian dia melakukan dosa lagi (atau berbuat dosa lagi). Ia berkata lagi, ‘Wahai Robbku, aku telah berbuat dosa (atau melakukan dosa lain), maka ampunilah dosaku.’

Maka Alloh berfirman: “Apakah hamba-Ku mengetahui kalau dia mempunyai Robb yang mengampuni dosa atau mengadzabnya (karena dosanya)? Aku telah mengampuni hamba-Ku tiga kali, kemudian silahkan dia berbuat sesukanya.”

(HR. Bukhori)

Penjelasan:

Imam Ibnu Hajar menjelaskan, “Ibnu Batthol menjelaskan tentang hadits ini, ‘Sesungguhnya orang yang terus menerus bermaksiat berada di bawah kehendak Alloh SWT. Jika menghendaki, DIA akan mengadzabnya, dan jika menghendaki, DIA juga bisa mengampuninya karena kebaikan yang diperbuatnya, yaitu keyakinannya bahwa dia mempunyai Robb Sang Pencipta yang akan mengazab dan mengampuninya. Sedang permohonan ampunan (istighfar) kepada-Nya atas dosa – dosanya.

Jika ada yang mengatakan, “Sesungguhnya permintaan ampun (istighfar) orang kepada Robb-nya merupakan taubat kepada-Nya.” Maka kita jawab, “Istighfar berbeda dengan permohonan ampun (taubat), karena istighfar dilakukan oleh orang yang terus – menerus berbuat dosa maupun orang yang bertaubat.”

Adapun lafal hadits di atas tidak menunjukkan kalau orang tersebut bertaubat dengan meminta ampunan atas dosa – dosanya, karena yang disebut taubat adalah berlepas diri dari dosa dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya kembali, serta meninggalkannya. Sedangkan istighfar pengertiannya tidak seperti itu.

‘Ulama lain yang berkata bahwa syarat taubat ada 3:

  1. Meninggalkan dosa.

  2. Menyesali dosa.

  3. Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.

Berlepas diri dari dosa tidak bisa dimaknai dengan penyesalan, tetapi maknanya yang lebih tepat adalah meninggalkan dosa.

Ada lagi ‘ulama yang berkata, “Taubat itu cukup dilakukan dengan menampakkan penyesalan atas perbuatan dosanya, sedangkan keharusan meninggalkan dosa dan tekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi merupakan perwujudan dari penyesalannya, dan keduanya (meninggalkan dosa dan tekad), tidak harus dibarengkan dengan penyesalan saat bertaubat.” Karena itulah Rosululloh SAW bersabda:

“Penyesalan (terhadap dosa) adalah taubat.”

(HR. Ibnu Majah; hadits hasan, sedangkan Al-Hakim dan Ibnu Hibban men-shohih-kannya)

Imam Al – Qurthubi menjelaskan pemahaman yang dapat diambil dari hadits tersebut: “Hadits ini menunjukkan atas besarnya faidah istighfar dan agungnya karunia Alloh SAW serta luasnya Rohmat, Kelembutan dan Kemurahan-Nya. Namun yang dimaksud istighfar di sini adalah istighfar yang maknanya betul – betul diyakini dalam hati dan diikrarkan oleh lisan dengan tujuan mengurangi keinginan untuk terus – menerus melakukan dosa dan tecapainya penyesalan.” (Ibnu Hajar Al – Asqolani dalam Fathul Bari Syarh Shohih Al – Bukhori).

Sedangkan makna dari “…hendaklah ia berbuat sekehendaknya…”, menurut Imam An – Nawawi adalah: “Selama ia melakukan dosa, lalu ia mau bertaubat, Alloh akan mengampuninya.” (Imam An – Nawawi dalam Syarhu Shohih Muslim).

Wallohu A’lamu bish Showab.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 16 February 2016 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s