RSS

Mutiara Para ‘Ulama

08 Feb

‘Umar bin Khoththob Rodhiallahu ‘anhu berkata kepada seseorang yang belum menikah padahal ia sudah layak menikah (tidak ada lagi penghalang menikah baginya dan tidak ada target yang lebih penting dari menikah untuk sementara):

ما يمنعك من النكاح إلا عجز أو فجور

“Tidak ada yang menghalangimu menikah kecuali kelemahan (lemah syahwat) atau kemaksiatan (ahli maksiat).

(Al-Muhalla Ibnu Hazm 9/4, Darul Fikr, Beirut, Syamilah.)

***

Syaikh Nashirudin Al – Albani Rohimahullohu Ta’ala berkata:

“Orang yang mencari kebenaran, cukup baginya satu dalil (saja)…

Sedangkan pengikut hawa nafsu, tak akan cukup baginya seribu dalil…

Orang yang tidak tahu, maka diajari…

Sedangkan pengikut hawa nafsu, maka kita tak dapat menunjukkan kepadanya jalan (kebenaran)…”

***

Al Imam Ibnu Baththoh Rohimahullohu Ta’ala berkata:

“Maka ketahuilah wahai saudaraku, bahwasanya barangsiapa membenci kebenaran yang datang dari orang lain, dan justru menolong kesalahan yang datang dari dirinya sendiri, tidak bisa diamankan bahwasanya Alloh akan mengambil darinya apa yang sebelumnya telah dia ketahui, dan menjadikan dia lupa terhadap apa yang diingatnya, bahkan di khawatir-nya… Alloh  akan mencabut keimanannya, karena kebenaran itu datang dari Rosululloh kepadamu, beliau mewajibkan untuk kamu taat padanya. Maka barangsiapa mendengar kebenaran lalu mengingkarinya setelah mengetahuinya, maka dia termasuk orang yang sombong kepada Alloh. Dan barangsiapa menolong kesalahan, maka dia termasuk tentara setan.” (Al-Ibanatul Kubro/ 2/ halaman 206.)

***

Al-Imam Hasan Al-Bashri Rohimahullohu Ta’ala berkata:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling sholih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Robb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Alloh ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya. Namun dengan berkumpulnya ‘ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan. Maka terus meneruslah berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ‘ilmu agama), semoga Alloh ‘Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita. Bertaqwalah kalian semua kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Pada suatu hari beliau Rohimahullohu Ta’ala pergi menemui murid-muridnya dan mereka tengah berkumpul, maka beliau berkata:

“Demi Alloh ‘Azza wa Jalla, sungguh! Andai saja salah seorang dari kalian mendapati salah seorang dari generasi pertama umat ini sebagaimana yang telah aku dapati, serta melihat salah seorang dari Salafush Sholih sebagaimana yang telah aku lihat, niscaya di pagi hari dia dalam keadaan bersedih hati dan pada sore harinya dalam keadaan berduka. Dia pasti mengetahui bahwa orang yang bersungguh-sungguh dari kalangan kalian hanya serupa dengan orang yang bermain-main di antara mereka. Dan seseorang yang rajin dari kalangan kalian hanya serupa dengan orang yang suka meninggalkan di antara mereka. Seandainya aku ridho terhadap diriku sendiri pastilah aku akan memperingatkan kalian dengannya, akan tetapi Alloh ‘Azza wa Jalla Maha Tahu bahwa aku tidak senang terhadapnya, oleh karena itu aku membencinya.” (Mawai’zh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, halaman 185 – 187.)

***

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullohu Ta’ala berkata:

“Apabila seorang insan tidak merasa takut kepada Alloh maka dia akan memperturutkan hawa nafsunya. Terlebih lagi apabila dia sedang menginginkan sesuatu yang gagal diraihnya. Karena nafsunya menuntutnya memperoleh sesuatu yang bisa menyenangkan diri serta menyingkirkan gundah gulana dan kesedihannya. Dan ternyata hawa nafsunya tidak bisa merasa senang dan puas dengan cara berdzikir dan beribadah kepada Alloh maka dia pun memilih mencari kesenangan dengan hal-hal yang diharamkan yaitu berbuat keji, meminum khomr dan berkata dusta…” (Majmu’ Fatawa, 1/54, 55) dinukil dari Hushuulul Ma’muul, halaman 77.)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 8 February 2016 in Islam, Muslimah

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s