RSS

Laa Takhsya, Akhi!

06 Feb

Bismillahi Ar-Rohmani Ar-Rohimi.

Assalāmu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Akhi. Mungkin sampai nanti pun antum termasuk yang lebih memilih diam dan memendamnya untuk urusan takdir-Nya untuk urusan pendamping hidup, dan tidak ada manusia sebenarnya bisa memendamnya sampai akhirnya “beban” itu memuncak dan membuncah lewat sharing antar sesama abdi-Nya, ataupun curhat dengan Alloh Ar-Rohman Ar-Rohim dalam wujud do’a yang panjang.

50 ribu tahun sebelum Alloh Robbul ‘Aalamin menciptakan seluruh alam semesta dengan isinya ini, DIA yang memiliki Kebesaran dan Kemuliaan telah menuliskan taqdir-Nya bagi semua makhluk-Nya. “Flowchart” berupa taqdir-Nya tidak akan bisa berubah, hanya bisa kita pilih dengan batasan yang telah ditulis-Nya pula. DIA-lah yang Maha Berkehendak, Maha Berkuasa atas segala sesuatu, termasuk di dalamnya adalah urusan rizqi, maut, umur dan pasangan hidup.

Masih ingatkah kata – kata ini? “Alloh Ta’ala akan menguji kita dengan semua yang kita pinta dari-Nya! Ketika Alloh Ta’ala memberikan yang kita inginkan, maka DIA pun akan menguji kita atas yang kita dapatkan dari-Nya!”

Lihatlah diri kita! Ketika dulu antum berdo’a pada-Nya untuk mendapatkan pekerjaan yang “lebih baik” dari tempat lama, lalu akhirnya Alloh Jalla wa ‘Ala mengabulkannya, bukankah ada cobaan juga dari tempat kerja yang baru? Juga antum akan diuji-Nya dengan kewajiban zakat dari rizqi harta yang dulu antum mohon pada-Nya. Akankah zakat itu antum keluarkan sesuai aturan nishob dan haul-nya? Akankah infaq dan shodaqoh dari antum akan semakin bertambah? Atau malah diinvestasikan dalam wujud deposito, asuransi, tanah dan emas saja?

Ketika pasangan yang baru menikah berikhtiar dan bermunajat untuk mendapatkan keturunan yang sholih/ sholihah, bukankah mereka akan diuji-Nya dari awal kehamilan, kelahiran, menyiapkan pendidikan, menyiapkan sandang-pangan-papan, membekali dengan ‘ilmu agama dan seterusnya sampai kubur? Atau keturunan yang diijabah-Nya hanya cukup tahu saja soal bekal ‘ilmu agama?

Termasuk di dalamnya niat kita untuk mendapatkan pasangan hidup…antum mencari pasangan hidup dari suku tertentu, maka Alloh Ta’ala akan memberikannya padamu sesuai niatmu saja, dan DIA akan mengujimu dengan “ke-suku-an” pasangan hidup yang antum minta. Bahkan pernikahan sesama suku bukanlah jaminan kelanggengan pernikahan.

Jika niat antum mencari pasangan hidup yang cantik/ rupawan saja…maka Alloh Ta’ala akan mengujimu dengan kecantikan/ kerupawanan pasangan hidup yang antum minta. Apakah foto-foto mesra dan kecantikan/ kegantengan pasangan hidupmu yang akan selalu menghiasi ucapan dan perbuatanmu? Akankah anugrah cantik/ ganteng akan diberikan hanya untuk pasangan hidupmu saja? Atau malah membanggakan rupa fisik mereka di akun media sosial yang kalian miliki?

Jika niat antum mencari pasangan hidup mencari hartanya atau harta orang tuanya saja…maka ketika Alloh Al-Mughni memberikannya padamu, DIA akan mengujimu dari harta yang antum dapatkan.

Sudahkah dapat alasan dan niat untuk menikah karena agama yang dimilikinya biarpun sama – sama masih dalam tahap belajar? Biarpun pendapatannya mungkin hanya sedikit di atas UMK? Biarpun mungkin fisik dan rupanya tidak seperti deretan “cowok banci” maupun “cewek boneka” dalam sinetron – sinetron cinta dari negeri Korea atau Jepang?

Tetapi menikahlah karena agama yang dimilikinya!

Biarpun mungkin hijab dan khimar-nya terkadang masih mengikuti fiqh mazhab model tabarruj, biarpun mungkin foto dan video dosanya masih ada di akun medsos miliknya ataupun milik teman “partners in crime” mereka, biarpun mungkin batasan mu’amalah dengan non muslim dan non mahrom masih mereka tabrak, biarpun mungkin bacaan mereka masih bacaan para Rohis SMA, bacaan wanita liberal dan kaum feminis, dan penulis muslimah yang sering bersafar tanpa mahrom…

Bukankah itu yang seharusnya nanti yang antum bina dan luruskan? Karena menikah adalah madrasah juga bagi antuma kelak! Sampai salah satu dari kalian dicukupkan umur sesuai yang telah ditulis-Nya di Lauhul Mahfuzh.

Dari Abu Riyadl

Akhi…, buat apa menunda kebaikan termasuk di dalamnya menikah? Jikalau memang alasan penolakan yang antum dapat adalah karena antum terlalu baik dan terlalu ‘alim menurut mereka, maka ingat ini Akhi…sejatinya mereka tidak mempertimbangkan agama dan kekurangan yang mereka miliki! Biarpun mungkin kefaqihan ‘ilmu agama antum juga termasuk belum rata – rata dan kekurangan yang ada. Jikalau memang alasan itu tetap dipakai, pernahkah mereka berpikir apakah mereka inginkan dan akan memilih suami yang tidak bisa bersama – sama menjadi lebih baik seperti yang diridhoi-Nya (baca: lebih buruk agamanya)?

Tentu saja jawabannya tidak, Akhi. Mereka hanya takut, tidak bisa menjadi istri yang baik bagi dirimu, takut tidak pantas untuk mendampingimu, takut…tidak pantas untuk dicintai. Mungkin…alasan mereka sedang memantaskan diri untuk pantas dicintai, namun mereka tidak tahu harus memulai darimana, mereka malah tidak mengikuti tuntunan syari’at yang telah dimuliakan-Nya ini, mereka malah tidak mau mengikuti petunjuk dari do’a yang justru mereka mohonkan kepada-Nya untuk pasangan hidup yang terbaik bagi mereka menurut-Nya…dan mereka tidak tahu sampai kapan…padahal antum telah siap menerima kekurangan mereka apa adanya untuk bersama – sama meniti jalan-Nya.

Tetaplah di jalan yang diridhoi-Nya ini, akhi…tetap luruskan niatmu untuk menyegerakan kebaikan dengan menikah. Ingatlah…semua yang kita minta pada-Nya, maka DIA pun akan menguji semua yang kita minta dari-Nya. Karena semua ini telah ditulis-Nya.

Alloh Tabaroka wa Ta’ala telah mempertemukan dengan alasan yang dimiliki-Nya…

reason-choice

Pilihan yang antum akan pilih, telah ditulis-Nya pula. Maka pilihlah pilihan yang diridhoi-Nya, jika…Ridho-Nya-lah yang antum cari dalam hidup ini.

Qodarullohu Ta’ala, jika nanti hasil “ngaji online” dirimu akhirnya diantarkan search engine sampai ke blog ini, maka inilah hasil mudzakaroh beberapa waktu lalu. Termasuk search terms darinya tentang 300 dosa yang diremehkan *********!

Laa Takhsya Yaa akhi. Allohu ma’ana.

Allohu A’lamu bish Showab.

Wassalāmu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Advertisements
 
Comments Off on Laa Takhsya, Akhi!

Posted by on 6 February 2016 in Uncategorized

 

Comments are closed.