RSS

Kenyataan di Rumah Sakit Islam

17 Jan

Bismillahi Ar-Rohmani Ar-Rohimi,

Assalāmu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu,

Alhamdulillahi Robbil ‘Aalamin, wash Sholatu wa Sallamu ‘ala Rosulillah.

Ayyuhal Ikhwah, artikel kali ini kami jadikan pengingat kita dan bisa membuka mata kita semua para muslim khususnya kaum muslimah kita. Sebuah kenyataan yang tragis, yang mungkin sampai sekarang kita tidak menyadarinya, atau Na’udzubillah min dzalik kita bahkan pura – pura melupakannya. Kenyataan yang ada saat ini, sudah tidak bisa dikatakan atau dikategorikan dalam perkara yang termasuk dalam kaidah daurat dalam hukum syara’, namun mungkin kedangkalan ‘ilmu agama kita saat ini membuat kita tidak memandangnya sebagai suatu keharoman.

Kejadian ini sempat dan sering kami pribadi alami sampai saat ini di rumah – rumah sakit/ klinik berobat, juga klinik bersalin di negeri ini. Beberapa perilaku pelanggaran syari’at yang mengakibatkan jatuhnya hukum dosa bahkan terjadi di rumah sakit/ klinik pengobatan maupun klinik bersalin yang memberi nama dan diberi “label” Islam.

Qodarullohu Ta’ala, beberapa tahun lalu kami diuji-Nya dengan sakit organ internal, yang mengharuskan pulang ke kampung halaman kedua untuk berobat dan diopname. Salah satu rumah sakit Islam kami pilih, dengan alasan “label” Islam yang disematkan rumah sakit tersebut dan jaraknya cukup dekat dari rumah.

medical room

Opname harus dilakukan menurut dokter internis setelah melihat gejala fisik dan hasil cek darah. Yah, Qodar-Nya telah kami pilih saat itu karena memang tubuh sudah tidak bisa sama sekali kompromi setelah berobat jalan setelah lebih dari seminggu. Prosedur pengobatan dan jasa perawatan dimulai dari mulai ruang analisa penyakit, kursi roda sudah siap dan cairan infus yang berwarna sudah ditancap di tangan kiri (agar kami masih bisa menjaga diri untuk makan minum normal dengan tangan kanan). Pindah ke ruang perawatan dengan bantuan kursi roda lalu berganti pakaian pasien rumah sakit Islam tersebut.

Bagi kami pribadi, kami sangat bersyukur pada Alloh Tabaroka wa Ta’ala karena dokter spesialis yang menangani kami dan mantri kesehatan yang mengantarkan masih sama – sama pria. Namun, hal ini hanya berlangsung sampai pergantian shift pagi berlangsung. Ketika sore hari, kami cukup dibuat heran dan tidak habis pikir ketika seorang perawat muslimah dengan “pakaian kerjanya” datang dengan sebaskom air hangat, handuk dan peralatan mandi dengan berkata waktunya mandi/ lap badan. Kami menolak dengan halus dengan menyampaikan padanya cukup saya cuci muka dan gosok gigi sendiri karena masih kuat untuk melakukannya. Masih sangat sopan perawat muslimah tersebut masih bertanya mau mandi sendiri atau tidak.

Malam harinya setelah makan, seorang perawat muslimah datang dengan membawa beberapa butir obat untuk dimakan dan mengecek tekanan darah dan infus. Alhamdulillah, injeksi jarum suntik ke tangan kiri masih dilakukannya dengan memakai sarung tangan karet higienis. Begitu pun ketika tengah malam, kami terbangun saat menyadari perawat muslimah datang kembali mengecek tekanan darah, infus dan prosedur rawat rekam medis lainnya yang berlaku dalam SOP mereka.

Namun ketika pagi harinya sebelum makan pagi, kembali seorang perawat muslimah datang dengan sebaskom air hangat, handuk dan peralatan mandi. Tapi tanpa bertanya dan menawarkan mau mandi sendiri atau tidak, perawat muslimah tersebut langsung memegang tangan saya. Saya menarik tangan lalu menyampaikan padanya, “maaf apakah tidak ada perawat pria saat ini?” perawat tersebut bertanya kenapa? Saya katakan; “bukankah anti ini muslimah dan bukan mahrom saya?” perawat tersebut tersenyum dan mengatakan akan mencarikan perawat pria bagi saya sambil keluar kamar perawatan. Beberapa menit berlalu dan alhamdulillah seorang perawat pria datang dan melakukan tugasnya, namun tetap…untuk daerah aurot saya lakukan sendiri.

Kami memang selalu memilih untuk dirawat sendirian ketika opname, dengan tidak membawa anggota keluarga untuk menemani dan menyediakan kebutuhan saya yang lain. Hanya tidak mau membebani kesibukan mereka di rumah dan tempat kerjanya. Kejadian tersebut, masih berlangsung sampai 3-4 hari ke depan, yang membuat kami memilih untuk mandi/ mengelap badan sendiri ketika tidak ada perawat pria yang ada pada shift kerja saat itu. Setiap hari saya selalu bertanya kondisi terkini ke dokter internis yang merawat kami apakah telah boleh pulang, karena kami pribadi sangat tidak nyaman dengan keadaan ini, celah dosa dan mengizinkan dosa yang terjadi dalam keadaan opname seperti ini. Tepat seminggu perawatan, ketika dokter menyatakan hasil cek darah kami ada peningkatan, kami memilih untuk keluar rumah sakit untuk berobat jalan dan pengobatan alternatif juga kontrol seminggu sekali, karena sebenarnya penyakit kami ini umumnya baru normal sembuh total dan normal sampai 6 bulan. Sampai saat ini, sisa penyakit tersebut masih menjadi reminder yang sangat keras dari Alloh Asy-Syifa bagi kami, khususnya ketika kami lelah beraktifitas maupun ketika kami berkaca pada cermin.

***

Ayyuhal ikhwah. Mungkin pengalaman kami pribadi ini pernah juga dialami oleh kita kaum muslim dan muslimah saat ini. Rumah sakit/ klinik pengobatan/ klinik bersalin dengan “label” Islam yang telah menjadi rujukan kita, terkadang masih perlu perubahan dalam manajemen operasionalnya. Manajemen prosedural yang harus diikuti adalah kaidah syar’i, bukan kaidah asal mengikuti rumah sakit umum yang berkiblat pada barat dan non muslim, biarpun baik menurut kita dan membuat kagum bagi mata dan qolbu kita.

Sampai seorang ikhwan pernah berkata, mengapa rumah sakit/ klinik pengobatan/ klinik bersalin Islam pelayanannya dan fasilitasnya kurang memuaskan dan tidak syar’i? Kalah jauh dibandingkan rumah sakit umum ataupun rumah sakit milik non muslim.

Akhwati Fillah, ketika antunna akan berobat, atau akan mengecek kondisi kehamilan, bahkan ketika akan bersalin, sudah tahukah bagaimana syari’at Islam mengaturnya? Antunna wajib hukumnya untuk memilih bidan dan dokter wanita muslimah untuk kondisi – kondisi ini. Jika tidak ada dokter wanita muslimah, barulah dokter wanita non muslim. Jika tidak ada, barulah dokter pria muslim, dan jika tidak ada dokter muslim barulah dokter pria non muslim. Jangan sampai asal memilih dokter karena track record-nya bagus saja. Hak para wanita muslimah ada di muslimah lainnya, ingatlah hal ini! Apakah antunna tidak risih ketika berobat sampai harus membuka aurot dan daerah pribadi ke dokter pria? Apakah ada jaminan pasti sehat atau pasti selamat dari maut jika berobat atau ditangani dokter pria yang sudah terkenal? Jawaban kita pastilah Allohu A’lamu untuk hal ini. Na’am, dokter hanya bisa menganalisa sakit, dan Alloh Asy – Syifa yang menyembukan!

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku. (Q.S. Asy – Syu’aro (26): 80)

Mengapa sampai harus seperti itu, ukhtana? Karena dalam syari’at Islam ada yang dinamakan maqoshid syari’ah (maksud – maksud diturunkannya hukum – hukum syari’ah) yang salah satunya adalah Hifzhud Dien – menjaga agama kita termasuk di dalamnya ketika keadaan seperti ini.

Dari Abu Hurairoh RA, Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبَهُ مِنَ الزَّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زَنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذَنَانِ زِنَاهُمَا الْإِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Sesungguhnya Alloh telah menetapkan bagi setiap anak Adam bagiannya dari zina, ia mengalami hal tersebut secara pasti. Mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zananya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang dan kaki zinanya adalah berjalan dan hati berhasrat dan berangan-angan dan hal tersebut dibenarkan oleh kemaluan atau didustakan”. (HR. Bukhori wal Muslim)

Pun juga dalam hadits Nabawi lainnya. Dari Ma’qil bin Yasar RA, Nabi Sholallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

لَأَنْ يُطْعَنُ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

“Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR. Ar-Ruyany dalam Musnadnya no.1282, Ath-Thobrany 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman no. 4544 dan dishohihkan oleh syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 226)

Bagi para perawat muslimah, ketahuilah ukhtana…Alloh Ta’ala tidak melarang antunna bekerja terlebih apabila antunna masuk dalam kategori yang diwajibkan bekerja sesuai syara’. Namun hukum awal bagi para muslimah adalah berdiam diri di rumah, seperti pada ayat-Nya:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu bersolek (Tabarruj) dan bertingkah laku seperti wanita – wanita Jahiliyah dahulu. Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Alloh dan Rosul-Nya. Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.(Q.S. Al – Ahzab (33): 33)

Ayat di atas terkadang masih ditentang oleh para muslimah saat ini, terlebih oleh para aktifis emansipasi yang lupa pada Robbnya, bahkan para muslimah yang aktif dalam tarbiyah sekalipun. Mereka lupa pada kajian fiqh mereka dahulu tentang ayat ini ketika mereka masih duduk dalam majlis ‘ilmu agama. Aktualisasi ‘ilmu dan diri menurut sebagian muslimah kita biarpun para suaminya telah mencukupi kebutuhan keluarganya, lupa ukhtana? Terus sibuk mencari dan mengisi dunia sampai menikah dan kewajiban mengurus rumah tangga mereka lupakan, sehingga ‘ilmu agama hanya sebagai “cukup tahu” saja, nol besar pada penilaian Alloh Ta’ala. Pantas saja Rosululloh SAW sampai bersabda fitnah terbesar sepeninggal beliau adalah datangnya dari kaum wanita. Padahal minimal 17 kali dalam sehari para muslimah meminta-Nya dalam sholat pada Alloh Al – Hadi, “Ihdinash Shirothol Mustaqim.” Tetapi ketika Alloh Al – Hadi memberikan mereka petunjuknya lewat teguran, cobaan dan musibah, tulisan, gambar, ataupun lewat seseorang, mereka marah lalu menampiknya dan berpaling.

Pekerjaan sebagai tenaga perawat maupun kedokteran adalah pekerjaan mulia, dan bernilai ibadah hanya apabila semua juga dijalankan juga sesuai syari’at-Nya, bukan karena niat bekerja sebagai ibadah saja. Bilangan positif dikali bilangan negatif hasilnya apakah hasilnya menjadi bilangan positif? Halal dan Thoyyib, itulah yang diinginkan-Nya bagi kita semua termasuk rizqi dari hasil peluh capeknya pekerjaan. Menolak ikhtilat, bersentuhan kulit lawan jenis, dan menolak pasien berlainan jenis jika bukan darurat sesuai hukum fiqh, adalah wajib menjadi acuan biarpun imbalan rupiah yang besar. Sedikit yang halal adalah rizqi penuh barokah yang luar biasa.

“Wal Akhirotu Khoyrun wa Abqo’”

Jika masih ada di antara kita yang berpikir hal – hal ini adalah darurat, nanti dulu…bagaimana kaidah darurat baru bisa diterapkan? Apakah dalam hal peperangan seperti dulu para shohabiyyah ikut berperang dan menjadi petugas kesehatan? Apakah tidak ada pria atau wanita lain saat itu di tempat itu? apakah bisa berakibat fatal (baca: kematian) bila tidak dilakukan? Padahal Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman memberikan contoh penerapan kaidah mengenai kondisi darurat:

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Siapa yang dalam kondisi terpaksa memakannya sedangkan ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka ia tidak berdosa. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al – Baqoroh (2): 173)

Hanya dalam kondisi terdesak darurat dan bisa berakibat fatal-kematian, barulah suatu kondisi bisa dikatakan darurat.

Bagi para pihak jajaran direksi dan manajemen rumah sakit/ klinik pengobatan/ klinik bersalin Islam, inilah saatnya untuk memperbaiki diri dan berada dalam koridor syari’ah. Porsi jumlah dokter dan perawat kesehatan pria dan wanita di rumah sakit harus selalu diperhatikan. Manajemen dan prosedur perawatan harus diperhatikan agar tidak menabrak koridor syar’i. Apalagi ketika dokter dan perawat kesehatan muslimah harus bekerja malam hari, fasilitas keamanan dan kenyamanan bekerja sampai kembali ke rumah adalah tanggung jawab juga. Tragis apabila ojek pria menjadi pilihan mereka ketika telat masuk kerja dan ketika pulang kerja malam hari. Bukankah Alloh Al-Bashir selalu mengawasi gerak – gerik kita?

Ayyuhal Ikhwah, sekali lagi Inilah tantangan besar bagi ummat negeri ini, yang sampai saat ini sering sekali ditegur-Nya dengan berbagai ujian dan siksaan, agar dicarikan dan dipilihkan solusi sebaik – baiknya untuk hal ini, agar kita tersadar dari kelalaian dan bersegera kembali ke jalan-Nya yang hanif.

Ihdinash Shirothol Mustaqim Ya Hadi!

Wallohu A’lamu bish Showab.

Wassalāmu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on 17 January 2016 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

3 responses to “Kenyataan di Rumah Sakit Islam

  1. dhani sugiarto

    11 February 2016 at 1:04 PM

    ustad bagaimana hukumnya saya sebagai perawat laki2 sering menyentuh pasien perempuan,misalnya ketika mengecek tekanan darah dll tetapi tetap memakai sarung tangan,,berdosakah ustad?dan status gaji halalkah…solusinya apa meninggalkan profesi ini ustad,trimakasih atas jawabannya.

     
    • hanifroad

      11 February 2016 at 10:37 PM

      Assalamu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

      Alhamdulillah, akhi masih diberi-Nya “sense of syari’ah” dari Alloh Al- Hadi dalam hal pekerjaan dan cara anta bekerja. Langsung saja, menyentuh pasien berlainan jenis yang bukan termasuk mahrom adalah dosa. Adapun ketika akhi mengenakan sarung tangan karet steril ketika menangani pasien berlainan jenis dan non mahrom, maka kami katakan bahwa hal ini tidak lepas dari kondisi fiqh. Apabila memang darurat, maka hal ini diperbolehkan, tapi yang namanya darurat bukan terjadi tiap hari atau tiap seminggu sekali atau setiap kontrol pasien. Na’am, memang anta tidak bersentuhan kulit dengan lawan jenis non mahrom. Namun, illat dosa masih ada yaitu ikhtilath yang termasuk diharomkan-Nya, juga ikhtilath bukan dalam status darurat. Yang dikhawatirkan adalah nantinya kita malah menyepelekan dosa, karena mencari “jalan keluar” dengan memakai sarung tangan karet steril.
      Illat dosanya ada 3 apabila menangani pasien berbeda jenis kelamin dan non mahrom:
      1. Dosa ikhtilath.
      2. Dosa menyentuh wanita bukan mahrom.
      3. Dosa memandang aurot bukan mahrom/ tidak menundukkan pandangan. Karena tidak mungkin tidak melihat kondisi tubuh pasien apalagi kalau pemeriksaan penyakit organ dalam yang harus diagnosa dengan pandangan visual.
      Dalam ushul fiqh/ kaidah pokok fiqh, ada kaidah yang berbunyi “Dar’ul Mafasid Muqoddamun ‘ala Jalbil Masholih” – menjauhi mafsadat/ kerusakan harus lebih diutamakan/ didahulukan biarpun dalam hal tersebut ada mashlahatnya. Biarpun akhi sudah memakai sarung tangan karet steril dan ada maslahatnya, tetapi yang dikhawatirkan adalah “resistansi” kita dalam melihat dosa/ pelanggaran syari’at makin lama makin berkurang bahkan hilang bahkan menganggap hal itu boleh dilakukan.
      Masalah gaji, Insya Allohu Ta’ala gaji berstatus halal biarpun para ‘ulama masih khilaf untuk hal ini. Namun, anta masih terkena dosa dari 3 illat dosa di atas yang menyebabkan gaji menjadi syubhat karena tercampur dengan aktivitas maksiat pada-Nya. Dan ana pribadi, hanya mengingatkan bahwa dosa kecil bisa menjadi besar apabila dilakukan terus menerus dan apabila sampai dianggap bukan dosa, biarpun 3 illat dosa di atas bukanlah termasuk dosa kecil. Dunia tidak lebih dan tidak akan sebanding dengan kampung akhirat!
      Solusinya? sampaikanlah secara bijak pada perawat kepala/ supervisor bahwa anda seorang muslim yang diharomkan untuk berikhtilath, dan menolak untuk menangani pasien wanita kecuali dalam kasus emergency/ darurat. Jika anda sudah menyampaikan hal ini tetapi malah mendapat ancaman untuk di-PHK, ingatlah Rosululloh SAW telah bersabda:
      “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena (perintah) Alloh ‘Azza wa Jalla, kecuali Alloh akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu” (HR. Ahmad)

      Barokallohu fiika.

      Allohu A’lamu bish Showab.

      Wassalamu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

       
  2. dhani sugiarto

    11 February 2016 at 11:59 AM

    ustad bolehkah hukumnya perawat laki2 menyentuh wanita dengan sarung tangan,,misal waktu pemeriksaan tekanan darah?halalkah gajinya untuk keluarga…apakah harus keluar dari perawat

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s