RSS

Search Engine: Tentang Khitbah, Menikah Itu Apa?

24 Oct

Assalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِااللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَٰـــٓــأَ يُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ اتَّقُواْ اللَّهَ حَقَّ تُقَا تِهِ وَلَا تَمُو تُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُّسلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَشَّرَ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

[Kutipan hadits Khutbatul Hajat/ Khutbatul Nikah.]

Qodarullohu Ta’ala. Hampir sebulan ini search engine mengantarkan para Thulabatul ‘Ilmu sampai ke blog ini. Hasil search engine dari web pencari mengantarkan para Ikhwani wa Akhwati Fillah dengan beberapa terms pencarian yang membuat kami tersenyum betapa saudara – saudari kami memang sangat haus ‘ilmu agama, khususnya tentang pernikahan dan persiapan pernikahan. Semoga artikel kali ini bisa membuka cakrawala berpikir kita, biarpun tidak bisa menjawab…

Keyakinan hati untuk menikah

Tentang khitbah…

Apakah cinta itu ada untukku?

Menikah itu apa?

Ayyuhal Ikhwah, diantara ketetapan Taqdir-Nya untuk kita semua, soal jodoh dan pernikahan adalah salah satu contoh bentuk dari “Taqdir pilihan”, yaitu ketetapan-Nya yang bisa kita pilih dengan batasan yang telah ditulis-Nya pula di Lauhul Mahfuzh. Pilihan ada di pikiran dan qolbu kita masing – masing. Manakah pilihan yang terbaik? Carilah yang diridhoi-Nya, jika memang Ridho-Nya-lah yang kita cari.

Rasa cinta, kagum, suka pada lawan jenis adalah fitroh yang telah dititipkan-Nya ke dalam qolbu dan pikiran kita semua. Seseorang pernah berkata kepada kami “yang namanya suka itu harus kagum dulu, kalau sudah suka maka cinta akan lahir!” Allohu a’lamu. Beberapa kisah cinta dalam Islam, justru tidak harus begitu. Mengapa? Karena Alloh-lah yang menuliskan-Nya, kita hanya bisa menjalaninya, bukan?

Di dalam Surga, kenikmatan apa yang tidak ada? Kenikmatan tak terhingga yang baik dan terbaik ada di sana tempatnya. Nabiyulloh Adam ‘alaihis salam ditempatkan-Nya di dalam Surga-Nya saat itu. Alloh Jalla wa ‘Ala dengan segala ‘Ilmu dan Hikmah-Nya telah menuliskan adanya kekosongan di dalam qolbu Nabi Adam AS, yang akan diisi dan dilengkapi dengan makhluk-Nya yang lain dari jenisnya sendiri.

Kekaguman Khodijah RA., terhadap pemuda sholih, jujur dan rajin saat itu, tetap membuatnya malu untuk mengungkapkannya langsung. Diutuslah seorang untuk menyampaikan rasa itu kepada pemuda tersebut, pemuda itu sebenarnya miskin kalau ditakar dengan takaran harta benda, namun dengan dukungannyalah…pemuda tersebut menjadi pemimpin peradaban masyarakat yang awalnya penuh kejahilan dan kebathilan. Pemuda tersebut adalah pemimpin para hamba-hamba-Nya yang sholeh, yang sampai lebih dahulu ke telaga kautsar di Jannah kelak, yang akan memberi syafa’at dengan izin-Nya kepada ummatnya. Sholallohu ‘alaihi wa Sallam.

will you

Saling menyukai dan saling menunggu sebenarnya. Kedua insan tersebut hanya bisa berkirim do’a dan memendam harapan hanya kepada-Nya. Pihak pria adalah seorang muslim yang sholih putra keturunan kaum terpandang namun miskin harta benda, di pihak wanita adalah putri sholihah dari seorang Rosul yang telah terdidik dalam Tarbiyah Qur’an dan Sunnah. Ketika niatan mulia dan keinginan itu semakin menguat, si pria bahkan disambut “Ahlan!” oleh mertuanya, meskipun awalnya tidak percaya diri dengan kondisinya saat itu.

Maupun kisah cinta lain dari para hamba – hamba-Nya yang sholih/ sholihah.

“Menikah itu apa?”

Jalan yang diridhoi-Nya untuk memenuhi fitroh dan kekurangan kita dalam mengisi dan menyiapkan sebaik – baik bekal di kampung akhirat kelak, yang tidak bisa kita lakukan jika hanya dilakukan sendirian. Bukankah kematian dan akhirat itu pasti? Berapa umur kita saat ini? usia 20 tahunan? Usia 30 tahunan? Atau bahkan lebih? Bisa hidup sendiri dengan kekurangan agama, kekurangan diri kekurangan dan harta benda yang dimiliki saat ini? atau memang merasa tidak perlu menikah? Tidak butuh? Atau belum sadar dan yakin akan keutamaan dan janji-Nya? atau sudah merasa cukup bekal ‘amal jariyah dan ‘ilman nafi’an sehingga tidak perlu do’a anak sholih/ sholihah yang akan memperberat timbangan kebaikan kita di Yaumul Mizan kelak?

Satu persatu anggota keluarga kita akan pergi dari kehangatan rumah kita, untuk mewujudkan dan membentuk kehangatan penuh tuntunan Qur’an dan Sunnah di rumah/ tempat lain. Kedua orang tua kita mungkin akan dicukupkan umur oleh-Nya lebih dahulu, terpikirkah pernah oleh kita semua bahwa mereka pun sangat menginginkan kita mewujudkan apa yang mereka do’akan di 1/3 malam terakhir untuk kita? Egoiskah kita? Atau kira – kira kata – kata pedas apa lagi yang tepat?

“Apakah cinta itu ada untukku? dan Tentang Khitbah”

Kita tidak akan tahu sesuatu sampai kita mencari tahu atau telah melewati hal tersebut. Wujudkanlah dan jalankanlah sesuai tuntunan-Nya. Akuilah, terkadang kita memang sangat ingin ridho-Nya tetapi (malah) tidak melewati jalan/ tuntunan yang diridhoi-Nya. Menginginkan anak sholih/ sholihah, namun tidak pernah menempa diri dalam mengisi ketidak tahuan kita akan agama, lalu bisakah kita mentarbiyah mereka kelak? Ingin Jannah-Nya namun tidak mau mengikuti tuntunan Qur’an dan sunnah. Ingin pasangan yang bisa sama – sama melengkapi untuk sama – sama menjadi hamba-Nya yang sholih/ sholihah, namun pilihan suku, harta dan keturunan yang diutamakan. Inilah salah satu contoh taqdir pilihan.

Dulu, mungkin kedua orang tua kita bisa memilihkan jenis pakaian yang syar’i, bisa memilihkan tempat pendidikan yang terbaik, bisa mengajarkan akhlak mulia kepada kita, bisa memilihkan dan menyediakan makanan halal dan baik untuk kita. Namun, cobalah meminta akan calon pasangan hidup kepada mereka, niscaya mereka juga akan memberikan yang terbaik menurut kadar keilmuan mereka saja. Sampai akhirnya satu persatu kita tolak, mereka menyerah dan mengembalikan kepada kita untuk mewujudkan impian tinggi kita akan pasangan hidup tanpa pernah berkaca diri. Kenapa? Karena kitalah yang akan menikah, kitalah yang akan mengisi pernikahan, bukan mereka!

Kata orang, suku/ kaum tertentu orangnya giat dan telaten mencari nafkah…apakah pernikahan hanya untuk memenuhi kebutuhan harta saja? Ya bekerjalah! Jangan menikah!

Kata orang, fisik dan wajah rupawan dapat membuat awet dan langgeng pernikahan…tahukah banyak artis rupawan yang menghabiskan ratusan juta dalam resepsi dan pernikahannya hanya hitungan bulan saja?

Kata orang, kemampuan harta finansial dapat mengisi semua kebutuhan dalam mengarungi bahtera pernikahah…yang namanya titipan bisa diambil-Nya kapan saja!

Inilah dalil baru…kata orang – orang bijak…kata – kata motivator yang hanya menjual ayat-Nya…

Buat apa sampai mengunci gerbang rumah ketika ada seorang sholih yang meminta izin ingin menyampaikan niatan suci dan mulia di hadap-Nya? 3 kali do’a salam mengetuk pintu namun sampai kita mengancam orang rumah untuk tidak keluar, hanya untuk mendengarkan sejenak niatan mereka…inilah perjalanan seorang pria muslim yang terjauh dan terberat dalam hal ini. karena ukhtana…mereka hanya punya niatan yang tulus pastinya, tidak ada niatan untuk menjerumuskan. Penolakan tegas dari mulut kita pun mungkin kita pilih…dari 4 kriteria…mungkin kekurangan yang terus kita lihat dari dia, syahadatnya tidak ada dalam pertimbangan kita.

Tidak cukup sampai disitu, bahkan pemutusan/ blokir hubungan kontak diambil dengan selalu meyakinkan hati akan kekurangan mereka saja sebagai alasan. Sedikit bisa bernapas lega, namun…adilkah kita pada mereka? pria non mahrom bahkan suami orang lain dan orang – orang kafir masih ada di kontakmu? Alhamdulillah kalau kita bisa mengisi penantian kembali untuk pasangan hidup dengan hal – hal yang diridhoi-Nya. Menikah hukumnya mubah untuk sesiapa di antara kita yang bisa menjaga izzah dan iffah diri. Lalu, bagaimana standard cinta yang diinginkan oleh kita?

“Cinta macam apa yang ada/ diinginkan untukku?”

Tanyakanlah sendiri pada diri kita. Bagaimanakah kira – kira Alloh Ar-Rohman Ar-Rohim mencintai kita? Alloh Ta’ala tentunya tidak pernah bertindak zalim pada hamba – hamba-Nya. Bahkan Alloh Ta’ala tidak mencabut nyawa kita jika belum diberikan semua nikmat-Nya kepada hamba-Nya sesuai yang telah ditulis-Nya, biarpun kita sedang bermaksiat. Cintakah kita kepada Alloh Ta’ala? Jika kita benar – benar mencintai Alloh maka ikutilah tuntunan Rosululloh SAW. Barangsiapa yang mena’ati Rosululloh, maka sesungguhnya dia telah mena’ati Alloh. Alloh Ta’ala telah mengutus manusia biasa dari jenis kita untuk memberi contoh bagaimana cara mencintai-Nya. Contoh dari Alloh Ta’ala telah ditunjukkan cara yang diinginkan-Nya bagaimana cara mencintai-Nya.

if u love me

Sudah sesuaikah keinginan kita dengan keinginan-Nya termasuk dalam pernikahan? Sadarlah bahwa pasangan hidup kita di dunia adalah pasangan kita juga di akhirat kelak. Mendamaikan ego dan keinginan hawa nafsu memang berat. Seperti halnya ketika ego dan hawa nafsu kita ditaklukan oleh-Nya, bahwa kita memang adalah hamba-Nya, mau tidak mau kita mengikuti keinginan-Nya…Demi Ridho-Nya. Carilah tandingan cinta-Nya kepada kita, tidak akan pernah ada!

Cinta seperti apa yang kita inginkan? apakah cinta yang membuat kita tidak mau berpisah tiap detiknya? apakah cinta yang membuat kita tidak mau beranjak dari tempat tidur? apakah cinta yang selalu memberi kita dinar dan dirham? apakah cinta yang mau menunjukkan ini halal ini harom biarpun kita baru akan menyadari kelak?

Alloh Ta’ala mewajibkan kita berpakaian sesuai syari’at, sadarkah bahwa Alloh mencintai kita dengan hukum-Nya? meski terkadang terasa panas tapi akal dan nafsu kenapa cinta-Nya seperti ini? Alloh melarang para muslimah keluar tanpa mahrom dan keluar tanpa alasan syari’i, mengapa Alloh mengekang kita? ada cinta-Nya disana…

Ketika kedua orang tua kita memarahi kita pulang malam, apa yang ada di benak kita adalah amarah sipir penjara saja? Ketika kedua orang tua kita marah apabila kita berpakaian dan berperilaku seperti banci dan tomboy, apakah yang kita pikirkan kreativitas kita sedang dikekang? Ketika kedua orang tua kita memarahi kita karena meninggalkan ibadah ritual yang wajib, apakah yang kita pikirkan waktu kita sedang diatur mereka? ada cinta mereka disana…

“Keyakinan hati untuk menikah…”

Akhirnya sampai pada search term ini. Ikhwah fillah. Menikah, bukan hanya merubah status saja di KTP dan kartu keluarga. Bukan hanya sekedar menghalalkan yang harom, bukan hanya menyenangkan hati dan menghilangkan kekhawatiran orang tua, bukan hanya menghilangkan suudzon dan beban pikiran. Ijab qobul dan walimah nikah adalah langkah awal, dari sekian langkah bersama di depan…ya langkah bersama untuk sama – sama menjadi baik di hadap-Nya sesuai yang diinginkan-Nya. Bahkan di tengah perjalanan, bahtera pernikahan bisa kita lubangi dan kita rusak juga bisa kita tenggelamkan bersama. Bahtera pernikahan akan diuji sesuai pilihan kita akan pasangan hidup. Keturunan kita butuh contoh langsung dari orang tua yang bisa memberi tarbiyah Qur’an dan sunnah.

Tanyakanlah diri sendiri mengapa mau menikah? Karena alasan sudah capek sendirian? alasan karena teman – teman sudah mempunyai suami/ istri? alasan karena sudah capek bekerja? alasan karena sudah “diteror” pertanyaan berulang dari keluarga? alasan karena tidak bisa menjaga diri? alasan karena banyaknya fitnah dan godaan di sekitar? atau…karena alasan mengikuti perintah Alloh Ta’ala?

Alhamdulillahi wahdahu, bila di antara kita sudah mendapatkan calon suami atau calon istri setelah melewati proses khitbah. Teruskan dan lanjutkan! jangan dengar rayuan syaithon dalam wujud jin dan manusia! Persiapkanlah ‘ilmu agama yang mampu menunjang ke arah sana. Memperbaiki diri, menjaga diri, mentarbiyah diri, dan biarkanlah Alloh Al – Hadi menunjukkannya kepada kita, genggamlah erat dan ikutilah petunjuk-Nya!

Kelak nanti…kita akan dihadapkan-Nya bahwa alasan pilihan suku tidak menjamin bahtera langgeng, bahwa alasan harta bukan pelancar perjalanan pernikahan, alasan pilihan rupa bukanlah yang kita rasakan setiap harinya.

Alasan karena agama adalah alasan yang akan kita rasakan dan nikmati langsung setiap harinya, setiap detiknya. Bahkan alasan ini akan kita rasakan sampai ketika tubuh yang tegak sudah merunduk sepertil huruf ‘Dal, ketika kulit ini sudah mulai berkurang elastisitasnya, ketika mata ini sudah mulai rabun, ketika telinga sudah mulai kurang mendengar.

Bagaimana mungkin pilihan adat/ suku bisa menjamin ketakwaan, karena batasan hukum adat/ suku belum tentu sesuai dengan batasan Alloh Ta’ala!

Bagaimana mungkin pilihan harta bisa menjamin rajin/ giatnya pasangan hidup, untuk mencari dan memanfaatkan nafkah halal dan baik jika tidak paham batasan agama?

Bagaimana mungkin pilihan rupa bisa menjamin derajat kita bisa mulia bagi-Nya? Siapakah manusia yang paling mulia bagi Alloh? Yaitu yang bertakwa yang bisa menjaga batasan agamanya!

Maka, yakinkan dan kalahkanlah pendirian, pendapat, akal dan hawa nafsu kita, jika hal itu sudah berhadapan dengan batasan yang diinginkan-disenangi-diridhoi Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Luruskanlah niat kita untuk menikah untuk mencari ridho-Nya sesuai cara dan batasan yang diridhoi-Nya.

Untuk bersama – sama menjaga, melindungi, mendidik, membimbing, membina, mentarbiyah dan menafkahi.

Untuk bersama – sama mencari ridho, sakinah, mawaddah, rohmah, ampunan dan barokah-Nya.

Allohu a’lamu bish showab.

Wassalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

 

[Semoga bisa membuka cakrawala kesempitan berpikir kita semua. Dari semua penjelasan bias dan penuh khayalah tentang menikah dari buku, lagu, media sosial, bahkan artikel blog seperti yang anda baru baca ini.]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 24 October 2015 in Islam, Muslimah

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s