RSS

Saat Si Kecil Tumbuh Dalam Rahim

13 May

Oleh: Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu Imran

Orang tua mengharap anaknya menjadi anak yang shalih adalah biasa. Sayangnya, tidak banyak orang tua yang mau menempuh jalan agar harapannya itu bisa terwujud. Padahal Islam telah banyak memberikan bimbingannya baik di dalam Al-Qur’an maupun Sunnah, termasuk saat masih di dalam rahim.

Anak adalah sosok mungil idaman yang sangat dinanti kehadirannya oleh sepasang Ayah Bunda. Semenjak melangkah ke jenjang pernikahan, mereka berdua telah menumbuhkan harapan akan lahirnya si buah hati. Mereka terus memupuk harapan itu dengan menjaga calon bayi yang memulai kehidupannya di rahim Ibunya, hingga saatnya hadir di dunia. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya lahir dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Segala upaya dikerahkan untuk mewujudkan keinginan mereka. Tentu tak patut dilupakan sisi-sisi penjagaan dan pendidikan yang telah diajarkan oleh Alloh SWT dan Rosul-Nya. Bahkan dengan inilah orang tua akan mendapatkan kemuliaan bagi anaknya dan bagi diri mereka.

Dapat disimak pengajaran ini dalam indahnya sunnah Rosululloh SAW. Di sana didapati bimbingan yang sempurna untuk kita terapkan dalam mendidik anak. Bahkan sebelum hadirnya sosok mungil itu pun Islam telah memberikan tuntunan penjagaan. Terus demikian tuntunan itu secara runtut didapati hingga saat melepas anak menuju kedewasaan.

 Saat Kedua Orang Tua Bertemu

Inilah tuntunan Islam sebelum bertemunya dua mani yang menjadi bakal janin dengan izin Alloh SWT. Usai pernikahan, ketika sepasang pengantin bertemu untuk pertama kalinya, disunnahkan bagi mempelai pria memegang ubun-ubun istrinya dan mendoakannya. Didapati hal ini di dalam ucapan Rosululloh SAW: “Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak, maka hendaknya ia memegang ubun-ubunnya, menyebut nama Alloh SWT dan mendoakannya dengan barakah, serta mengucapkan, ‘Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan seluruh sifat yang Engkau jadikan padanya dan aku memohon perlindungan- Mu dari kejelekannya dan kejelekan sifat yang Engkau jadikan padanya.’ Apabila ia membeli unta, maka hendaknya ia pegang ujung punuknya dan berdoa seperti itu juga.” (Diriwayatkan oleh Imam al- Bukhori dalam Af’alil ‘Ibad dan Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, al- Hakim, al-Baihaqi dan Abu Ya’la dalam Musnadnya dengan sanad hasan, dan dishohihkan oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat “Adabuz Zifaaf fis Sunnatil Muthahharah”, hal. 20, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani V)

Dalam suasana pengantin baru, sang mempelai tak lepas dari tuntunan Rosululloh SAW. Demikian pula ketika kehidupan rumah tangga terus berlangsung. Rosululloh SAW juga memberikan pengajaran kepada setiap suami istri untuk mulai menjaga calon anak mereka ketika mereka hendak bercampur (jima’). Beliau bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian ketika mendatangi istrinya mengatakan: ‘Dengan nama Alloh, ya Alloh, jauhkanlah syaithan dari kami dan jauhkanlah syaithan dari apa yang engkau rizkikan kepada kami’, jika Alloh tetapkan terjadinya anak, syaithan tidak akan dapat memudharatkannya.” (HR. Bukhori)

Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa maksud perkataan Rosululloh SAW “Syaithan tidak akan memudharatkannya” yaitu syaithan tidak akan memalingkan anak itu dari agamanya menuju kekafiran, dan bukan maksudnya terjaga dari seluruh dosa (‘ishmah).

 Menjaga Janin dari Hal-hal yang Menggugurkannya

Ketika benih telah mulai tumbuh, banyak upaya yang dilakukan oleh sepasang calon Ayah Bunda untuk menjaga janin yang ada di perut Ibunya. Sang calon Ibu akan mulai memilih makanannya, mengkonsumsi segala macam vitamin yang dapat menunjang kehamilannya, menjaga waktu istirahatnya, melakukan olah raga khusus dan mengatur aktivitasnya. Tak lupa mereka memantau keadaan calon bayi dengan terus memeriksa kesehatannya.

Akan tetapi, adakalanya janin gugur bukan karena semata sebab medis. Terkadang ada sebab lain yang mengakibatkan gugurnya kandungan seorang Ibu. Ini kadang-kadang tidak disadari oleh kebanyakan orang.

Semestinya kita mengetahui peringatan Rosululloh SAW dari hal-hal semacam ini yang diterangkan oleh syari’at, sebagaimana Rosululloh SAW memerintahkan untuk membunuh ular yang disebut dengan dzu thufyatain yang dapat menyebabkan gugurnya janin. Beliau SAW bersabda: “Bunuhlah dzu thufyatain, karena dia dapat membutakan mata dan menggugurkan janin.” (HR. Bukhori)

Apakah dzu thufyatain? Dijelaskan oleh Ibnu ‘Abdil Barr bahwa dzu thufyatain adalah jenis ular yang mempunyai dua garis putih di punggungnya.

Perintah Rosululloh SAW Apakah dzu thufyatain? ini menunjukkan wajibnya menjaga dan menjauhkan hal-hal yang dapat membahayakan janin, dan ini merupakan salah satu pintu penjagaan dan perhatian syari’at ini terhadap janin dan keadaannya.

 Keringanan bagi Wanita Hamil untuk Berbuka

Tak jarang kondisi seorang Ibu yang mengandung calon bayi di dalam rahimnya lemah. Suplai makanan yang dikonsumsinya harus terbagi untuknya dan untuk janin yang ada di dalam kandungannya. Sementara ketika bulan Romadhon tiba, kaum muslimin diwajibkan untuk melaksanakan puasa, menahan lapar dan dahaga dari terbitnya Fajar hingga tenggelamnya bulatan matahari. Dengan ilmu dan hikmah-Nya, Alloh SWT memberikan keringanan kepada hamba-hamba wanitanya yang sedang hamil dan menyusui untuk tidak menjalankan kewajiban berpuasa.

Ini dijelaskan dalam sabda Rosululloh SAW: “Sesungguhnya Alloh Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi menggugurkan separuh shalat atas orang yang bepergian dan menggugurkan kewajiban berpuasa dari wanita yang hamil dan menyusui.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan sanadnya hasan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam at-Tirmidzi. Dihasankan oleh Syaikh Albani dalam “Shahih Sunan An Nasa’i” dan dalam “Shahih Sunan Ibnu Majah” no. 1353, beliau berkata: hadits hasan shohih)

‘Abdullah ibnu ‘Abbas RA., memberikan penjelasan bahwa jika seorang wanita yang hamil mengkhawatirkan dirinya dan wanita yang menyusui mengkhawatirkan anaknya selama Ramadhan, maka keduanya berbuka (tidak berpuasa) dan setiap hari memberi makan satu orang miskin serta tidak mengqodho’ puasanya.

Inilah bentuk-bentuk penjagaan Islam terhadap anak sebelum ia lahir ke dunia. Terlihat dengan gamblang perlindungan agama Alloh SWT ini terhadap jiwa seorang manusia. Terbaca dengan jelas kasih sayang Alloh SWT bagi seluruh hamba-Nya. Oleh karena itu, selayaknya Ayah dan Bunda memperhatikan penjagaan buah hati mereka.

 …وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا…(٣٢)

“…Barangsiapa yang memelihara/ menjaga kehidupan satu jiwa, maka seakan-akan dia telah memelihara/ menjaga kehidupan seluruh manusia…” (Q.S. Al-Maaidah (5): 32).

Wallohu Ta’ala A’lamu bish Showab.

Bacaan:

  1. Adabuz-Zifaaf, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani

  2. Ahkamuth Thifl, asy-Syaikh Ahmad al-‘Aisawy

Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&ud_online= 10

[Diambil dari Jurnal Akhwat, dengan beberapa editan seperlunya]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 13 May 2015 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s