RSS

Kegigihan Ahli ‘Ilmu dalam Mencari ‘Ilmu Agama

09 May

Assalāmu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Ayyuhal Ikhwah. Dalam syari’at Islam, posisi ‘ilmu adalah porsi yang sangat penting bagi kita. Kewajiban menuntut ‘ilmu syar’i merupakan Fardhu’ ‘Ain bagi tiap muslim wal muslimah. Kita tentunya sudah sangat hapal hadits pendek akan kewajiban menuntut ‘ilmu agama yang memang diridhoi-Nya. Bahkan beberapa ‘ulama (yang namanya tidak perlu lagi kami tuliskan disini) menyebutkan porsi kebutuhan manusia akan ‘ilmu agama adalah melebihi makan dan minum kita. Betapa tidak? Sebagai seorang muslim, tentunya kita ingin semua amal perbuatan kita baik dalam ibadah mahdhoh maupun ghoiru mahdhoh bernilai ibadah, dengan syarat – syarat yang telah ditentukan oleh-Nya. Tentunya kita tidak mau sholat kita batal karena aurot kita masih tersingkap, tentunya kita harus bisa minimal membaca tulisan ‘Arab karena tidak syah sholat memakai bahasa selain ‘Arab, tentunya kita harus tahu kalau baju ketat lengan pendek dan celana panjang bagi muslimah bukanlah hijab syar’i, dan semua pembatal – pembatal ibadah yang akan membuat ibadah – ibadah dan ‘amaliah lain yang kita telah lakukan akan bernilai sia – sia saja. Seperti contoh kita hanya akan bisa menghilangkan lapar dan haus saja dengan makan minum, tetapi tidak bernilai ibadah bagi Alloh Ta’ala karena makan minum memakai tangan kiri.

Ya, kebutuhan menuntut ‘ilmu agama telah menjadi kewajiban nbagi tiap – tiap kita semua. Namun, di masa ini dengan semua kemudahan yang diberikan Alloh Ta’ala lewat media teknologi, seakan membuat kita terlena akan kewajiban ini. Alangkah lalainya apabila kita yang tinggal dekat dengan pesantren maupun masjid yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumah, yang di dalamnya pasti diadakan dauroh kajian dengan frekuensi waktu tertentu untuk memakmurkan masjid dan syiar dakwah Islam, tapi tidak pernah kita datangi. Bahkan..Na’udzubillahi min dzalika…, tempat – tempat rekreasi yang sering dipakai untuk “legalisasi buka – bukaan aurot” dan “ajang ikhtilat” juga dosa lainnya malah menjadi pilihan kita. Kami pribadi, sering melihat saudara/ saudari kita berlalu/ melintasi pesantren atau masjid yang sedang berlangsung di dalamnya kajian ‘ilmu Islam, namun mereka berlalu dengan persiapan lengkap justru tujuan mereka adalah tempat maksiat.

Padahal wahai ikhwah, media teknologi telah menjadi nikmat-Nya yang bisa kita pakai untuk menghapuskan kebodohan kita akan ‘ilmu agama. Akankah kita jadikan ‘nikmat’…? atau malah kita jadikan media untuk membuat dan menambah dosa juga?

Mungkin, di antara kita masih berpikir kalau kita tidak perlu mendatangi dauroh kajian Islam untuk menuntut ‘ilmu agama, karena kita bisa mendapatkan itu semua lewat gadget kita. Maka pikiran macam inilah yang justru membinasakan kita. Tanyakanlah pada diri sendiri, berapa persenkah kuota memori gadget sudah kita pakai untuk software Qur’an, hadits dan kitab agama Islam? Sudah berapa banyakkah non mahrom dan ajnabi ada di friendlist akun sosmed kita? Sudah berapa puluh gambar buka – bukaan aurot dan wajah asli yang kita pajang? Berapa banyak grup dakwah yang kita ikuti? Sudah berapa banyakkah foto tanpa hijab syar’i kita yang ada di akun sosmed teman kita terlebih non mahrom dan lawan jenis? Dan antum bilang dan berpikir masih normal – normal saja dan tidak perlu? Maka kita sedang menuju kebinasaan dan murka-Nya yang sedang bertambah banyak, yaitu penguluran waktu agar dosa makin bertumpuk – tumpuk atau istidroj.

Sampai saat ini kami masih belum menemukan jawaban atas perilaku saudara/ saudari kita, yang jika berbicara dan bertemu dengan kita langsung lari sekencang mungkin ketika mau diingatkan, tetapi mereka mengizinkan teman – temannya yang buruk dan non mahrom juga orang – orang kafir untuk melihat dan menyimpan foto – foto dan video mereka tanpa hijab. Mungkin mereka punya standard ganda dalam syari’at ini, ataupun mungkin mereka pegang standard “perasaan tidak enak hati”. Dengan kelalaian ini, masih juga berpikir normal – normal saja? Masih berpikir tidak perlu menuntut ‘ilmu agama karena tidak perlu menjadi ustadz/ ustadzah?

Tidakkah kita malu dengan para Ahli ‘ilmu agama di zaman dahulu yang namanya harum semerbak mewangi, padahal tubuh mereka dahulu selalu basah dengan peluh dan debu setiap hari untuk menuntut ‘ilmu agama?

Tidakkah kita malu dengan mereka yang kuburnya saja hampir kita tak tahu dimana, namun namanya dikenal, bahkan selalu dikenang penduduk bumi saat ini.

Lihatlah bagaimana keadaan mereka, dan bandingkan dengan kita yang masih belum tergerak untuk menuntut ‘ilmu agama:

  1. Sa’ad bin Abi Waqqosh , berkata: “Sungguh kalian melihat kami (para Sahabat) menemani Rosululloh SAW dan kami tidak punya makanan selain dedaunan, sampai seorang diantara kita makan seperti makannya kambing”. (Hilyatul Auliya 1/92).

  2. Abu Hurairoh , berkata: “Sungguh kalian melihatku seperti orang terkena epilepsi (ayan)  di antara mimbar Rosululloh SAW dan kamar ‘Aisyah RA., lalu orang mengatakan ‘dia telah gila’. Tidaklah aku gila, tidaklah yang menimpaku melainkan karena aku kelaparan” (Hilyatul Auliya 1/379).

  3. Abu Mas’ud Abdurrahim Al-Haji berkata: Aku mendengar Ibnu Thohir menuturkan: “Aku kencing darah dua kali dalam mencari hadits (ilmu),  sekali di Baghdad dan sekali di Makkah, aku berjalan tanpa alas kaki di tengah panas terik, aku pernah mengalaminya, aku tidak pernah naik hewan tunggangan sekalipun dalam mencari hadits (ilmu), aku pikul kitab-kitabku di atas punggungku sendiri, aku tidak pernah minta tolong kepada seorang pun, dan aku pun hidup sesuai apa yang Alloh berikan kepadaku saja” (Siyar A’lamin Nubala 19/363).

  4. Al-Imam Ibnu Al-Qasim berkata:  ”Imam Malik habis-habisan dalam mencariilmu, sampai-sampai beliau mencongkel atap rumahnya lalu menjual kayunya” (Tarikh Baghdad 2 / 13).

  5. Khalaf bin Hisyam menuturkan: ”Ada satu bab dalam ilmu nahwu (bahasa) yang aku tidak tahu, lalu aku keluarkan 80.000 Dirham sampai aku menguasainya” (Siyar A’lamin Nubala 10/578)

  6. Ibnu ‘Uyainah berkata: Aku mendengar Syu’bah mengatakan: “Siapa yang mencari Hadits (ilmu) pasti bangkrut!, Aku jual bejana ibuku dengan harga tujuh dinar” (Siyar A’lamin Nubala 7 / 220).

Ayyuhal Ikhwah. Betapa gigihnya para salafush sholeh dalam menuntut ‘ilmu agama. Ketertinggalan mereka dari masa jahiliyah mereka, benar – benar mereka tutupi dengan pencarian ‘ilmu agama. Karena mereka tidak mau lagi menjadi jahiliyah setelah hidayah Islam mereka peluk erat, bukankah kita tidak mau melepaskan ikan yang ada di dalam jaring kembali ke laut?

Tentunya, semua ini memang merupakan hidayah dan tawfiq-Nya. Tidakkah mengherankan, di antara saudara/ saudari kita sangat kuat dan rajin untuk berdemo berkilo-kilo meter dan berjam – jam membawa anak – anak balitanya sampai kepanasan dan kehujanan, tetapi baru 1 jam di dalam pengajian sudah tidak kuat mata menahan kantuk, sehingga akhirnya undangan pengajian hanya bertumpuk saja di grup dakwah dalam gadgetnya.

Ikhwah, ingatlah akan adanya hari – hari ditunjukkan-Nya kesalahan – kesalahan kita kelak! Yaitu kesalahan akan mengisi nikmat waktu luang dan kesehatan, yang mungkin sampai saat ini masih kita sia – siakan.

Wassalāmu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Allohu A’lamu bish Showwab.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 9 May 2015 in Islam, Muslimah

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s