RSS

Mengejar Ketertinggalan Diri

05 May

running track

Saat itu Saad bin Muadz sedang bergegas untuk berangkat, satu tujuan di benak pikirannya… mencegah dan menghalangi Mush’ab bin Umair RA., tidak menyebarkan dakwah Islam di Yatsrib. Sebagai seorang tokoh di kaum Yahudi Bani Quraizhoh, Saad ingin agama nenek moyangnya tetap berada di atas agama – agama lainnya termasuk Islam.

Qodarullohu Ta’ala, tidaklah salah Alloh ‘Azza wa Jalla menuliskan Mush’ab di Lauhul Mahfuzh-Nya, untuk berdakwah di Yatsrib saat itu. Ayat – ayat Qur’an yang disampaikan Mush’ab justru membuat Saad termenung, berdecak kagum dan meresapi dengan qolbunya saat itu. Sejarahlah yang akhirnya mencatat bahwa Mush’ab-lah yang membimbing Saad dalam Islam yang Hanif. Pemuda tampan, gagah dan beperawakan tinggi besar itu malah luluh untuk menerima Islam yang diridhoi-Nya.

Hari demi hari tarbiyah langsung dari Rosululloh SAW maupun para sahabat diterima dan dijalankannya, umur 31 tahun adalah umur beliau ketika bersyahadat dan menerima segala konsekuensinya untuk mengakui bahwa tidak ada sebenar – benarnya Sesembahan yang berhak disembah dengan benar melainkan hanyalah Alloh saja, dan pengakuan mendalam bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.

Dalam waktu yang relatif singkat, Saad membuktikan konsekuensi syahadat yang dibacakannya waktu itu, Sami’na wa Atho’na, memberikan pembelaannya untuk Islam dalam beberapa momen – momen bersejarah dalam Islam. Peperangan Badar yang jauh dari persiapan matang, Saad yang mewakili orang – orang dari kaum Anshor memberi dukungan penuh dengan tegas. Tinta emas sejarah Islam telah mencatat kalimat yang tegas penuh hasil didikan tarbiyah:

“Wahai Rosululloh, kami telah beriman kepadamu. Telah membenarkan engkau. Bahwa engkau adalah Rosululloh. Maka berangkatlah engkau, demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, sekiranya di hadapan kita ada laut yang menghadang, dan engkau menyeberangi laut itu, niscaya kami akan turut menyertai. Kami akan sabar dalam perang, dan juga tegar dalam pertempuran. Berangkatlah wahai Rosululloh! Semoga Alloh memberikan apa yang menyenangkan hati engkau.”

Subhanalloh…wa bi Hamdihi!

Begitu pula dalam perang Uhud, Saad sampai menjadi tameng hidup Rosululloh untuk membuktikan cintanya kepada Alloh dan Rosul-Nya, dengan berdiri tegak di sisinya. Pun pada perang Khondaq yang melelahkan, Yatsrib yang telah dijadikan Madinah oleh Rosululloh SAW ikut dipertahankan beliau dengan maksimal. Dalam perang yang melelahkan dan penuh ujian-Nya saat itu, Madinah dikepung. Kaum yahudi dari sukunya sendiri-Bani Quraizhoh berkhianat dan bersekutu dengan Musyrikin dan Kafirin Quraisy Mekah, padahal perjanjian dengan Rosululloh telah disepakati oleh mereka.

25 hari pengepungan, para Yahudi dari Bani Quraizhoh menyerah dan minta dihakimi dari kaumnya sendiri. Rosululloh setuju untuk menjadikan Saad sebagai hakim dalam perkara ini. Rasa sakit akibat luka – luka yang mendera Saad saat itu akibat perang terus memburuk. Ia lantas berdo’a: “Ya Alloh, janganlah engkau matikan aku, sampai aku menyelesaikan urusanku dengan kaumku Bani Quraizhoh.” Keputusannya sebagai hakim sangat jelas, semua pria dewasa dari Bani Quraizhoh harus dibunuh. Rosululloh bersabda memuji keputusan Saad: “Sesungguhnya engkau telah menghukumi dengan apa yang ada di atas langit.”

Luka – lukanya terus memburuk, Saad meminta pada-Nya agar luka – lukanya mengantarkannya menuju syahid. Hari – hari dilewatinya berbaring di tenda di dekat kediaman Rosululloh. Suatu ketika Rosululloh menjenguk Saad dan lantas berdo’a: “Ya Alloh, sesungguhnya Saad ini telah berjuang di jalan-Mu. Beriman dan membenarkan Rosul-Mu. Maka, terimalah ruh-nya, dengan penerimaan yang sebaik – baiknya.”

Hari terakhirnya di dunia ingin sekali bisa memandang wajah Rosululloh, dan hal ini terjadi. Di detik akhir hidupnya, beliau memandang wajah Rosululloh. “Assalamu’alaika Ya Rosululloh…” salamnya yang terakhir pada kekasihnya, junjungan alam semesta ini. Satu hal yang menjadi keheranan para sahabat yang mengangkut jenazahnya, sangatlah ringan padahal perawakan tubuhnya sangat besar dan kekar. Rosululloh SAW bersabda dengan seyumnya: “Sebab para malaikat turut mengangkat jenazahnya.” Sahabat Abu Said al-Khudri RA yang ikut menggali tanah kuburnya berkata: “Aku ikut menggali kuburan untuk Saad. Setiap kali tanah digali, tercium aroma yang sangat wangi. Bahkan hingga ke lahatnya sekalipun.”

***

Ayyuhal Ikhwah, tahukah antum? Saad bin Muadz RA., masuk Islam saat berumur 31 tahun, dan syahid dijemputnya pada 37 tahun. 6 tahun wahai Ikhwah…saat ini mungkin terasa sangat singkat dan pendek untuk orang – orang yang baru masuk Islam untuk dapat menjalankan Islam secara paripurna. Hanya 6 tahun, Ya Ikhwah, jika kita berada dalam posisi Saad…apa saja yang sudah kita peroleh, kita jalankan, dan kita berikan untuk Alloh Ta’ala dan Islam?

Berapakah umur kita saat ini? 25 tahun? 30 tahun? 40 tahun? Atau sudah “bau tanah”? apa saja yang telah kita perbuat sampai detik ini untuk menutupi segala kekurangan diri dan kelancangan kita akan syari’at-Nya? Sudah apa saja yang telah kita langkahkan kaki dan qolbu kita ke Alloh Ta’ala? Baru mulai memaksakan diri berhijab syar’i, halangan cuaca, hawa nafsu dan wahyu syaithon diikuti. Baru mau merutinkan sholat di awal waktu, pekerjaan sudah dituntut oleh atasan. Baru mau mulai mendatangi majlis ‘ilmu agama, pekerjaan rumah menumpuk. Baru mau mulai memakai celana di atas mata kaki dan memelihara jenggot, sudah takut tidak mendapat teman, jodoh dan pekerjaan. Baru mau mulai membaca kembali lembaran Qur’an, musim kompetisi sepakbola mulai bergulir. Baru mulai menjaga diri dari non mahrom, masih membiarkan diri ada yang mendekati lagi. Yang akhirnya…1 bulan lewat, 1 tahun lewat, 10 tahun lewat…dan hijab kita masih jauh dari syari’at, masih belum tahu gerakan sholat sesuai sunnah Rosululloh, masih berikhtilat di dunia nyata-akun pertemanan dan gadget/ messenger, lembaran kitab Qur’an kita masih belum beranjak dari juz 1, teman ahlul ghibah dan ahlul bid’ah masih disambangi, ah…Saad…bisakah kami seperti dirimu? Rodhiyallohu ‘anhu!

Salman dari Farisi, lahir dari keluarga penyembah api kaum Majusi. Qolbunya berontak ketika dia harus menerima bahwa api yang dinyalakannya sendiri akan disembahnya. Ditinggalkannya tanah kelahirannya, pindah tempat satu ke lainnya, sempat beragama Yahudi dan Nasrani, bahkan dibegal di tengah jalan dan akhirnya sempat menjadi budak sahaya. Sampai akhirnya ketertinggalannya itu diberi-Nya jalan, dia berlari menuju kebenaran ketika bertemu Rosululloh SAW. Salman Al-Farisi, Salman dari Persia…yang merancang parit – parit dalam perang Khondaq, yang membuat Musyrikin dan Kafir Quraisy frustasi hebat pada perang itu. Ketertinggalan dirinya akan hal agama, ditempuhnya sendiri dengan niat yang mulia, kesabaran dan ketekunan menerima tarbiyah dari Rosululloh langsung maupun para sahabat.

***

Ayyuhal Ikhwah, berlarilah ke arah-Nya dengan ketekunan, niat dan berada di atas manhaj para pendahulu kita yang sholih wa sholihah, Insya Alloh…semua akan diganjarnya dengan manisnya Iman, barokahnya hidup, Ridho dan Rohmat-Nya selalu menaungi, dan akhir yang Khoirun wa abqo! Mari…maukah kita bersama – sama meniti jalan-Nya? walaupun akan tidak banyak orang yang mengenal kita, walaupun akan banyak orang yang berlari menjauhi kita, walaupun akan banyak mata memandang kita dengan pandangan aneh menurut akal mereka, walaupun akan banyak gosip dan ghibah kita terima, walaupun kita tetap tidak akan sempurna bahkan jauh dalam hal rupa, fisik, harta, walaupun kita akan tetap bukan menjadi orang yang mereka inginkan dan mereka nantikan…namun di jalan inilah Saad, Salman dan sahabat atau shohabiyah lainnya menyandang sebutan Rodhiyallohu anhuma ajma’in!

Allohu A’lamu bish Showab.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 5 May 2015 in Islam, Muslimah

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s