RSS

Dhoruriyyatul Khoms – Maqoshid Syari’ah

22 Apr

Assalāmu’alaikum Wa Rohmatullohi Wa Barokatuh.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِااللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Ayyuhal ikhwah, dalam agama Islam memiliki batasan hukum – hukum yang mengikat yang disebut syari’ah. Dalam batasan syari’at yang dibebankan bagi para mukallaf yang telah melewati umur baligh, terkandung di dalamnya batasan – batasan yang mengandung maslahat bagi kelangsungan hidup semua hamba – hamba-Nya dalam mengisi kehidupan di alam dunia. Maslahat ini, diperoleh dari hal – hal yang bisa berupa larangan, kewajiban, anjuran, kebolehan, seperti halnya hukum – hukum taklif yaitu wajib, sunnah, makruh, mubah dan harom.

Secara bahasa, maqoshid syari’ah adalah tujuan atau maksud – maksud (bentuk jamak dari maksud) syari’ah. Secara istilah, maqoshid syari’ah adalah tujuan atau maksud – maksud disyari’atkannya hukum – hukum Alloh Ta’ala yang diberikan kepada manusia untuk dikerjakan. Ilmu tentang maqoshid syari’ah ini sangat penting untuk diketahui oleh semua khalayak, tidak hanya para ‘ulama atau bahkan para mujtahid, tetapi juga orang awam pun harus mengetahui hal ini.

Imam Abu Ishaq Asy – Syatibi menuliskan dalam kitab beliau Al Muwafaqaat:

Sesungguhnya diberlakukannya sebuah Syariat Islam adalah sebuah mashlahat bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Baik itu berbentuk sebuah pencegahan terhadap mafsadat ataupun syariat tersebut akan mendatangkan sebuah maslahat bagi kehidupan mereka. Dapat dibuktikan dalam sebuah penelitian sebuah nash dan maksud dari diberlakukannya sebuah hukum. Sebagaimana firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةٌۢ بَعْدَ ٱلرُّسُلِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (١٦٥)

(mereka Kami utus) selaku Rosul rosul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Alloh sesudah diutusnya Rosul rosul itu, dan adalah Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An – Nisaa’ (4): 165)

Sebagai manusia, pernahkan kita terpikir kenapa banyak sekali aturan – aturan bahkan larangan – larangan kepada kita semua abdi-Nya, yang terkadang tidak sesuai dengan akal, nafsu, syahwat dan kebiasaan kita. Mungkin yang terlintas pertama kali ketika mengetahui adanya aturan maupun larangan adalah perasaan maupun pikiran seperti capek, panas, ribet, tidak sesuai zaman, kampungan, lapar – haus, atau bahkan Na’udzubillahi min dzalik…berpikir Alloh Ta’ala berbuat tidak adil dan dholim pada semua hamba – hamba-Nya. Ikhwah, Alloh Ta’ala telah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ ٱلنَّاسَ شَيْـًٔا وَلَٰكِنَّ ٱلنَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (٤٤)

Sesungguhnya Alloh tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia Itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (Q.S. Yunus (10): 44)

Kembali lagi kepada maqoshid syari’ah. Jika kita mengkaji dan membaca berbagai literatur dalil berupa nash – nash yang shohih, maka secara sepintas yang tersurat maupun tersirat, kita akan menemukan kandungan maksud – maksud Alloh Ta’ala dalam syari’at-Nya. Satu hal yang harus dipahami dan diingat dengan baik, maqoshid syari’ah tidak dibangun dan tidak berlandaskan pada Dzon – persangkaan/ pemikiran belaka, karena maqoshid syari’ah hanya akan didapatkan dari nash – nash shohih yang bersumberkan dari Al – Qur’an dan Sunnah Rosululloh ‘Alaihish Sholātu wa Sallam. Akal dan pikiran manusia, tidak akan sampai bisa membuat aturan yang sedemikian paripurna, karena Alloh adalah Robbun – Naas.

Adalah tidak mungkin, jika kita mengkaji maqoshid syari’ah lalu kita melupakan hal – hal penting yang dijaga-Nya dengan diturunkannya batasan – batasan syari’at. Hal – hal penting dalam maqoshid syari’ah adalah dhoruriyyatul khoms – 5 hal penting/ darurat yang dijaga-Nya dengan hukum – hukum syara’. 5 hal penting/ darurat yang dijaga itu adalah sebagai berikut:

1. Menjaga Agama (Hifzh Ad Dien)

Beberapa aturan yang terdapat dalam nash – nash shohih untuk maqoshid ini, di antaranya didapat dari:

  • Wajibnya menjauhi kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil yaitu riya’.
  • Wajibnya mengimani rukun – rukun iman dan Islam.
  • Wajibnya menjaga batasan – batasn Tauhid dan pembatal – pembatal Tauhid.
  • Kewajiban mempelajari ‘ilmu syar’i.
  • Memerangi pemurtadan, kemurtadan dan penyimpangan aliran – aliran sesat.
  • Menjaga akan hal – hal yang wajib, sunnah, mubah, makruh, harom.
  • Berdakwah dan berjihad dengan batasan kemampuan diri masing – masing.
  • Menghidupkan sunnah Rosululloh SAW.
  • Menjauhi bid’ah, tathoyyur, takhayul, khurofat, syubhat.
  • Menjauhkan diri dari musik, tontonan, game, buku bacaaan dan sya’ir yang tidak bermanfaat dan yang diharomkan-Nya.
  • Larangan bermajlis, bercengkerama dan akrab dengan orang – orang fasik dan orang – orang kafir juga orang – orang musyrik.
  • Menjaga batasan loyalitas dan anti loyalitas terhadap sesama manusia, dan lainnya.

2. Menjaga Jiwa/ Nyawa (Hifzh An Nafs)

Beberapa aturan yang terdapat dalam nash – nash shohih untuk maqoshid ini, di antaranya didapat dari:

  • Wajibnya berperang atau membunuh untuk membela diri dari musuh yang menyerang.
  • Larangan mengalirkan darah sesama muslim dan non muslim yang dijamin.
  • Kewajiban mengonsumsi makanan dan minuman yang halal lagi baik.
  • Bolehnya makanan, minuman dan pakaian yang harom dalam waktu darurat.
  • Bolehnya berbohong dalam menyelamatkan diri, peperangan dan mendamaikan.
  • Larangan wanita bersafar tanpa mahrom.
  • Kewajiban menjaga aurot sesuai batasan syari’ah.
  • Larangan bepergian ke negeri – negeri mayoritas orang – orang kafir kecuali dengan udzur dan batasan syar’i.
  • Memberantas premanisme, organisasi terlarang dan aliran – aliran sesat.
  • Adanya hukum hadd, qishosh, cambuk dan rajam, dan lainnya.

3. Menjaga Akal (Hifzh Al Aql)

Beberapa aturan yang terdapat dalam nash – nash shohih untuk maqoshid ini, di antaranya didapat dari:

  • Larangan ganja, narkoba, minuman keras dan semua yang termasuk dalam khomr.
  • Larangan berjudi, sabung ayam dan adu binatang lainnya, bermain dadu dan catur.
  • Larangan su’udzon dan marah yang berlebihan dan tidak sesuai koridor syar’i.
  • Larangan dusta, ghibah, ujub, riya’, sum’ah, takabbur, hasad dan pelit – kikir.
  • Larangan panjang angan – angan.
  • Menjauhkan diri dari musik, tontonan, game, buku bacaaan dan sya’ir yang tidak bermanfaat dan yang diharomkan-Nya.
  • Larangan bermajlis (duduk – duduk), bercengkerama dan akrab dengan orang – orang fasik dan orang – orang kafir juga orang – orang musyrik, dan lainnya.

4. Menjaga Keturunan & Kehormatan (Hifzh An Nasl)

Beberapa aturan yang terdapat dalam nash – nash shohih untuk maqoshid ini, di antaranya didapat dari:

  • Anjuran untuk menikah dan memiliki banyak anak.
  • Anjuran untuk menikahi pria/ wanita yang memiliki pemahaman dan penerapan agama yang baik dan benar.
  • Larangan zina dalam bentuk apapun.
  • Larangan untuk menjauhi hal pembuka yang menuju zina seperti bersentuhan (seperti bersalaman) dengan non mahrom, pacaran, ikhtilat, acara gathering, kholwat, ngojek-nebeng/ menumpang kendaraan dengan ajnabi bagi muslimah, parfum beraroma kuat menyengat bagi muslimah, berbicara mendayu – dayu.
  • Larangan nikah mut’ah dan larangan poliandri.
  • Mendidik dan mengajari anak – anak keturunan sesuai fitroh dan jenis kelamin mereka.
  • Kewajiban berdiam diri di rumah bagi muslimah kecuali sesuai tuntunan syar’i, dan larangan bersafar tanpa mahrom bagi muslimah.
  • Anjuran untuk menyegerakan menikahkan anak wanita apabila telah bertemu jodohnya.
  • Kewajiban menjaga aurot sesuai batasan syari’at.
  • Kewajiban menundukkan pandangan bagi muslim dan muslimah.
  • Haromnya perilaku seks menyimpang.
  • Haromnya muslimah menikah dengan orang – orang kafir.
  • Haromnya berpakaian dan berperilaku banci – bancian dan tomboy, terlebih trans gender.
  • Haromnya pekerjaan yang tidak sesuai fitrah jenis kelamin, dan lainnya.

5. Menjaga Harta (Hifzh Al Maal)

Beberapa aturan yang terdapat dalam nash – nash shohih untuk maqoshid ini, di antaranya didapat dari:

  • Wajibnya mencari harta nafkah yang halal lagi baik.
  • Kewajiban zakat, infaq dan shodaqoh harta.
  • Larangan riba, judi, bea-cukai, korupsi, suap, mencopet mencuri dan begal, juga harta yang didapat dari sumber tidak jelas.
  • Larangan mubadzir dan isrof (berlebihan) dalam menggunakan harta, dan lainnya.

***

Dari sekian contoh kecil hal – hal darurat yang dijaga dalam maqoshid syari’ah, kiranya kita bisa sedikit banyak memahami bahwa sebenarnya Alloh Ta’ala menjaga kita dengan berbagai pembebanan hukum – hukum syari’at.

Sebagai contoh, Alloh SWT telah berfirman tentang maqoshid syari’ah ini:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِذَا جَآءَكَ ٱلْمُؤْمِنَٰتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰٓ أَن لَّا يُشْرِكْنَ بِٱللَّهِ شَيْـًٔا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَٰدَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَٰنٍ يَفْتَرِينَهُۥ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِى مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُنَّ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (١٢)

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu wanita – wanita yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Alloh, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada adakan antara tangan dan kaki mereka (**) dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Alloh untuk mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al – Mumtahanah (60): 12)

Semua cakupan dhoruriyyatul khoms – maqoshid syari’ah telah disebutkan dalam ayat diatas. Larangan berbuat syirik menunjukkkan hifzhud dien. Juga disebutkan larangan mencuri menunjukkan hifzhul maal, larangan berzina menunjukkan hifzhun nafs. Larangan membunuh menunjukkan atas hifzhun nafs juga. Larangan berkhianat kepada Alloh dan Rosul-Nya secara tersurat diantaranya menunjukkan hifdzul aql. Sebab, diantara perintah Alloh lewat Rosululloh termasuk juga larangan meminum khomr.

Semoga bahasan artikel ringkas ini bisa memberikan pengertian dan pemahaman, bahwa Alloh Ta’ala tidaklah mengharomkan sesuatu melainkan adanya mafsadat dan mudhorot bagi semua hamba – hamba-Nya, yang (mungkin) sampai saat ini masih juga tidak dijaga oleh kita karena alasan – alasan duniawi maupun bantahan akal pikiran semata. Betapa berharganya Agama, jiwa, akal, kehormatan, dan harta bagi semua muslim. Juga menambah keyakinan pada kita semua, agar menjalankan semua syari’at-Nya secara langsung, Sami’na wa Atho’na! Sebaik – baik cara penjagaan yang telah Alloh Ta’ala pilihkan untuk kita semua hamba – hamba-Nya, yang terkadang kita tidak sadar betapa berharganya kita bagi agama ini, keluarga, dan masyarakat kita dalam hidup ini. Pikirkanlah Ikhwah! betapa berharganya ibadah kita, muslimah kita, keturunan kita, harta kita dan akal kita, yang semuanya akan ditanya-Nya di Yaumil Hisab kelak. Dahulukanlah dalil – dalil syari’at di atas akal dan nafsu kita.

Wallohu A’lamu bish Showab.

 ***

(**) Perbuatan yang mereka ada adakan antara tangan dan kaki mereka itu maksudnya ialah mengadakan pengakuan pengakuan/ kesaksian palsu mengenai hubungan antara pria dan wanita seperti tuduhan berzina, tuduhan bahwa anak si Fulan bukan anak suaminya dan sebagainya.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 22 April 2015 in Islam, Muslimah

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s