RSS

Mengenal Hadits Qudsi

24 Feb

Bismillahi Ar-Rohmani Ar-Rohimi.

Assalāmu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuhu.

Alhamdulillahi Wahdahu Laa Syarikalaka. Ash-Sholatu wa Sallamu ‘ala Rosulillah.

Ayyuhal Ikhwah. Kali ini kami akan membahas sedikit mengenai hadits qudsi. Alhamdulillah, sudah banyak di antara penuntut ‘ilmu agama sedikit banyak telah mulai mempelajari ‘ilmu hadits yang sudah merupakan ijma’ para ‘ulama ahlus sunnah sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’anul Karim. Pembahasan kali ini sebagai penyokong ingatan, dan pengingat lupa.

Muhammad SAW

Hadits qudsi disebut demikian karena terkait dengan kata Al – Quds, yang berarti kudus-suci-bersih. Hadits qudsi bisa disebut juga sebagai hadits Ilahi yang terkait pada Al-Ilahu yang berarti sesembahan, atau biasa disebut juga sebagai hadits Robbani karena termasuk kalam Robb.

Disebut dengan istilah “hadits”, karena Rosululloh SAW-lah yang mensabdakannya dari Alloh Ta’ala. Berbeda dengan Qur’an, maka tidaklah Qur’an melainkan disandarkan kepada-Nya. Seperti umumnya hadits yang driwayatkan Rosululloh, ada 3 cara hadits qudsi sampai kepada beliau:

  1. Melalui wahyu.
  2. Melalui ilham.
  3. Melalui mimpi.

Beberapa contoh ungkapan atau kalimat yang mengawali hadits qudsi, sebagai contoh pembeda dengan hadits biasa:

  1. Alloh SWT., telah berfirman…
  2. Rosululloh SAW telah bersabda dalam riwayat yang beliau ceritakan dari Robb-nya… Kalimat/ ungkapan inilah yang banyak dipakai oleh para ‘ulama salaf.
  3. Sesungguhnya Alloh SWT., telah berfirman…
  4. Alloh telah mewahyukan kepadaku…
  5. Sesungguhnya Robb-mu telah berfirman…
  6. Sesungguhnya Alloh berseru pada hari kiamat nanti…
  7. Sesungguhnya Robb-mu telah mewahyukan kepadaku…
  8. Dan lainnya…

Di antara kita pastilah pernah ada yang membaca matan-tekstual isi hadits yang diawali seperti kalimat/ ungkapan di atas, tetapi ada kalanya matan-tekstual hadits qudsi diungkapkan di tengah – tengah hadits Nabi SAW seperti hadits mengenai syafa’at dan hadits tentang Isro’ Mi’roj.

Ikhwani wa Akhwati Fillah, berikut adalah beberapa perbedaan antara Al-Qur’anul Karim dan Hadits Qudsi:

  1. Al-Qur’an redaksionalnya dari sisi Alloh Ta’ala. Hal in iberbeda dengan hadits qudsi yang hanya maknanya saja dari sisi Alloh, sedangkan redaksional kata – katanya dari Rosululloh
  2. Al-Qur’an sampai kepada Rosululloh SAW berupa wahyu lewat perantara Jibril AS., sedangkan hadits qudsi bisa disampaikan lewat wahyu yang jelas melalui Jibril AS maupun wahyu yang tersembunyi seperti ilham atau mimpi.
  3. Al-Qur’an diriwayatkan secara Mutawatir Lafzi yang terkandung di dalam semua tekstual kalimatnya, sedangkan hadits qudsi dalam periwayatannya tidak disyaratkan melalui sanad yang Mutawatir (banyak perowinya). Bahkan, ada sebagian hadits qudsi yang diriwayatkan secara Ahad (hanya satu perowi tunggal).
  4. Membaca Al-Qur’an bernilai ibadah apabila membacanya dan akan mendapatkan ganjaran 10 kali dari setiap huruf yang dibacanya, namun tidak demikian bagi hadits qudsi. Seperti halnya hadits Nabi, ganjaran akan hadits qudsi baru akan bernilai ibadah apabila setelah dibaca lantas di’amalkan, disampaikan dan dicontohkan.
  5. Dalam sholat, ayat Al – Qur’an ditentukan cara bacaannya (makhroj, tartil dan sebagainya). Hadits qudsi tidak bisa dijadikan bacaan dalam sholat bahkan termasuk bid’ah apabila dibacakan dalam sholat dan bisa membatalkan sholat.
  6. Ayat – ayat Al-Qur’an sangat diharomkan untuk diriwayatkan dan ditafsirkan secara maknawiyah, sedangkan beberapa hadits qudsi boleh diriwayatkan secara makna.
  7. Kitab Al – Qur’anul Karim menjadi harom dipegang oleh orang yang berhadats kecil dan besar, wanita haidh, orang yang dalam keadaan junub dan orang yang dalam keadaan mabuk, sedangkan kitab hadits qudsi tidak demikian (biarpun masih ada beda pendapat di kalangan para ‘ulama).
  8. Mengingkari sebagian atau seluruh isi ayat – ayat Al – Qur’an dapat menyebabkan seseorang menjadi kafir (tergantung tingkat kekafirannya karena pengingkarannya), sedangkan mengingkari hadits qudsi dihukumi sebagai orang fasiq (biarpun masih ada beda pendapat di kalangan para ‘ulama, terutama hadits qudsi yang berkaitan tentang perkara aqidah).

Dari penjelasan di atas, hendaknya kita sebagai muslim yang baik harus selalu berusaha menjaga batasan – batasan tersebut. Berikut ini merupakan beberapa catatan besar antara hadits qudsi dan hadits Nabi SAW:

  1. Hadits qudsi bisa disampaikan lewat wahyu yang jelas melalui Jibril AS maupun wahyu yang tersembunyi seperti ilham atau mimpi, sedangkan hadits Nabi masih diperselisihkan maknanya oleh para ‘ulama fiqih. Apakah seluruh hadits Nabi melalui wahyu, atau terkadang lewat wahyu atau hasil ijtihad dari Rosululloh SAW. Namun, kita harus ingat ayat-Nya:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ (٣) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ (٤)

“Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Q.S. An – Najm (53): 3 – 4)

Rosululloh SAW pun telah bersabda:

“Ingatlah, sesungguhnya aku telah dianugerahi dengan Al – Kitab (Al – Qur’an) dan hal yang semisal dengannya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

“Hal yang semisal dengannya” merujuk kepada hadits qudsi.

  1. Matan – redaksional kata dari hadits qudsi masih diperselisihkan sumbernya, apakah berasal dari sisi Alloh Ta’ala ataukan dari sisi Rosululloh SAW. Alasan ‘ulama yang mengatakan dari sisi Alloh Ta’ala adalah karena Rosululloh SAW menyandarkannya kepada Robb-nya pada penyandaran maknanya. Alasan ‘ulama yang berpendapat matan – redaksional kata dari hadits qudsi berasal Rosululloh SAW adalah hadits qudsi akan bernilai ibadah dan ganjaran pahala yang sama seperti membaca Al – Qur’an.

Abul Baqa berkata bahwa sesungguhnya Al – Qur’an adalah Kalamulloh yang redaksional dan maknanya bersumber dari Alloh Ta’ala melalui wahyu yang terang, sedangkan hadits qudsi adalah kalam yang matan-redaksionalnya berasal dari Rosululloh dan maknanya dari sisi Alloh Ta’ala melalui ilham atau mimpi.

Ath Thoyyibi berkata bahwa sesungguhnya Al – Qur’an adalah Kalamulloh yang diturunkan lewat perantara Jibril kepada Nabi SAW, sedangkan hadits qudsi adalah berita dari Alloh Ta’ala yang maknanya disampaikan melalui ilham atau mimpi, kemudian disampaikan Rosululloh kepada ummatnya dengan bahasanya sendiri. Adapun hadits Nabi seluruh matan – redaksionalnya berasal dari Nabi SAW.

  1. Sebagian besar makna dari hadits qudsi berkaitan dengan Alloh Ta’ala untuk menerangkan Kebesaran-Nya, menunjukkan Rohmat-Nya, Kekuasaan-Nya, Kerajaan-Nya, juga Anugerah-Nya yang luas dan banyak. Adapun hadits Nabi, isinya sebagian besar berkaitan hal – hal yang maslahat, fiqh halal – harom dan tata cara ibadah dan mu’amalah, anjuran untuk meng’amalkan perintah-Nya, janji dan ancaman-Nya, juga peringatan-Nya.

Wallohu A’lamu bish Showab.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 24 February 2015 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s