RSS

Soal: Muslimah Naik Ojek dan Nebeng Kendaraan, Bolehkah?

24 Jan

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Barangsiapa yang Alloh beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Alloh sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.” (Kutipan dari hadits Khutbatul Hajat/ hadits Khutbatul Nikah)

1. Muslimah Naik Ojek, Bolehkah?

Sebenarnya belum ada mubarrir (alasan yang membolehkan) wanita naik sepeda motor bersama dengan laki-laki yang bukan mahromnya (ojek atau nebeng motor-red).

Masalahnya bukan hanya kholwat (berduaan), tetapi posisi duduk di atas sadel sepeda motor itu membuat pengemudi dan yang bonceng itu harus menempel. Meski masih dilapisi dengan pakaian (atau dibatasi tas-red) masing-masing. Ini jelas lebih parah dari -misalnya- duduk berduaan di sebuah ruangan. Karena bila di dalam ruangan, masih ada batas jarak antara keduanya. Sedangkan naik sepeda motor, posisinya menempel dan itu sulit dihindari. Apalagi bila mengerem mendadak, maka sudah pasti sentuhan tubuh akan terjadi.

Muslimah ngojek

Namun kondisi tata kota seperti di Jakarta yang ibarat sebuah kampung besar memang menyulitkan orang untuk bepergian dengan hanya mengandalkan bus dan sejenisnya. Kebanyakan rumah tinggal itu adanya di dalam gang atau jalan kecil yang aksesnya ke jalan yangada angkutan umum itu relatif jauh. Sehingga masih dibutuhkan angkutan yang lebih kecil untuk menyambung transportasi masuk ke perumahan.

Dahulu ada becak yang banyak berjasa mengantarkan ibu-ibu pergi dan pulang dari pasar sekalian membawa barang belanjaan. Tapi di DKI Jakarta becak kini sudah dihapuskan dan peranannya digantikan dengan ojek.

Padahal bila dilihat dari sisi ikhtilat, becak lebih terlindungi. Karena posisi penumpang dan penarik becak itu dipisahkan sehingga berlainan tempat. Oleh karena itu bila seorang wanita naik becak, tidak akan duduk berduaan dengan penarik becak.

Dalam hal ini, maka ojek bukanlah kendaraan yang memenuhi syarat untuk dinaiki oleh penumpang wanita, karena umumnya para pengemudi ojek itu laki-laki. Dan karena itu ikhtilat antara non-mahram ini menjadi hal yang tidak mungkin dihindari.

Sehingga kalaupun ingin dicarikan mubarrir, haruslah dengan alasan yang sangat kuat dan tingkat kedaruratannya harus jauh lebih tinggi. Menurut hemat, jarak yang 100-200 meter itu tidak bisa dijadikan alasan secara umum. Juga alasan takut terlambat sampai di tempat pun tidak bisa dijadikan alasan yang kuat. Dengan demikian, para wanita harus diupayakan sedapat mungkin untuk tidak naik ojek bila bepergian, karena sebagai kendaraan tumpangan umum bagi muslimah, ojek itu belum mencukupi syarat.

Ngojek dan Nebeng KendaraanDalam kondisi darurat memang bisa saja dilakukan, tapi darurat itu adalah sesuatu yang sifatnya sangat penting bahkan genting. Dan tentu saja darurat itu tidak terjadi setiap hari. Ini adalah pe-er dan tantangan tersendiri bagi para muslimah yang harus dicarikan jalan keluarnya dengan cara yang sebaik-baiknya.

Oleh: Ust. Ahmad Sarwat, Lc. (rumah fiqih Indonesia)

2. Wanita Berkendara Dengan Pria Bukan Mahrom

Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang masalah ini dengan redaksi: “Bagaimana hukum seorang wanita yang berkendara dengan sopir laki-laki yang bukan mahromnya untuk mengantarkannya keliling kota? Dan bagaimana hukumnya jika beberapa wanita dengan sopir yang bukan mahrom?”

Beliau menjawab:

Seorang wanita tidak boleh mengendarai kendaraan sendiri bersama seorang sopir yang bukan mahromnya bila tidak disertai orang lain, karena ini termasuk kategori kholwat (bersepi-sepi dengan yang bukan mahrom). Telah diriwayatkan dari Rosululloh Shollallohu ’Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda:

“Janganlah seorang laki-laki berkholwat dengan seorang wanita kecuali ada mahromnya bersamanya” (HR. Muslim 1341)

Dalam sabda beliau lainnya menyebutkan:

“Tidaklah seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita (yang bukan mahromnya) kecuali setan yang ketiganya”.

(HR. Tirmidzi 2165, Ahmad 115)

Tapi jika ada laki-laki atau wanita lain yang bersamanya (mahromnya), maka itu tidak apa-apa jika memang tidak dikhawatirkan terjadi fitnah. Sebab kholwat itu menjadi gugur (tidak dikategorikan kholwat) dengan adanya orang ketiga atau lebih. Ini hukum dasar dalam kondisi selain bepergian jauh (safar). Adapun dalam kondisi bepergian jauh, seorang wanita tidak boleh melakukannya kecuali bersama mahromnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shollallohu ’Alaihi wa Sallam:

“Tidaklah seorang wanita menempuh perjalanan jauh (safar) kecuali bersama mahromnya” (HR. Bukhori 1862 dan Muslim 1341)

Tidak ada perbedaan antara safar melalui jalan darat, laut, maupun udara. Wallohu A’lam.

(Sumber : Majalah al-Balagh 17 no. 1026)

Rosululloh bersabda: “Janganlah kamu meremehkan dosa, seperti kaum yang singgah di perut lembah. Lalu seseorang datang membawa ranting dan seorang lainnya lagi datang membawa ranting sehingga mereka dapat menanak roti mereka. Kapan saja orang yang melakukan suatu dosa menganggap remeh dosa, maka ia dapat membinasakannya.”(HR. Ahmad dengan sanad hasan)

 ***

Tambahan admin:

1. Ada hadits lainnya tentang batasan muslimah bersafar tentang mahrom:

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Alloh dan hari akhir melakukan safar (bepergian) selama satu hari satu malam yang tidak disertai mahromnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Definisi safar menurut para pakar fiqh maupun ‘ushl fiqh dikembalikan kepada ‘urf/ kebiasaan penduduk setempat dalam memahami dan menganggap batasan safar. Seperti contoh, jika seseorang muslimah pulang pergi dari Bandung ke Jakarta, yang dulu belum adanya tol Cipularang menjadi masuk kategori safar. Contoh lainnya yaitu seorang muslimah pergi liburan satu hari satu malam dari Jakarta ke pantai Anyer, maka ini sudah bisa termasuk safar, apalagi bermalam disana tanpa didampingi mahromnya. Dan harus selalu diingat bahwa keberadaan muslimah lain yang ikut bukanlah mahrom, jadi batasan syari’at belum gugur karena muslimah lain bukanlah mahrom.

2. Satu ‘ushl/ kaidah fiqh yang berbunyi: “Dar’ul Mafasid Muqoddamun ‘ala Jalbil Masholih.” Menjauhi mafsadat-kerusakan harus lebih diutamakan atas sesuatu biarpun dalam hal tersebut ada maslahat-keuntungannya. Na’am, ngojek dan nebeng kendaraan memang ada keuntungan dari sisi kecepatan waktu dan hemat keuangan, namun karena mafsadat-kerusakannya lebih besar dan bisa membuka celah dosa lainnya karena sering meremehkan dosa, maka kita sebagai muslim harus meninggalkannya. Jika masalahnya adalah waktu terbatas dan tempat yang jauh, maka solusinya adalah berangkat lebih awal, atau minta diantar jemput oleh mahrom kita.

Wallohu A’lamu bish Showab.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 24 January 2015 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s