RSS

Ketika Kenikmatan Mulai Dicabut-NYA

23 Jan

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ?

Maka nikmat Robb-mu yang manakah yang kamu dustakan?(Q.S. Ar – Rohman)

Bismillahi Ar-Rohmani Ar-Rohimi.

Ash Sholātu was Salāmu ‘ala Rosulillah. Amma Ba’du.

Ayyuhal Ikhwah, segala puji sepantasnya hanya tercurah kepada-Nya, Robb alam semesta dan seisinya ini, yang mempunyai Asma yang indah, Ar-Rohman Ar-Rohim. Sungguh, kita semua sebagai manusia niscaya tidak akan bisa menghitung semua nikmat-NYA, bahkan bila dikonversikan dengan mata uang memakai kalkulator atau super komputer sekalipun. Subhanallohi wa bihamdihi.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Alloh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. AnNahl (16): 18)

Begitu pula dalam ayat-NYA yang lain:

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Alloh, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Alloh).(Q.S. Ibrohim (14): 34)

Nikmat utama terbesar yang dimiliki seorang muslim wal muslimah, adalah nikmat Iman-Islam-Kesehatan. 2 nikmat utama yaitu Iman dan Islam, secara khusus hanyalah diberikan kepada muslim yang bertakwa, sedangkan nikmat kesehatan secara umum diberikan juga kepada semua hamba-NYA, baik itu yang beriman maupun yang tidak.

قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ…

Alloh berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (Q.S. Al – Baqoroh (2): 126)

Nikmat kesehatan wahai Ikhwah fillah, adalah nikmat yang terkadang sering dilupakan oleh kita semua. Terkadang bila sudah sakit, kurang optimum, bahkan ketika sudah dicabut-NYA, barulah kita akan memahami dan mengerti betapa butuhnya kita akan nikmat ini.

Namun, apakah selama ini memang kita sudah memakai semua nikmat kesehatan yang secara Qodarullohu Ta’ala diberikan lengkap maupun tidak lengkap, di jalan yang diridhoi-NYA? sekali lagi…terkadang kita akan merasakan/ memaknai arti/ pentingnya sesuatu apabila sesuatu itu sudah dicabut/ diambil-NYA kembali dari kita.

Alloh itu Maha Indah, dan menyukai keindahan. Tidak salah apabila Alloh menciptakan semua makhluk-NYA dengan kadar keindahan sesuai dengan ‘ilmu-NYA. Ketampanan dan kecantikan fisik bagi manusia, adalah titipan-NYA semata yang harus dijaga sesuai batasan syari’at.

Ikhwani fillah, batasan aurat kalian telah jelas dalam syari’at ini yaitu dari pusar sampai lutut kalian. Buat apa perut six pack kalian pertontonkan di khalayak maupun akun pertemanan kalian? Atau ketika berolahraga di tempat umum, mengapa celana pendek yang kalian pakai? Niat baik harus selalu diiringi dengan cara yang baik, positif dikali negatif tidak akan pernah bisa menjadi positif.

Akhwat fillah, sudah pernahkah ada yang memberi tahu kepada kalian, kalau foto – foto tanpa khimar kalian ada juga di folder album akun pertemanan kalian baik pria maupun wanita? apakah mereka juga mengikuti jalanmu dengan menghapusnya? Lihatlah kembali, mungkin mereka hanya mengunci album foto yang memuat fotomu tanpa khimar-kerudungmu, ingatkanlah mereka akan dosa menunjukkan hal maksiat. Atau, bahkan kalian masih belum mau mengakui bahwa memajang foto kalian tanpa khimar-baik yang sudah sesuai syari’at atau bahkan belum-di folder album gambar akun pertemanan adalah dosa? Na’udzubillah…mungkin nikmat rambut inilah yang akan diambil-NYA lebih dulu dari antunna.

Renungan Selfie Muslimah

Setelah nikmat ketampanan dan kecantikan fisik mulai dicabut dan dikurangi-NYA, apakah masih belum mau juga menutup aurat sesuai syari’at?

Ayyuhal Ikhwah, dunia ini akan lebih terlihat indah dengan warna – warninya, bukan hanya hitam atau putih saja. Hal yang dihalalkan-NYA untuk dilihat, adalah suatu nikmat dari sekian nikmat mata yang dititipkan-NYA.

Namun Alloh Al-Malik telah mempunyai batasan untuk pemakaian nikmat kedua mata ini. Ayat Al-Qur’an telah memberi batasan jelas tentang menundukkan pandangan bagi pria dan wanita, untuk menjaga Iman dan Islam kita dari fitnah keindahan lawan jenis. Berapa seringkah kita mengkhatamkan Qur’an dan menghabiskan kitab ‘ilmu agama? Ayat – ayat Qouliyyah dan Kauniyyah dari Robb kita dan tuntunan sunnah junjungan alam, merupakan kenikmatan terbesar yang bisa dirasakan mata kita jika dibandingkan saudara kita yang tidak mempunyai penglihatan sejak lahir. Namun, hal itu bagi saudara kita yang tuna netra bukanlah halangan, bahkan banyak sekali diantara mereka yang hapal 30 juz dari Qur’an versi bahasa Braille.

Ketika kita membaca dengan kedua mata ini akan batasan haram dalam syari’at, apakah hanya akan langsung beralih ke ayat lain saja? Ketika kita melihat sunnah Rosululloh dalam ber’amal, apakah kita akan langsung berpaling karena terasa berat?

Akhwati fillah. Ketika antunna melihat dan membaca ayat tentang kewajiban berdiam diri di rumah dan keharaman bersafar tanpa mahrom bagi muslimah dan boleh keluar hanya sesuai yang dibolehkan syari’at, apakah akan langsung berpaling karena membayangkan keindahan dan kesenangan rencana teman satu kantor untuk menginap liburan di pantai? Akhirnya syaithon sukses membuat anti keluar rumah bersafar menginap di pantai tanpa didampingi mahrom. Tidak hanya itu, syaithon pun sukses membutakan matamu yang sehat ketika melihat indahnya deburan air laut yang biru dan pantai berpasir putih. Dengan tanpa pikir panjang anti segera melepaskan hijab, melipat celana ketatmu sampai menampakkan betismu, dan membiarkan pakaianmu basah dan melekat dekat sekali dengan lekuk tubuhmu. Belum selesai sampai disitu, ketika matamu melihat mereka mulai mengabadikan gambar dan video, anti dengan celana yang terlipat sebetis dan khimar juga baju basahmu bergegas mendekati barisan mereka, senyum terlihat mengembang, senang sekali hari itu…padahal Alloh Maha Melihat, Maha Menyaksikan, Maha Mengawasi. Syaithon pun sukses membutakan nikmat matamu yang sehat akan keindahan dunia hari itu.

Ikhtilatأَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ?

Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Alloh melihat segala perbuatannya?” (Q.S. Al – ‘Alaq (96): 14)

Renungan Muslimah

Na’udzubillah, ternyata tidak selesai sampai disitu syaithon bekerja. Video dan foto anti yang melupakan ayat hijab, ayat berdiam diri di rumah, aturan tentang ikhtilat dan berkhalwat, diposting di akun pertemanan seperti facebook, twitter dan youtube. Secara global, mata seluruh manusia di bagian dunia manapun, akhirnya bisa melihat auratmu dan menjadikan contoh hal tersebut boleh dilakukan. Berjuta pasang mata telah melihat aurat kalian, berjuta komen dan tanda “like” menghiasi video dosa kalian, apakah itu yang antunna cari dan banggakan? Lupakah akan tuntunan menundukkan pandangan di surat An – Nuur ayat 30 dan 31? Siapakah dalam hal ini yang membuka celah saudara kita yang lain untuk tidak menundukkan pandangannya? Apa masih belum mau menerima hal tersebut adalah dosa? Apa masih belum mau menghapusnya? Apa masih belum mau sepakat pada aturan-NYA bahwa kaki bagi muslimah adalah aurat juga?

Cover Your Feet!

Ketika nikmat kedua mata kita mulai dicabut dan dikurangi-NYA dengan bertambahnya minus, plus atau silindris, pernahkah berpikir? masih adakah gunanya mata yang sehat saat ini tetapi ketika membaca dan melihat dalil yang mengharamkan tapi mata itu malah berpaling akan dosa di acara ikhtilat lainnya?

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

Wahai manusia! Ingatlah akan nikmat Alloh kepadamu. Adakah pencipta selain Alloh yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Ilah selain Dia; maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)?(Q.S. Faathir (35): 3)

Di dunia ini, bukan hanya pedang dan pisau yang tajam, mulut pun bisa sangat tajam ketika berucap. Ucapkanlah perkataan yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan, lebih baik diam jika tidak mampu berkata yang baik. Ghibah adalah celah dan jalan syaithon yang terkadang sangat manis dan nikmat untuk dilakukan, bahkan kita terkadang tidak sadar ketika melakukannya karena bisa jadi bumbu pelengkap dalam berdiskusi.

Akhwat fillah. Biarpun secara fiqih suara antunna bukanlah aurat, tetapi buat apa suara mendayu dan merayu anti ucapkan? Suara anak ayam hanyalah mengundang musang lapar.

Ikhwah, banyak sekali lafadz dzikir ringan sesuai sunnah yang bisa dilafalkan mulut ini, yang justru Alloh Ta’ala akan ridho dengan kita. Tasbih, takbir, tahmid, tahlil, bisa kita biasakan setiap saatnya. Sudahkah kita tahu hadits berikut:

“Barangsiapa yang membaca Subhanallohi wa bihamdihi 100 kali dalam sehari, dosa – dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhori: 6405 dan Muslim: 2691)

Banyak di antara kita melupakan nikmat diberinya mulut ini dengan cara yang terkadang kita merasa perlu untuk melakukannya. Ghibah adalah contoh kecil, contoh lainnya adalah perkataan dusta yang merupakan salah satu tanda orang munafiq, dan tidak bisa menjaga ucapan di waktu yang tepat. Seperti pepatah Arab yang berbunyi:

“Inna li kulli maqollun…maqomun, li kulli maqomun…maqolun.”

(Sesungguhnya setiap ucapan ada tempatnya, dan setiap tempat ada ucapannya.)

Terkadang untuk diterima dalam suatu komunitas kita tidak menyadari diri bahwa kita seorang muslim, untuk disebut supel bahkan rela disebut “bocor” (berlebihan dalam berbicara untuk bisa membuat orang lain tersenyum) kita tidak menjaga mulut kita.

Ataupun terkadang kita mengeluh kepada orang lain akan keadaan diri ini. Padahal seorang bijak berkata:

“Jangan mengeluh ketika susah, jangan bangga ketika bahagia. Karena sesungguhnya yang namanya susah itu ujian dan bahagia itu titipan.”

Mungkin kita lupa ketika berkeluh kesah dan ketika berbangga dalam ucapan, bahwa susah dan bahagia bagi semua hamba itu telah ditulis-NYA di Lauhul Mahfudz, 50 ribu tahun sebelum Alloh ‘Azza wa Jalla menciptakan alam semesta ini dan seisinya. Apakah kita mengadukan ketetapan-NYA bagi kita kepada sesama hamba-NYA?

Jadi, benarkah mulut ini pantas untuk masih dititip-NYA kepada kita saat ini? apakah lembar halaman kitab Al-Qur’an kita masih terlihat putih dan bersih tanda belum pernah dijamah sejak lama? Betapa suram dan gelapnya rumah kita karena mulut kita tidak menyinarinya dengan membaca Qur’an.

Ikhwani wa akhwati fillah. Sebagai penutup, kita harus selalu ingat bahwa tidaklah Alloh Ta’ala menitipkan semua nikmat anggota badan ini kepada kita melainkan sebagai sarana untuk beribadah kepada-NYA. Mata, telinga, hidung, tangan, kaki bahkan helai demi helai rambut, semuanya akan diminta tanggung jawab-NYA dari kita semua di Yaumil Hisab kelak. Mulai saat ini berpikirlah dengan qolbu yang jernih, masih pantaskah kiranya semua nikmat anggota tubuh ini dititipkan-NYA kepada kita?

Ketika sudah mulai dicabut atau dikurangi satu persatu kenikmatan organ dan anggota tubuh yang ada, pikirkanlah! Masih perlukah dan pentingkah semua itu ada di diri kita?

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahannam itu kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qolbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(Q.S. Al-A’raf (7): 179)

Billahit Taufiq.

Wallohu A’lam bish Showab.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 23 January 2015 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s