RSS

Hidayah wa Tawfiq

19 Jan

Bagian 1.

Pendahuluan dan Cara Menuju Keduanya

Bismillahirrohmanirrohim.

Assalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokātuh.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه.

 يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Ayyuhal Ikhwah, seringkali kita mendengar kata Hidayah dan Taufiq sering diucapkan para da’i di akhir khutbah atau kajian ‘ilmiyyah, ataupun dituliskan dalam akhir artikel kajian Islam di kitab – kitab maupun web blog. “Billahit tawfiq wal hidayah”, suatu frase yang dapat diartikan dengan sederhana yaitu “dengan taufiq dan hidayah (yang hanya diberikan) dari Alloh.”

Namun, jika kita pernah terbersit saja berpikir mengapa untuk diri kita sendiri maupun saudara – saudara kita masih saja masih belum bisa mencukupkan hari – hari penuh maksiat dan mendholimi diri sendiri, padahal nikmat-NYA yang tidak terukur selalu tercurah pada kita.

“Do’akan saja biar dapat Hidayah.”

“Saya belum mendapat Hidayah.”

“Hidayah itu sudah didapatkan, tapi…”

“Ini sudah hidayah yang entah keberapa kalinya, ‘tadz…”

Ada orang – orang yang menemukan dan mendapat hidayah, tatkala hatinya sedang hancur remuk redam dengan suatu musibah yang sedang menimpanya. Mematahkan semua kesombongannya, semua rencana indahnya yang rapi, meluluh lantakkan ketidak peduliannya selama ini terhadap Alloh dan syariat-Nya. Ketika ia sudah berada di tepi jurang kehancuran, Alloh SWT., tarik tangannya lalu ia tuntun dengan kelembutan dan kasih sayang-Nya, seharusnya kehidupannya sudah hancur lebur, jiwanya berantakan, akan tetapi ia kembali kepada jalan Alloh SWT.

Ada orang – orang yang bahkan tidak sadar jika tubuhnya butuh istirahat setelah ia mendholimi badannya dengan kerja ekstra. Dia bahkan belum sadar kalau batuk yang tidak sembuh – sembuh, dan tubuhnya yang mengurus kering akibat nafsunya mencari dunia, yang awalnya ingin membahagiakan dan menunjukkan baktinya kepada keluarga dan orang tuanya. Terkadang ketika sakitnya sudah melewati batas normal pun, dia tetap bersikukuh untuk minta diantarkan ke tempat kerjanya, bahkan menyalahkan orang lain akan sakitnya. Tampaknya dia lebih patuh pada institusi dan pimpinannya, daripada batas ketetapan Alloh bagi badannya. Setelah salah satu organ tubuhnya diangkat, ataupun harus terapi penyembuhan selama berbulan – bulan, hidayah-NYA datang karena ingin sembuh seperti sedia kala.

Ada orang – orang yang menganggap apa yang dilakukannya bertahun – tahun itu menghibur, membantu untuk menghilangkan khalayak umum dari kemiskinan, kebodohan, pelestarian. Tetapi setelah life achievement versi mereka telah dapatkan, mereka baru sadar kalau pengikut dan pengagum mereka sering masuk penjara dan menjadi sampah masyarakat, mereka baru sadar kalau keluarga mereka ternyata tidak bisa lepas dari kemiskinan, kebodohan dan keharaman. Mereka baru sadar apa yang mereka contohkan dan ajarkan itu ternyata kesesatan belaka. Alloh Al – Hadi menyadarkannya agar para pengikut dan pengagum mereka tidak bertambah banyak, agar dia tidak ditanya akibat dosa yang dilakukan pengagum dan pengikutnya yang mengikutinya.

Alloh bisa memberi hidayah kepada hamba-NYA, setelah tertangkap dan terjerat dalam kasus korupsi, setelah ia merasakan sempit dan dinginnya penjara, perihnya kehilangan jabatan, hanya bbisa diam ketika hartanya disita oleh negara, ditinggalkannya kelalaian duniawi dan ia kembali kepada Alloh SWT. Mereka adalah orang-orang beruntung dan harus bersyukur, mereka menemukan jalan kembali, setelah diberi teguran dan petunjuk oleh Alloh Al – Hadi.

Namun, ada orang – orang yang sudah mendapat hidayah melalui cara halus maupun cara yang keras, yang setelah Alloh ‘Azza wa Jalla menyelamatkannya, akhirnya malah kembali terjerumus dan mengganti baju dosa karena kebodohannya dalam agamanya.

Ada di antara kita, yang sering mendatagi dauroh kajian ‘ilmiyyah tiap minggunya, masih belum mau meninggalkan tempat kerjanya yang maksiat, menyalahi fitroh dan kodratnya, ikhtilat dan harta riba. Tidak kurang ayat – ayat Al – Qur’an dan hadits – hadits Rosululloh telah disampaikan kepadanya lewat lisan saudaranya, ustadznya, maupun radio Islam kesayangannya. Kami pribadi pun heran, jika ada saudara kita yang bertanya pertanyaan yang sama berulang – ulang akan dalil keharaman tempat, bentuk pekerjaannya dan apa yang dilakukannya selama ini, tapi masih saja belum mau meninggalkannya karena perintah Alloh Jalla wa ‘Ala.

Orang – orang semacam ini sebenarnya pecundang, melupakan tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma wa sifat yang sebenarnya telah dipahaminya. Mereka telah dipecundangi oleh angan – angan mereka, ketakutan mereka akan kebutuhan dunia, passion dan hawa nafsu mereka, akal ro’yu mereka yang merasa lebih tahu daripada Pencipta mereka, malu kepada orang – orang dan teman – temannya.

Jikalau dari kita masih ada berulang kali bertanya akan dalil keharaman akan sesuatu yang telah sampai kepadanya, dan masih mencari pembenaran, maka kami secara pribadi akan balik bertanya kepada antum sekalian:

Apakah ada dalil ayat Qur’an susulan setelah Rosululloh ‘Alaihis Sholatu wa Sallam wafat?

Adakah sunnah susulan setelah Rosululloh ‘Alaihis Sholatu wa Sallam wafat?

Adakah antum ikuti ‘ulama yang menghalalkan dan mencontohkan sesuatu yang haram?

Adakah antum melakukannya karena darurat yang dibenarkan syari’at?

Adakah pikiran  ro’yu antum membolehkan apa yang diharamkan-NYA?

Adakah antum berulang kali bertanya untuk second opinion dalam dalil qoth’i? Atau…

Adakah antum mencari celah pembenaran?

Ayyuhal Ikhwah, dalam syari’at Islam yang hanif ini, ada 5 hal yang dihukumi sebagai dosa jika dilihat dari metode kerjanya:

1.      Dosa karena melakukannya.

Untuk macam pertama ini, sudah teramat jelas apabila syari’at Alloh dilanggar, maka dosa sebagai hitungannya. Antum mencuri, maka jelas berdosa. Antum bekerja di bank ribawi, maka antum berdosa. Antum mempertontonkan aurat dan digaji dari hal tersebut, maka antum berdosa. Antum mengkonsumsi khomr, maka antum berdosa. Dan lain – lain sebagainya segala bentuk aktivitas yang diharamkan-NYA, maka hitungannya adalah dosa.

“Alhamdulillah, Band kami baru beres konser di pulau Jawa.”

2.      Dosa karena melalaikan diri dari ‘ilmu, sebelum berbuat dan berucap.

Untuk tipe ke-2 ini, umumnya sering dilakukan orang – orang yang hanya menghabiskan lebih banyak waktunya untuk ‘ilmu dunia, orang – orang yang sering hanya menelan mentah – mentah info dan dalil yang belum jelas untuknya, orang – orang yang hanya melihat hal yang yang dianggap baik kemudian langsung diikutinya.

Qola Rosululloh: “Man Jadda wa Jada”…(Speechless)

Di sekolah umum, berapa jam dalam seminggu pelajaran agama?

Di perkuliahan umum, berapa sks pelajaran agama dan di tingkat berapa saja?

Di deretan rak buku dalam rumah, adakah minimal kitab ringan seperti Hadits Arbain?

Dalam sehari, berapa banyak tafsir dan artikel Qur’an dan tuntunan sunnah yang dikaji?

Dalam sebulan,  berapa kalikah kita menghadiri dauroh kajian ‘ilmiyyah?

3.      Dosa karena tetap melakukannya setelah mendapat dalil akan keharamannya.

Dalam tipe ke-3 ini, umumnya para pelaku maksiat tetap melakukannya karena mereka menyukainya, karena kebutuhan, karena tujuan dan impiannya, karena tuntutan hitam di atas putih, karena pertimbangan untung dan rugi, karena meremehkannya karena yang menyampaikan lebih muda darinya dan bukan termasuk yang bisa dibilang ‘ulama, bahkan karena yang menyampaikan bukan termasuk dalam kelompoknya.

Jika ditanya apakah ada dosa karena seseorang menyukainya? Ya, Na’am. Khomr yang termasuk di dalamnya psikotropika, judi, zina, memakan daging haram, bunga riba, ikhtilat dan khalwat di dunia nyata maupun maya, pacaran, bermusik dan mendengarkan musik, dan sebagainya. Inilah beberapa contoh dosa yang nikmat dan bisa dinikmati.

Dosa karena kebutuhan hidup, umumnya sering dilakukan oleh mereka yang sedang ditimpa kekurangan ekonomi, sakit, dan sebagainya.

Untuk alasan karena bukan karena ‘ulama dan bukan dari kelompoknya, maka inilah yang sering menghinggapi orang – orang yang ujub, bangga akan dirinya, merasa punya status sosial dan pendidikan tinggi, juga karena pendapat kelompoknyalah yang paling benar.

“Kalau saya keluar dari bank ini, lalu saya kerja apa?”

“Loh, Professor anu bilang kalau Syi’ah itu Mazhab ke-5 kok!”

4.      Dosa karena merasa apa yang dilakukannya benar, biarpun tidak sesuai syari’at.

Dosa tipe ini sering menghinggapi orang – orang yang lebih mengutamakan ‘ilmu dunia, para penyeru dan pelaku bid’ah, orang – orang yang lebih mengutamakan akal daripada dalil Qur’an dan Sunnah Rosululloh, juga karena mencontoh para pelaku dosa yang sering disebut orang sukses dalam urusan dunia, biarpun contoh pelaku dosa tersebut melakukan hal yang termasuk dosa.

“Ini ta’aruf nikah kok, kami mau tukar cincin bulan depan.”

“Menurut saya tidak masalah, buktinya usaha saya makin maju.”

Dalam akun pertemanan, teman untuk silaturrohim? Atau mahrom untuk ukhuwah?

“Yang penting hijabin hati dulu!”

“Rosululloh berada bersama kita ketika peringatan Maulid Nabi.”

5.      Dosa karena menyembunyikan kebenaran.

Terkadang, pelaku dosa tipe ini diliputi rasa takut akan mudhorot yang akan menimpa bukan hanya pada dirinya, tapi juga akan keluarga maupun kelompoknya. Ada para ‘ulama yang buruk, yang sering mengutip perkataan ‘ulama lain dengan menghilangkan kebenaran yang jika disebutkan malah menjatuhkannya atau kelompoknya. Ketika seseorang berjalan sendiri dalam kelompoknya, dia tidak mau dianggap perusak hubungan yang telah dibangun selama ini, sehingga dia melakukan dosa tipe ini agar tetap diterima di komunitasnya. Ataupun dalam contoh lain, seorang penjual yang menyembunyikan kekurangan, cacat dan rusaknya barang dagangannya, agar dia bisa menjual produk tersebut.

Na’udzubillah, na’udzubillahi min dzalika. Mohon agar dijauhkan dari kita dan keluarga kita.

[Bersambung, Insya Alloh…]

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on 19 January 2014 in Islam, Muslimah

 

Tags: ,

One response to “Hidayah wa Tawfiq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s