RSS

Merancang Pernikahan Yang Bahagia

17 Aug

Assalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokātuh.

Akhwat fillah yang sama – sama mencari dan mengharap ridho dan rahmat Alloh Ta’ala, kali ini kami akan mencoba memberikan beberapa tuntunan syari’at Islam dalam pra – nikah. Kenyataan di lingkungan keluarga dekat maupun lingkungan sekitar, telah membuat kami untuk berbagi bagaimana Islam telah mengatur segalanya, sehingga para muslimah yang ingin menjalankan rencana prnikahan tidak dipusingkan atau dihancurkan dengan impian – impian dan contoh yang buruk.

Kebahagiaan pernikahan harus dirancang dan dipersiapkan bahkan sebelum pernikahan. Bagi saudariku para muslimah yang belum menikah, Antunna masih mempunyai kesempatan lebih banyak untuk belajar. Untuk antunna yang telah menikah dan memiliki putri yang sudah masuk usia menikah, Antunna perlu mempersiapkan buah hati untuk menuju ke pelaminan.

1. Meluruskan Niat

Subhanalloh wa bihamdihi, hampir semua kitab – kitab para ulama ahlus sunnah, telah menuliskan tentang pentingnya niat dalam bab pertama maupun muqoddimah kitab mereka. Urgensi meluruskan niat, adalah hal nomor satu. Hendaklah tujuan anti dalam menikah adalah mencari ridho Alloh Ta’ala. Hal ini dapat memberi koridor nyata akan fitroh yang telah Alloh Ta’ala gariskan bagi setiap bani Adam, menjaga diri dari gejolak syahwat yang haram, bentuk Ittiba’ur Rosul demi menghidupkan sunnah Rosululloh, juga membangun rumah tangga muslim yang merupakan sumber kedamaian, ketenangan dan kasih sayang.

Ikhlaskan niatmu dalam membina hidup berumah tangga kelak, sesuai dengan firman Alloh Ta’ala:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٦٢)

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb semesta alam”. (Q.S. Al An’am: 162).

Adalah sangat banyak sekali penyimpangan saat ini, yang dilakoni oleh banyak muslimah. Niat awal yang sangat mulia dan bernilai ibadah, malah dikotori oleh nafsu duniawi. Banyak dari para orang tua saat ini telah memberi pelajaran yang salah kepada anak putri mereka, hanya bisa memberi materi dan impian akan dunia, tidak membedakan pendidikan antara anak pria dan wanita. Banyak di antara para orangtua saat ini membuat anak wanitanya untuk bisa bersaing dan sama dengan anak prianya, sehingga diajarkanlah angan – angan wanita menjadi direktur, politisi, presiden, ataupun profesi yang melanggar syari’at dan fitroh wanita seperti petinju, pesepakbola wanita dan lainnya.

Ketika anti sudah komitmen untuk menikah yang disyahkan oleh ijab qobul di hadapan Alloh Ta’ala, terkadang ada beberapa kelompok feminis berkata hilangnya beberapa hak – hak dan kebebasan wanita, begitu juga hilangnya hak – hak dan kebebasan pria.

Satu contoh nyata yang pernah kami hadapi, seorang akhwat ingin menikah untuk mendapatkan ketenangan “status” sebelum yang bersangkutan berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studi. Na’udzubillah, lalu sebenarnya buat apa dia menikah? Niatnya saja sudah bengkok, bahkan dia melakukan keharaman karena bersafar tanpa mahrom, meninggalkan hak – hak suami dan anaknya.

Banyak sekali di antara kita masih bersifat permisif akan hal ini, dengan dalih semua dikembalikan pada komitmen awal pernikahan. Komitmen yang mengarah ke hal ini tidak diperbolehkan dalam Islam, akhwat fillah. Ada contoh komitmen yang pernah kami lihat, suami dan istri berkomitmen untuk tidak memiliki anak sebelum sama – sama lulus studi S2. Komitmen kita setelah mena’ati Alloh Ta’ala dan Rosul-NYA adalah ta’at pada suami, selama itu tidak dalam hal kemaksiatan yang menyalahi syari’at.

2. Memperbaiki Diri Dengan Pakaian Fisik dan Takwa

Persiapan akan hal ini harus dimulai bahkan sebelum ada keinginan untuk menikah. Sebab laki-laki yang baik dipersiapkan Alloh Ta’ala untuk wanita yang baik, begitu pula wanita yang baik dipersiapkan untuk dianugerahkan buat laki-laki yang baik.

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik (pula)”. (Q.S. An Nuur: 26).

Saat ini sudah banyak sekali kajian – kajian khusus wanita dalam berbagai hal fiqh, manhaj, tauhid, mu’amalah dan lainnya. Akhwat Fillah, setiap Nabi dan Rosul tidak meninggalkan dinar wa dirham, tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu syari’at untuk mencari bekal akan hari akhir yang “Khoirun wa Abqo”. Fardhu ‘Ain hukumnya untuk mengetahui fiqh dalam beribadah yang difardhukan atas setiap hamba-NYA.

Jama'i

Tholabul ‘Ilmi, adalah diwajibkan-NYA. Namun, carilah tempat yang tepat, ‘ulama yang tepat, yang akhirnya menumbuhkan kefahaman ilmu yang baik. Banyak diantara para pencari ‘ilmu saat ini tidak melewati tahapan dari awal seperti tauhid dan manhaj, tetapi hanya langsung ke fiqh dan mu’amallah saja. Hal ini pun tidak semerta – merta dibenarkan atau disalahkan. Tetapi ciri khas Islam dengan agama lain adalah Tauhid, yang dapat dipahami dengan jelas ketika sub-kajian syahadat.

Jika memang masalah waktu dan tempat adalah penghalang, sekarang yang namanya ngaji bisa “online”, tinggal manajemen waktu diperbaiki, namun tetap tahapan darimana kita memulai harus jelas dan harus selalu diulang – ulang (muroja’ah), dan tetap dari sumber dan pemahaman para generasi terbaik ummat. Jadi anti bisa memahami mengapa dan buat apa hijab, haramnya tabarruj dan sufur, terlarangnya ikhtilat dan lainnya dalam fiqh, setelah anti melewati kajian bab tauhid. Keyword-nya adalah ridho dan rahmat-NYA, bukan ridho dan rahmat makhluk-NYA. Terutama bagi para muslimah yang tinggal di lingkungan dekat pesantren, itulah jalan awal yang akan memudahkan anti menuju Jannah-NYA. Apakah anti tidak malu jika mesjid dan pesantren yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah tidak pernah anti datangi, tapi kajian di gedung mewah yang mahal (baca: berbayar) malah bisa didatangi.

Kelalaian ke-2 dalam masalah ini adalah banyak muslimah hanya lebih banyak mengetahui akan hal dunia, sedangkan ‘ilmu akhirat mereka lalai. Seperti contoh banyak para wanita fasih berbahasa korea, jepang dan sebagainya, ditambah lagi impian mereka untuk “backpacker travel” keliling dunia. Buat apa? Mencari ridho Alloh Ta’ala? Apa akan didapat? Lalu memajang foto – foto ke luar negeri di akun pertemanan. Sekali lagi buat apa? Mencari ridho Alloh Ta’ala? Apa akan didapat? Atau untuk “bersosialisasi” dengan teman muslimah lain?

Suatu hal yang lucu apabila Anti berangan-angan mendapat pasangan yang sholih sedangkan Anti tidak berusaha menjadi wanita yang sholihah. Only in your dream, Ukh!

3. Memilih Calon Suami Yang Sholih dan Ta’at Beragama

Suami yang sholih akan memberikan peluang dan kemudahan untuk menjalankan agama, ta’awun denganmu dalam mencari ridho Alloh Ta’ala dan meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dari Abu Hatim al-Muzany, Rosululloh SAW, bersabda:

“Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan”.

Para sahabat bertanya, “Wahai Rosululloh, sekalipun ia memiliki (kekurangan duniawi)?”

Beliau menjawab, “Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia”, beliau ulang tiga kali. (HR. Tirmidzi).

marriage quote

Lihat hadits di atas, Rosululloh telah menyebut agama dan akhlak dari seorang pria. Agama dan akhlak adalah 2 hal yang berbeda! Ada pria yang begitu baik dalam bermu’amalah, mampu memilih kata – kata yang lembut, mampu mengendalikan forum, namun belum tentu dia paham akan agamanya. Vice versa, ada pria yang baik pemahaman agamanya namun cara penyampaiannya masih kurang tepat.

Akhwat fillah, apakah masih ada di antara kalian masih berpikir untuk menjadikan “metal muslimin” menjadi pendamping hidup? atau ingin bersuamikan seorang lulusan Doktoral yang membiarkan istrinya untuk ber-ikhtilat dan tabarruj di tempat kerja? Bakal terwujud dan tercapaikah impian memiliki anak yang sholihah, sedangkan baby sitter yang seharian mengurus mereka kelak? Buat apa dan buat siapa ‘ilmu S2 atau S3 anti kejar sampai umur saat ini? Malah diberikan buat orang lain bukan untuk anak sendiri. Ya… Hadi, sadarkanlah saudari – saudariku akan hal ini.

4. Meringankan mahar

Wanita yang paling mudah maharnya adalah wanita yang paling banyak berkahnya. Dari Ibunda ‘Aisyah RA, Rosululloh bersabda:

“Sungguh termasuk keberkahan seorang wanita ialah: mudah urusan peminangannya, mudah maharnya dan mudah rohimnya”. (HR. Ahmad dari dan dinilai sahih oleh Ibnu Hibban)

Maksud kemudahan dalam mahar adalah si wali perempuan tidak mempersulit calon menantu dalam urusan mahar dan memberatkannya dengan meminta mahar yang tinggi. Juga termasuk kategori kemudahan dalam mahar: sang pria dimudahkan Alloh Ta’ala untuk mengumpulkan mahar yang diminta.

Memang, ada atsar dari sahabat Umar bin Khothob RA, yang menerangkan bahwa wanita berhak menentukan mahar bagi dirinya. Namun jika seorang wanita meminta mobil atau uang ratusan juta, apakah berlaku dalil di atas? Seperti contoh ada beberapa adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku di beberapa suku di negeri ini, justru mahar ditentukan oleh orangtua wanita dan akhirnya malah dipegang oleh para orangtua para wanita. Harga mahar bisa semakin tinggi jika pendidikan anak gadisnya semakin tinggi pula. Na’udzubillah, tuntunan syari’at siapa yang dipegang? Justru dengan mempersulit pernikahan, akan melanggengkan jalan syetan untuk mencari celah menimbulkan was – was dalam qolbu, juga kemaksiatan lain.

Adapun yang dimaksud dengan mudah rohim adalah: mudah dalam melahirkan dan dikaruniai banyak keturunan. Demikian keterangan yang disampaikan oleh al-Munâwy dalam Faidh al-Qadîr.

5. Melihat calon pasangan

Proses ini dapat menghasilkan kelanggengan kasih sayang, juga akan semakin memantapkan niat dan pilihan. Pun akan menghindarkan berbagai hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Banyak pasutri yang bercerai dan cekcok, padahal masih di bulan – bulan awal pernikahan, karena ketidakcocokan antara suami dan istri.

Nadhor/ melihat pasangan saat ini dapat terwakili dengan secarik foto dan biodata lewat perantara yang terpercaya dan aman dari fitnah. Namun, lebih afdholnya secarik foto itu pun harus dikonfirmasi ulang, karena yang namanya foto bisa diolah dengan software pengedit gambar, yang namanya biodata bisa diperbanyak dengan fungsi tombol ctrl+C dan ctrl+V (copy paste),  sehingga kesesuaian itu dapat lebih memantapkan niat dan pilihan. Banyak atsar yang menunjukkan bahwa nadhor itu tidak perlu secara langsung, bisa sembunyi – sembunyi maupun diwakilkan. Tentunya hal ini dalam batasan syari’at dan tujuan untuk menikah.

Karena itu, setelah salah seorang sahabat; Al-Mughirah bin Syu’bah RA, ketika meminang seorang wanita, Rosululloh memberi nasihat:

“Lihatlah wanita tersebut; sebab hal itu akan menyebabkan ‘kelanggengan’ cinta kalian berdua”. (HR. Tirmidzy dan dinyatakan hasan oleh beliau).

Adalah hal yang sangat lucu, seorang wanita tidak mau memberikan data dan foto (baca: mau langsung dilamar ke orang tuanya), tetapi deretan fotonya malah berjejer heboh di akun pertemanannya. Hmm, mungkin agar banyak pria yang bisa “nadhor” pada dirinya? Na’udzubillah.

6. Sumber Rezeki Ketika Menikah

Suami yang sholih adalah rezeki dari-NYA. Barang siapa yang bertakwa maka akan dikaruniai Alloh rezeki.

…وَ مَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبْ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ… (٣)

“… Barangsiapa bertakwa kepada Alloh niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya.(Q.S. At – Tholaq: 2 – 3)

Termasuk buah takwa, sebagaimana firman-NYA dalam QS. Ath – Tholaq: 4,

…وَ مَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَهُ مِن أَمْرِهِ يُسْرًا (٤)

“…Dan barang siapa yang bertakwa kepada Alloh, niscaya Alloh menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Alloh Ta’ala akan memudahkan setiap urusan, termasuk di dalamnya urusan jodoh dan pernikahan.

Namun, anti tidak boleh lupa, jodoh ada di tangan Alloh. Bukan kita yang mengatur, namun Alloh-lah yang menentukan. Berdo’alah kepada Alloh dengan penuh ketulusan dan keikhlasan agar Dia berkenan mengaruniakan padamu jodoh yang baik. Ingat, do’a adalah senjatanya orang yang beriman. “Berdoalah kepada Alloh dengan penuh keyakinan bahwa doamu akan dikabulkan”. (HR. Tirmidzi)

marriage quote1

Mengenai batasan kerja untuk wanita, sangatlah panjang untuk dibahas dalam artikel ini. Hukum asal bagi wanita baik sebelum dia menikah atau belum menikah, adalah diam di rumah seperti dalam Q.S. Al – Ahzab: 33. Jika ternyata dalam perjalanan pernikahan, pendapatan suami tidak berbanding lurus dengan kehidupan, atau suami mengenai penyakit atau bahkan kelumpuhan sehingga tidak bekerja sama sekali, maka istri baru diperbolehkan membantu suami mencari nafkah, tentu saja sesuai batasan syari’at. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di link ini. Namun, bersabarlah dan bertawakallah seperti halnya ayat di surat Ath – Tholaq di atas, maka Alloh Ta’ala akan mencukupi kebutuhan dan memberi rizki dari arah yang tidak disangka.

7. Shalat Istikhoroh

Jika datang pria meminangmu, hendaklah anti memikirkannya penuh pertimbangan, bermusyawarahlah dengan orang yang ‘alim dan dapat dipercaya, terakhir jangan lupa beristikhoroh kepada Alloh Ta’ala. Karena sholat istikhoroh merupakan ibadah yang amat dianjurkan dalam Islam. Dari Jabir bin Abdullah RA, Rosululloh bersabda:

“Apabila seorang di antara kalian berkeinginan melakukan suatu perkara, hendaknya ia mengerjakan shalat dua raka’at di luar shalat fardhu. Kemudian bacalah doa ini: “Allôhumma innî astakhîruka bi’ilmika, wa astaqdiruka bi qudrotika, wa as’aluka min fadhlikal ‘adzîm, fa innaka taqdiru wa lâ aqdir, wa ta’lamu wa lâ a’lam, wa anta ‘allâmul ghuyûb. Allôhumma in kunta ta’lamu annâ hadzal amro khoirun lî fî dînî wa ma’âsyî wa ‘âqibati amrî” (atau “’âjili amrî wa âjilih), faqdurhu lî wa yassirhu lî tsumma bârik lî fîhi. Wa in kunta ta’lamu anna hâdzal amro syarrun lî fî dînî wa ma’âsyî wa ‘âqibati amrî” (atau ’âjili amrî wa âjilih), fashrifhu ‘annî washrifnî ‘anhu waqdur liyalkhoiro haitsu kâna, tsumma ardhinî (Ya Alloh, sesungguhnya aku memohon pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuatan kepada-Mu dengan kemahakuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang besar. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sementara aku tidak kuasa. Engkau Maha Mengetahui, sedang aku tidak mengetahui, dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui perkara ghaib. Ya Alloh, apabila Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku, bagi agamaku, bagi hidupku dan baik akibatnya terhadapku (atau: baik bagiku di dunia maupun akhirat) maka takdirkanlah perkara itu untukku dan mudahkanlah bagiku. Dan sesungguhnya jika Engkau tahu bahwa perkara ini buruk bagiku, bagi agamaku, bagi hidupku dan buruk akibatnya terhadapku (atau: buruk bagiku di dunia maupun akhirat); maka jauhkanlah perkara ini dariku dan jauhkan diriku darinya. Lalu takdirkanlah kebaikan untukku di manapun ia berada, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya)”. Kemudian Rosululloh bersabda, “Dan silahkan ia sebutkan kepentingannya”. (HR. Bukhori)

Cinta karena-Nya

Ada hal yang keliru dalam mengartikan jawaban akan istikhoroh, yaitu jawaban sholat istikhoroh berupa mimpi. Belum pernah ada dalil dari para salafus sholih akan hal ini. Satu hal yang harus diingat, bahwa mimpi itu ada 3 sumbernya: dari Alloh Ta’ala, dari syetan dan dari alam bawah sadar kita. Ada dalil tentang pernikahan Rosululloh dengan Ibunda ‘Aisyah RA, bahwa beliau mimpi Jibril membawa  sutra warna hijau yang ada wajah ‘Aisyah RA, di kain tersebut. Banyak hikmah sesuai qodar-NYA akan pernikahan beliau berdua.

Ada satu kasus dari seorang akhwat. Akhwat tersebut bercerita setelah dia dikhitbah seorang ikhwan, meminta waktu untuk berpikir dan sholat istikhoroh. Namun beberapa malam setelah sholat istikhoroh, malah bermimpi dikejar – kejar ular hitam berbisa. Akhirnya sang akhwat merasa was – was dan khawatir, lalu menolak pinangan dari ikhwan tersebut. Luar biasanya syetan untuk menggagalkan rencana bani Adam dalam bentuk pernikahan, lewat sebuah mimpi.

Akhirul kalam, masih banyak tuntunan syari’at dari Qur’an maupun sunnah Rosululloh dalam persiapan pernikahan. Koridor yang sangat jelas, yang akan menaungi anti berdua kelak, Insya Alloh, dalam mengisi bekal menuju kampung akhirat.

Jangan sampai tuntunan syari’at Islam yang telah dituntunkah oleh sebaik – baik Uswah ini, hanya membatasi pernikahan pada ijab qobul, kelahiran, perceraian, kematian dan warisan saja.

Wallohu A’lam bish Showab. Billahit Taufiq wal Hidayah.

Wassalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokātuh.

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on 17 August 2013 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

4 responses to “Merancang Pernikahan Yang Bahagia

  1. devi

    10 September 2014 at 12:30 AM

    Terimakasih atas penjelasannya. Tulisan anda banyak memberi pengetahuan kepada saya. Semoga Allah melimpahkan Rahmat & Karunianya kpd anda. Banyak hal yg ingin saya tanyakan, sekiranya kita bisa chatting secara online tentu itu bisa sangat membantu sekali.

     
    • hanifroad

      10 September 2014 at 5:34 AM

      Waiyyaki. Baarokallohu fiik.

       
  2. devi

    8 September 2014 at 1:44 AM

    Admin, ada hal yg ingin saya ceritakan berkaitan dg tullisan anda diatas. Saya pernah menjalani Taaruf dg seorang Pria, setelah 2 minggu dia menyatakaan mundur. Dlm alasannya dia menyebutkan kalo dia melaksanan shalat istikharah utk memohon petunjuk tp ternyata setelah menunggu berhari-hari mimpinya hanya gelap belaka.

     
    • hanifroad

      8 September 2014 at 5:44 AM

      Dari Abu Hurairah RA, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      الرؤيا ثلاث حديث النفس وتخويف الشيطان وبشرى من الله…
      “…Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Alloh.”
      (HR. Bukhori dan Muslim)

      Tidak ada satu keterangan pun yang menjelaskan bahwa hasil dari shalat istikhoroh berupa sebuah mimpi. Sejumlah ulama di antaranya Imam An-Nawawi menyatakan bahwa pilihan akan diberikan kepada orang yang melaksanakan sholat tersebut adalah dengan dibukakan hatinya untuk menerima atau melakukan suatu hal, juga diberi kemudahan dalam melakukan hal tersebut.
      Jika kita berpikir kalau dihadapkan suatu pilihan, lalu kita sholat istikhoroh dan tidur sambil menunggu mimpi lalu diam saja, maka ini bukanlah adab dalam Islam yang dicontohkan Rosululloh.
      Wallohu A’lam bish Showab.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s