RSS

Meninggalkan Sesuatu Karena Alloh SWT

11 Mar

Seorang bapak, sudah berumur, mendatangi sebuah perusahaan baru bukan untuk mengantarkan dokumen keperluan tender proyek. Di tangannya, hanya sebuah map penuh dengan CV dan sertifikat juga ijazah yang didapat selama hidupnya. Tujuannya hanya 1, mendapatkan pekerjaan yang dapat membuatnya bahagia, baik di dunia maupun akhirat.

Setelah melalui rangkaian tes yang melelahkan, tibalah saatnya pihak HRD mewawancarainya.

HRD       : “Jika melihat CV anda, sepertinya pengalaman juga ilmu Bapak melebihi ekspektasi kami. Perusahaan tempat Bapak sebelumnya, merupakan salah satu perusahaan besar yang ada, begitu juga gaji dan posisi Bapak. Mengapa Bapak mau pindah ke perusahaan kami?”

Bapak    : “Betul, Pak. Sudah hampir 15 tahun saya bekerja di perusahaan itu. Namun, selama itu pula terjadi perang pada pikiran dan hati saya. Hampir tiap malam saya tidak bisa tidur dengan nyenyak, begitu juga ibadah saya.”

HRD       : “Kalau boleh saya tahu, mengapa sampai seperti itu? Apakah ada beban yang mengganjal selama bekerja? Baik itu stress karena masalah beban kerja, gaji, persaingan atau keluarga? Atau ada yang lainnya?”

Bapak    : “Jika berbicara pendapatan, gaji saya sudah lebih dari cukup dari awal kerja sampai sekarang. Masalah kerja, semua bisa saya kerjakan biarpun terkadang keluar dari deadline. Masalah persaingan, hampir tidak ada.”

HRD       : “Lalu apa? Keluarga?”

Bapak    : “Itu salah satunya, Pak. Dari awal kerja, orang tua saya tidak mengijinkan saya bekerja di tempat itu. Setelah menikah, istri dan keluarga juga tidak mengijinkan saya kerja di perusahaan kemarin.”

HRD       : “Lalu apa yang membuat Bapak bisa bertahan selama 15 tahun ini?”

Bapak    : “Sebagai lulusan sarjana S1 tanpa pengalaman saat itu, saya hanya berpikir susah sekali mencari pekerjaan setelah nganggur selama 1 tahun. Tawaran yang ada saat itu, tanpa berpikir panjang dan istikhoroh meminta petunjuk-NYA, saya langsung teken kontrak kerja. Saya berpikir sambil mencari pekerjaan lain sambil bekerja, tetapi ternyata sampai selama ini. Setelah menikah dan mempunyai anak, waktu saya untuk mencari pekerjaan baru semakin sedikit, apalagi ketika tahun ajaran baru…tidak tega rasanya menelantarkan pendidikan anak”

HRD       : “Apa masalahnya dengan pekerjaan kemarin?”

Bapak    : “Bapak bisa lihat di CV saya. Jabatan terakhir saya adalah manager operasional di perusahaan minuman beralkohol. Hampir tidak ada saingan yang berarti, profit perusahaan relatif naik tiap tahunnya, gaji saya merupakan impian para eksekutif muda dan lulusan sarjana saat ini.”

HRD       : “Ya, Bapak seorang muslim. Saya yakin Bapak bukan merupakan orang yang mengkonsumsi minuman beralkohol. Apakah memang itu masih merupakan ganjalan juga?”

Bapak    : “Betul sekali, Pak. Setetes pun dari produk minuman beralkohol yang saya produksi, saya memang tidak pernah meminumnya. Tapi, selama ini saya berdosa karena meracuni penduduk negeri ini dengan minuman beralkohol, dan saya pun menikmati gaji yang haram biarpun saya tidak meminumnya. Selama ini perang batin dan pikiran masih berlanjut terutama ketika hendak tidur, betapa banyaknya kasus kekerasan bahkan pembunuhan terjadi karena efek mengkonsumsi produk yang kami hasilkan. Saya hanya takut dosa saya berlipat – lipat.”

HRD       : “Lalu bagaimana Bapak bisa menenangkan pikiran dan batin selama ini? Juga apa yang membuat Bapak akhirnya tersadar penuh dari kenyataan saat itu?”

Bapak    : “Saat itu, perusahaan kami hendak menambah plant baru untuk menaikkan kapasitas produksi. Untuk menjaga proyek dari unsur KKN, kami membuka tender terbuka. Tetapi sampai akhir deadline anwijzing saja, tidak ada satu pun perusahaan kontraktor yang mengambil dokumen tender. Akhirnya pihak manajemen sepakat untuk langsung memanggil salah satu kontraktor yang dulu pernah mengerjakan plant sebelumnya. Tetapi sungguh mengejutkan, pihak kontraktor sudah tidak mau lagi untuk mengerjakan proyek yang berhubungan dengan minuman beralkohol.  Pihak mereka menjawab bahwa semua karyawan mereka yang beragama Islam, telah bersepakat untuk menolak dan tidak mengerjakan kontrak proyek produk barang yang haram, pihak Direksi dan pemilik perusahaan mereka pun maklum dan menerima sikap karyawan mereka. Saat itulah saya tersadar akan kesalahan saya selama ini.”

***

Subhanalloh, wa bihamdihi.

Ayyuhal Ikhwah, banyak di antara kita, masih tidak perduli dengan jenis pekerjaan dan cara mereka bekerja demi pendapatan hidup. Banyak juga kisah para muslimah, akhirnya melepaskan hijabnya dan batasan bermu’amalah demi pekerjaan, jabatan dan impian mereka.

Alhamdulillah, jika memang kita tidak sampai mengalami kisah perjalanan hidup dari mantan manager di atas, yang akhirnya meninggalkan pekerjaan yang diharamkan-NYA demi jalan yang diridhoi-NYA. Banyak sekali celah syaithon dan keturunannya untuk menjerumuskan Bani Adam, dalam balutan yang sangat manis dan gemerlap. Tidaklah mengherankan, apabila kaum Adam dijerat dengan harta, tahta dan wanita. Begitu pula dengan kaum Hawa, dijerat dengan kekayaan, popularitas, kecantikan, impian semu.

Ikhwah, di antara keimanan seorang Muslim adalah mengimani adanya hari Akhir. Kehidupan dunia, hanyalah sementara bahkan hanya bisa sampai semen-tahun, tetapi hari Akhir adalah kekal. Sedikit kebaikan dengan niat demi ridho-NYA, dengan jalan yang diridhoi-NYA pula, merupakan harta yang akan diganjar dengan berlipat.

Di manakah Iman dan Islam kita letakkan ketika berangkat kerja? Apakah ditinggal di kamar rumah kita lalu dikunci rapat – rapat? Jika benar begitu adanya, maka korupsi yang terjadi, mark up harga yang terjadi, penipuan yang terjadi, halal – haram – hantam yang terjadi, lepasnya hijab yang akan terjadi, ikhtilat, umbar aurat dan kecantikan, juga pamer harta yang terjadi.

“Dan sesungguhnya Alloh telah memerintahkan kepada orang – orang mukmin seperti yang diperintahkan-NYA kepada para Rosul. Firman-NYA:

يَــٰٓــــأَ يُّهَا الرُّسُلُ كُلُواْ مِنَ الطَّيِّبَٰتِ وَاعْمَلُواْ صَـٰلِحًا ۖ… (٥١)

“Wahai Rosul Rosul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang sholih...” (Q.S. Al – Mu’minuun (23): 51)

يَــٰٓــــأَ يُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِنْ طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُم…(١٧٢)

“Wahai orang orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu…” (Q.S. Al – Baqoroh (2): 172)

Kemudian Nabi SAW., menceritakan seorang laki – laki yang telah lama berjalan jauh, sehingga rambutnya kusut masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: ‘Wahai Robbku, Wahai Robbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Alloh akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim)

Semua orang, pasti menginginkan kehidupan yang layak baginya dan keluarganya. Semua aktivitas hidup ini akan bernilai ibadah, jika dilakukan hanya jika untuk Alloh SWT. Namun kita juga harus ingat, bahwa Alloh SWT., telah memberikan rambu – rambu berupa syari’at yang harus diikuti, bukan standard kebenaran menurut versi akal dan nafsu semata. Dari Abu Hurairoh RA., Nabi kita yang mulia telah bersabda:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Alloh itu Maha Baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula.” (HR. Muslim)

Ayyuhal Ikhwah. Mungkin di antara kita masih ada yang menjalani hidup ini berdasarkan keinginan berdasarkan akal semata? Atau menyerahkan pada keinginan dan kebenaran kata qolbu? Kalau itu memang masih ada di dalam benak kita, sekarang pikirkanlah…buat apa Alloh SWT menurunkan kitab-NYA dan mengutus Rosululloh SAW kepada kita?

Di antara kita, bahkan sampai ada yang sampai sholat istikhoroh seminggu lebih hanya untuk diberikan petunjuk-NYA apakah kerja di bank konvensional adalah baik baginya, padahal dia sudah tahu kefasikan yang akan menghantuinya selama bekerja di sana. Ada juga di antara kita yang juga sholat istikhoroh seminggu lebih dalam memilih calon istri, yang akhirnya wanita cantik yang belum berhijab malah dipilihnya. Jawaban dari Alloh SWT berupa mimpi dan ketetapan qolbu? Belum pernah ada keterangan dari Rosululloh dan para sahabat mengenai mimpi dan ketetapan qolbu menjadi jawaban sholat istikhoroh. Maka sekarang tanyakanlah, bagaimana Alloh SWT berfirman mengenai riba? Bagaimana Rosul SAW bersabda mengenai tuntunan dalam memilih istri? Teruslah istiqomah di jalan-NYA, maka jika di depan banyak halangan dan kesulitan maka itulah jawaban Alloh Al – Hādi. Namun inilah kelalaian kita, hanya mau tawakkal saja (baca: pasrah saja) tanpa mau berikhtiar.

Sekali lagi, akal dan qolbu belum tentu bisa merasionalkan tuntunan syariat, apalagi yang tidak sesuai dengan keinginan dan hawa nafsu. Pembebanan hukum Taklif dalam syari’at, merupakan jalan untuk menggapai ridho-NYA, sesuatu yang kita cari di dalam hidup ini. Alloh SWT telah berfirman mengenai kaum Muhajirin dan Anshor, merekalah khoiru ummat sebenarnya:

وَالسَّبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَـٰجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَـٰنٍ رَّضِىَ اللهُ عَنهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّـٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا الْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُالْعَظِيمُ (١٠٠)

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. At – Taubah (9): 100)

Subhanalloh, mereka diabadikan dalam firman-NYA. Mereka begitu inginnya menggapai ridho Alloh SWT sampai meninggalkan semua status dan kebendaan mereka, yang di antaranya adalah Abdurrohman bin ‘Auf, yang saat ini sudah bisa disebut businessman miliarder menurut majalah orang sukses, namun sahabat tersebut begitu yakin bahwa Alloh SWT akan mengganti dengan yang lebih baik jika dia berniaga di jalan-NYA. Rodhiyallohu’anhu, semoga Alloh SWT ridho kepadanya.

يَــٰٓــــأَ يُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ اللهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ  (٧)

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad (47): 7)

Sedangkan Rosululloh SAW telah bersabda:

“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena (perintah) Alloh ‘Azza wa Jalla, kecuali Alloh akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu” (HR. Ahmad)

Billāhit Taufiq. Wallohu A’lam.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 11 March 2013 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s