RSS

Soal: Khulu’ & Kerja bagi Muslimah

12 Jan

chain broke

Pertanyaan dari 2 muslimah:

Assalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

1. Pertanyaan dari Ukthi D:

Saya ingin bertanya bagaimana hukumnya seorang istri meminta talak bagi suaminya? Saya sering jengkel, suami saya sering sekali menyindir bahkan terang – terangan mengancam untuk menceraikan saya ketika marah atau kecewa, karena saya memilih untuk tinggal dekat keluarga dan tetap kerja di Jakarta dan tidak ikut suami yang sudah bekerja di Madura?

2. Pertanyaan dari Ukhti R:

Saya lulusan kimia. Saya bekerja sebagai analis kimia di laboratorium yang di dalamnya memang bercampur antara karyawan pria dan wanita. Alhamdulillah saya sudah berhijab, biarpun memang belum sesuai tuntunan yang sering saya baca di web muslimah, selain itu agar saya bisa luwes bekerja di dalam kondisi Lab. Saya pernah baca kalau kerja dan kondisi kerja saya sekarang tidak sesuai syari’at, lalu saya harus kerja apa? Kemudian jika nanti saya menikah kelak, apakah saya tidak boleh bekerja dan hanya harus diam di rumah?

Jawaban:

Wa’alaikumussalām warohmatullohi wabarokatuh.

1. Dalam Islam, gugatan pengajuan cerai dari Istri kepada suaminya disebut Khulu’ bukan Thalaq. Menurut bahasa, khulu’ dari khala’ ats tsauba idzaa azaalahu – melepaskan pakaian. Para istri adalah pakaian bagi para suami.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآ ىِٕكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ… (١٨٧)

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Romadhon bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka...” (Q.S. Al – Baqoroh (2): 187)

Para pakar fiqih mendefinisikan khulu’ adalah permintaan istri untuk bercerai, dan suaminya tersebut menceraikan istrinya dengan imbalan mengambil sesuatu darinya. Subhanalloh, Islam memang agama sesuai fitrah manusia. Khulu’ dengan alasan sesuai syari’at maupun alasan “duniawi”, diperbolehkan dalam Islam. Dalilnya datang dari Ibnu Abbas RA; khulu’ yang diajukan istri sahabat Rosul SAW., Tsabit bin Qois RA., salah satu sahabat yang dijamin masuk surga. Namun, ternyata salah satu alasan istri Tsabit mengajukan khulu’ karena postur tubuh suaminya yang pendek jika dibandingkan para sahabat lainnya. Hal ini, takut membuatnya kufur dan tidak bisa total beribadah pada Alloh SWT dan taat pada suaminya. Ajuan khulu’ ini sampai ke telinga Rosululloh SAW., yang kemudian beliau menyuruh istri Tsabit untuk mengembalikan maharnya – yaitu kebun, lalu beliau menyuruh Tsabit untuk menceraikannya. (Fathul Baari IX: 395 no. 5276). Dalil sunnah Nabi SAW., yang lain untuk perihal khulu’ adalah kisah Barirah, yang dapat dilihat di link ini.

Dari dalil di atas, alasan “duniawi” lainnya seperti fisik, tingkat pendidikan, harta, suku, adalah diperbolehkan dalam syari’at Islam.

Yang kedua, persoalan sindir menyindir dalam talak. Anti dan suami sebaiknya harus mengetahui hadits berikut:

Dari Abu Hurairoh RA., bahwa Nabi SAW., bersabda: “Ada tiga hal, yang seriusnya dinilai serius, main-mainnya dinilai serius: nikah, thalaq, dan rujuk.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan Syaikh Al-Albani)

Hadits tersebut di atas menuntut para muslimin wal muslimat untuk lebih berhati – hati dalam 3 perkara di atas. Maka dari itu, untuk ucapan yang demikian menurut sebagian ulama bisa dihukumi sebagai syah-nya talak. Sampaikan pula hal ini pada suami, perihal jatuhnya talak biarpun secara main – main. Dalam kasus anti, suami menyindir untuk perihal thalaq yang dalam syari’at disebut kinayah, maka hal ini berpulang pada niat suami apakah memang dia berniat untuk men-thalaq istrinya dengan sindiran tersebut.

Yang ketiga persoalan tidak ikut suami yang bekerja di tempat lain dan jauh. Para istri adalah “selimut” bagi suaminya, begitu pula sebaliknya. Setelah menikah kewajiban kedua anti setelah bertakwa kepada Alloh SWT adalah menaati suami, selama itu tidak dalam ketaatan kepada kemaksiatan.

“…Sesungguhnya dia-suamimu, adalah Surgamu dan Nerakamu (HR. Ahmad, Hakim, Nasa’i)

Sakinah adalah hal yang diinginkan dan didambakan pasutri dalam pernikahan. Dalam hal LDM (long distance marriage), agaknya sulit dalam kasus anti dan suami. Perhatian anti berdua akan selalu terpecah, terlebih suami sebagai qowwam yang bertanggung jawab penuh pada Alloh SWT akan istrinya, sehingga sifat saling percaya terkadang lebih sering naik turun. Cemburu adalah hal yang menjadi fitroh manusia, bahkan Alloh SWT melaknat para suami yang “Dayyuts” – tidak punya rasa cemburu dan membiarkan istri dan keluarganya terutama dalam kemaksiatan. Jika masalahnya adalah pendapatan yang kurang jika hanya suami yang bekerja, maka anti bisa mencari atau membuka sumber usaha lain yang jauh dari fitnah bagi kaum muslimah di tempat suami bekerja saat ini. Carilah usaha atau kerja lain yang tidak berikhtilat antara pekerja pria dan wanita, dan tidak menyalahi kodrat wanita.

2. Mengenai pekerjaan bagi muslimah. Ketahuilah Ukhti, Alloh SWT tidak melarang muslimah untuk bekerja, tetapi harus sesuai syarat – syarat yang ditentukan dan dibenarkan oleh syari’at Islam. Namun anti juga harus mengetahui hukum awal dalam hal ini bagi muslimah adalah dalil-NYA dalam Al – Qur’an:

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَـٰهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ … (٣٣)

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj (berhias) dan bertingkah laku seperti wanita – wanita Jahiliyah dahulu…” (Q.S. Al – Ahzab (33): 33)

Banyak para muslimah yang menyanggah dan “menolak” ayat ini, karena tidak sesuai emansipasi dan zaman. Bahkan ada pula yang berdalil bahwa Ibunda Khodijah RA, adalah entrepreneur dan bussinesman yang sukses, bahkan perdagangannya sampai luar negeri seperti yang tertulis dalam Siroh Nabawi.

Nanti dulu, jangan langsung menerima dalil tersebut yang sering dipakai para JIL dan pejuang emansipasi wanita yang kebablasan secara mentah – mentah. Sekarang teruskan membaca Siroh Nabawi bagaimana kelanjutan perniagaan Ibunda Khodijah RA. Dimanakah beliau setelah menikah dengan Rosululloh SAW? dan dimanakah beliau juga setelah suaminya diangkat menjadi penutup ke-Nabi-an dan ke-Rosul-an? Juga bagaimanakah para istri – istri Nabi SAW baik ketika beliau masih hidup ataupun setelah wafatnya? Jawabannya adalah sama, yaitu di rumah berkhidmat kepada suami, juga tidak keluar rumah kecuali untuk mencukupi kebutuhannya. Tugas mencari nafkah, diserahkan kepada suaminya – Rosululloh SAW, dan sesuai dengan tugas dan fungsi suami sesuai dengan aturan Alloh ‘Azza wa Jalla di Q.S. An – Nisaa’ ayat 34, yaitu sebagai Al – Qowwam – pemimpin, dan pencari nafkah bagi keluarganya.

الرِّ جَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ فَالصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ ۚ …(٣٤)

“Kaum pria itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Alloh telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang sholeh, ialah yang taat kepada Alloh lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Alloh telah memelihara (mereka)…” (Q.S. An – Nisaa’ (4): 34)

Yang kedua adalah ketentuan berhijab bagi muslimah. Siapakah yang menyuruh anti untuk berhijab fisik dan qolbu? Jawabnya adalah Alloh ‘Azza wa Jalla. Haram jika tidak berhijab dan dosa sebagai hitungannya. Jika perusahaan tempat bekerja anti melarangnya, maka pikirkanlah kewajiban setiap muslim wal muslimat yaitu Sami’na wa atho’na – kami mendengar-MU dan kami menaati-MU. Na’am, kerja adalah amanah dan wajib untuk menjaga amanah. Namun, tidak ada keta’atan bagi seorang muslim dalam hal bermaksiat pada Alloh SWT. Satu hal pula, janganlah bersikap oportunis dan parsial, maksud dalam kasus anti adalah mungkin anti memang mengenakan khimar – kerudung ketika bekerja, namun kerudung yang tidak sampai menutup dada, lalu anti memakai celana panjang yang merupakan pakaian kaum pria, juga tidak berkaus kaki. Alloh ‘Azza wa Jalla menuntut kita untuk kaffah dalam mena’ati-NYA, tidak setengah – setengah jika dapat pekerjaan yang enak dan gaji besar, ataupun dapat  suami yang kaya barulah berhijab sesuai syari’at.

Yang ketiga adalah mengenai kerja setelah menikah. Seperti bahasan di atas, hukum awal bagi setiap muslimah, mau dia belum menikah ataupun telah menikah adalah diam di rumah sesuai kewajiban yang dibebankan-NYA baik sebelum dan setelah menikah. Keperluan ke luar rumah harus sesuai yang dibenarkan syari’at, jadi tidak ijin ke ortu atau suami agar bisa keluar dari rumah untuk ke mall, karaoke, spa, pusat kebugaran, tempat hiburan, tempat wisata dan lainnya, tanpa didampingi mahrom atau suami. Jika memang kondisi ekonomi kurang ketika menikah kelak, maka carilah kerja yang tidak bertabrakan dengan syari’at Islam. Beberapa tips aman dalam mencari pekerjaan:

  1. Mencari pekerjaan yang tidak keluar rumah, agar kewajiban juga hak suami dan anak – anak tetap terjaga. Seperti perniagaan online, jasa pekerjaan/ konsultasi online, jasa data processing, makanan/ minuman, pakaian yang sesuai syari’at dan lainnya.
  2. Pekerjaan yang tidak ada ikhtilat di dalamnya. Seperti PAUD, TK Islam, sekolah/ universitas khusus muslimah, yayasan muslimah, rumah sakit khusus muslimah dan bidan, radio muslimah, balai kerja muslimah, dan lainnya. Adapun untuk menjadi guru atau dosen seperti di universitas umum saat ini, tanpa perlu menjelaskan lebih rinci kami pribadi memilih pendapat ulama yang melarang dan mengharamkannya, dan hal ini pun sangat sesuai dengan 2 sumber hukum Islam yang utama di Al – Qur’an dan Sunnah Rosul SAW, yang memang telah mengharamkannya.Kenapa? Di dalamnya ada ikhtilat baik antar guru/ dosen dan dengan murid/ mahasiswa-i baik di dalam kondisi ruang kelas maupun “dunia maya”, tidak terjaganya pandangan, maupun fitnah lain yang bisa ditimbulkan. Begitupun Ibunda ‘Aisyah RA. Beliau memang sering didatangi para sahabat dan shohabiyah untuk menanyakan perihal fiqih sesuai sunnah Nabi SAW, namun untuk para sahabat yang bertanya beliau tidak pernah bertatap muka langsung. Beliau pun pernah berkata: “Aku tidak suka memandang ajnabi (pria non mahrom), dan aku tidak suka apabila ajnabi memandangiku.” Begitupun Nabi SAW, menutupi muka ‘Aisyah RA, dengan kain ketika melihat pria – pria dari negeri Habsyi sedang bermain tombak. Belum ada universitas/ institusi kuliah khusus muslimah? maka inilah tantangan dan jalan dari-NYA untuk mendapatkan pahala dan ridho-NYA.
  3. Mencari pekerjaan yang sesuai fithroh dan kodrat wanita. Na’am. Jadi ojek motor, supir taksi/bus, pekerja konstruksi kasar, buruh dengan kerja shift apalagi shift malam, maupun pekerjaan lain yang tidak sesuai dengan kodrat wanita biarpun antum bisa melakukannya bahkan lebih baik dari pria.

Akhirul kalam. Ketahuilah akhwat fillah, kehidupan ini hanyalah sementara, antunna mencari dunia maka akan dibayar dengan dunia, sebaliknya jika antunna mencari akhirat maka akhirat itu (selalu) lebih baik dan kekal adanya. Sesungguhnya besarnya pahala itu berbanding lurus secara linier dengan besarnya cobaan dari-NYA. Bertakwalah dan istiqomahlah, maka Alloh SWT akan memberi jalan keluar dan rizki dari arah yang tidak disangka – sangka untuk mencukupi kebutuhan kita. (Q.S. At – Thalaaq (65): 2 – 3)

“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena (perintah) Alloh ‘Azza wa Jalla, kecuali Alloh akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu” (HR. Ahmad no. 23074)

Billahit Taufiq. Wallohu A’lam bish Showab.

Rujukan:

  1. Al – Wajiz, Ensiklopedi Fiqih Islam dalam Al – Qur’an dan As – Sunnah As – Sahihah. Ditulis oleh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi Al – Khalafi.
  2. Fathul Baari IX, Penjelasan Kitab Shahih Al – Bukhari. Ditulis oleh Ibnu Hajar Al – Asqalani.
Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 12 January 2013 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s