RSS

Hakikat Istidroj

10 Dec

Assalāmu’alaikum Warohmatullohi Wabarokātuh.

Alhamdulillāhirobbil ‘Aalamin, Ash Sholatu wa Sallam ‘ala Rosulillah.

Ayyuhal Ikhwah, sejenak…pernahkah di benak pikiran kita sekalian terpikirkan, atau bahkan sampai Na’udzubillah, suudzon kepada-NYA, mengenai porsi yang diberikan oleh Yang Maha Kaya untuk kita sekalian khususnya kepada kaum muslimin wal muslimah.

Bisa kita lihat di sekitar kita, betapa banyaknya orang – orang di luar Dien yang diridhoi-NYA ini yang justru mendapatkan harta benda yang berlebih, bahkan mereka dengan jelas – jelasnya mendapatkan harta benda tersebut dengan cara yang bathil maupun yang sangat merugikan khalayak umum. Cara mereka itu dengan cara KKN, mark up harga, kesyirikan, menjual barang – barang yang jelas status haramnya ataupun cara – cara licik lainnya, yang notabene sangat tidak sesuai dengan tuntunan Al – Qur’an maupun Sunnah Rosululloh SAW. Tidak hanya mereka, bahkan yang ber-KTP Islam pun banyak yang mendapatkan harta benda dengan mengikuti hawa nafsunya berdasarkan wahyu syaithon.

Tentunya hal ini merupakan kenyataan tragis bagi masyarakat negeri ini pada khususnya, masa dimana harga – harga semakin merangkak naik tetapi tidak berbanding lurus dengan pendapatan seperti halnya grafik persamaan linier. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin tercekik dengan kenyataan yang ada. Kenaikan harga dan langkanya BBM, listrik, air, pendidikan, makanan dan minuman, maupun kebutuhan hidup lainnya, membuat sebagian orang “potong kompas” dengan mengabaikan tuntunan syari’at.

Keadaan seperti ini, mungkin pernah membuat kita bertanya – tanya, apakah adil buat para muslimin wal muslimat yang begitu teguhnya memegang risalah Islam, tetapi malah mendapatkan porsi yang tidak sama dengan para pelaku maksiat dan orang – orang di luar Dienul Islam ini.

Ayyuhal Ikhwah, ingatlah DIA Yang Maha Mulia telah berfirman:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلً (٧)

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Q.S. Al – Kahfi (18): 7)

Juga di ayat-NYA yang lain:

فَأَمَّا الْإِ نْسَـٰنُ إِذَامَا ابْتَلَـٰهُ رَبُّهُ فَأَ كْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّىۤ أَ كْرَمَنِ (١٥) وَأَمَّآ إِذَامَا ابْتَلَـٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّىۤ أَهَـٰنَنِ (١٦) كَلاَّ  ۖ…(١٨)

“Adapun manusia apabila Robb-nya mengujinya lalu dimuliakan-NYA dan diberi-NYA kesenangan, maka dia berkata: ‘Robb-ku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Robb-nya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: ‘Robb-ku telah menghinakanku.’ Sekali kali tidak demikian...(Q.S. Al – Fajr (89): 15 – 17).

Inilah 2 ayat yang sering dilupakan ummat Islam saat ini, ketika cobaan hidup berupa kurangnya harta benda menjadi penyebab timbulnya penyakit qolbu yaitu iri, iri terhadap hal yang bathil adalah kebathilan juga, bahkan juga timbulnya penyakit dengki; yaitu senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang.

Bagaimana ini? ketika kita mengimani dan menerapkan ayat-NYA yang memerintahkan kita untuk merubah nasib kita dengan ikhtiar yang maksimal dan tawakkal, tetapi tidak juga rizki itu kita dapatkan seperti halnya mereka yang bergelimangan maksiat.

Ikhwanul Akhwat Fillah, Nabi kita yang mulia telah menjelaskan perihal ini kepada para sahabatnya yang bertanya pula tentang ini. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Uqbah bin Amir RA., Rosululloh SAW., telah bersabda:

“Jika kalian melihat Alloh memberikan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat dengan sesuatu yang ia sukai, maka sesungguhnya itu hanyalah Istidroj.” Kemudian Nabi SAW., membacakan firman Alloh SWT:

فَلَمَّا نَسُواْ مَاذُ كِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُتُوٓاْ أَخَذْنَٰهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (٤٤)

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.(Q.S. Al – An’am (6): 44)

Apakah Istidroj itu? Menurut syari’at, Istidroj adalah:

“Pemberian kesenangan duniawi oleh Alloh SWT., kepada manusia yang durhaka kepada-NYA, tidak menggunakan harta itu di jalan yang diridhoi-NYA, sehingga dibiarkan Alloh SWT., dalam kesenangan duniawi, ditangguhkan adzabnya sampai tiba saatnya menurut ketetapan-NYA.

Perkara Istidroj singkatnya adalah penguluran waktu dari-NYA, agar kesesatan hamba-NYA yang bermaksiat bertambah parah, kemudian diadzab-NYA setelah peringatan-NYA selalu dilalaikan.

Na’udzubillahi min dzalik.

Kata istidroj dari da – ra – ja, diambil oleh bahasa Indonesia menjadi kata derajat. Maksud dari kata ini adalah dosa yang bertingkat – tingkat, naiknya dosa dari tingkatan yang kecil sampai tingkatan yang lebih tinggi.

Stair

Tengoklah para pelaku maksiat, mereka tidak akan melakukannya secara terang – terangan melainkan secara sembunyi – sembunyi dalam taraf kecil – kecilan, setelah sukses dengan maksiat yang kecil maka “dosis dosa” akan mereka tambah sesuai keinginan target mereka karena merasa aman dari hukum dan peraturan-NYA. Inilah yang terjadi pada ummat Islam di saat ini di negeri ini khususnya, sampai – sampai perkara korupsi pun bisa ditemukan dari pembuatan KTP dan kartu keluarga di tingkat RT/ RW sekalipun.

Hal ini pun bisa terjadi pada para muslimah. Kecantikan, popularitas, karier, kedudukan, merupakan cara – cara mereka dengan balutan yang sangat manis, sehingga hijab ditanggalkan dan rumah ditinggalkan, bahkan tugas mulia sebagai Ibu Rumah Tangga dianggap tidak produktif dan kampungan. Tidakkah anti sekalian berpikir wahai Akhwat Fillah? Tugas mulia dengan ganjaran Jannah-NYA malah antum berikan kepada pembantu, baby sitter maupun kakek – nenek untuk anak – anak kalian?

Berapapun rupiah maupun dollar bisa mereka dapatkan dengan waktu singkat, karena Alloh SWT., mengulur waktu dan telah mempersiapkan neraka yang menyala – nyala buat mereka yang mengingkari syari’at-NYA. Ikhwah, bukankah hal ini bisa kita lihat saat ini di sekitar kita? Banyak sekali kisah nyata, betapa iming – iming gaji yang besar dan kedudukan tinggi harus dibayar dengan melepas hijab dan meninggalkan rumah bagi muslimah, ataupun juga memaksa kita untuk bermu’amalah dengan cara – cara kotor. Na’udzubillah, bahkan mereka senang dan bangga sekali dengan harta dan kedudukan karena berpikir justru itu adalah rizki yang halal dari Al – Mughniy (Maha Pemberi Kekayaan), mereka berpikir ridho dan rahmat Alloh ‘Azza wa Jalla bersama mereka. Hal ini bahkan diperparah lagi dengan menunjukkan dosa – dosanya dalam akun – akun pertemanan mereka.

“Dan sesungguhnya Alloh telah memerintahkan kepada orang – orang mukmin seperti yang diperintahkan-NYA kepada para Rosul. Firman-NYA:

يَــٰٓــــأَ يُّهَا الرُّسُلُ كُلُواْ مِنَ الطَّيِّبَٰتِ وَاعْمَلُواْ صَـٰلِحًا ۖ… (٥١)

“Wahai Rosul Rosul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang sholih...”(Q.S. Al – Mu’minuun (23): 51)

يَــٰٓــــأَ يُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِنْ طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُم…(١٧٢)

“Wahai orang orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik – baik yang Kami berikan kepadamu…” (Q.S. Al – Baqoroh (2): 172)

Kemudian Nabi SAW., menceritakan seorang laki – laki yang telah lama berjalan jauh, sehingga rambutnya kusut masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: ‘Wahai Robbku, Wahai Robbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Alloh akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim)

TIDAKKAH antum mau berpikir? Apa antum pikir Alloh SWT., tidak melihat? Tidak menyaksikan? Tidak Mengawasi? Ketika antum berpikir telah dimuliakan-NYA karena harta benda keduniawian antum peroleh dalam jumlah banyak, tetapi dengan cara menabrak syari’at-NYA? Apa antum pikir para pelaku maksiat dan orang – orang di luar Dien ini merasa aman dari dosa mereka kepada Alloh? Dari Abu Hurairoh RA., Nabi kita yang mulia telah bersabda:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Alloh itu Maha Baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula.” (HR. Muslim)

Itulah, mengapa banyak sekali ummat Islam saat ini juga tertipu sebagaimana mereka yang berada di luar Dien ini, masih ada saja yang berpikir terbalik.

Maka dari itu, pikirkanlah sejenak…jika kita mendapatkan harta benda atau apapun yang bersifat keduniawian tetapi dilakukan dengan cara yang haram dan atau tidak dibenarkan oleh syari’at, maka Alloh SWT., sejatinya sedang mengulur waktu kita untuk meningkatkan dosa sehingga akhirnya diadzab dengan tingkatan adzab yang lebih pedih, seperti halnya level neraka yang bertingkat – tingkat. Na’udzubillahi min dzalik. Mohon kepada-NYA agar dijauhkan dari perkara ini, bermunajat agar diberikan-NYA jalan yang diridhoi-NYA, sebelum datangnya adzab langsung di dunia maupun yang ditunda di akhirat kelak.

Billahit Taufiq, Wallohu A’lam.

Wassalāmu’alaikum Warohmatullohi Wabarokātuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 10 December 2012 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s