RSS

Bid’ah: Tasyabbuh Hari Raya Non Muslim

10 Nov

Assalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِااللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَٰـــٓــأَ يُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ اتَّقُواْ اللَّهَ حَقَّ تُقَا تِهِ وَلَا تَمُو تُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُّسلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَشَّرَ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Ayyuhal Ikhwah, kali ini kami sengaja menyampaikan artikel yang membahas sebagian kecil sub – topik dalam perihal bid’ah. Seperti kenyataan yang masih terjadi di tengah – tengah kaum muslim saat ini di belahan bumi manapun, alangkah banyaknya perayaan non muslim yang entah siapa yang memulai, disadur layaknya fungsi copy – paste ke dalam aktifitas kehidupan ummat Islam.

Sampai saat ini, mungkin di antara kaum muslimin masih ada yang bertanya – tanya, apakah syari’at Nabi dan Rosul sebelum diutus-NYA Rosululloh SAW., seperti contoh shoum Nabi Daud AS., adalah sunnah Rosul SAW? Sebelum menjawab iya untuk pertanyaan ini, kita kembalikan kepada 2 dalil rujukan yang utama; yaitu Al – Qur’an dan Sunnah Rosululloh SAW. Jika memang ditemukan dalil yang syah dan shohih, maka syari’at tersebut merupakan syari’at yang masih diridhoi-NYA untuk dilakukan. Ikhwah, kita harus ingat dalam perkara ibadah harus sesuai dalil nash yang Haqq. Dienul Islam dan syari’at Islam, bukan berdasarkan pemikiran belaka, biarpun perkara tersebut baik adanya di mata manusia.

Pada masa sebelum dan ketika Rosululloh diutus-NYA, kondisi manusia saat itu terbagi dalam 2 kelompok besar:

1. Golongan Ahlul Kitab.

Golongan ini masih berpegang teguh pada Al – Kitab yang telah diubah keasliannya, atau masih berpegang pada syari’at terdahulu yang tidak diketahui kemurniannya.

2. Golongan Ummi.

Golongan ini menyembah kepada apa yang dianggap baik dan dapat bermanfaat bagi mereka, seperti patung, bulan, bintang, matahari, api, kuburan dan lainnya.

2 ummat yang ada saat itu; yaitu Yahudi dan Nasrani, merupakan ummat yang juga berada di sekitar Mekkah. Seperti yang difirmankan-NYA dalam Al – Fatihah, Al – Maghdub merujuk kepada Yahudi yang dimurkai-NYA:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَ لَّوْاْ قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَّا هُمْ مِّنْكُم وَلَا مِنْهُمْ وَيَهْلِفُو نَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Alloh sebagai teman? orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.(Q.S. Al – Mujaadilah (58): 14)

Adh – Dhollin merujuk kepada Nasrani yang tersesat. Firman-Nya:

يَــٰٓـأَ هْلَ الْكِتَٰبِ لَا تَغْلُواْ فِى دِينِكُمْ وَلَا تَقُو لُواْ عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ

Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Alloh kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Alloh dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya…” (Q.S. An – Nisaa’ (4): 171)

Yahudi mengurangi, membantah kebenaran, juga tidak mau melaksanakan kebenaran yang mereka ketahui, baik secara lisan maupun perbuatan. Nasrani bersifat ghuluw (berlebihan/ melampaui batas) kepada pemimpin agamanya, juga tersesat karena mengamalkan sesuatu tanpa pengetahuan tentang hal itu tanpa adanya dalil.

Seorang ‘ulama Salaf – Sufyan bin ‘Uyainah dan lainnya berkata: “Sesungguhnya orang yang rusak dari sebagian ‘ulama kita, padanya terdapat kemiripan dengan kaum Yahudi. Dan orang yang rusak dari sebagian ahli ibadah kita, padanya terdapat kemiripan dengan kaum Nasrani.”

Di setiap menyampaikan majlis ‘ilmu, Rosululloh SAW., selalu menyampaikan muqoddimah seperti yang terdapat di muqoddimah artikel ini – sebagai peringatan perihal bid’ah yang dikhawatirkan pada ummatnya, agar tidak mengikuti kerusakan 2 kaum yang dimurkai dan yang tersesat. Dari Abu Sa’id Al – Khudri. Rosululloh SAW., telah bersabda:

“Sungguh, kalian akan mengikuti tradisi orang – orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa. Hingga, seandainya mereka masuk ke dalam lubang Dhobb (kadal biawak padang pasir), niscaya kalian akan mengikutinya.” Maka kami (para sahabat) pun bertanya: “Wahai Rosululloh, (apakah yang dimaksud) kaum Yahudi dan kaum Nasrani?” Beliau menjawab: “(Memang) siapa lagi?” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Adalah tipikal umum seorang manusia yang mempunyai akal dan mengedepankan akal, lantas tidak akan langsung menerima dan menjalankan mentah – mentah apa yang tidak sesuai dengan “versi kebaikan” maupun “versi keinginan”. Seperti halnya contoh mengapa muslimah itu tidak boleh keluar rumah jika tidak ada keperluan yang dibenarkan syari’at? Mungkin para aktivis persamaan gender atau emansipasi, ataupun bahkan yang sudah berhijab sesuai syari’at pun masih ada yang menolaknya. Ataupun dalam contoh lain, berdzikir dengan suara keras setelah sholat fardhu’ yang bisa mengganggu saudara kita yang masih tersisa roka’at sholatnya karena menjadi masbuq. Ikhwah, apakah antum lupa bahwa DIA adalah As – Samii’u, Maha Mendengar? Karena itulah, setiap sholat kita disyari’atkan untuk membaca al – Fatihah, agar hidayah itu tetap langgeng diberi-NYA kepada kita, agar tidak seperti Al – Maghdub dan Adh – Dhollin.

Beberapa Bid’ah dalam hal perayaan, yang menyerupai ummat lain di antaranya adalah:

1. Perayaan Hari Lahir ‘Isa Al – Masih

Perayaan ini merupakan tradisi yang dilakukan umat Nasrani, mereka beranggapan tanggal 24 Desember (Natal dirayakan 25 Desember-red) adalah hari lahir ‘Isa bin Maryam. Kita bisa melihat betapa semaraknya umat Nasrani merayakannya dalam hiasan – hiasan lilin, pohon cemara, salju, bel, mistletoe, tokoh Santa Claus dan lainnya.

Padahal, dalam perayaan ini merupakan bid’ah dalam Kristen sendiri. Tradisi perayaan ini bukanlah ajaran ‘Isa maupun kaum Hawariyyin (kaum pengikut dan penolong dakwah Nabi ‘Isa AS).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوٓا۟ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّۦنَ مَنْ أَنصَارِىٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ قَالَ ٱلْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Alloh sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Alloh?” Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama) Alloh (Q.S. As Shoff (61): 14)

Tidak perlu kami tuliskan disini mengenai kerusakan yang terjadi dalam hari tersebut. Orang – orang yang lemah iman dan aqidahnya, yang terbiasa mengikuti perilaku umat Kristen menganggap tradisi perayaan tersebut merupakan syari’at mereka, sehingga akan lengah untuk “menghormati” mereka dengan mengucapkan selamat hari raya tersebut, bertamu ke rumah – rumah mereka atau bahkan ada yang mengikuti perayaan “terselubung”. Na’udzubillah, hal ini telah difirmankan-NYA:

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِااللَّهِ وَالْيَوْمِ الْأَخِرِ يُوَ آدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللَّهَ وَرَسُو لَهُ، وَلَوْ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰ نَهُمْ أَوْ عَشِيْرَ تَهُمْ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orangorang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, Sekalipun orangorang itu bapakbapak, atau anakanak atau saudarasaudara ataupun keluarga mereka...”(Q.S. Mujaadilah (58): 22)

2. Perayaan Nairuz

Hari Nairuz adalah perayaan kaum Majusi penyembah Api. Nairuz atau Nauruz berarti tahun baru bangsa Persia. Sumber mengatakan orang yang pertama kali merayakannya adalah Jamsyid/ Jamsyad (Jam artinya bulan, Syad artinya cahaya/ sinar), salah seorang Raja Persia dari generasi pertama.

Jamsyad merupakan Raja yang menggantikan Tuhumarat, Raja sebelumnya yang terbunuh. Lalu, hari pengangkatan dirinya menjadi Raja diperingati dinamakan sebagai Nauruz, yaitu hari yang baru baginya.

Tidak perlu diceritakan keburukan maupun kemaksiatan yang terjadi di dalamnya, hari itu api dinyalakan lebih banyak dari hari – hari biasa, juga pengagungan dari rakyat terhadap Rajanya. Adapun para kaum muslimin di negara – negara Persia saat ini, ada yang ikut merayakannya karena beranggapan hal ini adalah tradisi yang baik.

3. Perayaan Ulang Tahun

Sweet seventeen? Sweet fourty? Selamat Milad? Tradisi ini nyatanya adalah tradisi orang Kristen, yang merupakan bid’ah dalam syari’at yang dibawa ‘Isa AS. Entah mengapa tradisi ini malah diikuti oleh umat Islam sampai saat ini.

Ulang tahun/ ultah, identik dengan kue ultah yang ditancapkan lilin sebanyak umur yang berultah maupun lilin berbentuk angka, meniup lilin disertai permohonan saat meniupnya dengan beranggapan do’a itu akan dikabulkan-NYA. Para ABG biasanya merayakannya dengan melempari tepung, telur busuk maupun pasir kepada temannya yang berultah, setelah itu harus mentraktir orang – orang yang melempari tepung dan telur busuk tersebut sebelum diberi kado, akhirnya campur baur pria – wanita dalam alunan musik yang diharamkan. Apakah ini yang dianggap syari’at? Apakah hal ini dianggap baik? Apakah ada dalilnya yang rojih dan shohih untuk kemudhorotan dan pemborosan ini? Keanehan ini akhirnya “diperhalus” dengan “syukuran internal keluarga” saja dengan mengundang seorang ‘alim untuk mendo’akan yang berultah. Na’udzubillah, benarlah sabda Nabi kita yang mulia – SAW: “Sungguh, kalian akan mengikuti tradisi orang – orang sebelum kalian…”

Jika diantara ikhwah dan rekan kita masih ada saja yang mengucapkan selamat berulang tahun pada kita, diamkan saja tidak perlu dibalas, jika perlu sampaikan risalah tentang bid’ah perayaan hari ultah. Bahasan ini juga termasuk di dalamnya mengucapkan do’a agar barokah-NYA tercurah bagi yang berulang tahun, biarpun tidak mengucapkan selamat berulang tahun, pada hari ulang tahun yang bersangkutan.

4. Perayaan Tahun Baru Masehi dan Hijriyah

Peringatan tahun baru sebenarnya merupakan tradisi Yahudi, seperti yang termaktub di Taurot, dinamakan awal Hisya, yaitu hari pertama Tasyrin di awal hari tahun yang baru.

Kedudukan hari ini di mata Yahudi sama kedudukannya dengan ‘Iedul Adha. Kaum Yahudi menyatakan : “Sesungguhnya Alloh memerintahkan Ibrohim untuk menyembelih Ishaq putranya, lalu Alloh menggantinya dengan sembelihan yang besar.” Hal ini merupakan kebohongan yang nyata, karena Ismail-lah yang disembelih yang merupakan anak tertua dari Ibrohim. Dalil tersebut disebutkan Yahudi karena Ishaq adalah nenek moyang mereka, padahal hal ini adalah penyimpangan. (Tafsir Ibnu Katsir IV/14, tafsir surat Ash – Shoffat; 99 – 113). Perayaan ini akhirnya diikuti kaum Nasrani yang meniru hal ini, pada setiap tanggal 31 Desember tahun Masehi.

Dalam sejarah Islam, adalah Dinasti ‘Ubaidiyah Al – Fathimiyah di Mesir, yang mengadakan perayaan tahun baru Hijriyah untuk pertama kali (Al – Maqrizi dalam kitabnya Al – Khuthath wal Aatsaar: I/490). Para pembesar dan penguasa dinasti ‘Ubaidiyun memberikan porsi perhatian dalam perayaan ini. Tidak ada alasan pasti mengapa perayaan ini dilakukan, di antara alasan yang ada adalah untuk menghormati “penetapan” dimulainya kalender Hijriyah oleh para sahabat di masa Kholifah setelah Rosul SAW., wafat, tetapi jelaslah ini merupakan bisikan syaithon yang membuat manusia menganggap perayaan ini adalah termasuk syari’at.

Bid’ah kedua dalam tiap perayaan tahun baru Hijriyah, adalah membaca do’a yang tidak pernah diriwayatkan dari Nabi SAW., maupun para sahabat:

اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُهُ فِيْ هٰذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ، وَنَسِيتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ، وَحَلِمْتَ عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ، وَدَعَوْ تَنِيْ إِلَى لتَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَاعَ تِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ، اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْلِيْ، وَمَا عَمِلْتُهُ فِيْهَا مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدْ تَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَا بَ فَأَسْأَلُكَ يَا كَرِيمُ، يَاذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ أَنْ تَقْبَلَهُ مِنِّيْ، وَلَا تَقْطَعْ رَجَا ئِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ، وَصَلَّ اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ  وَسَلَّمُ

Ya Alloh, (ampunilah) apa yang telah aku perbuat pada tahun ini, yaitu (pelanggaran terhadap) apa yang Engkau larang aku mengerjakannya dan Engkau tidak ridhoi aku melakukannya. (Ampuni juga) apa yang aku lupa terhadapnya, yang Engkau tidak pernah lupa terhadapnya. Engkau tetap bersifat santun kepadaku dengan terus memberiku rizki, padahal Engkau Maha Kuasa untuk menghukumku. Engkau terus menyeruku bertaubat, padahal aku berulang – ulang melakukan kemaksiatan terhadap-Mu. Ya Alloh, sesungguhnya aku memohon ampunan-Mu dari semua itu, maka ampunilah aku. (Ya Alloh), apapun amal sholih yang aku perbuat tahun ini, yang Engkau ridhoi terhadapnya dan Engkau janjikan pahala atasnya bagiku, aku memohon kepada-Mu, ya Alloh, Yang Maha Mulia, Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, terimalah amal sholih itu dariku, dan janganlah Engkau memupus harapanku (akan rahmat-Mu), wahai Yang Maha Mulia. Ya Alloh, limpahkanlah sholawat dan keselamatan kepada Muhammad dan keluarganya, juga para sahabatnya.”

Bid’ah ketiga dalam tiap perayaan tahun baru Hijriyah, adalah melakukan shoum sunnah pada hari akhir tahun dan hari pertama tahun Hijriyah. Para pelaku bid’ah menyandarkan pada sebuah hadits:

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِى الْحِجَّةِ وَأَوَّلُ يَوْمِ مِنَ الْمُحَرَّمِ، فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَا ضِيَةَ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبِلَةَ بِصَوْمٍ جَعَلَ اللّٰهُ لَهُ كَفَّا رَةَ خَمْسِيْنَ سَنَةً

“Siapa saja yang berpuasa pada akhir bulan Dzulhijjah dan awal bulan Muharom, maka sesungguhnya dia telah menutup tahun yang lalu dan membuka tahun yang baru dengan puasa yang Alloh jadikan sebagai penebus dosa – dosanya selama lima puluh tahun.” (H.R. Ibnul Jauzi dalam Al – Maudhuu’aat (II/199). Ibnul Jauzi berkata: “Al – Harawi – yang tidak lain Al – Juwaibari – dan Wahab (2 perawi hadits ini) adalah orang yang sering berbuat dusta dan membuat hadits palsu)

5. Perayaan Untuk Mengenang Tokoh

Banyak tokoh – tokoh terkenal maupun para ‘alim ‘ulama yang telah meninggal, diperingati hari kematian dan kelahirannya. Jika kita mau berpikir sejenak, buat apa kita merayakan hari lahir seorang tokoh atau seorang ‘alim yang telah meninggal? termasuk di dalamnya memperingati hari kematian mereka? Satu perayaan yang dirayakan oleh para kaum Syi’ah adalah perayaan hari kematian Imam Husein RA., tiap tahunnya. Lihatlah bagaimana kaum Syi’ah mencambuki dirinya dengan rantai besi, meratapi dan menangisi kematian Husein RA, menyayat badan mereka dengan pisau dan silet menumpahkan darah “persembahan” yang tidak hanya dilakukan orang – orang dewasa saja, melainkan para balita dan bayi mereka pun disayat/ diiris untuk mengalirkan “darah persembahan” bagi Imam Husein RA., Na’udzubillah.

Sekali lagi berpikirlah, jika memang hal ini baik dan benar adanya, maka Nabi kita yang mulia – SAW., adalah manusia yang lebih berhak mendapatkan hal ini dari ummatnya. Nyatanya para shahabat dan shohabiyah tidak merayakan hari wafatnya Rosul SAW. Betapa pengkultusan seseorang selalu terjadi pada perayaan ini.

Hal ini berlaku juga untuk tahlilan yang masih ada di kalangan ummat Islam di negeri ini, dengan membacakan Al – Qur’an dan lainnya. Peringatan 40 hari, 100 hari, 1000 hari kematian, bahkan ada tradisi di negeri ini jika seseorang meninggal justru keluarganya menyembelih seekor sapi. Ada satu kepercayaan bahwa sebelum sampai 40 hari kematian, arwah si mayit masih marakayangan (gentayangan-sunda.red) di sekitar keluarganya.

Tidakkah hal ini mengherankan? Ahlul bait yang sedang diberi cobaan-NYA, justru harus menyediakan hidangan, minuman, atau bahkan mencetak buku surat Yaasin untuk orang – orang yang datang untuk berta’ziyah. Bukankah hal ini adalah perihal Isrof (berlebihan) dan mubadzir (pemborosan) harta? Latar belakang hal ini dilakukan salah satunya adalah karena diyakini acara tahlilan akan menambah pahala agar pahala si mayit diterima-NYA. Bagaimana jika ahlul bait merupakan kalangan yang kekurangan harta? Apakah tidak akan diterima amalnya karena miskin?

Bagaimana sunnah Rosul SAW., dalam hal ini? justru Rosulluloh menganjurkan untuk membuat makanan dan mengirimkannya kepada keluarganya. Hal ini terjadi ketika mendengar kabar wafatnya Ja’far bin Abi Tholib RA:

إِصْنَعُوْا لِآ لِ جَعْفَرٍ طَعَامًا، فَإِنَّهُ قَدْ أَتَا هُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ

“Buatkanlah oleh kalian makanan untuk keluarga Ja’far, karena sesungguhnya mereka telah kedatangan (tertimpa) sesuatu (musibah) yang menyibukkan mereka.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya: I/205)

*****

Ayyuhal Ikhwah, dari sedikit contoh yang ada semoga dapat menyadarkan kita semua akan perilaku menyimpang yang tidak dituntunkan Nabi kita yang mulia – SAW. Perilaku Tasyabbuh terhadap ummat di luar Dienul Islam, merupakan dosa karena menyimpang dari syari’at.

Wallohu A’lamu bish Showab.

Wassalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Rujukan:

  1. Al – Qur’an.
  2. Tafsir Ibnu Katsir: IV.
  3. Fathul Baari: XIII, Shohiih Bukhori.
  4. Kitab Al – Bida Al – Hauliyyah: “Menyoal Rutinitas Perayaan Bid’ah Sepanjang Tahun.”
Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 10 November 2012 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s