RSS

Penyembelihan Hewan Qurban Dari Sudut Pandang Medis (Kesmavet)

02 Oct

Assalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Ayyuhal Ikhwah, tidak terasa kita akan menghadapi hari – hari Tasyrik yang di dalamnya disyari’atkan secara sunnah muakkad, untuk menyelenggarakan ibadah Qurban. Sudah banyak di antara kita telah mengetahui lebih dalam secara fiqh, mengenai tata cara penyembelihan hewan Qurban. Namun, bagaimanakah tata cara penyembelihan hewan Qurban jika dilihat dari sudut pandang Ilmu pangan dan Ilmu kesehatan medis? Di dalam Al – Qur’an telah difirmankan-NYA:

وَكُلُواْ مِمَّارَزَقَكُمُ ﭐللَّهُ حَلَـٰلاً طَيِّبًا ۚ وَﭐ تَّقُواْ ﭐللَّهَ ﭐلَّذِىۤ أَنتُمْ بِهِ مُئْومِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Alloh telah rizqikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Alloh yang kamu beriman kepada-Nya.(Q.S. Al – Maa’idah (5): 88)

Untuk memenuhi hal tersebut (makanan yang halal dan baik), serta keamanan produk pangan asal hewan (PPAH), maka dalam berkurban harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut (Sumber: Dinas Peternakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat 2009).

A. Perlakuan Pada Hewan Sebelum Disembelih:

1. Pemeriksaan antemortem (pemeriksaan kesehatan hewan sebelum disembelih). Paling lama 24 jam sebelum penyembelihan dilaksanakan. Pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter hewan atau paramedis kesehatan hewan (di bawah pengawasan dokter hewan). Hanya hewan sehat yang boleh dipotong.

2. Hewan dilakukan secara baik dan wajar dengan memperhatikan azas kesejahteraan hewan.

3. Hewan diistirahatkan sekurang-kurangnya 12 jam sebelum disembelih untuk menghasilkan daging yang berkualitas.

4. Hewan sebelum disembelih dipuasakan selama kurang lebih 6 jam namun diberi minum yang cukup.

5. Saat penyembelihan, hewan direbahkan secara hati-hati, tidak dengan cara paksa dan kasar agar hewan tidak stress, takut, tersiksa dan tersakiti/ terluka agar setelah dilakukan pemotongan otot tidak tegang dan perubahan dari otot menjadi daging akan lebih sempurna serta tidak menimbulkan resiko bagi penyembelih.

B. Syarat Penyembelih:

1. Laki-laki muslim, dewasa (baligh). 1

2. Sehat jasmani dan rohani.

3. Memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis dalam penyembelihan halal yang baik dan benar.

C. Syarat Peralatan:

1. Pisau yang digunakan harus tajam, panjang, bersih dan tidak berkarat.2

2. Wadah, talenan, pisau dan seluruh peralatan yang kontak dengan daging dan jeroan terbuat dari bahan kedap air dan senantiasa dijaga kebersihannya.

D. Syarat Sarana – Prasarana:

1. Kandang penampungan sementara harus bersih, kering dan mampu melindungi hewan dari panas matahari dan hujan. Pada kandang tersebut tersedia pula air minum dan pakan yang cukup untuk hewan.

2. Tempat penyembelihan harus kering dan terpisah dari sarana umum.

3. Lubang penampungan darah berukuran 0.5 m x 0.5 m x 1 m untuk tiap 10 ekor sapi.

4. Tersedia air bersih untuk minum hewan, mencuci peralatan dan membersihkan jeroan.

5. Tersedia tempat khusus untuk penanganan daging yang harus terpisah dari penanganan jeroan, serta selalu dijaga kebersihannya.

E. Tata Cara Penyembelihan:

1. Hewan dirobohkan pada bagian sisi kiri dengan kepala menghadap ke arah kiblat.

2. Membaca basmallah ketika akan menyembelih.3

3. Hewan disembelih di lehernya dengan sekali gerakan tanpa mengangkat pisau dari leher dengan memutuskan tiga saluran, yaitu: saluran nafas (trakhea), saluran makanan (oesophagus), dan pembuluh darah.

4. Proses selanjutnya dilakukan ketika hewan telah benar-benar mati.

5. Hewan yang telah disembelih digantung pada kaki belakangnya agar pengeluaran darah berlangsung sempurna, kontaminasi silang dapat dicegah dan memudahkan penanganan.

6. Saluran makanan dan anus diikat dengan tali agar sisi lambung dan usus tidak mencemari daging.

7. Pengulitan hewan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, diawali dengan membuat sayatan pada bagian median (tengah) sepanjang kulit dada dan perut, dilanjutkan dengan sayatan pada bagian media kaki.

8. Isi rongga dada dan rongga perut dikeluarkan secara hati-hati agar dinding lambung dan usus tidak tersayat atau robek.

9. Jeroan merah (hati, jantung, paru-paru limpa, ginjal dan lidah) dan jeroan hijau (usus, lambung, esofagus dan lemak) dipisahkan.

10. Pemeriksaan kesehatan daging (karkas), jeroan dan kepala setelah penyembelihan (post mortem) dilakukan oleh dokter hewan atau paramedis kesehatan hewan di bawah pengawasan dokter hewan.

11. Daging segera dipindahkan ke tempat khusus untuk penanganan lebih lanjut. Jeroan dicuci dengan air bersih dan limbah cucian tidak dibuang pada selokan, sungai/kali.

F. Penanganan Daging Kurban Yang Higienis:

1. Petugas yang menangani daging harus senantiasa menjaga kebersihan tangan, tempat dan pakaian.

2. Cuci tangan dengan air bersih sebelum menangani daging, setelah keluar dari kamar mandi/toilet, jika tangan memegang/terkena kotoran atau bahan-bahan yang kotor, setelah menyentuh rambut, wajah, mulut, lubang telinga, lubang hidung, setelah menggaruk, sebelum dan sesudah makan.

3. Daging harus selalu terpisah dengan jeroan (jangan disatukan/dicampur). Bagikan potongan daging dalam kantong/wadah yang bersih dan terpisah dari jeroan.

4. Tempat penyimpanan, penanganan dan pemotongan menjadi potongan daging dan jeroan harus terpisah, untuk menghindari daging terkena cemaran kuman dari jeroan.

5. Daging dan jeroan yang ditangani harus senantiasa terhindar dari cemaran tangan manusia yang kotor, air yang kotor, peralatan yang kotor, lalat atau serangga yang lainnya.

6. Alas plastik atau wadah daging dan jeroan harus bersih dan senantiasa dijaga kebersihannya.

7. Daging dan jeroan tidak dibiarkan pada suhu ruang/ kamar (25-30°C) lebih dari 4 jam. Daging dan jeroan harus disimpan pada lemari pendingin (suhu di bawah 4°C) atau dibekukan.

Catatan – catatan kaki:

  1. Dalam Surat Al – Maa’idah (5): 5, Alloh  telah menghalalkan sembelihan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) untuk dimakan ummat Islam. Namun, karena syari’at Qurban itu ditaklifkan untuk ummat Islam, maka sekaligus untuk menjauhi syubhat (Ahli Kitab mengucapkan nama selain Alloh  ketika menyembelih hewan Qurban, yang membuat sesembelihan itu menjadi haram, kecuali mereka tidak menyebutkan apapun ketika menyembelih) maka lebih dipilih seorang Muslim untuk menyembelihnya. Hal ini untuk mengantisipasi ketika mengupah Ahli Kitab untuk menyembelih hewan Qurban.
  2. Rafi’ bin Khadij , dia berkata: “Ya Rosululloh, kami akan berhadapan dengan musuh besok pagi dan kami tidak memiliki pisau. Maka Nabi  bersabda: “Segeralah, sembelihlah dengan segala apa yang dapat mengalirkan darah dan sebut nama Alloh ketika menyembelih lalu makanlah, asal jangan menggunakan gigi dan kuku. Akan aku terangkan kepadamu: Adapun gigi itu tulang dan kuku itu pisau bagi orang – orang Habsyah.” (HR. Bukhori dan Muslim)
  3. Anas , dia berkata: “Nabi   berqurban dua kambing qibas yang bertanduk dan berwarna hitam putih, keduanya disembelih oleh beliau sendiri dengan membaca Bismillahi Allohu Akbar, beliau meletakkan kakinya di atas salah satu sisi badan kambingnya (ketika akan menyembelih).” (HR. Bukhori dan Muslim)

Wallohu A’lam bish Showab.

Wassalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Sumber rujukan:

  1. Al – Qur’an.
  2. Tafsir Ibnu Katsir.
  3. Kitab Al – Lu’ lu’ wal Marjan, Shahih Bukhori Muslim.
  4. http://indovet.wordpress.com/2009/11/20/penyembelihan-hewan-kurban-dari-sudut-pandang-medis-kesmavet/ 
Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 2 October 2012 in Hadits, IPTEK, Islam

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s