RSS

Porsi Dunia – Akhirat

17 Sep

Assalāmu’alaikum wa Rohmatullohi wa Barokatuh.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِااللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

[Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Alloh, kita memuji-NYA, memohon pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya, kita berlindung kepada Alloh, dari segala kejahatan diri dan kesalahan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tiada sesuatupun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Alloh, maka tiada sesuatupun yang dapat memberinya petunjuk.]

Ayyuhal Ikhwah, apa yang terbersit di benak pikiran kita apabila ditanyakan perihal adil? Katakanlah kita mempunyai 2 orang anak, satu anak sedang duduk di bangku perkuliahan teknik kimia di pulau seberang, sedang satu anak sedang duduk di bangku SMU tinggal bersama antum. Bagaimana kita akan memberikan living cost dan education cost? Apakah kemudian mereka berdua diberikan porsi sama, katakanlah sebesar 1 juta rupiah? Apakah anak yang berada di pulau seberang diberikan motor sedang anak yang tinggal bersama kita hanya diberikan sepeda? Atau sama – sama diberikan motor saja atau sepeda saja?

Bagi antum yang mempunyai atau pernah mengalami kisah sama dengan pertanyaan di atas, kira – kira bagaimana antum akan bersikap dan mengambil pilihan? Sampai disini, jangan dulu melihat kemampuan ekonomi yang berlebih dari keluarga antum. Tentunya sebagai orangtua haruslah bersikap adil. Lihatlah bagaimana anak yang sedang mengambil kuliah di jurusan teknik kimia mempunyai kebutuhan hidup dan biaya kuliah yang lebih tinggi, dibandingkan adiknya yang masih duduk di bangku SMU. Kita bertemu dengan perihal adil dan seimbang. Apakah adil itu? Apakah fraksinya 50 – 50? Ataukah 60 – 40? Atau bahkan ditambahkan fraksi pembaginya dengan 2 orangtua sehingga lebih kecil? Pengertian adil sebenarnya adalah:

“Memberikan sesuatu sesuai porsi kepentingan bagian tersebut.”

Ya, kita akan bertemu dengan faktor pembagi yaitu “kepentingan.” Adapun mengenai kepentingan, kita tidak boleh melupakan target ataupun tujuan dari “kepentingan” tersebut, sehingga target atau tujuan itulah yang akan membuat “nilai kepentingan” tersebut bertambah atau berkurang. Inilah definisi adil yang “adil.”

Ayyuhal Ikhwah, sampai disini kita bertemu dengan target atau tujuan. Tujuan hidup yang hakiki bagi seorang Muslim yaitu untuk beribadah dan mencari ridho-NYA sebagai bekal hidup di akhirat kelak. Alloh SWT., telah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ لْإِ نْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ(٥٦)

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-KU.

(Q.S. Adz – Dzariyat (51): 56)

Ayat di atas sekaligus menjelaskan sisi Tauhid yaitu aspek Tauhid Uluhiyah/ ‘Ubudiyah, yaitu menghambakan diri dalam aspek peribadatan hanya kepada-NYA. Sekarang mari kita berpikir, dimanakah tempat kita untuk bercocok tanam amal dan ibadah? Yaitu ketika hidup di dunia, tempat cobaan dan ujian dari-NYA. Cobaan dan ujian yang menerpa, tentunya telah ditulis-NYA di Lauh Mahfuzh untuk setiap makhluk-NYA, sesuai kemampuan setiap makhluk-NYA menurut ‘llmu Alloh  sesuai firman-NYA:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًاإِلاَّ وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَ عَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ…(٢٨٦)

“Tidaklah Alloh membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Q.S. Al – Baqoroh (2): 286)

Kembali ke perihal keadilan. Dalam kehidupan, ada 2 aspek yang akan selalu kita temui baik secara terpisah maupun secara bersamaan, yaitu aspek dunia dan akhirat. Aspek dunia, akan dibayar oleh materi, harta dan sebagainya. Untuk aspek akhirat, di dalam banyak ayat-NYA, Alloh SWT., memberikan janji – janji, stimulan, akan hari akhir yang abadi kelak.

Manakah di antara kedua aspek ini yang harus sangat diperhatikan oleh seorang Muslim? Jika kita berpikir sejenak, semua cita – cita, impian dan harapan seseorang akan aspek dunia, merupakan hal yang bisa diusahakan tetapi hal itu dikembalikan semuanya kepada Qodarulloh, bisa kita dapatkan maupun tidak. Lalu sebaliknya pula, sesuai janji maupun stimulan dari-NYA akan aspek akhirat adalah hal yang benar adanya, yaitu akan pasti kita dapatkan. Sekali lagi, manakah yang harus didahulukan dan diberikan porsi yang lebih besar bagi kita semua? Tentulah aspek akhirat, karena Alloh SWT., telah berfirman:

وَ لَلْأَخِرَةُ خَيرُلَّكَ مِنَ لْأُولَٰ(٤)

“Dan hari akhir itu lebih baik bagimu daripada kehidupan dunia.”

(Q.S. Adh – Dhuhaa (93): 4)

Syari’at Islam, memberikan penekanan yang lebih besar bagi aspek akhirat. Lihatlah ayat di atas merupakan salah satu ayat di surat Adh – Dhuhaa. Waktu Dhuha, waktu ketika matahari naik masih sepenggalan, manusia sedang mulai sibuk berkeringat mencari rejeki-NYA yang ada di dunia. Waktu pagi sampai awal siang hari, kira – kira dimanakah Alloh SWT., saat itu? Apakah memang kita benar – benar sibuk mencari dunia? Bahkan Na’udzubillah, kita sampai melupakan tuntunan-NYA dalam mencari rejeki dengan menabrak yang haram bahkan daerah syubhat yang abu – abu di mata orang yang jauh dari tarbiyah Islam. Sampai akhirnya panggilan datang lewat adzan Dzuhur, untuk kembali mengingatkan perihal menunaikan kewajiban dan hak seorang muslim. Dalam 24 jam tiap hari bagi kehidupan manusia, berapa jam hak dan kewajiban manusia akan hari akhir yang diberikan-NYA kita tunaikan?

Ayyuhal Ikhwah. Sebagai Qowwam dalam keluarga, berapa kali kah kita menunaikan hak dan kewajiban keluarga kita? Berapa seringkah kita mengajak keluarga kita mendatangi dauroh kajian? membelikan pakaian yang sesuai syari’at,  buku – buku kajian Islam? Akuilah terkadang kita masih lebih memberikan porsi dunia yang lebih besar untuk keluarga kita. Liburan ke pantai maupun tempat hiburan lain, bioskop, karaoke, rumah makan yang terkadang kita tidak sadar status halal haramnya, maupun memberikan keluarga kita gadget terkini. Wahai para orangtua, apakah masih berpikir keluarga dan anak kita diberikan hal – hal yang seragam untuk keluarga, asal mereka tidak bertengkar dan tidak iri hati bisa disebut bahagia?

Alloh SWT., tidak melarang bagi kita untuk hal – hal duniawi karena kaedah ‘ushl fiqh menyatakan hukum awal perkara dunia adalah mubah (boleh), sampai ada perkara yang dilarang sesuai kaedah fiqh pula. Firman-NYA telah jelas:

حُوَ الَّذِى خَلَقَ لَكُمْ مَّافِى لْأَرْضِ جَمِيعًا…(٢٩)

Dia-lah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu ...” (Q.S. Al – Baqoroh (2): 29)

Mengenai bagian yang Alloh SWT., berikan di dunia, DIA yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan telah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَآ ءَاتَٰكَ اللَّهُ الدَّ ارَ الْأَخْرَةَ  ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّ نْيَا  ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَ لَا تَبْغِ الْفَسَا دَ فِى الْأَ رْ ضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفسِدِ ينَ(٧٧)

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Alloh telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al – Qoshosh (28): 77)

Mengapa Alloh SWT., menekankan setiap hamba-Nya untuk memberi porsi yang lebih besar masalah akhirat? Sebagai individu, ada hal – hal yang bersifat sangat wajib untuk lebih dipahami secara individu. Sebagai contoh, sudahkah kita tahu fiqh wudhu dan sholat yang benar karena kita wudhu dan sholat  sesuai yang diwajibkan-NYA tiap hari! Sudahkah kita tahu fiqh shoum yang benar karena Shoum Romadhon adalah wajib dan Shoum Sunnah adalah sarana untuk taqorrub pada-NYA! Sudahkah kita tahu fiqh berpakaian yang benar karena kita harus berpakaian untuk menutup aurot sesuai tuntunan-NYA! Sudahkah kita tahu fiqh makan karena kita harus makan untuk kelangsungan hidup ini! Padahal Dien ini sesuai sekali dengan fithroh setiap manusia.

Kalau perkara wajib dalam Fardhu ‘Ain kita tidak tahu hukum fiqh-nya, lalu selama ini atas dasar apa kita menjalankannya? Ikut – ikutan orang lain saja? Atau pura – pura tidak tahu? Apa prinsip ber’amal sholeh? Salah satunya yaitu harus sesuai tuntunan Alloh & Rosul-NYA! Jika tidak maka ‘amal tersebut akan tertolak!

Banyak di antara kita, yang sampai bergelar Profesor pun masih belum tahu fiqh wudhu dan sholat yang di-sunnah-kan (dicontohkan) oleh Nabi SAW., tetapi secara aspek dunia tidak ada yang menyangsikan ke-faqihan-nya dalam bidang pendidikannya. Itulah mengapa Alloh SWT., dan Rosul-NYA menekankan kita untuk memberikan aspek akhirat lebih besar minimal untuk kewajiban individu yang berupa perkara Fardhu ‘Ain, sedangkan untuk perkara fiqh ibadah dan muamalah yang lebih spesifik pada Fardhu Kifayah kita harus  bertanya kepada yang lebih faqih dan lebih ‘Alim yaitu para ‘Ulama. Tidakkah kita akan tersenyum miris, ketika melihat seorang muslimah yang bergelar Profesor tetapi hijab fisiknya masih tidak sesuai syari’at dan sering menafsirkan ayat-NYA menurut syahwatnya belaka?

“Selama ini, apakah kita sudah adil untuk diri sendiri?”

Imam Bukhori Rohimahulloh berkata:

“Al – ‘Ilmu Qoblal Qoul Wal ‘Amal”

(‘Ilmu itu lebih didahulukan daripada berucap maupun perbuatan)

Apa ‘Ilmu yang dimaksud? Tidak lain kata Al – ‘Ilmu, merujuk kepada ‘Ilmu Syari’at Islam, bukan kepada ‘Ilmu duniawi. Jadi, jangan sampai kita menafsirkan hadits kewajiban menuntut ‘Ilmu (Shohihul Jami’ 3913) itu harusnya kita menuntut ‘Ilmu sampai gelar Profesor, padahal derajatnya hanyalah Fardhu Kifayah. Inilah porsi keadilan sebenarnya dalam menuntut ‘Ilmu. Dari Abu Hurairoh RA., Nabi kita yang mulia telah bersabda:

“Sesungguhnya Alloh Ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akhirat.” (HR. Al – Hakim, dishohihkan oleh Al – Albani)

Ayyuhal Ikhwah, sekali lagi bukannya tidak boleh kita mencari dunia itu. Namun, kita mungkin melupakan tujuan hidup kita ketika mencari dunia. Harta yang kita peroleh terdapat hak kita untuk mendapatkan janji-NYA, jumlah pengali 700 kali dari tiap rupiah yang kita shodaqohkan merupakan imbalan dari-NYA, bayangkan 2000 rupiah yang kita shodaqohkan bernilai 1,4 juta rupiah di perhitungan-NYA. Bandingkan ketika kita membeli ipad ataupun blackberry terbaru, kedua gadget tersebut baru bernilai di sisi-NYA jika kita memakainya untuk ta’awun (tolong menolong) dalam kebaikan dan takwa, namun akuilah seberapa seringkah kita memakai gadget tersebut untuk ta’awun? Padahal aktivitas gadget yang sering di-support para operator seluler saat ini, yang dibungkus dalam paket menarik bahkan bisa online 24 jam, justru menjadi gadget keturunan Iblis laknatulloh pula dalam hal ikhtilat, ghibah, permusuhan, tasyabuh, tabarruj dan sufur, maupun mubadzir harta. Berapa persentase kita memakai gadget terkini untuk membuka dan mengkaji Islam, jika dibandingkan untuk foto – foto narsis dan aktivitas bermaksiat yang terkadang dengan bangganya tersimpan di server akun pertemanan? Pernahkah antum berpikir? Jika sesuai Qodarulloh, antum dicukupkan umur oleh-NYA, tetapi foto – foto narsis dan aktivitas maksiat antum masih belum terhapus juga.

Dalam sebulan, berapa kalikah antum mendatangi dauroh kajian? do’a malaikat terpanjatkan ketika kita berada di majelis ‘Ilmu. Bandingkan ketika antum berada di tempat hiburan, di bioskop, mall. Mungkin antum banyak ber-istighfar karena banyaknya rayuan syaithon menebar fitnah, syahwat dan syubhat di tempat – tempat tersebut.

Ayyuhal Ikhwah, sebagai penutup marilah kita bersama – sama meluruskan tujuan dan target hidup ini, yaitu demi ridho-NYA. Berilah porsi lebih untuk aspek akhirat, karena inilah keadilan yang lebih adil untuk diri kita semua. Ingatlah, Alloh SWT., telah berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَوٰ ةَ الدُّنْيَا وَ زِينَتَهَا نُوَ فِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَ حُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (١٥) أُوْ لَٰۤئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْأَ خِرَةِ إِلَّا النَّا رُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُو اْفَيهَا وَ بَٰطِلٌ مَّا كَا نُو ايَعْمَلُونَ (١٦)

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (Q.S. Huud (11): 15 – 16)

Wallohu A’lam bish Showab. Billahit Taufiq.

Wassalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 17 September 2012 in Hadits, IPTEK, Islam, Muslimah

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s