RSS

Iffah Seorang Akhwat

08 Sep

[Dikisahkan kembali dari seorang sahabat. Kisah nyata seorang akhwat yang berdomisili di Subang – Jawa Barat, dalam menjaga Dien-nya di masa seperti ini. Semoga kita dapat mengambil Ibroh dari kisahnya.]

Masih teringat bunga yang dibawa adek laki – laki satu – satunya waktu itu, waktu akhirnya gelar sarjana S1 kuperoleh dari UN dan jurusan impianku. Kampus yang penuh dengan cerita senang dan sedih yang aku lewati bersama teman – teman seangkatanku, akhwat fillah dari pengajian kampusku, maupun warteg di belakang monumen perjuangan fisik rakyat Jawa Barat. Tetapi bagaimanapun, semua itu akhirnya harus kutinggalkan, kehidupan di depan harus kujalani berbekal apa yang telah kuperoleh sampai saat ini.

Betapa tangis tertahan dan senyum bahagia kedua orangtuaku terlihat ketika melihatku dengan baju Toga, maupun ketika membersihkan foto wisudaku. Ya, sebagai anak pertama yang mendapat “beban keinginan dan harapan” kedua orangtuaku, aku pun harus “mengembalikan” semua kasih sayang dan kebaikan yang telah kuperoleh dari mereka.

Tawaran pertama itu datang dari seniorku, dia menawarkan posisi asisten dosen di Universitas Swasta di kota yang sama dan sesuai dengan bidang pendidikanku. Tanpa berpikir lagi, langsung kujawab ya akan tawarannya, alhamdulillah kedua orangtuaku memberi ijin dan ridhonya buatku. Minimal sambil menunggu pekerjaan yang lebih baik di depannya, pikirku saat itu. Dimulailah hari – hari itu, panggilan Ibu Dosen dari mahasiswaku yang membuatku senyum – senyum sendiri di depan kaca. Dari sisi pekerjaan, tidak ada yang susah buatku, karena hal tersebut sesuai sekali dengan apa yang kudapatkan dari perkuliahan yang baru kuselesaikan beberapa bulan lalu.

Sampai satu hal yang membuatku tidak nyaman hadir. Hal itu dimulai ketika seniorku yang telah mendapatkan kepercayaan sebagai dosen pembimbing 2 mahasiswanya yang sedang mengambil TA, sedang cuti melahirkan. Tantangan itu kujawab, biarpun hanya menjadi asisten dosen pembimbing TA kuterima (karena lulusan S1 masih belum boleh untuk menjadi dosen pembimbing TA). Ternyata menjadi dosen pembimbing TA benar – benar menguras emosi dan perhatian yang sangat banyak. Ya, aku pun mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan mereka untuk tidak melenceng dari judul TA mereka, ataupun menaikkan ghiroh dan motivasi mereka yang kadang – kadang mengendur karena “stuck berpikir” kata mereka. Aku pun kadang – kadang mengingatkan mereka lewat sms ataupun akun FB mereka. Heran memang, mereka lebih sering membuat status di akun FB mereka, tetapi terkadang aku berpikir akan sindiran atau kepusingan mereka akan TA mereka. Inilah yang menjadi bumerang bagiku saat itu. Aku merasakan hilangnya privacy-ku di akun FB-ku, terkadang mereka menyapaku biarpun dengan salam sesuai syari’at Islam. Awalnya aku senang mereka kembali bersemangat mengerjakan TA dan kembali rutin untuk bimbingan dan asistensi, tetapi akhirnya mereka-lah yang akhirnya mengirimkan kata – kata semangat untuk agar semangat juga menghadapi mereka.

Hal ini belum berakhir, melihat mereka berdua bersemangat, akhirnya beberapa teman – teman mereka yang juga merupakan mahasiswa malah meminta untuk membimbing mereka biarpun lewat email atau FB. Hal ini harus kuhentikan, aku tidak mau trik dan celah syaithon ini berlanjut. Segera setelah seniorku kembali setelah cuti melahirkannya, aku pun mengajukan resign tidak memperpanjang kontrak dengan alasan ingin menjaga Ibu-ku yang kebetulan saat itu baru selesai operasi organ internisnya.

Tidak lama masa nganggurku saat itu. Aku pernah melihat sebuah iklan lowongan kerja dan berpikir mudah sekali mencari pekerjaan saat ini untuk seorang wanita ketika melihat requirements yang ada di koran Sabtu harian nasional saat itu, syarat nomor 1 adalah “berpenampilan menarik.” Na’udzubillah, apa maksud dari syarat tersebut? Sekali lagi Alhamdulillah, setelah 4 tahap ujian kerja aku pun diterima di sebuah Bank ternama masih di kota itu. Namun di hari pertama OJT (on the job training), aku kena teguran dari pihak HRD yang mempermalahkan hijab syar’i yang kukenakan. Di siang hari ketika waktu ishoma pun aku kembali ditegurnya, karena aku sering menunduk ketika menerima calon nasabah pria yang akan membuka rekening baru atau deposito. Dia berkata ucapan yang masih terngiang sampai saat ini: “senyum dan pandangan yang tegas ke calon nasabah, akan memberikan keyakinan bagi mereka untuk menitipkan investasinya ke kita. Ingat! kamu juga harus melindungi kepentingan perusahaan.”

Di WC aku hanya bisa menangis tertahan, apakah ini juga ujian-Nya di tempat kerja baru ini? Gaji besar akan dibayar dengan resiko besar, “High Risk – High Gain?” Di kemudian hari aku mencuri – curi kesempatan untuk mengelak ketika dia tidak berada di dekatku. Satu hal yang selalu kuingkari dalam hati, sebenarnya sistem riba di Bank konvensional membuatku istikhoroh seminggu lebih untuk ujian wawancara akhir sebelum teken kontrak waktu itu. Ujian itu masih belum berakhir, para pria – pria lajang yang sekantor denganku meminta nomor HP dan pin BB-ku, ataupun dengan jelasnya bertanya apakah aku masih lajang dan mau menikah dengannya? Ataupun bahkan ada yang langsung memberikan biodata ta’aruf nikah lewat email outlook, juga ada yang langsung merubah penampilan layaknya ikhwan pengajian untuk meminangku. Astaghfirullohaladzim, aku langsung introspeksi diri apakah aku menebar pesona selama bekerja di sana? Padahal aku sudah benar – benar menjaga diri semaksimal mungkin. Tinggal 4 bulan lagi menuju setahun masa kontrak, aku mantap memutuskan untuk kembali resign dan membayar denda kontrak.

Kembali ke kampung halamanku, Ibu-ku pun mulai bertanya mengapa dalam waktu 2 tahun setelah wisuda 2 kali pula aku resign, apalagi gaji besar yang bisa didapat bagi fresh graduate di tempat kerja terakhir. Aku hanya bisa menjelaskan syubhat dan resiko mengerikan buatku bekerja jauh dari kedua orangtua tanpa perlindungan dari pria – pria iseng. Sampai akhirnya kedua orangtuaku bisa memahami biarpun tanda tanya besar masih ada di wajah mereka, mengapa selama 4,5 tahun kuliah jauh dari orangtua aku bisa menjaga diri?

Sekitar 6 bulan aku nganggur, mencoba membuka – buka info lowongan kerja, tetapi tetap kumantapkan hati untuk menjauhi resiko seperti 2 tempat kerja sebelumnya. Pengajian – pengajian majelis ilmu Islam adalah tempat yang lebih sering kudatangi, ketika kedua orangtuaku mulai ikut membaca koran hari Sabtu, membantu mencarikan dan menawarkan lowongan kerja yang kujauhi. Suatu ketika aku teringat seorang teman wanita di masa kecilku di kampung ini, aku ber-silaturrohim ke rumahnya dan mencoba mencari bantuan kepadanya. Dia menawarkan posisi sebagai sales produk farmasi di kota ini.

Pikiran seorang wanita memanglah pendek dan terkadang selalu mengedepankan perasaan semata memang, itu pun terjadi padaku ketika pikiranku menimbang – nimbang tidak akan bertemu hal – hal seperti di dua tempat sebelumnya di lingkungan kerja ini. Kembali ke rumah aku pun langsung berdiskusi dengan kedua orangtuaku, mereka memberi semangat dan dukungan buatku.

Ayahku pun langsung membelikan sepeda motor matic sebagai bukti dukungan buatku, karena Ayahku bilang posisi sales itu sangat mobile, dan pasti membutuhkan kendaraan sendiri. Selama 3 bulan pertama hampir tidak ada halangan dan hal – hal mengerikan buatku seperti di 2 tempat kerja sebelumnya. 6 bulan melihat prestasi kerjaku, aku langsung diangkat menjadi karyawan tetap dengan fasilitas mobil tetapi dengan syarat target penjualan baru yang 3 kali dari awal kerja. Kembali pikiranku hanya berpikir pendek, posisi mobile ditunjang dengan fasilitas mobil, pastilah bisa kuraih.

Sampai akhirnya 2 bulan pertama aku tidak bisa mendekati target penjualan yang diinginkan. Aku pun mencoba belajar dari para sales senior bagaimana mereka bisa mendapat target yang diinginkan pemilik modal. Kebanyakan dari mereka memanglah pekerja yang sangat giat, tetapi kembali aku pun menemukan ujian, wilayah abu – abu yaitu sogok menyogok sebagai pelancar sering dilakukan mereka. Mereka berpendapat jika hal itu dilakukan dalam dasar suka sama suka, maka hal itu diperbolehkan asal nilai pokok yang diinginkan pemilik modal tetap terpenuhi. Allohu Akbar. Dengan sekuat tenaga aku menjauhi perkara itu, dengan jalan keluar aku lebih giat dalam menjual dengan mengambil Sabtu – Minggu sebagai hari kerja juga.

Hal ini masih mencapai 70% dari target yang ada. Kembali otakku berpikir, waktu kerja shift II (sampai pukul 11 malam) kujalani juga. Memang hal itu menaikkan sisi targetku sampai 125% target pribadi dan 100% target produk, bahkan pimpinanku memujiku di hadapan sales dan karyawan lainnya untuk menyamaiku. Bonus insentif dan posisi “employee of the year” kudapatkan.

Alhamdulillah, Alloh SWT., memanglah selalu mempunyai cara untuk mengingatkan setiap hamba – hamba-Nya akan keberadaan-NYA. Betapa  hari – hari sembah sujudku yang sering kulakukan dulu, malah sering kulakukan dengan menjama’ atau mengqoshor. Kecelakaan di daerah jalur Pantura menghancurkan setengah bagian depan mobilku, tetapi Qodarulloh, aku selamat dari kecelakaan itu tanpa lecet sekalipun. Perdebatan dan emosi berkecamuk ketika aku kembali memutuskan resign. Boss-ku marah luar biasa dengan beralasan siapa yang akan mengganti biaya kerusakan mobil. Begitupun Ayahku, marah luar biasa meledak ketika motor matic milikku kujual untuk menutupi biaya perbaikan mobil yang hancur.

***

Kini, hari – hariku dipenuhi canda tawa generasi penerus Islam saat ini. Ya, PAUD adalah tempat kerjaku saat ini. Hanya berjarak sekita 500 meter dari rumahku. Namun ketahuilah saudariku akhwat muslimah fillah, inilah bentuk rasa syukurku kepada Alloh SWT., dan kedua orang tuaku. Aku menjaga dan menjauhkan diriku dari pekerjaan yang membuatku bermaksiat kepada-NYA dan kepada kedua orangtuaku. Tiada ikhtilat, tabarruj, pandanganku dan mereka terjaga, hijab fisikku masih bisa dengan istiqomahnya kupakai, juga hak – hak keluargaku masih bisa kupenuhi. Masalah gaji dan kedudukan? Ah, semua itu telah ditulis-NYA di Lauh Mahfudh, 50 ribu tahun sebelum DIA menciptakan alam semesta ini dan seisinya. Bertakwalah dan istiqomahlah. Kampung akhirat itu selalu lebih baik dan kekal adanya.

***

Subhanalloh…subhanalloh wa bihamdihi.

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on 8 September 2012 in Muslimah

 

2 responses to “Iffah Seorang Akhwat

  1. Aziz

    18 October 2013 at 8:19 PM

    Allahu Akbar, qul amantu billahi stumasaqim

     
  2. cak rynem

    9 September 2012 at 1:17 PM

    tulisannya keren

    postingannya ringan dibaca..:)
    semangat terus untuk menulis

    salam kenal
    saya rynem
    kalau berkenan silahkan mampir ke blog ku……
    folloback juga ya buat nambah temen sesama blogger,,
    kalau mau tukeran LINK silahkan
    salam blogger

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s