RSS

Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 4 – 2

24 Jun

Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 4 – 2

Ustadz Armen Halim Naro

(Sambungan dari Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 4 – 1)

 Asma-Hanif

Selanjutnya kita bahas tentang penamaan yang ada anjurannya dalam Islam, yaitu Ahlus Sunnah wal jama’ah dan salaf.

4.2.1. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Arti Ahlus sunnah wal jamaah dalam bahasa kita adalah penganut/ pemilik Sunnah dan orang yang mengikuti jamaah. Sunnah yang dimaksudkan adalah jalan dan gaya hidup yang dilakoni oleh Rosululloh berarti ia adalah Islam yang sebenarnya yang diturunkan oleh Alloh SWT melalui Jibril. Dan jamaah yang dimaksud adalah jamaah yang mengikuti kebenaran dari para sahabat Rosul yang mulia dari orang-orang Muhajirin dan Anshor.

Berkata Imam Al-Barbahari: “Ketahuilah, sesungguhnya Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam, tidak akan berdiri salah satunya kecuali dengan saudaranya, dan dari sunnah berpegang teguh dengan jamaah (yaitu para sahabat). Barang siapa yang benci jamaah dan meninggalkannya berarti ia telah menanggalkan Islam dari pundaknya, dan berarti ia telah sesat dan menyesatkan.” (Syarhus Sunnah Hal. 21)

Dari Anas bin Malik berkata, “Telah bersabda Rosululloh SAW., “Sesungguhnya umatku akan berpecah belah menjadi 72 golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan yaitu jamaah.” (Ibnu Majah 2/1322 No. 3993, Ibnu Abi ‘Ashim di Sunnah 32/64 dan hadits dishahihkan oleh Al-Albani di Zhilalul Jannah Hal. 33)

Dari pengenalan singkat terhadap makna Ahlus sunah, setiap orang yang mengikuti Islam yang benar berarti ia adalah Ahlus sunnah. Dan sebaliknya, mencamplok nama Ahlus sunnah dan menempelkannya kepada kelompok metode dan pengajaran menyelisihi Sunnah serta keluar dari jamaah, maka hal ini adalah tindakan yang tidak benar dan perlu diwaspadai. Seperti pernyataan banyak orang bahwa Asy`ariah atau Maturidiah sebagai Ahlus sunnah wal jamaah, padahal tidaklah sah secara tekstual dan kontekstualnya kalau mereka disebut Ahlus Sunnah karena dari pengajaran dan pemahaman mereka yang bertentangan dengan Sunnah dan jamaah sahabat.

4.2.2. Salaf

Penamaan salaf atau orang menisbatkannya dikenal dengan salafi yaitu orang yang mengikuti Salafus shalih. Dan Salafus shalih adalah orang yang telah terdahulu dari zaman yang telah disucikan oleh wahyu kenabian dari kalangan para sahabat dan tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Berarti penamaan Salaf dan Ahlus sunnah adalah nama lain dari Islam itu sendiri, tidak lain dan tidak bukan!! Sebuah penamaan yang dibutuhkan oleh seorang muslim sebagai bukti ia telah siap masuk ke dalam gerbong pembaharuan Islam, telah siap merubah dirinya kepada ajaran yang bersumberkan mata air yang murni dari Islam.

Sebagai muslim yang sebenarnya, tentu akan berbeda dalam cara beragama dengan orang-orang sekitarnya, perbedaan itu dikarenakan pengambilan Islam yang ia ambil berbeda dengan Islam yang mereka ambil. Ia mengambil Islamnya dari mata air kedua wahyu, sedangkan mereka mengambil Islam mereka dari tradisi dan adat istiadat atau sampah akal dan karat perasaan, berkarat karena telah lama terendam dalam lingkungan yang tidak baik dan bertumpuknya dosa dan maksiat.

Berarti ia butuh pembedaan diri, bahwa Islamnya berbeda dengan para pendakwa Islam… Berarti ia tidak mau disamakan… Bagaimana ia disamakan, sedangkan Alloh SWT telah membedakan dan telah mengangkatnya… Ia berhak untuk mengatakan dirinya Ahlus Sunnah atau dirinya salaf di tengah masyarakat Islam yang telah melenceng, sebagaimana dahulunya para panutannya juga mencabik dada dan berani menyatakan diri mereka Islam di tengah para pengikut ajaran hanif Ibrahim AS, yang telah diselewengkan.

Ini dalam segi penamaan, akan tetapi dalam segi praktek dan realitanya maka selagi seorang muslim itu telah punya upaya menerapkan Islam yang dibawa oleh Rosululloh pada dirinya, keluarga dan masyarakatnya, telah berusaha untuk tunduk dan patuh di bawah perintah telunjuk syariat, tanpa ada perlawanan dan pembangkangan berarti ia telah salaf. Jika ia telah kembali membuka dan mentelaah Al-Quran dan Sunnah Nabi, juga telah membuka sejarah indah para sahabat, dan berusaha mempraktekkan kehidupan mereka ke dalam kehidupannya berarti ia juga pengikut Ahlus Sunnah dan berarti juga ia telah mengikuti gerbong kafilah umat yang terbaik. Baginya kabar gembira sebagaimana bagi orang-orang pendahulunya dari kalangan sahabat dan tabi’ in.

Karena ia telah bergabung dengan Thaifah manshurah (kelompok yang dimenangkan)… karena ia telah diterima sebagai Firqah Najiah (kelompok yang selamat) …karena ia telah mendapat penghargaan al-ghuraba1 (orang-orang yang terasing), thuba-lah untuknya, berbahagialah dirinya…

4.2.3. Keistimewaan Salaf

Penyindirian salaf dalam keistimewaan dan keutamaan merupakan bukti dan jaminan penjagaan Alloh terhadap ajaran Islam itu sendiri, ia berbeda dengan sisa kelompok-kelompok sempalan Islam yang lainnya. la satu di tengah 72 kelompok, dan ia masuk surga ketika yang lainnya di neraka, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rosululloh SAW.

Keistimewaan sekatigus menjadi karakter manhaj salaf, diantaranya; keotentikan sumber pengambilan dan dasar hukum, sesuai dengan fitrah, jelas dan gamblang, tidak saling kontradiksi dan jauh dari kerancuan, utuh dan kokoh sepanjang zaman dan pada semua kondisi, sebagai pemersatu dan perpecahan, buhul dan keberserakan, mata rantai yang tidak terputus dari generasi ke generasi dan yang lainnya.

Kita ambil satu atau dua keistimewaan tersebut, dan kita coba menguraikan benang-benangnya dan merentangkan di atas tikar kenyataan, semoga berkehendak pula bagi yang membaca memesannya atau mungkin berminat pula untuk ikut serta dalam menegakkannya, tentu baginya kebahagiaan dan surga.

4.2.4. Silsilah dan Asal Usul Salaf Yang Sampai Kepada Rosululloh

Seperti orang yang hendak mengetahui muara sungai, tentu ia akan ikuti dari anak sungai awal dimana ia berada, lalu mengikutinya ke atas dan sampailah ia ke muara sungai itu. Jika sungai itu bening, bening pula air muaranya, sebaliknya jika sungai itu keruh berarti bisa saja keruh itu berasal dari muaranya. Tentunya bagi orang mau yang meneliti sebuah pemahaman atau sebuah ajaran, seharusnya begitu juga ia berbuat, ia selidiki, ia teliti lalu barulah terungkap baginya permasalahan, berarti telah nyalang pula matanya.

Semua yang pernah terjun dalam dunia firqah-firqah, tentu ia tahu bahwa setiap ajaran mempunyai asal-usul. Luar biasanya, ajaran salaf satu-satunya ajaran yang asal-usulnya bertemu dengan lslamnya Rosululloh SAW. Berbeda dengan lainnya, silsilah dan ranji mereka melenceng sehingga bertemu di pengajaran agama lain atau pemahaman yang jauh dari Islam.

Itu yang dimaksud dalam sabda beliau yang diriwayatkan imam Ahmad, dari Abdullah bin Mas’ud RA. Suatu kali Rosululloh membuat sebuah garis, lalu beliau bersabda, “Ini adalah jalan Alloh”, lalu ia mebuat garis-garis di sebelah kanannya dan sebelah kirinya dan bersabda, “Dan ini jalan-jalan yang berpencar-pencar, setiap jalannya ada syaithon yang menyerunya, lalu beliau bersabda: “…Inilah jalan-Ku yang Iurus maka ikutilah, dan janganlah ikuti jalan-jalan yang banyak, niscaya kalian akan bercerai dari jalanNya... (Q.S. Al-An’am (6): 153) – [HR. Ahmad]

وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَٰ طِى مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ  السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ  ذَٰ لِكُمْ وَصَّـٰكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٥٣)

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah jalan ini, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya, yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al – An’am (6): 153)

Sebutlah ajaran tasawuf misalnya, maka setelah diselami hakikat dan tujuannya, cara ritual dan pengajarannya, kiranya tasawuf bermuara kepada pengajaran semua agama. Dia adalah hasil perkawinan silang dari semua ajaran, sehingga lahirlah tasawwuf2. Begitu juga ajaran dan pemahaman filsafat dari orang-orang yang menamakan dirinya filosof Islam, seperti Ibnu Sina, Farabi, Ibnu Rusyd. Setelah diselami hakikat dakwah mereka, maka kita dapatkan bahwa ranji dan silsilah ajarannya berujung kepada pengajaran Aristoteles, Plato dan sebagainya dari filosof Yunani.

4.2.5. Silsilah salaf

Fase Pertama: Masa KeNabian

Masa ke-Nabian adalah masa ketika Nabi SAW masih hidup, dan beliau sebagai sumber syariat yang diturunkan oleh Alloh SWT melalui Jibril AS. Beliau mengajarkan dan mentarbiyah para sahabat diatas Islam yang jernih tersebut, dan berakhir dengan wafat beliau pada tahun 12 H.

Fase Kedua: Masa Para Sahabat

Mereka adalah seluruh para sahabat Nabi yang telah melihat beliau dan beriman dengan beliau dan meninggal dalam Islam. Yang terdepan dari mereka adalah Khulafaur rasyidin, para sahabat yang ikut perang Badar, para sahabat yang ikut baiat Ridhwan dan para sahabat yang ikut Fathu Makkah.

Fase Ketiga: Masa Tabi’in

Mereka adalah para tabi’ in, seperti Urwah bin Zubair, Rabi’ bin Khustaim, Atha’ bin Abi Rabah, Uwais al-Qarni, Said bin Musayyab, Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ ud, Muhammad bin Hanafiah, Hasan Basri, Ikrimah Mauta Ibnu Abbas, Muhammad bin Sirin, Omar bin Abdul Aziz, Muhammad bin Syihab Az-Zuhri. Mereka adalah orang yang mengambil agama dan menyauk ilmu dan para sahabat Nabi, dan pemuka fase ini adalah: Atha’ bin Rabbah, Said bin Musayyab, Hasan Al-Basri.

Fase Keempat: Tabi’ut Tabi’in

Mereka antara lain adalah Malik bin Anas, Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Laits bin Sa’ad Rohimahumulloh.

Fase Kelima

LaIu dari kalangan Tabi’ Tabi’ Tabi’ in, seperti; Abdullah bin Mubarak, Waki’ bin Jarrah, As-Syafi’i, Abdurrahman bin Mahdi dan Yahya Al-Qathakan.

Fase Keenam

Lalu murid-murid mereka, seperti Bukhari, Muslim, Abu Hatim Ar-Razi, Abu Zur’ ah Ar-Rani, At-Tirmidzi, Abu Daud dan Nasa’i Rohimahumulloh.

Fase Ketujuh

Kemudian alim ‘ulama yang mengikuti jejak mereka setiap generasi, seperti; Ibnu Jarir At-Thabari, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Qutabah Ad-Dainuri, Khathib Al-Baghdadi, Ibnu Abdil Barr, Ibnus Sholah, Syaikhul Islam Ibnu Taymiah, Ai-Minni, Az-Zahabi, Ibnul Qayyim, Ibnu Muflih, Ibnu Rajab, Ibnu Katsir dan Ibnu Abdil Hadi.

Fase Kedelapan

Pembaharuan yang dilakukan setelahnya seperti, Ibnu Hajar, Syaukani Shiddiq Hasan Khan, As-Shan’ani.

Fase Kesembilan

Pembaharuan yang dilakukan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab dan murid-muridnya, sampai pada masa kita sekarang ini, seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Al-Albani.

4.2.6. Sesuai Dengan Fitrah dan Akal Yang Sehat

Fitrah yang lurus dan akal yang sehat adalah anugerah Alloh , sebagaimana al-Quran dan Sunnah yang tidak lain dia adalah keislamannya Rosululloh dan parasahabatnya adalah rahmat Alloh juga. Jika halnya demikian, berarti tidak akan terjadi pertentangan dan perbedaan, ia bagaikan dua cahaya yang bertemu pada satu titik yang mengantarkan seseorang kepada jalan shiratul mustaqim. Alloh berfirman:

…وَ لَوْ كَا نَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَ جَدُ واْ فِيهِ اخْتِلَـٰفًا كَثِيرًا (٨٢)

Kalau kiranya AlQuran itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. (Q.S. An-Nisa: 82)

Para ulama berkata, “Akal yang sehat tidak akan bertentangan selamanya dengan nash yang shahih. Pertentangan yang terjadi, tidak lain hanya disebabkan dua hal, kalau tidak akalnya yang tidak lurus dan sehat atau nashnya yang tidak shahih. Akan tetapi katau cara berpikirnya benar dan nashnya shahih, maka tidak akan ada pertentangan selamanya.

Syaikhul Islam berkata: “Ketahuilah, tidak ada akal sehat maupun naql (teks) shahih yang mengantarkan kepada penyelisihan metode salaf.3

Beliau juga berkata, “Sesungguhnya akal sehat tidak akan bertentangan dengan naql shahih, sebagaimana apa yang diambil dari pengajaran para Nabi tidak bertentangan satu sama lain. Hanya banyak orang yang menyangka bahwa hal itu saling bertentangan dari kalangan orangorang yang berselisih dalam kitab, dan orang-orang yang berselisih dalam kitab dalam perpecahan yang dalam. Semoga Alloh memberikan kepada kita jalan yang lurus, jalan orangorang yang diberi nikmat dari kalangan para nabi, para shiddiq, syahid dan orang-orang yang shalih dan mereka sebaik-baik persahabatan”4

Penulis berkata, “Amin! Ya Alloh perkenankanlah dan mustajabkan, susulkan kami dengan mereka tersebut, tetapkan kami di jalan mereka di saat banyaknya kaki-kaki tergelincir. Begitulah, bahwa pemahaman salaf adalah pemahaman fitrah dan ajaran semua Rosul!! Orang yang menyelami pengajaran salaf sejara jujur dan melihat salaf dari dalam secara objektif, maka ia akan dapatkan keteduhan, kedamaian dan ketenangan, seperti teduhnya sebuah danau tatkala pagi menyapa atau ia bagaikan mata air yang bening di tengah hutan yang hening. Percayalah!! Sebagaimana yang disebutkan oleh hikmah Arab, “Penunjuk jalan tidak akan membohongi perjalanannya.

[Bersambung Insya Alloh…]

Catatan – catatan kaki:

  1. Diambil dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh RA; Dari Abu Hurairoh RA.,, berkata, ‘Telah bersabda Rosululloh SAW., “Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing, maka Thuba-lah bagi orang-orang yang terasing.” [HR. Muslim 2/152 No. 232-(145)]
  2. Hakikat ini diungkapkan oleh seorang pakar firaq Dr. Ihsan Ilah Zhahir –rahimahullah- dalam kitabnya “At-Tasawwuf Al-Mansya’ Wal Mashadir”, silakan lihat hal. 49-79.
  3. Majmu’ Fatawa 5/28.
  4. Ibid 7/665.
Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 24 June 2012 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s