RSS

Qur’an – Obat Penyakit Qolbu Bag. 2

10 Jun

Qur’an – Obat Penyakit Qolbu Bag. 2

Pentingnya Menjaga Qolbu

[Sambungan dari Qur’an Obat Penyakit Qolbu Bag. 1]

Ayyuhal Ikhwah, sebelum dibahas mengenai pengobatan penyakit qolbu yang dapat disembuhkan dengan menjalankan syari’at Islam yang tertuang dalam Al – Qur’an, ada baiknya kita membahas urgensi untuk menjaga qolbu. Ada beberapa hal yang membuat kita harus menjaga kesehatan Qolbu.

1. Qolbu merupakan bagian yang paling dilihat oleh Alloh SWT.

Fisik yang rupawan? Mobil yang mewah? Rumah yang besar? Tabungan yang banyak? Itu semua adalah pandangan, status sosial yang sering dibuat oleh manusia, berdasarkan pemikirannya. Harus kita ingat bahkan bisa ditemui para residivis kambuhan, yang sering keluar masuk lembaga permasyarakatan, berperawakan rupawan, sehat dan lainnya.

Dari Abu Hurairoh RA., Rosul SAW bersabda:

“Sesungguhnya Alloh tidak akan melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, akan tetapi Alloh hanya melihat kepada Qolbu dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Bagian yang paling  mulia dari manusia adalah qolbunya, karena qolbu-lah tempat tertujunya perhatian Alloh ‘Azza wa Jalla kepada manusia, juga tempat menancapnya iman dan hal – hal yang berkaitan dengan iman.

Alloh SWT., telah berfirman:

يَـٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَ ٰرِى سَوْءَ ٰتِكُمْ وَرِيشًا  ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ… (٢٦)

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik…” (Q.S. Al A’raaf (7): 26).

Ayyuhal Ikhwah, fungsi utama pakaian adalah menutupi aurot, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa aurot itu bukanlah hanya aurot fisik, tetapi juga adanya aurot qolbu. Jika aurot fisik tersingkap, masih ada pakaian fisik untuk menutupinya. Bagaimana jika aurot qolbu tersingkap? Hanya keimanan dan ketakwaan-lah yang bisa menutupinya.

2. Amalan Qolbu mencerminkan Amalan Fisik.

Sholehnya amalan yang diamalkan anggota badan tergantung dari amalan hati. Dalam sebuah hadits qudsi, dari Abu Dzar Al Ghifari RA., Rosul SAW., bersabda:

“Wahai hamba-hamba-KU, seandainya seluruh makhluk diantara kalian dari awal sampai akhir, memiliki sebaik – baik qolbu manusia (qolbunya Nabi SAW), maka hal itu tidak menambah kekuasaan-KU sedikitpun. Wahai hamba-hamba-KU, seandainya seluruh makhluk diantara kalian dari awal sampai akhir, memiliki seburuk – buruk qolbu (qolbunya Iblis), maka hal itu tidak mengurangi kekuasaan-KU sedikitpun.”

Lihat hadits qudsi di atas, Alloh SWT., hanya menyebutkan qolbu saja, tidak disebutkan fisik kita.

Dalam penggalan sebuah hadits yang panjang, yang menerangkan tentang syubhat, Rosul SAW bersabda yang diriwayatkan dari Abu Abdullah An-Nu’man bin Basyir RA:

“…Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal darah jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah qolbu-jantung (HR. Bukhori dan Muslim).

Kita ambil contoh. Lihatlah para muslimah yang masih belum sadar akan kewajiban untuk menutup aurot fisik sesuai syari’at. Contoh lain adalah orang – orang yang masih juga masih belum melaksanakan salah satu rukun Islam. Beberapa di antara mereka berkata:

“Ah, yang penting itu kan bagaimana hatinya!”

Pernyataan ini memang benar, semua itu bagaimana qolbunya. Tetapi mungkin mereka itu lupa, kalau memang qolbu mereka baik mengapa tidak sholat? Kalau memang qolbu mereka baik mengapa masih minum khomr? Kalau memang qolbu mereka baik mengapa tidak shoum wajib? Kalau memang qolbu mereka baik mengapa mereka masih belum mau berhijab sesuai syari’at? Masih juga bisa menjawab: “Lebih baik menghijabi qolbu dulu.”

“Na’udzubillahi min dzalik.”

Dari Anas bin Malik RA., Rosul SAW., bersabda:

“Tidak akan istiqomah iman seorang hamba, sebelum istiqomah qolbunya.” (HR. Ahmad)

Apa hubungannya dengan hadits di atas? Adalah perkara yang bukan tidak mungkin untuk menaikkan amal ibadah itu, tetapi apakah minimal seseorang bisa istiqomah untuk melaksanakan shoum sunnah dalam satu minggu begitupun waktu seterusnya? Bisakah seorang muslimah tetap berhijab sesuai syar’i dalam kondisi dan waktu apapun? Tidaklah boleh dilupakan bahwa manusia itu terkadang ingin selalu istiqomah di jalan-NYA, tetapi situasi dan kondisi aktual terkadang sering membatasi. Seperti contohnya ingin tetap melaksanakan shoum sunnah, tetapi dia harus melakukan kerja fisik yang sangat berat pada hari itu, kemudian mengingat maslahat dan mudhorot, akhirnya dia memutuskan untuk berbuka pada hari itu.

3. Qolbu Sering Berubah Dengan Cepat.

Bisa jadi pada sepertiga malam terakhir kita melaksanakan qiyamul lail, tetapi pada siang harinya kita melakukan perbuatan dosa baik disengaja maupun tidak. Contoh lain pada suatu waktu kita sampai meneteskan air mata ketika tilawah Qur’an, tetapi setelah selesai tilawah malah menonton acara idola musik dan gosip. Sekali lagi ingatlah, istiqomah menjaga qolbu adalah perkara yang sulit, namun hal ini harus terus diasah sedikit demi sedikit.

“Tidaklah dinamakan qolbu karena ia (selalu) ‘Taqollub’ (berbolak – balik/ berubah – ubah). Perumpamaan hati itu bagaikan bulu yang ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin.” (HR. Ahmad)

Sering – seringlah bermunajat kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, sebagaimana dalam surat Ali Imron, Alloh SWT., telah mengabadikan do’a seorang hamba-NYA yang ‘alim:

رَبَّنَالَاتُزِغْ قُلُوبَنَابَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَامِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (٨)

“Ya Robb kami, janganlah Engkau jadikan (qolbu) kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. (Q.S. Ali Imran (3): 8)

4. Qolbu Tempat Fitnah Tertuju.

Fitnah yang dihembuskan oleh syaithon, umumnya tidak akan menyerang dari hal – hal yang besar, melainkan dari hal – hal kecil ataupun bahkan fitnah besar dianggap kecil.

Dari Hudzaifah Al – Yamani RA., Rosul SAW., bersabda:

“Fitnah tersodorkan ke dalam qolbu seperti ternodanya tikar sehelai demi sehelai. Qolbu mana saja yang menyerap fitnah itu, maka qolbu itu akan ternoda dengan noda hitam, tapi Qolbu mana saja yang mengingkari fitnah itu, maka qolbu itu akan tetap dalam keadaan putih sampai qolbu itu akan kembali ke 2 macam hati.”

Selama hidup kita, fitnah itu akan selalu menerpa kita, baik dari internal maupun eksternal yang dapat menjerumuskan kita dalam kebinasaan. Apa akibatnya? yang paling gampang adalah seringnya kita untuk menerima hal – hal dengan segalanya terbalik, dari yang ma’ruf menjadi mungkar dan sebaliknya.

Mulailah penyakit itu menjalar, dimulainya pemikiran ghurur, yang haram dianggap tidak ada masalah asal tidak terlena. Tengoklah penyakit kangker, awalnya hanya menyerang di satu tempat di satu bagian organ tubuh kita, tetapi karena didiamkan saja akhirnya menjalar ke samping terdekat dan akhirnya bisa menuju organ lainnya.

Apa yang bisa terjadi? Ajaran Islam akan disesuaikan menurut hawa nafsunya saja. Tawar – menawar atau bahkan menolak firman Alloh SWT., ataupun sunnah Rosul SAW. sifat menghakimi menurut diri sendiri ini, luar biasa, akan menyebabkan hancurnya qolbu. Lahirnya syubhat, syahwat, maksiat , bid’ah, akan lahir dari sifat seperti ini.

5. Amalan Fisik tergantung Kondisi Qolbu.

Lihatlah para penonton olahraga sepakbola, baik langsung di stadion ataupun di depan tv. Luar biasa, seluruh emosi tercurah demi membela tim kesayangannya. Tidak perduli berapapun uang keluar, ataupun tidak perduli waktu yang tersita. Sekali lagi lihatlah, bagaimana mereka bisa sangat serius, bisa sangat khusyu’, yang bahkan pencopet mengambil dompetnya tidak akan terasa ketika bola sudah hampir mendekati gawang, lihatlah berapa nyamuk yang sedang mengitari kepalanya, lihatlah bentol – bentol akibat gigitan nyamuk di kulit mereka. Seluruh emosi dalam dada mereka begitu tumpah demi membela tim kesayangannya.

Lalu, bagaimana dengan ibadah fisik kita? Bisakah hanya dengan surat Al – Fatihah di tiap sholat kita sampai bisa meneteskan air mata? Akuilah hal ini. Itulah Alloh SWT., telah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (١) الَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَـٰسِعُونَ (٢) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (٣)

Sesungguhnya beruntunglah orang – orang yang beriman. (Yaitu) orang – orang yang khusyu’ dalam sholatnya. dan orang – orang yang menjauhkan diri dari perkataan yang tiada berguna.” (Q.S. Al – Mu’minuun (23): 1 – 3)

Alloh SWT., dalam ayat di atas, telah memberi contoh dengan menyebut para Muflihun (orang – orang yang beruntung), adalah orang – orang yang bisa khusyu’ dalam sholatnya. Ya, betapa tidak, tidak hanya sholat yang khusyu’ yang bisa membuat neraca amal kebaikan kelak akan bertambah, karena emosi dalam dada selalu tercurah ketika ibadah fisik kita lakukan, bukankah memang sangat susah untuk bisa meneteskan air mata ketika sholat? Terutama pada surat ataupun ayat yang mengingatkan kita akan hari akhir yang kekal kelak.

Semoga artikel singkat ini bisa mengingatkan kita semua akan urgensi untuk tetap menjaga kondisi qolbu setiap waktunya, terutama di masa – masa sulitnya membedakan antara yang haqq dengan yang bathil.

“Yaa Muqollibal Quluub, Tsabbit Qolbi ‘Ala Diinika!”

[Wahai Pembolak – balik Qolbu, tetapkanlah Qolbu kami kepada Agama-MU!]

Wallohu A’lam, billahit taufiq.

[Bersambung, Insya Alloh…]

Rujukan:

– Kitab “Mawaridul Aman Al-Muntaqa min Ighatsatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan” – “MANAJEMEN QOLBU: Melumpuhkan Senjata Syetan”, karya Ibnul Qoyyim Al – Jauziyyah.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 10 June 2012 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s