RSS

Percakapan Yang Aneh

01 Jun


A: “Kalau menurut anda, konser Lady Gaga kemarin mendukung atau menolak?”

B: “Saya jelas menolak.”

A: “Kenapa? Toh di mana – mana masih banyak tuh konser dangdut yang baju dan goyangnya ga kalah heboh!”

B: “Jangankan Lady Gaga, mau SuJu, penyanyi lagu ber-lirik Islam ataupun Nasyid juga saya menolak!”

A: “Hah? Bahkan Suju, penyanyi lagu lirik Islam ataupun Nasyid juga ditolak? Kenapa pula?”

B: “Ya sudah jelas di dalam sebuah hadits Rosul SAW., menyebutkan bahwa zina, sutera, minuman keras dan musik itu haram hukumnya!”

A: “Loh kok haram? Kan syair dan liriknya mengagungkan Alloh, juga mengingatkan kita akan Alloh?”

B: “Iya, soal lirik dan syair kebanyakan “musisi Islam” maupun Nasyid memang mengingatkan kita akan Alloh, tapi Alloh SWT., dan Rosul-NYA telah mengharamkan berarti haram! Lagipula peringatan Alloh SWT., di Al – Qur’an malah tidak diperhatikan.”

A: “Niatnya baik, kok!”

B: “Yang tahu baik dan buruk bagi setiap hamba, ya… yang menciptakan semua hamba – hamba, kan?”

A: “Apa yang salah berdakwah dengan cara musik?”

B: “Saya ambil contoh, beberapa waktu lalu ada musisi luar negeri yang berdakwah lewat lagu, ingat?”

A: “Ya, saya ingat. Katanya konsernya laris dipadati kaum muslimin di negeri ini.”

B: “Kira – kira ingat harga tiketnya berapa?”

A: “Ah, saya tidak tahu. Tapi fair lah harga tiket mahal untuk mendapat siraman rohani dari lagu bernafaskan Islam dari dia.”

B: “Saya pun tidak tahu harganya berapa, tapi pastinya mahal ya? Tetapi saya melihat sisi lain dari konser tersebut, tidak perlu menyebut atau membahas uang penjualan tiket yang mahal itu untuk dipergunakan di jalan Islam.”

A: “Apa itu?”

B: “Ikhtilat dan tasyabuh yang terjadi! Belum lagi para muslimah keluar dari rumahnya tanpa keperluan sesuai koridor syar’i tanpa didampingi mahromnya.”

A: “Wah, anda berpikiran terlalu jauh. Niat seseorang kan berbeda – beda, memang anda tahu kalau mereka berniat untuk ikhtilat? dan tasyabuh? Anda harus ingat bahkan ada Sunan yang menyebarkan Islam di nusantara ini dengan kesenian dan alat musik.”

B: “Wallohu A’lam, isi hati manusia saya tidak tahu. Namun, seharusnya kita sebagai ummat Islam mencukupkan diri untuk membatasi diri dengan koridor dari Alloh ‘Azza wa Jalla dan contoh dari Rosululloh SAW. Perkara Sunan? Ya, sejarah memang mencatat Islam di negeri ini penyebarannya “dibantu” oleh salah seorang Sunan dengan cara kesenian. Namun, maaf…sebaik – baik contoh itu adalah Rosululloh SAW. Kalau seseorang berkata tentang kebenaran dan hal itu sesuai dengan Qur’an dan Sunnah ya kita ikuti, sebaliknya ya mari kita luruskan dan jangan diikuti. Lalu coba perhatikan apabila penyanyinya adalah seorang muslimah, wah kira – kira dia bisa tidak untuk membendung para “fans berat” terutama para kaum pria, kan bisa menebar fitnah ya? Ingat tidak ada kompetisi boyband dan girlband yang akhirnya finalisnya bahkan para muslimah abege yang berhijab fisik setengah hati, yang masih terlena akan ketenaran.”

A: “Loh, cara itu bahkan lebih diterima kan? Terutama di pulau Jawa saat itu, budaya dan adat istiadat dipengaruhi agama lain, bahkan terbawa – bawa sampai sekarang. Saya pikir asimilasi antara budaya dan agama yang harmonis sekali.”

B: “Saya mengutip perkataan salah seorang Imam Mazhab: ‘Saya ini hanyalah manusia biasa, kadang salah kadang benar. Kalau yang saya lakukan itu benar sesuai dengan Qur’an dan Sunnah silahkan ikuti, sebaliknya jika saya salah maka ingatkan saya dan jangan diikuti (perkara yang salah tersebut).’ Wallohu A’lam, saya lupa redaksional kata – katanya kira – kira seperti itu.”

A: “Kalau Adzan untuk sholat? Itu kan seperti syair juga? Hanya bedanya tidak dinyanyikan.”

B: “Ya beda, lah. Adzan termasuk perihal sunnah yang tergolong taqrir. Taqrir itu perkara yang dilakukan oleh para sahabat di masa Rosul SAW., ketika hidupnya, tetapi Rosul SAW., tidak menyalahkan dan tidak mengharamkannya, kira – kira seperti itu. Adapun adzan, sahabat Bilal RA., yang pertama kali mengumandangkannya.”

A: “Ah, Islam versi anda itu membingungkan dan cenderung menyusahkan.”

B: “Loh, membingungkan itu karena kita belum tahu, atau belum siap dan kadang tidak sesuai dengan akal dan qolbu. Menyusahkan? Masih terlalu bias menyebutkan begitu. Kalau perkara ibadah, ya setiap Raja saja punya “protokoler” sendiri, masa kita mau buat “protokoler” sendiri? Coba liat kaum yang mengangkat Nabiulloh Isa AS., mereka juga ada ritual puasa, tapi coba pikirkan…bagaimana tuntunan dan cara mereka berpuasa? Apakah ada informasi jelas tentang sahur dan kapan waktu berbuka? Tidak selengkap dan sejelas kita ummat Islam, kan?”

A: ….

B: “Boleh gantian bertanya?”

A: “Boleh, silahkan.”

B: “Kalau menurut anda, apakah kira – kira orang – orang di luar agama ini, asal berbuat baik, bisa masuk surga? Tidak perlu beragama Islam untuk masuk surga singkatnya.”

A: “Ya kalau menurut teman – teman saya yang beragama lain, mereka menjawab iya.”

B: “Uhm, kalau menurut anda sendiri?”

A: “Ya mereka tidak perlu beragama Islam dan menjalankan syariat Islam untuk masuk surga, toh kebaikan dan kebenaran itu bukan hanya milik ummat Islam. Secara saya sendiri pun Islam turunan.”

B: “Hah? Anda Islam turunan?”

A: “Iya, saya dilahirkan dari kedua orang tua yang beragama Islam, makanya saya beragama Islam, tidak seperti mereka. Kenapa bertanya begitu?”

B: “Alhamdulillah kalau saya bukan Islam turunan, biarpun kedua orang tua saya beragama Islam. Karena apa? Karena setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitroh, fitrohnya adalah Islam, yaitu bertauhid pada satu yaitu kepada Alloh SWT.”

A: …

B: …

A: “Ah, pusing lah.”

B: “Sama, pusing juga.”

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 1 June 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s