RSS

Jalan Kaum Yang Terasing

17 May

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Sekitar lebih kurang 600 tahun, tidak ada Nabi yang diutus-NYA setelah Nabiulloh Isa AS., diangkat-NYA ke langit. Kurun waktu yang sangat lama, lebih dari cukup untuk membuat sebuah dinasti pemerintahan ataupun sebuah peradaban. Tetapi yang terjadi adalah terbentuknya sebuah peradaban jahiliyah, tiada aturan, adapun aturan dan petunjuk Alloh SWT., melalui Nabi yang telah diangkat-NYA ke langit diselewengkan menurut kemauan hawa nafsu sendiri.

Hingga datanglah Nabi terakhir yang menjadi kekasih-NYA, seorang Nabi yang dijaga-NYA dari perbuatan dosa dari semenjak kecilnya. Seorang Nabi yang subhanalloh, begitu tersiksa melihat kelakuan bejat kaumnya sendiri, sehingga beliau lebih sering menyendiri di gua Hiro’ untuk menjauhi efek negatif kaumnya, hingga akhirnya Jibril diutus-NYA untuk memberinya amanah sebagai penyampai risalah-NYA yang paripurna. Dienul Islam, Dienul Qoyyimah.

Ayyuhal Ikhwah. Masih kita ingatkah saat – saat itu? Ketika akhirnya Alloh SWT., menunjukkan jalan-NYA yang lurus bagi kita, satu – satunya jalan yang diridhoi-NYA. Cara dan jalan yang dipilih-NYA untuk mengingatkan kita, terkadang melalui musibah baik sakit atau kecelakaan, kehilangan sanak saudara, orang – orang yang dicintai, kehilangan harta, ataupun nyaris mendekati maut. Terkadang kita tidak mau mengingat hari – hari itu, karena akan membuat kita sedih, perih atau lelehan air mata mengalir kembali.

Sadarkah bahwa Alloh SWT., telah menunjukkan bahwa semua yang ada di dunia ini fana? Dan tetap kekal-lah Robb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Secuil nikmat yang disebut sebagai hidayah, amatlah mahal, bahkan masih ada di antara saudara – saudara kita masih belum mau menjemputnya atau sampai menyebut belum mendapatkannya. Ya, nikmat Islam dan Iman, adalah 2 nikmat yang sering kita lupakan sampai saat ini. Sampai akhirnya kita putuskan untuk meniti jalan-NYA biarpun tertatih – tatih dan merangkak, karena telah sadar bahwa isi dunia dan kemauan kita adalah hal yang belum tentu kita dapatkan, sedangkan sesungguhnya kematian dan perjumpaan dengan Alloh ‘Azza wa Jalla adalah hal yang pasti. Akhirnya biarpun secara terpaksa maupun sukarela, yang akhirnya dengan senang hati kita tinggalkan kehidupan, jalan dan hari – hari penuh kebathilan dan kejahiliyahan itu.

Ayyuhal Ikhwah. Alloh SWT., akan terus menguji kita sesuai kadar keimanan kita, karena tidaklah kita dikatakan telah beriman ketika ujian-NYA belum kita lalui. Sadarkah perbedaan yang jelas apabila kita telah memakai kacamata syari’at-Nya untuk melihat segala sesuatu? Semua akan terlihat jelas apabila kacamata syari’at telah kita pakai. Tengoklah saudara kita yang masih belum mau meniti jalan-NYA yang hanif, layaknya teko yang dibalik, yang baru akan bisa diisi apabila teko itu telah dikembalikan ke posisi sebenarnya.

*

*

*

Mungkin mereka akan menyebut cara berpakaian kita kembali ke zaman kakek buyut mereka, padahal pakaian mereka-lah yang kembali ke zaman manusia purba masih berburu dan meramu. Ataupun akan berkata bahwa hijab muslimah yang menutupi dada dan tidak dipadu celana jeans adalah kampungan, padahal aturan hijab-NYA menyelamatkan anti dari pandangan mata dan qolbu yang berkhianat, padahal hijab mereka yang masih setengah hati itu membuat mereka tidak bisa mencium bau surga dari jarak 500 tahun perjalanan.

Mereka akan membuat jarak dari kita, karena tidak sejalan.

Mungkin mereka akan menyebut ucapan kita layaknya penceramah ataupun tidak sesuai dengan umur, padahal ucapan mereka bagaikan serigala hutan tengah mencari mangsa, atau kerumunan koloni lebah, ataupun hewan betina yang sedang dalam masa kawinnya. Mungkin mereka lupa bahwa Rokib dan Atid ada di samping kita dengan kitab catatan.

Mereka akan membuat jarak dari kita, karena tidak sejalan.

Mungkin mereka akan menyebut kita layaknya induk ayam yang mengerami telurnya karena tidak keluar dari rumahnya, padahal kelakuan mereka yang keluar rumah tanpa mahromnya dan tanpa keperluan yang dibenarkan syari’at layaknya anak ayam tersesat kehilangan induknya, terus berkicau nyaring sehingga memanggil perhatian serigala dan musang lapar yang berkeliaran.

Mereka akan membuat jarak dari kita, karena tidak sejalan.

Mungkin mereka akan menyebut kita orang yang tidak punya perasaan karena tidak mendengarkan musik dan berkaraoke sampai malam, padahal nyanyian yang diharamkan-NYA adalah hal yang terus membuat mereka galau tanpa henti, bahkan menjadi seruling keturunan Iblis untuk menebarkan rayuan zina dan kemubaziran harta.

Mereka akan membuat jarak dari kita, karena tidak sejalan.

Mungkin mereka akan menyebut kita anti sosial karena tidak mempunyai akun pertemanan ataupun begitu menjaga citra diri sebagai sok suci di akun social media kita, padahal lihatlah mereka bercerita sendiri akan dosa yang telah mereka lakukan, melepas hijab, melupakan sifat malu. Lihatlah mereka bahkan menyapa suami/ istri orang lain ataupun non mahrom lebih dulu, lihatlah hijab mereka yang sirna, lihatlah betapa mulut-pikiran-qolbu mereka tidak terjaga, lihatlah betapa penilaian dari makhluk-NYA yang begitu mereka tunggu. Mereka lupa bahwa Alloh SWT Maha Melihat, mau mereka bersembunyi ataupun memakai nickname lain.

Mereka akan membuat jarak dari kita, karena tidak sejalan.

Mungkin mereka akan menertawakan dan menyebut kita orang sableng dan pengganggu ketika kita mengingatkan mereka akan dosa, selanjutnya mereka juga akan menutup diri begitupun memakai nickname agar terbebas dari “gangguan” kita, mereka bisa menarik lepas nafas lega dari ajakan kita ke jalan-NYA, sekali lagi mereka lupa bahwa Alloh Maha Tahu.

Mereka akan membuat jarak dari kita, karena tidak sejalan.

*

*

*

Ayyuhal Ikhwah. Sampai akhirnya kehidupan dan teman – teman yang tidak mau mengikuti jalan-NYA mulai menjauhi. Kita akan mulai terasing karena sadar akan keberadaan kedua malaikat pencatat amal perbuatan, karena sadar bahwa Alloh Maha Melihat dan Maha Tahu. Kita benar – benar takut bahwa kelalaian sekecil apapun, tidak akan sesuai dengan kadar rahmat-NYA jika kita berputus asa.

Tetapi ingatlah dalam perjalanan kita mendatangi dauroh kajian, para malaikat merendahkan sayap – sayapnya menaungi langkah kita menuju kesana, bahkan ikan – ikan di lautan pun mendo’akan kita. Lihatlah bahwa kita tidak sendirian dalam majelis ilmu Islam itu. Lihatlah mata lelah dan ngantuk mereka karena mengamalkan sunnah, tetapi di balik mata lelah itu keputus asaan untuk mendapat rahmat dan ridho-NYA tidak pernah terlihat. Lihatlah rambut dan anggota badan saudara kita yang basah oleh air wudhu sebelum memasuki majelis. Lihatlah bahwa kitab kajian ilmu Islam lengkap dengan minimal secarik kertas dan alat tulis seadanya, benar – benar disiapkan untuk menghilangkan dahaga akan ilmu Islam. Lihatlah ikatan mereka tidak akan pernah putus hanya karena berbeda hobi. Lihat dan dengarkanlah saudara kita, dengan tegas dan istiqomahnya mereka berkata:

“Saksikanlah, kami ini orang – orang yang berserah diri pada-NYA.”

 “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Alloh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Robbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Alloh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.(Q.S. Az – Zumar (39): 22)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 17 May 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s