RSS

Imam Abu Hanifah Menjawab

15 Apr

[Kisah Imam Abu Hanifah yang diriwayatkan Muhammad bin Muqotil]

Suatu ketika seorang pria tak dikenal datang menemui Imam Abu Hanifah, memanggilnya “Ya Abu Hanifah…!”

“Labbaik wahai saudaraku,” jawab Imam Abu Hanifah.

Pria itu langsung bertanya, ”Apa pendapatmu tentang seorang pria yang tidak mengharapkan surga, tidak takut akan neraka, tidak takut Alloh, memakan bangkai, sholat tanpa rukuk dan sujud, ia menjadi saksi atas apa – apa yang tidak dia sendiri lihat, lari dari rohmat, serta percaya kepada Yahudi dan Nasrani?”

Imam Abu Hanifah bertanya balik, “Wahai Fulan, engkau bertanya tentang masalah ini, apakah engkau sudah tahu jawabannya?”

Pria tadi menjawab, “Tidak, saya tidak tahu.”

Imam Abu Hanifah bertanya kepada teman – temannya yang ada di majelis saat itu, “Apa pendapat kalian tentang orang yang ditanyakan tadi?”

Mereka menjawab, “Ia adalah sejelek – jelek manusia, sifat – sifat yang tadi disebutkan sudah cukup untuk menyifatkannya demikian.”

Imam Abu Hanifah hanya tersenyum dengan jawaban mereka lantas berkata, “Tidak, justru orang tersebut benar – benar termasuk Wali Alloh, Insya Alloh.” Jawabannya sangat mencengangkan dan membuat bingung hadirin yang ada di majelis tersebut. Akhirnya beliau melanjutkan pembicaraannya.

Imam Abu Hanifah berkata, ”Jika saya memberitahukan kepadamu bahwa engkau adalah Wali Alloh, apakah engkau mau mencegah lisanmu dari perkataan yang jelek?”

Pria tadi menjawab, “Baik, saya akan menahan lidahku ini untuk tidak menyakiti orang lain.”

Inilah jawaban Imam Abu Hanifah:

“Perkataanmu bahwa dia tidak mengharapkan surga, dan tidak takut akan neraka, itu karena dia mengharapkan Pemilik Surga serta takut kepada Pemilik Neraka.”

“Perkataanmu bahwa dia tidak takut kepada Alloh SWT., itu karena dia tidak takut bahwa Alloh SWT., akan berbuat adil kepadanya. Sebagaimana ayat-NYA: ‘Sesungguhnya Robb-mu tidak akan berbuat dholim sedikitpun kepada hamba-NYA.’ (Q.S. Fushshilat (41): 46).”

“Perkataanmu bahwa dia memakan bangkai, itu karena dia memakan bangkai ikan.”

“Perkataanmu bahwa dia sholat tanpa rukuk dan sujud, itu artinya dia mengucapkan sholawat kepada Nabi SAW., atau sholat jenazah.”

“Perkataanmu bahwa dia bersaksi terhadap atas apa yang tidak dilihatnya, bahwa dia bersaksi bahwa tidak ada Robb selain Alloh SWT., dan Muhammad SAW., itu hamba dan Rosul-NYA.”

“Adapun perkataanmu bahwa dia membenci kebenaran, itu artinya dia membenci kematian, karena kematian merupakan kebenaran. Dia juga mencintai keabadian sehingga ia bisa menaati Alloh SWT., sebagaimana firman-NYA: ‘Telah datang sakarotul maut dengan kebenaran.’ (Q.S. Qof (50): 19).”

“Adapun perkataanmu bahwa dia senang terhadap fitnah, itu artinya dia mencintai harta dan anak sebagaimana firman-NYA: ‘Sesungguhnya harta dan anak – anakmu merupakan fitnah.’ (Q.S. At – Taghobun (64): 15).”

“Adapun perkataanmu bahwa dia lari dari rohmat, maksudnya adalah lari dari hujan, yang merupakan gerimis dan rohmat-NYA.”

“Sedangkan perkataanmu bahwa dia mempercayai Yahudi dan Nasrani, maksudnya adalah sebagaimana yang telah difirmankan Aloh SWT., dalam Al – Qur’an: ‘Orang – orang Yahudi itu berkata bahwa orang – orang Nasrani itu tidak artinya apa – apa, orang – orang Nasrani pun berkata bahwa orang – orang Yahudi itu tidak ada artinya.’ (Q.S. Al – Baqoroh (2): 113).

Pria tadi lalu berdiri dan mencium kening Imam Abu Hanifah serta berkata, “Aku bersaksi bahwa yang engkau ucapkan itu adalah benar.”

*****

Subhanalloh wa Bihamdihi.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 15 April 2012 in Islam

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s