RSS

Qur’an – Obat Penyakit Qolbu Bag. 1

10 Apr

Bagian 1.

Diagnosa Penyakit Qolbu

Assalāmu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Alhamdulillahirobbil ‘aalamin, ash sholātu wa salam ala Rosulillah.

Ayyuhal Ikhwah, disebutkan dalam sebuah hadits Rosul SAW., yang masyhur dari Abu Abdullah An-Nu’man bin Basyir:

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan barangsiapa terjerumus dalam wilayah samar-samar maka ia telah terjerumus kedalam wilayah yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang maka hampir-hampir dia terjerumus ke dalamnya. Ingatlah setiap Raja memiliki larangan dan ingatlah bahwa larangan Alloh (adalah) apa-apa yang diharamkan-NYA. Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal darah jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah qolbu-jantung” (HR. Bukhori dan Muslim).

Hari ini, apa kabar qolbu kita? Masihkah tawadhu’ pada-NYA atas segala pemberian-NYA, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari, ataupun mungkin nanti baru kita sadari. Salah satu fungsi diturunkan-NYA Al – Qur’an kepada manusia, adalah sebagai penawar dan obat. Mengapa bisa demikian jika diantara kita bertanya? Karena qolbu itu juga bisa sakit seperti halnya organ tubuh yang lain. Ibnul Qoyyim Al – Jauziyyah telah menyebutkan dalam kitab “Mawaridul Aman Al-Muntaqa min Ighatsatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan”, bahwa tipe qolbu itu ada 3:

1.    Qolbu yang sehat
2.    Qolbu yang sakit
3.    Qolbu yang mati.

Alhamdulillāh wa syukurillāh, jika kondisi qolbu kita berada dalam tipe qolbu yang sehat. Layaknya sakit badan, yang jika terkena flu dan demam sedikit saja langsung meminum obat turunan parasetamol, lantas bagaimana jika qolbu kita berada dalam keadaan sakit ataupun Na’udzubillahi min dzalik, berada dalam kondisi qolbu yang mati? Kira – kira dokter ataupun tabib mana yang bisa menyembuhkan qolbu yang sakit ataupun menghidupkan kembali qolbu yang mati? Jikalau kiranya ada dokter di negeri ini yang bisa menyembuhkan kedua tipe terakhir qolbu di atas, berapa rupiahkah yang harus dikeluarkan dari saku kita? Layaknya SOP dan WI yang umum berlaku di kalangan kedokteran, pemberian obat dan terapi pengobatan yang tepat, haruslah berdasarkan diagnosa yang tepat pula. Jadi dalam hal ini, tidak seperti memberikan obat sakit perut untuk obat penyakit qolbu.

Ayyuhal Ikhwah. Penyakit qolbu, telah dijelaskan dan telah disimpulkan disebabkan oleh syubhat dan syahwat. Mengapa kedua hal ini menjadi virus yang kadang hanya bisa dilemahkan saja tidak layaknya bakteri yang bisa dimusnahkan? Telah disebutkan dalam hadits di awal kajian kali ini, syubhat adalah sesuatu yang samar – samar, bisa menimbulkan keragu – raguan antara batasan halal dan haram. Diantara kita, masih banyak sekali yang mengaku muslim padahal hanya Islam KTP, yang bahkan marah jika Islam dihina, tidak bisa membedakan dan menjauhi syubhat yang ada di hadapannya. Hal ini malah diperparah apabila syahwat yang sebelumnya telah timbul membutakan segalanya, akhirnya dengan istilah halal – haram – hantam (3H), hancurlah batasan-NYA yang sebenarnya telah jelas dalam syari’at Islam.

Padahal jika mereka ditanya percayakah bahwa Qur’an adalah petunjuk bagi setiap Muslim tanpa kecuali? Pasti jawabannya adalah iya! Tetapi apa yang membuat perkara 3H tetap dilaksanakan dan diterobos? Yaitu adalah mereka tidak paham dan tidak mau bertanya ataupun tidak mau mengkajinya. Apa yang bisa diharapkan jawabannya dari seseorang yang jauh dari ilmu agama? Apakah lantas qolbunya bisa menjawab semua jawaban pertanyaan hidup ini? TIDAK! Dia tidak sadar, bahwa dia telah membuat pagar pembatas bagi hatinya yang sedang sakit, bahwa Qur’an dapat memberinya penawar dan obat. Sekali lagi Qur’an yang dapat memberinya penawar dan obat, bukan konser musik yang membuat pingsan ketika mengantri tiketnya yang mahal dan membuat sholat wajib terlupakan, bukan pula berkumpul – kumpul dalam majelis ikhtilat yang terbungkus dalam bentuk reuni atau berkaraoke sampai malam.

Jika lantas masih saja ada yang menganggap hal itu baik (musik dan ikhtilat), lantas akan sembuhkah penyakit qolbu itu ketika kembali ke rumah antum? Senangkah hari itu bisa keluar rumah dengan tertawa, menghabiskan uang dan waktu dengan sia – sia? Hebatkah bisa berteriak bersama iringan konser musik yang hanya berhenti ketika adzan berkumandang? Senangkah jika foto – foto dosa antum yang memegang mikrofon di tempat karaoke mendapat jempol penilaian? (Jelas) Tidak sembuh, kan?

Itulah mengapa sifat ghurur sangat membinasakan. Syubhat yang masih belum dipahami mereka akan halal haramnya, akhirnya menganggap baik segala amal perbuatannya yang akan dilakukan, karena syahwat telah meminta dan meminta terus.

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوۤاْ أَعْمَٰلَهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةً يَحْسَبُهُ الظَّمْئَا نُ مَآءً حَتَّىٰٓ إِذَاجَآءَهُ، لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَاللَّهَ عِندَهُ،فَوَفَّٰـٰهُ حِسَابَهُ، ۗ وَاللَّهُ سَرِ يْعُ الْحِسَا بِ(٣٩)٣٩

“Dan orang – orang yang kafir amal – amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang – orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Alloh di sisinya, lalu Alloh memberikan kepadanya perhitungan amal – amal dengan cukup dan Alloh adalah sangat cepat perhitungan-NYA.” (Q.S. An – Nuur (24): 39)

Itulah mengapa perlu diagnosa yang tepat pengobatan untuk qolbu yang sakit dan bahkan mati. Kedua hal – syubhat dan syahwat – di atas, ternyata masih terus belum diobati bahkan didiamkan dan dianggap biasa saja seperti halnya penyakit flu dan demam, cukup banyak makan, banyak minum, banyak istirahat dan meminum vitamin C. Lantas jika demam dan flu berlangsung selama seminggu berturut – turut, apa masih perlu didiamkan dan dianggap biasa saja? Karena belum tentu penyakit demam dan flu yang sedang menyerang tubuh, bisa saja terkena gejala thypus.

Ayyuhal Ikhwah. Bagaimana juga dengan qolbu yang telah mati? Qolbu yang sedang sakit, yang apabila terus menerus dibiarkan akan sakit parah karena pemiliknya tidak sadar, karena sibuk dan berpaling dari kesesatan qolbu. Apa yang selanjutnya terjadi? Yaitu matinya qolbu! Pemilik qolbu tidak merasakan lagi sakit dengan dosa dan keburukan – keburukannya, juga tidak merasakan sakitnya kebodohannya terhadap kebenaran yang datang dari Robb-nya. Syair Mutanabbi mengatakan:

“Siapa yang lemah maka kelemahan itu gampang menguasainya. Dan tidaklah mayat merasa sakit karena terluka.”

Lihat Diwan Al-Mutanabbi, (4/92-101, dengan syarh Al-‘Akbari).

Ya, apakah mayat akan teriak dan mengaduh apabila jasadnya dilukai? Ataupun mengeluh apabila jasadnya ditimbun dengan tanah kuburnya? Jauh sebelum qolbunya mati, terapi dan obat yang ada tidak mau diminumnya karena terasa pahit, tidak sejalan dan menyakitkan bagi nafsunya. Ataupun sabar dalam menjalani dan menaati aturan-NYA, tetapi syubhat dan nafsunya telah menggerogoti dari dalam. Kesabaran dan kesendirian menjadi pahit, ilmu agama bukan hal yang diakrabinya, bahkan takut akan kesendirian karena mengisinya dengan cara yang bathil dan jahil. Penyakit ini, jika tidak ada kawan dan murobbi yang mengiringinya, ia ngeri dengan kesendiriannya, sehingga menjadikannya bertanya-tanya, “Ke manakah orang-orang itu? Saya ingin mengikuti jejak mereka!” Demikianlah yang terjadi pada kebanyakan manusia, dan itulah yang menghancurkan dirinya. Ratusan bahkan jutaan rupiah akan dikeluarkannya, hanya untuk membunuh kesendiriannya.

Ayyuhal Ikhwah. Diagnosa penyakit qolbu yang lain adalah karena keberadaan Iblis dan keturunannya. Alloh SWT., telah berfirman mengenai janji Iblis:

قَالَ رَبِّ بِمَآأَغْوَيْتَنِى لاَأُزَيِّنَنَّ لَحُمْ فِ اْلاَرْضِ َولاَ ُغْوِ يَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ (٣٩) إِلاَّعِبَادَكَ مِنهُمُ الْمُخْلَصِينَ (٤٠) قَالَ هَٰذَاصَرَٰطٌ عَلَىَّ مُسْتَقِيْمٌ (٤١) إِنَّ عِبَادِى لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَٰنٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِيْنَ (٤٢)٤٢

“Iblis berkata, Ya Robb-ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba – hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. (Alloh berfirman): ‘Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban AKU-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba – hamba-KU tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang – orang yang sesat’.” (Q.S. Al – Hijr (15): 39 – 42)

Tidak ada seorang pun keturunan bani Adam AS., yang lepas dari gangguan Iblis dan keturunannya, termasuk di dalamnya para Nabi dan Rosul sekalipun. Gangguan dari makhluk yang dikutuk-NYA sampai hari akhir kelak ini, akan selalu hadir setiap saat. Iblis dan berbagai tipu dayanya, tidak akan langsung menyerang dari hal yang besar saja, melainkan dari hal yang kecil dan bahkan dianggap remeh sekalipun oleh kita. Antum seorang yang ahli ibadah? Syaithon akan mencari celahnya! Antum seorang yang berlebih maupun kekurangan harta? Syaithon akan menggeliat mencari lubangya! Jikalau syaithon telah masuk, maka dia akan mengalir mengikuti aliran darahnya dan bahkan menjadi raja akan qolbunya. Ajakan syaithon akan datang dalam berbagai hal dan berbagai kalangan manusia, sesuai firman-NYA:

قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأَ قْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ (١٦) ثُمَّ لَأَ تِيَنَّهُمْ مِّنْ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَنْ ثَمَآ ئِلِهِمْ  ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرْهُمْ ثَـٰكِرِ يْنَ (١٧)١٧

“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar – benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Q.S. Al – A’raaf (7): 16-17)

Apa yang ditampakkan syaithon, hanyalah impian dan harapan kosong belaka. Itulah mengapa mengisi waktu luang dan kesendirian dengan jalan yang bathil dan jahil, adalah salah satu celah syaithon yang paling manis. Satu hal yang harus juga diingat, syetan bukan hanya dari keturunan Iblis saja, namun juga ada syetan dari jenis manusia, sesuai firman-NYA:

وَكَذَٰ لِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُ وًّاشَيَٰطِيْنَ الْإِ نْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْ لِ غُرُورًا ۚ وَلَوْشَآءَرَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ (١١٢)١١٢

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap – tiap Nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan – perkataan yang indah – indah untuk menipu (manusia). Jikalau Robb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada – adakan.” (Q.S. Al – An’am (6): 112)

Lihatlah di akhir ayat di atas, Alloh SWT., telah berfirman untuk meninggalkan syetan dari golongan manusia yang selalu berbuat sekehendak nafsunya saja, karena perumpamaan syetan dari jenis manusia berwujud dalam rupa manusia tetapi kelakuan layaknya penyeru keburukan dan dosa. Na’udzubillah.

Ada satu tipe penyakit lagi yang gampang menghinggapi ummat Islam. Yaitu cinta dunia dan takut mati. Namun penyakit ini, penyebabnya telah didiagnosa sebelumnya di artikel ini yaitu akibat syubhat, syahwat dan gangguan syaithon pula. Rosululloh SAW., telah bersabda:

“Hampir tiba dimana umat – umat saling memanggil untuk melawan kalian sebagaimana orang-orang saling memanggil untuk menyantap hidangannya. Salah seorang bertanya: apakah karena sedikitnya kami ketika itu? Rosul menjawab: bahkan kalian pada hari itu banyak akan tetapi kalian laksana buih di lautan dan sungguh Alloh mencabut ketakutan dan kegentaran terhadap kalian dari dada musuh kalian dan Alloh tanamkan di hati kalian Al-Wahn. Salah seorang bertanya: apakah Al – Wahn itu ya Rosululloh? Beliau menjawab: cinta dunia dan membenci kematian.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Wallohu A’lam.

[Bersambung ke bag. 2, Insya Alloh…]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 10 April 2012 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s