RSS

Ketika Dosa Memanggil

26 Mar

Assalāmu’alaikum Warohmatullohi, Wabarokatuh.

Segala puja dan puji hanyalah kepada-NYA, Alloh SWT., tempat bergantung, tempat berlindung dan tempat bermuaranya rizki dan rohmat-NYA yang terbaik. Sholawat dan salam atas Rosululloh Muhammad SAW., Laa Nabiyya Ba’da, yang telah menuntunkan Islam dengan sebaik – baik contoh.

Alloh SWT., telah berfirman:

وَقَالَ ﭐلشَيْطَـٰنُ لَمَّا قُضِىَ ﭐلأَمْرُ إِنَّ ﭐللَّهَ وَعَدَ كُمْ وَعْدَ ﭐلْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَ خْلَفْتُكُمْ  ۖ وَمَاكَانَ لِىَ عَلَيكُمْ مِّن سُلْطَـٰنٍ إِلاَّ ۤ أَن دَعَوْ تُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِى ۖ فَلاَ تَلُومُونِى وَلُومُوۤ اْ أَنفُسُكُم ۖ مَّآ أَنَاْ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَآ أَنتُمْ بِمُصْرِخِىَّ ۖ إِنِّى كَفَرْ تُ بِمَآ أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ ۗ إِنَّ ﭐلظَّـٰلِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Alloh telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Alloh) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih. (Q.S. Ibrohim (14): 22)

Ayyuhal Ikhwah, apa yang terbersit ketika kita ditanya bagaimana perihal dosa itu? Bagaimana sesuatu itu disebut dosa? Apa hukumnya ketika dosa itu dilakukan? Apa ganjarannya pula? Sebagai seorang muslim, kita harus selalu yakin bahwa tidaklah Alloh SWT., mengharamkan sesuatu melainkan bahwa hal itu mendatangkan mudhorot dan mengandung mafsadat bagi hamba-NYA. Begitupun sebaliknya, tidaklah Alloh SWT., menghalalkan sesuatu melainkan mendatangkan maslahat bagi hamba-NYA.

Perbuatan dosa, merupakan kezaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri. Mengapa demikian? Karena sejatinya perbuatan zalim adalah perbuatan yang menganiaya diri sendiri, yang menutup pintu rohmat dan rizki-NYA, tetapi malah menggantinya dengan membuka pintu kemarahan dan azab-NYA. inilah janji Alloh SWT., ganjaran mengenai perbuatan zalim:

وَتَرَ ٰهُمْ يُعْرَ ضُونَ عَلَيْهَا خَـٰشِعِينَ مِنَ ﭐلذُّلِّ يَنْظُرُونَ مِن طَرْفٍ خَفِىٍّ ۗ وَقَالَ ﭐلَّذِينَ ءَامَنُوۤ اْ إِنَّ ﭐلْخَـٰسِرِينَ ﭐلَّذِينَ خَسِرُوۤاْ أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهُمْ يَوْمَ ﭐلْقِيَـٰمَةِ ۗ أَلاَۤ إِنَّ ﭐلظَّـٰلِمِينَ فِى عَذَابٍ مُقِيمٍ

“Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tertunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah, sesungguhnya orang-orang zalim itu berada dalam azab yang kekal. (Q.S. Asy – Syuraa (42): 45)

Namun, apakah semua hamba – hamba-NYA tahu mana saja yang haram dan halal? Mana sajakah yang termasuk dosa itu? Qolbu dan akal titipan-NYA, belum tentu bisa langsung menjawab bahwa sesuatu hal termasuk dosa atau tidak, karena tidak semua hal itu bisa dihukumi dengan qolbu dan akal.  Subhanalloh wa bihamdihi, beruntunglah orang – orang yang berserah diri, mengembalikan semua perkara dengan 2 hal yang diwariskan oleh Rosul SAW., yaitu Al – Qur’an dan Sunnahnya, kita tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya. Namun sekali lagi, apakah memang kita telah menyerahkan semuanya kepada syari’at Islam? Yang bahkan semua langkah ini butuh dengan syari’at, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Sekali lagi, tidak semua hal itu bisa dihukumi dengan qolbu dan akal semata. Adalah kecenderungan ummat saat ini, malu bertanya sehingga sesat di jalan, menghukumi dengan jalan sendiri, meneruskan tradisi nenek moyang yang salah, ikut – ikutan dengan yang telah dilakukan orang lain padahal belum tentu hal itu benar. Jika di antara kita ada yang berani berbicara bahwa tidak perlu membawa – bawa agama dalam perkara muamalah (perkara di luar ibadah), lalu buat apa kiranya Alloh SWT., menurunkan Al – Qur’an dan dicontohkan adab – adabnya oleh Rosul SAW?

Ayyuhal Ikhwah, ketika dosa memanggil, dengan diiringi hiasan yang dipercantik oleh setan, akankah kita terdiam sejenak, untuk merenungi apakah hal itu diperbolehkan oleh Alloh SWT.,? Saat itulah qolbu dan akal langsung menimbang – nimbang, apakah hal ini halal? Apakah hal ini mendatangkan keuntungan? Apakah hal ini harus dilakukan dan sebagainya? Maka dari itulah yang namanya qolbu dan akal belum tentu bisa langsung memberi jawaban yang sesuai kaedah halal – haram. Tetapi akuilah dan sadarilah, bahwa manusia lebih sering menghukumi sesuatu berdasarkan untung – rugi semata.

Dimanakah ummat Islam saat ini? 2 wasiat Rosul SAW., dari Nabi yang kita harapkan dan kita nantikan syafa’atnya di akherat kelak, yang kita semua ingin termasuk dalam ummatnya, tetapi malah kita lupakan. Itulah salah satu kezaliman lagi dari kita, sifat parsial dan oportunis masih saja melekat bagi kita. Ingatlah firman-NYA:

وَ نُنَزِّلُ مِنَ ﭐلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآ ءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْ مِنِينَ ۙ وَلاَ يَزِيدُ ﭐلظَـٰلِمِينَ إِلاَّ خسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (Q.S. Al – Isro’ (17): 82)

Sering – seringlah mengkaji bagaimana pertolongan Alloh SWT., itu amatlah dekat. Namun, sifat manusia memanglah susah untuk mencukupkan Alloh SWT., sebagai pelindungnya, sebagai Dzat yang Maha Mencukupi, yang akhirnya setan dan orang – orang zalimlah dipilih sebagai penolong dan pelindungnya.

وَ كَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ﭐلظَّـٰلِمِينَ بَعْضًابِمَا كَانُواْيَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim berteman dengan sesamanya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al – An’am (6): 129)

Juga dalam firman-NYA di ayat yang lain:

إِنَّهُمْ لَن يُغْنُواْ عَنكَ مِنَ ﭐللَّهِ شَيْئًا ۚ وَإِنَّ ﭐلظَّـٰلِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۖ وَﭐللَّهُ وَلِىُّ ﭐلْمُتَّقِينَ

“Sungguh, mereka tidak akan dapat menghindarkan engkau sedikit pun dari (azab) Alloh. Dan sungguh, orang-orang yang zalim itu sebagian menjadi pelindung atas sebagian yang lain, sedangkan Alloh pelindung bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al – Jaatsiyah  (45): 19)

Alloh SWT., Rosul-NYA, juga orang – orang yang sholeh bukanlah pihak yang ditemani dan diakrabi. Pernahkah Rosul SAW., menjadikan Abu Jahal sebagai teman? Karena nyatanya gelar Abu Jahal adalah gelar bagi pelaku ke-jahilan (kebodohan). Rosul SAW., telah bersabda:

“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu  minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.”
(Muttafaq ‘Alaihi)

Itulah mengapa para sahabat telah mencukupkan Rosul SAW., sebagai sahabat, guru dan kekasih semasa hidupnya. Bukan, bukanlah penjudi, pemabuk, pemusik, pendusta, orang kafir, ataupun orang yang dengan mudahnya membuka aurotnya bagi yang bukan mahromnya.

وَتَعَاوَنُواْعَلَ ﭐلْبِرِّ وَﭐلتَّقْوَىٰ ۖ وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى ﭐْلإِثْمِ وَﭐلْعُدْوَٰنِ ۚ وَﭐتَّقُواْ ﭐللَّهَ ۖ إِنَّ ﭐللَّهَ شَدِيدُ ﭐلْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Alloh, sungguh, Alloh sangat berat siksaan-NYA.” (Q.S. Al – Maa’idah (5): 2)

Ayyuhal Ikhwah, atau ada diantara kita sedang berikhtiar dengan menjadikan saudara kita yang masih menyimpang dari jalan-NYA yang Haqq? Jika niat antum seperti itu dengan mengharap ridho-NYA agar sama – sama meniti jalan-NYA, alhamdulillah. Sepanjang antum bisa mewarnai mereka silahkah, bahkan menjadi wajib karena beramar ma’ruf dan mengajak beriman kepada Alloh SWT., tetapi jika malah antum yang diwarnai oleh mereka, maka tinggalkanlah!

“Tolonglah saudaramu yang zalim dan yang dizalimi. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rosululloh, kami paham bahwa yang dizalimi harus ditolong, namun bagaimana menolong orang yang zalim?’ Rosul SAW., menjawab: ‘Tariklah tangannya.’ (dari berbuat kezaliman)” (HR. Muslim)

Sekali lagi tinggalkanlah! meskipun dosa datang dengan tiket gratis konser musik, meskipun dosa datang dengan fasilitas gratis yang tinggal membawa badan dan pakaian di koper, meskipun dosa datang dengan sepenuh bumi emas dan perhiasan, semua itu hanyalah semu! semua itu fana! semua itu terlihat indah karena setan menghiasi dosa menjadi indah dan menjanjikan!

وَﭐلَّذِينَ كَفَرُوۤاْ أَعْمَـٰلُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ ﭐلظَّمْئَانُ مَآءً حَتَّىٰۤ إِذَا جَآءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْعًاوَوَجَدَ ﭐللَّهَ عِندَهُ فَوَفَّـٰهُ حِسَابَهُ ۗ وَﭐللَّهُ سَرِيعُ ﭐلْحِسَابِ

“Dan orang – orang yang kafir amal – amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang – orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Alloh di sisinya, lalu Alloh memberikan kepadanya perhitungan amal – amal dengan cukup dan Alloh adalah sangat cepat perhitungan-NYA.” (Q.S. An – Nuur (24): 39)

Ketika dosa memanggil antum dalam wujud khomr, judi, tabarruj, tasyabuh, sufur, ikhtilat, musik, karaoke, menghabiskan waktu, harta dengan sia – sia ataupun dalam contoh panggilan dosa yang lain, ingatlah keberadaan Alloh SWT., dengan diutusnya 2 malaikat-NYA yang selalu patuh untuk mencatat amal baik dan buruk kita. Kitab catatan amal kita, akan ditunjukkan-NYA di hari penghisaban kelak, kedua tangan, kaki dan semua anggota badan kita akan bersaksi atas apa yang telah kita perbuat. Maka terlambatlah penyesalan atas semua perbuatan dosa kita di dunia.

فَيَوْ مَئِذٍ لاَّ يَنْفَعُ ﭐلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعْذِرَتُهُمْ وَلاَ هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ

“Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) permintaan maaf orang – orang yang zalim, dan mereka tidak pula diberi kesempatan bertobat lagi.” (Q.S. Ar – Ruum (30): 57)

Jadi, masihkah kita mau mengembalikan semua hal ini dengan qolbu dan akal kita? Dengan kalimat pamungkas “rasanya sudah benar” atau “inilah yang terbaik bagi saya”? justru perkataan dan sifat seperti inilah menunjukkan betapa bodohnya kita, menunjukkan betapa kita tidak berilmu, menunjukkan betapa kita tidak pernah mengkaji ilmu agama. Bersegeralah menuju ampunan-NYA yang seluas langit dan bumi, sebelum dicukupkan-NYA umur kita di dunia ini, dengan hari akhir yang abadi kelak di dalam surga atau neraka-NYA. Na’udzubillah.

فَالْيَوْمَ لاَ يَمْلِكُ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ نَّفْعًا وَلاَ ضَرًّا وَنَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُواْ ذُوقُواْ عَذَابَ ﭐلنَّارِ ﭐلَّتِى كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ

“Maka pada hari ini sebagian kamu tidak kuasa (mendatangkan) manfaat maupun (menolak) mudhorot kepada sebagian yang lain. Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim, “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulu kamu dustakan.” (Q.S. Saba’ (34): 42)

Billahit taufiq, wallohu a’lam.

Wassalāmu’alaikum Warohmatullohi, Wabarokatuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 26 March 2012 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s