RSS

Hanya Kepada Ash – Shomad

08 Mar

Assalāmu’alaikum Warohmatullohi Wabarokātuh.

Segala puji hanya bagi Alloh SWT., bermuaranya segala pujian, ridho dan ampunan. Sesungguhnya sebaik – baik ucapan adalah firman-NYA dalam Al – Qur’an, sebaik – baik petunjuk adalah petunjuk yang disunnahkan Rosululloh Muhammad SAW, semoga selalu tercurah selalu salam baginya, keluarganya, sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, juga semoga sampai ke kita.

Tauhid, menurut kesepakatan ulama ahlu sunnah, terbagi atas 3; yaitu: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma wa sifat. 3 pembagian tauhid ini, tergambarkan banyak sekali dalam Al – Qur’an, juga dijelaskan pula dalam banyak hadits Rosululloh SAW. Tauhid rububiyah, yaitu cabang tauhid yang menjabarkan aspek Robbani, Tauhid uluhiyah yaitu cabang tauhid yang menjabarkan penghambaan abdi kepada Alloh SWT., dalam aspek peribadatan, Tauhid asma wa sifat yaitu cabang tauhid yang menjabarkan ketauhidan berdasarkan nama – nama Alloh SWT yang agung dalam 99 asma-NYA dan sifat – sifat-NYA.

Contoh tauhid rububiyah; Alloh SWT-lah yang berkuasa atas segala sesuatu, yang menghidup – matikan, memberi rizki, nikmat, cobaan, sakit, pemberi petunjuk dan lain sebagainya. Contoh tauhid uluhiyah, hanya kepada Aloh SWT-lah kita sholat, shoum, zakat, shodaqoh, haji dan amaliah lainnya kita tujukan. Contoh tauhid asma wa sifat, bisa dikaji dari 99 asmaul husna. Kali ini penulis akan mengkaji cabang tauhid asma wa sifat dari salah satu dari 99 asmaul husna; yaitu Ash – Shomad.

Ash – Shomad, berarti Tempat Bergantung. Apa yang menjadi titik berat “Tempat Bergantung” ini? yaitu Alloh SWT-lah tertujunya semua harap dan do’a semua hamba-NYA. Hal ini bisa dilihat dari surat Al – Ikhlas ayat 2:

ا للَّهُ الصَّمَدُ

“Allohush Shomad”

Wajib hukumnya bagi seorang muslim wal muslimah, untuk mengimani semua cabang ketauhidan tanpa kecuali. Berkaitan dengan Ash – Shomad ini, yaitu Tempat Bergantungnya semua hamba pada-NYA, seringkali kita lupakan 7 ayat yang sering kita ucapkan dalam sholat, 7 ayat yang selalu ada dalam sholat sunnah sekalipun. 7 ayat tersebut adalah surat Al – Fatihah, kita semua bisa belajar dan mengkaji 3 cabang ilmu ketauhidan dalam surat tersebut.

إِهْدِنَاالصِّرَٰطَ الْمُسْتَقِيْمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”

Tiada lain ayat di atas kita tujukan kepada Alloh Ash – Shomad, jalan yang diberi nikmat-NYA, bukan jalan kaum yang dimurkai-NYA juga bukanlah jalan kaum yang tersesat.

Ikhwanul Akhwat Fillah. Sudah benarkah kita mengaplikasikan semua cabang tauhid? Surat Al – Fatihah selalu kita ucapkan dalam setiap sholat, surat pendek Al – Ikhlas yang menjelaskan ketauhidan sudahlah kita hapalkan, tetapi apakah sudah membuat kita menjadi absolute moslem – muslim kaffah?

Ikhwah, muslim kaffah tidak hanya kita dapatkan jika kita hanya menerapkan salah satu cabang tauhid dan mengesampingkan cabang yang lainnya. Amat lucu jika kita menjalankan 5 rukun Islam tapi kita masih menjalankan praktik kesyirikan, seperti halnya syirik kecil yaitu riya’ menurut hadits shohihnya, yang amat dikhawatirkan Rosul SAW., dari ummatnya.

Mengapa kita sholat? Bukankah karena ingin mendapat ridho-NYA? mengapa kita zakat? Bukankah karena ingin mendapat ridho-NYA? mengapa kita menjalankan amaliah lainnya? Bukankah karena ingin mendapat ridho-NYA pula? Kita beribadah karena Alloh Azza wa Jalla adalah Robb dan Ilah kita, kita beribadah karena Alloh Azza wa Jalla adalah sebenar – benar Sesembahan yang berhak disembah! Kita beribadah karena memang hanya Alloh SWT-lah yang mempunyai 99 asmaul husna yang wajib kita imani pula.

Namun, masih ada diantara kita yang beribadah, berdo’a dan melakukan amaliah lain bukan karena Alloh SWT., tetapi mungkin masih dalam tahap karena takut ataupun menjalankan kewajiban saja. Tidak percaya? Lihatlah diri kita sendiri, bahwa kita beribadah dan beramaliah masih belum ditujukan kepada Alloh SWT.

Kapankah kita sholat? Apakah jika diingatkan ataupun karena diajak? Kapankah kita shodaqoh? Apakah karena teman kita sudah lebih dulu bershodaqoh? Masih saja, seolah – olah ingin dikomentari dan dinilai oleh manusia. Entah itu berupa do’a, harapan, komentar galau dan labil di akun pertemanan, bahkan naudzubillahi min dzaalik…sholat dan amaliah lainnya dilakukan jika ada calon mertua ataupun orang yang dikasihi.

Kepada siapakah kita semua menggantungkan do’a dan harapan kita? Tiada lain Allohush Shomad. Bukan, bukanlah kepada kepada sesama makhluk-NYA, dukun, orang – orang di luar Dien ini, tetapi akuilah terkadang setiap cobaan maupun adzab-NYA di dunia ini terasa lebih menyakitkan dari yang pernah diberi-NYA kepada orang lain, karena kita juga jarang mau berkaca pada orang – orang yang keadaannya lebih kurang daripada kita.

قُلِ ادْعُواْالَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ، فَلاَيَمْلِكُوْنَ كَشْفَ الضُّرِّعَنكُمْ وَلاَ تَحْوِيْلاً(٥٦) أُوْلَٰۤئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ،وَتَخَافُونَ عَذَابَهُ ج إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا (٥٧)

Katakanlah, “Panggillah mereka yang kamu anggap (Tuhan) selain Alloh, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang – orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Alloh) dan mengharapkan rohmat-NYA dan takut akan siksa-NYA; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (Q.S. Al – Isrā’ (17): 56 – 57)

Lihatlah firman-NYA di atas. Banyak sekali contoh diantara kita, yang mendapatkan cobaan sakit yang berat, yang bahkan divonis kematian oleh para dokter, tetapi dengan ikhtiar, tawakkal, ibadah dan izin-NYA kembali sehat. Ingatlah pula ayat-NYA yang lain:

وَإِذَامَرِضْتُ فَحُوَيَشْفِينِ

“Jika aku sakit, Dia-lah (Alloh) yang menyembuhkan aku.” (Q.S. Asy – Syu’arā (26): 80)

Ikhwah, amal itu ditujukan kepada Alloh SWT., do’a dan permohonannya itu seharusnya ditujukan kepada Alloh Ash – Shomad semata. Buat apa kita mencantumkan do’a panjang kita, harapan kita, sholat kita, amaliah kita dalam status akun pertemanan? Sekali lagi, penilaian siapakah yang kita harap dan rindukan? Bukankah Alloh Azza wa Jalla? Ingatlah bahkan para praktisi kedokteran pun bermunajat pada-NYA pula, jika Alloh SWT., tidak mengizinkan dan belum datangnya ketetapan Alloh SWT akan kesembuhan, maka kesembuhan itu tidak akan kita peroleh.

Ummat negeri ini, saat ini telah menjadi ummat yang banyak bicara, mampu berbicara dan berkomentar panjang lebar di akun pertemanan maupun berorasi dalam demo yang membuat kemacetan, hanya bicara tidak berbuat, entah itu bahkan sampai membuka aib suami istri, hanya untuk mendapat jempol penilaian. Jika penilaian makhluk-NYA yang kita tunggu, maka mintalah dari mereka bukan meminta kepada Alloh SWT., bukan menggantungkannya kepada Alloh SWT.

Ikhwah, semua nikmat dan rizki itu murni dari Alloh, bukan usaha dan kerja keras kita. Kita masih hidup, kita masih bisa mengkaji ilmu ke-Islam-an, kita masih bisa sholat dan melakukan ibadah dan amaliah lain, murni karena rahmat karunia Alloh Al – Wahhab, Al – Fattah.

Akhirul Kalam, kembalikanlah semuanya kepada Alloh Ash – Shomad, sebaik – baik tempat menggantungkan segalanya. Buanglah segala su’udzon kepada-NYA dan harapan kepada sesama makhluk-NYA. Ucapkanlah takbir, ucapkanlah Allohu ma ‘Ana.

Wallohu a’lam, billahit taufiq.

Wassalāmu’alaikum Warohmatullohi Wabarokātuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 8 March 2012 in Islam

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s