RSS

Sejengkal demi sejengkal

31 Dec

Assalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Alloh SWT., kita memuji-NYA, memohon pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya, kita berlindung kepada Alloh SWT., dari segala kejahatan diri dan kesalahan perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh SWT., maka tiada sesuatupun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Alloh SWT., maka tiada sesuatupun yang dapat memberinya petunjuk.

Ayyuhal Ikhwah. Adakah sesuatu yang berbeda di hari ini? tanggal ini? yang jelas hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, agar tidak rugi, agar tidak sia – sia. Atau mungkin ada diantara kita yang bekerja kantoran, telah menerima dari rekan atau kolega berupa email, ucapan ataupun sms yang berulang topiknya seperti tahun lalu? Selamat tahun baru? Dari siapa? dari ummat Dien lain? atau Na’udzubillahi min dzaalik, bahkan dari saudara kita yang ber-KTP Islam juga?

Kata – kata mutiara disusun sedemikian rupa, gambar yang menarik disertakan juga, yang akhirnya dengan topik yang sama: ucapan selamat tahun baru Masehi, yang mungkin kita terlena untuk menjawabnya karena euphoria telah mendapat bonus tahunan mungkin?

Ayyuhal Ikhwah. Lupakah dengan 2 kaum yang sering kita ucapkan di akhir surat Al – Fatihah? Al – Maghdub menjelaskan kaum Yahudi, sedangkan Adh – Dhollun menjelaskan kaum Nasrani. Rosul SAW., telah bersabda:

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”

[HR. Ahmad dan Abu Daud.]

Yahudi adalah kaum yang dibenci-NYA, karena betapa banyak Nabi & Rosul diutus kepada mereka tetapi mereka malah melaknat, mencerca, bahkan membunuh dan bermakar untuk menyalib Nabi Isa AS. Nasrani adalah kaum yang tersesat karena mengangkat Nabi Isa AS., sebagai Tuhan sesembahan mereka, bahkan Bunda Maryam dianggap Tuhan Ibu. Na’udzubillah, konsep ke-Tuhan-an yang ngawur dan tidak masuk rasio sama sekali.

2 kaum, 2 ummat yang dibenci dan tersesat ini, mengapa kita malah mengikuti mereka? Malukah atau ragukah kita semua akan risalah Dienul Islam yang hanif ini? seperti halnya kita sering diejek atau disindir mereka karena mengikuti sunnah Rosul SAW yang tidak lazim dilihat orang awam? Anehnya, diantara kita malah memanggil mereka dengan brother – sister, padahal orang – orang Muslim itu bersaudara di jalan Alloh Azza wa Jalla.

Ada diantara kita bahkan, mengembalikan semua itu pada qolbu kita, dengan kalimat pamungkas: “yang penting kan hatinya”, ataupun “yang penting kan niatnya” dengan menyelewengkan hadits “Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya.” Sehingga, acara bakar ayam, jagung, ikan, membakar petasan melalui pukul 00:00 WIB adalah sesuatu yang tidak boleh dilewatkan karena bukan perkara ibadah, dengan alasan menguatkan ukhuwah dalam koridor silaturohim.

Subhanalloh Yaa Ikhwah, perkara merayakan itu adalah perkara agama. Mengapa? Masalah merayakan itu perkara agama, karena ketika Rosul SAW bertanya kepada kaum Anshor mengapa hari itu mereka melakukan perayaan? Rosul SAW bersabda bahwa tiap kaum itu mempunyai Ied (hari raya), dan Alloh SWT., telah memberikan gantinya yang lebih baik yaitu Iedul Fithr dan Iedul Adha.

Ayyuhal Ikhwah. Lagi – lagi, kita terkena Ghurur (tertipu). Ibnu Mas’ud berkata:

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.”

[HR. Ad – Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid]

Malam ini, lihatlah…betapa kita memang disetting untuk mengikuti dan merayakan. Malam selepas Isya’ berkumpul, dengan alasan silaturrohim, bakar – bakar ayam, jagung, ikan dan lainnya. Berapa lamakah efek dari sholat Isya’ sebelumnya yang telah kita lakukan? Rosul SAW., bersabda:

“Rosululloh SAW., membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” [HR. Bukhori]

Sedangkan maksud ngobrol maupun aktivitas yang bermanfaat, terutama dalam masalah Dien, jelas kaedah manfaat berlaku sesuai ushl fiqih.

Mall, tempat hiburan, cafe, telah menyiapkan semuanya dengan pernak – pernik, dengan alat musik dan hiburan musik yang diharamkan Alloh SWT., bahkan membakar kembang api dan petasan sampai lewat shubuh untuk merayakannya. Begitu mengganggu, sedangkan mereka balik menuduh adzan dan takbiran yang lebih sering mengganggu mereka tiap harinya. Ingatlah Rosul SAW., bersabda:

“Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.” [Muttafaq ‘Alaihi]

Ayyuhal Ikhwah. Ada lagi diantara kita, mengkhususkan malam ini untuk melakukan amaliah dan ibadah. Padahal Rosul SAW., dan para sahabat tidak pernah melakukannya. Apakah karena untuk membendung perayaan ini, lantas masjid dan harokah mengadakan pengajian – pengajian? Kita harus sangat berhati – hati karena perkara ini bisa menjerumuskan kita ke dalam kebid’ahan, seperti halnya merayakan hari lahir Nabi SAW., hari kematian Husein RA., seperti halnya kaum Syi’ah, hari kelahiran ulama atau wali tertentu?

Sufyan Ats – Tsauri, amirul mukminin fil hadits berkata:

“Bid’ah lebih disukai Iblis daripada maksiat.”

Kenapa kata beliau? “Karena pelaku maksiat, dia akan bertobat karena dia mengakui itu maksiat, sementara pelaku bid’ah sulit bertobat karena menganggap perbuatannya baik dan termasuk ritual agama.”

Ingatlah: sesungguhnya sebaik – baik perkataan adalah Kitabulloh, sebaik – baiknya petunjuk adalah petunjuk Rosul Muhammad SAW., dan seburuk – buruk perkara adalah yang diada – adakan, dan setiap yang diada – adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat. Rosul SAW., tidak pula keempat Kholifah setelahnya, tabi’in dan tabiut tabi’in tidak pernah melakukan perayaan selain Iedul Fithr dan Iedul Adha.

Malam ini. Betapa Iblis laknatulloh dan keturunannya sedang bergembira, karena tiupan nafsu pada ummat ini sukses adanya. Masih banyak saudara kita digiring untuk “mengakui” perayaan mereka. Lihatlah kaum muda kita, sudah keluar rumah bahkan ada yang dari selepas dzuhur sekalipun untuk menuju tempat – tempat nongkrong. Dandanan, pakaian, kendaraan, rupiah dikeluarkan dengan mudahnya, tidak seperti halnya ketika melihat kaum fakir miskin dan anak terlantar. Lihatlah bahkan para orangtua mengizinkan anak gadisnya pergi tanpa mahromnya karena sudah ada teman wanitanya, ataupun karena jalan dengan pacarnya, yang lucunya lagi terselip kata – kata: “hati – hati ya, ingat sholat.” Dimanakah mencintai karena Alloh? Dimanakah membenci karena Alloh ‘Azza wa Jalla?

Ketahuilah bahkan beberapa tempat di negeri ini, para aparat kepolisian dan bahkan beberapa pemerintah kota memberlakukan penutupan akses kendaraan dari luar kota. Hanya demi malam ini, hanya demi perayaan jahil dan bathil ini, kita rela dan mau untuk bermacet – macet ria. Sekali lagi, betapa suksesnya Iblis dan keturunannya menguasai nafsu ummat ini. Pezina, pemabuk, pemubazir harta, pemusik, berhasil dikuasai otak, hati dan nafsunya oleh Iblis dan keturunannya. Na’udzubillahi min dzaalik.

Lalu, setelah malam ini berakhir, ternyata kebathilan dan kejahilan masih diteruskan. Mereka menceritakan aibnya sendiri dalam situs pertemanan ataupun blog, dengan foto, kisah, juga update status dalam jaringan maya.

“Setiap ummatku berhak untuk dimaafkan, kecuali Mujahirun, yaitu orang – orang yang melakukan dosa secara terang – terangan. Termasuk dalam tindakan dosa terang – terangan adalah, seseorang yang berbuat (keburukan) di malam hari, kemudian pada harinya sedangkan Alloh telah menutup (memaafkan) kesalahannya itu, ia sendiri berkata. ‘Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan begini dan begitu.’ Ia menyingkap aib dirinya sendiri, padahal Robbnya telah menutup aib dirinya.” (HR. Bukhori)

Ayyuhal Ikhwah. Pernahkah melihat ngengat yang begitu tertarik dengan terangnya cahaya api lilin? Begitu menarik di pandangan ngengat tersebut, padahal api tersebut laksana Iblis, panas dan membakar, tetapi ngengat tersebut akhirnya mengitari api lilin tersebut sampai akhirnya sayapnya terbakar dan mati. Itulah gambaran ummat Islam saat ini.

Rosul SAW bersabda:

“Kamu akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rosululloh, apakah yang kamu maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR. Bukhori dan Muslim).

Benarlah bahwa sebaik – baik petunjuk adalah petunjuk Alloh Azza wa Jalla yang dituntunkan oleh Rosululloh Muhammad SAW.

“Ya Robb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Robb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Robb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al – Baqoroh (2): 286)

Bilahit taufiq. Semoga Alloh SWT., membukakan mata hati kita dan memaafkan kelalaian kita. Amien. Wallohu A’lam bish showab.

Wassalāmu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 31 December 2011 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s