RSS

Menjadi Contoh Yang Buruk

18 Dec

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Segala puja dan puji hanyalah milik-NYA, Alloh SWT., Raja di Hari Pembalasan, Robb seluruh alam semesta, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, juga tempat menggantungkan semua harap dan do’a para abdi-NYA. Sholawat serta salam semoga juga selalu dicurahkan kepada junjungan alam, Nabi penutup seluruh risalah ke-Rosul-an dan ke-Nabi-an, yang telah mencontohkan dan mengajarkan indahnya Islam, Rosululloh Muhammad SAW, sebaik – baik Uswah.

Ikhwanul Akhwat Fillah. Lengkapnya risalah Islam berupa Al – Qur’an yang diturunkan kepada ummat Islam lewat Rosul SAW., telah ditutup-NYA dengan turunnya ayat terakhir yaitu surat Al – Ma’idah ayat 3:

ﭐلْيَوْمَ أَكْمَلتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ﭐْلإِسْلَـٰمَ دِينًا

“…pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agamamu.” (Q.S. Al – Maa’idah (5): 3)

Betapa beruntungnya ummat Islam, diutus-NYA seorang Nabi yang ummi, ma’shum, untuk mengajarkan bagaimana Indahnya Islam jika diamalkan dalam hidup tiap ummat-NYA. Dari mulai kita bangun tidur, sampai kita tidur kembali, bahkan tata cara kencing sekalipun, semua sudah diberi contoh oleh Rosul SAW. Tidaklah mengherankan, Alloh SWT., memuji akhlak Rosul SAW., dalam ayat-NYA:

وَ إِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar – benar berakhlak yang agung.” (Q.S. Al – Qalam (68): 4)

Subhanalloh. Perhatikanlah bagaimana Alloh SWT., sampai berfirman demikian. Bagaimana selanjutnya sikap kita terhadap Nabi SAW.? tentunya kita sebagai ummatnya yang mengharap syafa’at beliau pada hari penghisaban kelak, untuk menjadikan beliau sebagai contoh yang harus diikuti. Alloh SWT., telah berfirman:

لَّقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ﭐللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْ جُواْ ﭐللَّهَِ وَﭐلْيَوْمَ ﭐْلأَ خِرَوَذَكَرَ ﭐللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut (asma) Alloh.” (Q.S. Al – Ahzab (33): 21)

Ikhwanul Akhwat Fillah. Sunnah – contoh – hal yang dicontohkan/ jalan yang dicontohkan oleh Rosul SAW., bukan hanya diartikan sebagaimana anak SD dijelaskan mengenai arti sunnah – “jika dilakukan akan berpahala, jika ditinggalkan tidak berdosa”. Pengertian semacam ini adalah pengertian yang sangatlah sempit. Sunnah, ada yang berupa qaul (perkataan), fi’liyah (perbuatan), taqrir. Insya Alloh, kajian lebih jauh tentang Sunnah, akan dituliskan dalam artikel lain. Insya Alloh.

Sebagai ummat yang disebut oleh Alloh SWT., sebagai Khoiru Ummat – Ummat terbaik – tidaklah akan terwujud apabila kita mengambil contoh selain yang dicontohkan Rosul SAW., terlebih apabila kita mencontoh ummat di luar Dienul Islam ini. Na’udzubillahi min dzaalik. Tetapi sekali lagi, mari kita lihat diri kita saat ini, berkacalah dengan kaca yang buram sekalipun, tuntunan sunnah Rosul SAW., yang mana saja yang telah kita amalkan dengan istiqomah dan demi mengharap Ridho-NYA?

Kembali pada pengertian sempit akan sunnah versi anak SD, “jika dilakukan akan berpahala, jika ditinggalkan tidak berdosa.” Bagaimanakah kiranya, bagaimana jika kita mendapatkan dan mengkaji sunnah yang bersifat waajibah (wajib dilakukan) akan tuntunan bagi para muslimah bagi para muslimah untuk berhijab? Disebutkan dalam sebuah hadits, tentang “wanita yang berpakaian tapi telanjang”, juga hadits batasan hijab fisik bagi muslimah yang disampaikan kepada Asma binti Abu Bakar RA. Alhamdulillah, saat ini sudah banyak bisa kita temui para muslimah yang berhijab sesuai syariat, tetapi bagaimana dengan sejumlah besar muslimah yang telah berhijab tetapi masih “berpakaian tapi telanjang”, juga masih berpakaian tipis yang membuat Rosul SAW., memalingkan muka dan menegur shohabiyyah Asma.

Mari kita lihat contoh yang lain. Hadits penjelasan haramnya musik dan alat musik, hadits penjelasan akan memilih teman yang buruk. Na’udzubillahi min dzaalik, bahkan ada yang terang – terangan diantara kita yang menyebutkan diri sebagai metal muslimin, menyebut ummat di luar Dien ini sebagai brother dan sister. Seorang metal muslimin, yang mudah berbicara kotor sebagai topik pembicaraannya, tidak mungkin tidak memberikan efek biarpun sedikit dalam kehidupan muslim lainnya. Seorang ulama buruk yang meng-hasan-kan bid’ah, sehingga para pengikutnya bertaqlid buta (mem-beo tanpa mencari dalilnya ada atau tidak), seorang muslimah yang terbiasa memajang dan memamerkan keindahan fisik yang merupakan titipan-NYA, tidak mungkin tidak memberikan efek biarpun sedikit dalam kehidupan muslimah lainnya. Ingatlah, manusia itu adalah makhluk visual, apa yang dilihatnya lebih membekas dalam memori daripada apa yang didengarnya.

Ikhwanul Akhwat Fillah. Bagaimana kiranya jika saudara kandung kita, anak kita, istri kita, suami kita, saudara saudari kita lainnya, jika melihat sesuatu perilaku buruk yang tidak disyariatkan Alloh SWT dan Rosul-NYA, tetapi kita contohkan kepada mereka semua. Beranikah antum masih berkata: “semua itu terpulang bagaimana orangnya.” Ikhwah, Rosul SAW., telah bersabda bagaimana efek teman yang buruk:

“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Ingatlah juga Alloh SWT., telah berfirman:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِىﭐْلأَرْ ضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ﭐللَّهَ ۚ إِنْ يَتَّبِعُو نَ إِلاَّ ﭐلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُ صُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Alloh).(Q.S. Al An’am (6): 116)

Ikhwanul Akhwat Fillah, di masa ini, di masa seseorang muslim yang ingin berpegang teguh pada sunnah itu bagaikan memegang bara api, terasa panas dan ingin dienyahkan, terasa malu dan segera ingin ditinggalkan, masihkah kita berpegang kepada Qur’an dan sunnah Rosul SAW? baik di dunia nyata maupun dunia maya kita bisa melihat fenomena akan contoh yang buruk. Melihat muslimah yang berpakaian tapi telanjang pada awalnya akan membuat kita memalingkan muka karena kita memakai kacamata syariat, tetapi jika hampir tiap hari kita bisa melihat fenomena itu, termasuk di dalamnya perilaku bid’ah yang bahkan menyebutkan adanya bid’ah hasanah, syetan pun akan semakin gigih untuk menghembuskan sifat permisif – membolehkan dalam qolbu kita, ataupun bahkan membuat kita malu karena jumlah mereka yang lebih banyak daripada yang mengikuti sunnah Rosul SAW.

Kembali lagi, bagaimana kiranya jika saudara kandung kita, anak kita, istri kita, suami kita, saudara saudari kita lainnya, jika melihat sesuatu perilaku buruk yang tidak disyariatkan Alloh SWT dan Rosul-NYA, tetapi kita contohkan kepada mereka semua? Apalagi bagi mereka yang jauh dari tarbiyah nilai Islam, mau mengambil contoh darimana selain contoh yang terdekat dari mereka? Yaitu kita! Kita sering lupa, bahwa foto centil yang kita pajang, pakaian ala kadarnya yang sering kita pakai, lirik musik yang sering kita dendangkan dan lainnya, para pelaku bid’ah yang sering dimintakan pendapatnya mengenai risalah syari’at, menjadi acuan contoh bagi saudara terdekat kita untuk diikuti dan dianggap bahwa hal itu wajar dan boleh dilakukan.

Bagaimana ini? terlebih lagi jika kita melihat di sekitar kita.  Banyak sekali contoh yang sangat buruk, tetapi malah dibolehkan oleh kita. Suatu ketika, penulis sempat berbicara dengan seorang Ikhwan pengurus sebuah butik muslimah terkenal di negeri ini. Pertanyaan ditujukan kepada beliau: “Mengapa produk busana dari butik muslimah yang antum jadikan mata pencaharian, malah jauh dari aturan yang disyari’atkan? Mengapa bahkan berani sampai mencantumkan dalam iklannya sebagai busana muslimah yang sesuai syar’i? Padahal, beberapa model yang menampilkan produk “busana muslimah” dari butik tersebut benar – benar apa yang disabdakan oleh Rosul SAW., sebagai “pakaian yang telanjang.” Pernak – pernik mahal yang disematkan di sana – sini, potongan yang bisa membentuk lekuk tubuh, modifikasi khimar – kerudung yang tidak sampai menutup dada, kaki telanjang yang tidak tertutup kaus kaki, juga pemilihan warna yang menyerupai warna kulit. Apakah memang busana muslimah keluaran butik tersebut “mengharuskan” para pembelinya – muslimah – sebagai pusat perhatian? Atau harus dijadikan pusat perhatian?

Jawaban yang didapat cukup membuat senyum yang sangat kecut. Ikhwan tersebut menjawab bahwa setiap designer yang ada membawa “pakem” yang berbeda – beda pula, karena tidak ingin sama dengan butik lain, juga agar mendongkrak sisi penjualan. Na’udzubillahi min dzaalik, benarlah adanya bahwa lebih gampang mendapat balik modal usaha apabila menjual pakaian muslimah, karena banyak sekali muslimah yang menjadi korban mode, ya korban mode yang jahil dan salah.

Ikhwanul Akhwat Fillah, percayakah bahwa segala sesuatu yang dicontohkan dan diamalkan Rosul SAW., merupakan penerapan petunjuk Alloh SWT? adakah Nabi SAW., mengada – ngada dalam tingkah laku perbuatannya? Ataukah membuat fatwa – fatwa yang dibuat seenak hati beliau demi memperoleh nilai duniawi? Alloh SWT., telah berfirman:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ﭐلْهَوَ ىٰۤ (٣) إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْىٌ يُو حَىٰ

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (Q.S. An – Najm (53): 3 – 4)

Mengenai hijab fisik muslimah, apakah sunnah waajibah tersebut ditinggalkan karena menimbulkan gerah dan berkeringat? Mana yang lebih panas antara negeri ini dengan negeri timur tengah? Ataupun panas mana dengan panas api neraka yang disiapkan-NYA? Padahal Alloh Azza wa Jalla telah berfirman di awal ayat Al – Baqoroh 286, “Tidaklah Alloh membebani seseorang (dengan hukum syari’at) sesuai dengan kemampuannya.” Jika kiranya kita ini sering dipusingkan akan ketentuan syari’at yang terkadang terasa memberatkan dan mengekang, marilah kita lihat firman Alloh SWT., dalam Al – Qur’anul Furqon:

يَٰـۤأَ يُّهَا ﭐلَّذِينَ ءَامَنُوۤاْ أَطِيعُواْ ﭐللَّهَ وَأَطِعُواْ ﭐلرَّسُولَ وَأُوْلِىﭐْلأَ مْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَ عْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ﭐللَّهِ وَﭐلرَّسُولِ إِن كُنْتُمْ تُئْومِنُونَ بِاﭐللَّهِ وَﭐلْيَوْمِ ﭐْلأَخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Alloh dan ta’atilah Rosul(Nya), dan ulil amri (ulama dam umara’) diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Q.S. An Nisaa (4):59)

Apakah akibat yang didapat ketika tuntunan Qur’an dan Sunnah ditinggalkan? Terlebih lagi apabila kita memberikan dan menjadi contoh yang buruk, Rosul SAW., bersabda:

“Barangsiapa yang men-sunnahkan (mencontohkan) kebiasaan yang buruk, lalu diamalkan (oleh orang yang mencontoh), maka dia akan menanggung dosanya & dosa (orang) yang mengerjakan setelahnya, tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim & Ibnu Majah)

Sedangkan Alloh SWT., telah berfirman:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُو هُهُمْ فِىﭐلنَّارِيَقُولُونَ يَٰلَيْتَنَآ أَطَعْنَا ﭐللَّهَ وَأَطَعْنَا ﭐلرَّسُولاَ (٦٦) وَقَالُواْرَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعْنَا سَادَتَنَا كُبَرَآ ءَنَا فَأَ ضَلُّونَا ﭐلسَّبِيلاَ (٦٧) رَبَّنَآ ءَاتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ ﭐلْعَذَابِ وَﭐلْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rosul. Dan mereka berkata:Ya Robb kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).Ya Robb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (Q.S. Al – Ahzab (33): 66 – 68)

Satu hal yang tidak sesuai Qur’an dan Sunnah Rosul SAW., yang kita lakukan, kemudian dicontoh orang lain, bahkan sampai diidolakan layaknya anak muda yang mengikuti artis idolanya, silahkan kita kalikan sendiri dosa yang akan dibebankan kepada kita. Para pelaku bid’ah, segala yang antum lakukan dan diikuti oleh saudara kita yang lain, silahkan antum kalikan sendiri dosa yang akan dibebankan kepada antum. Na’udzubillahi min dzaalik. Ikhwanul Akhwat Fillah. Janganlah kita menyesal di hari akhir kelak. Alloh SWT., telah berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ ﭐلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِىﭐتَّخَذْتُ مَعَ ﭐلرَّسُولِ سَبِيلاً (٢٧) يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلاَ نًا خَلِيلاً (٢٨) لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ﭐلذِّ كْرِ بَعْدَ إِذْجَآ ءَنِى ۗ وَكَانَ ﭐلشَّيْطَـٰنُ لِْلإِ نسَـٰنِ خَذُولاً

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rosul.Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.(Q.S. Al – Furqon (25): 27 – 29)

Dari ‘Irbadh bin Sariyah RA., berkata:

Rosululloh SAW., telah memberi nasehat kepada kami dengan suatu nasehat yang menggetarkan hati-hati dan mencucurkan air mata. Maka kami berkata: “Wahai Rosululloh, seakan-akan ini adalah nasehat orang yang akan berpisah, oleh karena itu berilah wasiat kepada kami”. Beliau berkata: “Aku nasehatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Alloh Azza wa Jalla serta taat walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya barang siapa yang hidup di antara kalian, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur-Rosyidin yang mendapat petunjuk setelahku, gigitlah oleh kalian dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap kebid’ahan adalah sesat.(Dikeluarkan oleh Abu Dawud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no.44)

Ikhwah, sebagai penutup, di sisa umur yang telah ditetapkan-NYA ini, marilah kita sama – sama kembalikan semuanya pada ketentuan yang sangat sempurna dalam risalah Dienul Islam ini. Ingatlah “Khoirunnaas, anfa’uhum linnaas” – sebaik – baik manusia adalah manusia yang berguna bagi manusia yang lain. Janganlah kita masih saja beranggapan bahwa contoh yang diikuti kebanyakan orang awam sebagai kebenaran, karena kebenaran bukanlah diukur dari banyaknya pengikut. Kebenaran hanyalah dari-NYA, ingatlah Allohu wa Rosulluhu A’lamu – Alloh dan Rosul-NYA yang lebih mengetahui, semua hal risalah yang terbaik bagi ummat-NYA. Allohu A’lam bish showab.

Billahit taufiq wal hidayah.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 18 December 2011 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s