RSS

Innallāha Ma ‘Ana

09 Dec

Assalāmu’alaikum Warohmatullohi Wabarokātuh.

Sesungguhnya segala puja & puji hanyalah milik-NYA, Alloh Azza wa Jalla. Tempat segala pujian, harap, istighfar, bermuara hanyalah kepada-NYA, sebaik – baik pemberi rizki, hidayah, dan ampunan. Sholawat serta salam semoga selalu dicurahkan kepada junjungan alam, Nabi dan Rosul, sekaligus penutup segala risalah ke-Nabi-an, Rosululloh Muhammad SAW. Dari beliau-lah petunjuk dan sebaik – baik contoh, juga pemberi syafa’at bagi kita kelak yang senantiasa berjalan di atas Dienul Haqq ini, Dienul Islam.

Kaifa Halukum Ikhwanul Akhwat Fillah? Tidak terasa kita telah berada di tahun 1433 Hijriyah. Jika kita sejenak membaca siroh Nabawi, tahun Hijriyah ditetapkan atas hijrah Nabi SAW., dari Mekkah ke Yatsrib, yang akhirnya didirikan Madinah di sana.

Adakah kita semua pernah merasakan kerisauan, ketakutan, kegalauan, atau entah apapun pilihan bahasa yang mengarah ke sana? Tentunya pernah, ataupun sering? Keadaan ini bisa dikatakan normal, mengapa? Karena Rosul SAW., pun mengalami hal yang sama. Apa yang membedakan kita dan beliau? Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa ketakutan Nabi SAW., yang paling utama adalah nasib kita sebagai ummatnya di hari akhir kelak. Jauh, ya Ikhwah, jauh berbeda dengan kita yang sering dirisaukan akan ketakutan hal yang bersifat keduniawian. Ingatlah pula kerisauan Nabi Yaqub AS., ketika akan meninggal kepada anak – anaknya seraya berkata:

“Ma Ta’buduuna Min Ba’di?”

(Siapakah yang akan kalian sembah setelah aku mati?)

Subhanalloh wa bihamdihi. Sekali lagi, jauh sekali kerisauan para Nabi dan Rosul-NYA dengan kita yang seringnya berpikir makan apa saya besok? bagaimana jika tidak ada uang, bagaimana mau bisa menikmati ikhtilat terselubung dengan fasilitas BBM (Blackberry messenger) dan lainnya.

Ikhwanul Akhwat Fillah. Saat itu, detik – detik dan jam – jam yang menegangkan itu tertoreh dalam siroh Nabawi, bagaimana kaum kafirin Mekkah yang telah mengadakan rapat dipimpin Abu Jahal bersepakat untuk membunuh Nabi SAW. Sesuai Firman-NYA, Nabi SAW., diperintahkan Alloh SWT., untuk hijrah dari Mekkah Al Mukarromah. Betapa tangis dan bahagia Abu Bakar RA., meledak, karena beliau yang dipilih untuk menemani beliau untuk hijrah. Persiapan yang sangat matang dilakukan dalam saat genting yang sangat pendek waktu itu. Kedua putrinya, Asma dan Aisyah RA., diberi amanah untuk menyediakan perbekalan dan mengirimkan makanan selama persembunyian di Gua Tsur, tak lupa pula pemuda sholeh Ali bin Abi Tholib RA., yang dengan keberaniannya tidur di tempat tidur Rosul SAW., menggantikan posisi beliau. Tak ayal, hujan tendangan, tempelengan, pukulan dan sebagainya dari Abu Jahal cs tetap membuat Ali bin Abi Tholib RA., menjawab tidak tahu akan keberadaan Nabi SAW.

Di Gua Tsur itu, kedua abdi-NYA bersembunyi dari kejaran musuh. Dingin, gelap dan mencekam, ditambah lagi Abu Bakar menyembunyikan luka dan sakit akibat gigitan ular ketika membersihkan gua tersebut, membuat beliau meneteskan air mata menahan sakit karena tidak mau membangunkan Rosul SAW., yang tidur di pangkuannya. Rosul SAW., yang terbangun akibat tetesan air mata yang menetes ke muka beliau, akhirnya terbangun dan mengetahui bengkak akibat racun ular. Beliau lantas mengusap bekas luka, biidznillah sembuh, lalu mendo’akan sahabatnya tersebut:

“Ya Alloh! Jadikanlah Abu Bakar kelak di hari kiamat pada derajatku!”

Keteguhan para kaum kuffar tidak berhenti, para ahli pencari jejak mengejar keduanya. Alloh SWT., menyelamatkan Rosul SAW., dan Abu Bakar RA., dengan bantuan makhluk-NYA yang lain, yaitu laba – laba yang membuat sarang di muka gua, juga burung merpati yang menyeruak beterbangan keluar ketika para kuffar mencoba melihat masuk.1

Ikhwanul Akhwat Fillah, pernahkah terbayang bagaimana jika kita berada dalam posisi kedua abdi-NYA saat itu? Ketakutan, kegelisahan, keringat, air mata, ataupun mungkin menahan napas selama mungkin dan menutup mulut agar keberadaan tidak diketahui para pathfinder kuffar bersenjata lengkap yang berada di muka pintu gua dan di atas gua? Na’am, itulah juga yang dirasakan dan dialami Abu Bakar RA. Sebentar – bentar Abu Bakar melihat ke pintu gua, ke atas gua, benar – benar dalam kecemasan tingkat tinggi. Bagaimana dengan Nabi SAW., sendiri? Sedikit pun Nabi SAW., tidak merasa cemas, khawatir ataupun takut kepada mereka, karena beliau penuh dengan keimanan bahwa Alloh SWT-lah yang akan memberikan pertolongan kepada beliau. Melihat sahabatnya dalam kegelisahan dan ketakutan, lalu bersabda: “Janganlah engkau menyangka bahwa aku ini sendirian bersama engkau, tetapi sesungguhnya Alloh selalu beserta kita, selamanya Ia akan melindungi kita. Adapun jika mereka itu nanti jadi masuk ke dalam gua ini dengan jalan melalu pintu gua itu, nanti kita akan melepaskan diri melalu ini.” beliau berkata dengan menunjukkan jarinya ke belakang, padahal sebenarnya, sebelah belakang gua itu tidak berpintu belakang. Peristiwa ini diabadikan dalam Qur’an, Alloh SWT., berfirman:

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَ هُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِ ينَ كَفَرُواْ ثَانِىَ اثْنَيْنِ إِذْهُمَا فِى الْغَارِ إِذْيَقُولُ لِصَـٰحِبِهِ لَاتَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ,عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْ هَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ حِىَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٤٠)٤٠

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Alloh telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Alloh beserta kita.” Maka Alloh menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Alloh itulah yang tinggi. Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(Q.S. At – Taubah (9): 40)

Subhanalloh wa bihamdihi, Alloh SWT., menyebut dan mengabadikan sahabat mulia Abu Bakar RA., dalam Qur’an dengan pilihan kata “Tsaaniyatsnayni” (ثَانِىَ اثْنَيْنِ). Sesudah itu, hilanglah kecemasan, ketakutan, kerisauan dan kegundahan Abu Bakar RA., karena telah diingatkan akan pertolongan Alloh SWT., bagi hamba – hamba-NYA yang benar – benar beriman kepada-NYA. Dengan persiapan yang matang itulah, 3 hari 3 malam lamanya mereka berdua bersembunyi dari makar kaum kuffar, sampai akhirnya dengan perjalanan yang panjang dan melelahkan sampai ke kota Yatsrib.

Ikhwanul Akhwat Fillah, dari sepenggal siroh Nabawi dalam bab Hijrah ke Madinah di atas, banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik. Tidak semerta – merta kita hanya berleha – leha diri dengan berpendirian dan berucap “Innallāha ma ‘Ana” sedangkan keimanan kita tidak ada apa – apanya di hadap-NYA. Kata Ma’ah – Ma’iyah – kebersamaan Alloh SWT., dengan hamba-NYA itu ada 2:

1. Ma’iyah yang bersifat umum; seperti dalam firman-NYA dalam Surat Al – Hadiid:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ

“Wahuwa ma’akum aynamā kuntum…”, dengan terjemahan: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (Q.S. Al – Hadiid (57): 4). Alloh SWT., Al – Aliim, mengetahui segala gerak – gerik hamba-NYA kapanpun dan dimanapun. Bukankah “Alloh SWT., lebih dekat daripada urat leher kita?” Dengan maksud pengawasan Alloh SWT., dan adanya kedua malaikat-NYA yang patuh mencatat amal baik dan buruk kita.

2. Ma’iyah yang bersifat khusus; pengawasan dan kebersamaan Alloh SWT., kepada hamba-NYA yang mempunyai keimanan dan keteguhan pada keberadaan dan syari’at-NYA. Seperti pada contoh pada Rosululloh SAW., dan Abu Bakar RA., dalam kisah di atas.

Seharusnya kita lantas bertanya, apakah iman itu? Iman dari kata Aaman, seperti pada firman-NYA di Q.S. Al – Baqoroh 285. Mempunyai pengertian kepercayaan pada Alloh SWT., sebagai Ilah – sesembahan yang sebenar – benarnya berhak disembah dengan melaksanakan konsekuensi Tauhid dan 3 pembagian Tauhid: Rububiyyah, Uluhiyyah, Asma wa Sifat.

Betapa Rosul SAW., adalah orang yang paling mengenal Alloh SWT., dan paling beriman kepada Alloh SWT., sehingga semua hak – hak Alloh SWT., dari hamba-NYA benar – benar dipenuhi beliau. Maka dari itulah, tiada segala ketakutan, kecemasan, tangisan layaknya yang sering kita alami akan datang, jika keimanan kita memang mantap adanya, maka layaklah kita berucap hal yang sama dengan Rosul SAW:

إِنَّ اللَّهَ معَنَا

“Innallāha Ma ‘Ana!”

(“Sesungguhnya Alloh bersama kita!”)

Ikhwanul Akhwat Fillah, tiadalah kesedihan, kecemasan, ketakutan, baik dalam sedih maupun senang akan kita alami, jika kita benar – benar betawakkal pada-NYA. Ingatlah konsep tauhid yang difirmankan-NYA dalam Surat Al – Ikhlas, Alloh SWT., adalah Ash – Shomad, Alloh SWT., adalah tempat menggantungkan segala harapan kita.

Subhanalloh wa bihamdihi. Marilah kita petik beberapa pelajaran dari kisah hijrah Nabi SAW:

  1. Selalu tingkatkan level keimanan kita kepada Alloh SWT.
  2. Alloh SWT., selalu mengetahui segala gerak – gerik kita. Maka bersikaplah Waro’.
  3. Jadikanlah kehidupan dunia sebagai ladang amal baik sebanyak – banyaknya untuk mempersiapkan perjalanan menuju kampung akhirat yang abadi.
  4. Tawakal kepada Alloh SWT., DIA-lah sebaik – baik pemberi dan yang mencukupkan kebutuhan kita, yang tahu yang mana yang baik dan buruk bagi kita.
  5. Janganlah gentar akan kaum kuffar, karena Alloh SWT-lah sebaik – baik penolong.
  6. Cintailah dan penuhilah hak – hak Alloh SWT., dan hak – hak Rosul-NYA, dengan cara mengikuti syari’at Dien yang telah dituntunkan-NYA lewat Uswatun Hasanah.

Sebagai penutup, betapa pertolongan Alloh SWT., akan turun kepada hamba-NYA ketika cobaan menerpa hidup kita ketika kita tidak sedikitpun menyekutukan-NYA dan selalu berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah Rosul SAW.

أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحْزَنُواْ

“…Allā takhāfuu walā tahzanuu…”

(“…Janganlah kamu takut dan janganlah merasa bersedih…”)

Ucapkanlah: Innallāha Ma ‘Ana!!”

إِنَّ الَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَـٰمُواْتَتَنَزَّلُ عَلَيهِمُ الْمَلَــــٰٓـئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحْزَنُواْ وَأَبْشِرُاْ بِالْجَنَّةِ الَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ (٣٠)٣٠

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Alloh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu”. (Q.S. Al – Fushshilat (41): 30)

Wallohu A’lam. Billahit Taufiq.

Wassalāmu’alaikum Warohmatullohi Wabarokātuh.

Catatan Kaki:

1. Kisah adanya laba – laba yang bersarang di muka gua, dan adanya burung merpati merupakan kisah munkar yang disebutkan oleh Syaikh Al – Albani. Syukron katsir atas koreksinya, Ustadz.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on 9 December 2011 in Islam

 

Tags:

One response to “Innallāha Ma ‘Ana

  1. Elfianti

    14 January 2012 at 11:35 AM

    SubhaanalloH walhamdulilllaH walaa ilaaHa illaalloH wallooHu Akbar walaa hawla walaaquwwata illaa billaaHil ‘aliyyil ‘azhiym, begitu m’gugah hati isinya, Y Robbanaa jadikanlah kami yg bisa m’persiapkan bekal dengan sebenar – benarnya bekal ( TAQWA ), (QS : 59 : 18 ),agar kami dpt bertemu wajah MU diakhirot kelak, & bertemu dngn RosululloH S A W,tingkatkanlah Iman Ilmu amal kami,Berkahilah Rohmati berikanlah kpd kami Berkah Rohmat Hidayah Taufiq Inayah Maghfiroh Cinta Ridho MU AllooHumma’i AlloHummaa Nadhiri AllooHumaa Syaahidi . Aamiyn YR’A Y Rohman Rohiym Y Dzaljalaali wal Ikrom Y Hayyu Y Qoyyum Y ‘Aziz Y Qodir Y Ghofur Y Mujib

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s