RSS

Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 4 – 1

04 Dec

Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 4 – 1

Ustadz Armen Halim Naro

MENUJU MADZHAB SALAF

 

Nabi Muhammad -Shollallohu ‘alaihi wa sallam- adalah seorang rosul yang menjadi pengemban amanah yang terberat, sehingga Alloh menganugerahkan para sahabat yang siap membela dakwah dan risalahnya. Demi terlaksana risalah ini dengan baik, maka Alloh telah mempersiapkan segala sesuatunya, demi terciptanya “khoiru ummah” umat yang terbaik. Nabi yang Alloh pilih adalah manusia yang berhati terbaik dari semua hati yang ada pada manusia, dan para sahabat dari Muhajirin dan Anshar sebagai kaum yang terbaik dari seluruh kaum dan puak yang ada pada semua masa dan tempat. Lalu Dia letakkan mereka yang terbaik itu di sebuah tempat yang tersuci, jazirah Arab sebuah lembah tandus tapi penuh berkah di sisi rumah-NYA yang agung yaitu Ka’bah.

Dari Abdullah bin Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Alloh melihat hati semua makhluk, maka Dia dapatkan sebaik-baik hati manusia adalah hati Muhammad, lalu Dia ambil sebagai peruntukan diri-NYA dan sebagai pengemban risalah-NYA. Kemudian Dia melihat kepada semua hati manusia setelah hati Muhammad, ia temukan hati para sahabatnya sebaik-baik hati, lalu Dia jadikan mereka sebagai pembela Nabi-NYA dan berperang membela agama-NYA…” [Musnad Thayalisi (hal. 33 no. 246), Musnad Ahmad (1/379) dan dihasankan oleh Al Albani di Silsilah Dha’ifah no. 532]

Nabi Muhammad -Shollallohu ‘alaihi wa sallam- diutus setelah berselang lama absennya para rosul, antara beliau dengan nabi sebelumnya hanya nabi Ibrahim, pada masa manusia dalam buta di kegelapan jahiliah, tidak mengenal lagi ajaran yang benar, kecuali ritual ibadah yang telah menjadi tradisi dan adat-istiadat yang telah diselewengkan dari jalan kebenaran.

Semenjak itu, ketika matahari kebenaran telah terbit di ufuk kegelapan, hilanglah kegelapan dan sirnalah jahiliyah. Tatkala bala tentara Alloh datang, maka bersurutlah kerumunan pengikut kebatilan, nyatalah bagi manusia kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan.

Kiranya, apa yang mereka lakukan selama ini tidak lain hanyalah kesesatan dan maksiat kepada Alloh sehingga mereka dapat hidup dengan bahagia di bawah lindungan agama yang hanif dengan penuh nikmat kesucian akidah, keindahan syariat dan kebahagiaan beribadah. Jauh dari was-was syirik, kotoran bid’ah, khurafat dan takhayyul.

Nabi pernah mengingatkan kebahagiaan ini kepada para pembelanya yaitu Anshar, orang – orang yang terpilih menjadi sandaran dan penopang dakwah beliau, ketika mereka tidak puas dengan pembagian ghanimah Hunain yang dibagikan Nabi hanya kepada pemuka Quraisy, mereka tidak mendapat sedikitpun. Beliau berkata, “Wahai sekalian Anshar, desas-desus apa yang telah sampai kepadaku?! Dan ketidak puasan apa yang kalian rasakan pada diri kalian?! Bukankah aku temukan kalian dalam keadaan sesat lalu Alloh memberi kalian hidayah melaluiku! (Bukankah aku temukan kalian dalam keadaan) melarat, lalu Dia kayakan kalian lantaranku!! ‘Bukankah aku temukan kalian dalam keadaan) saling bermusuhan, lalu Alloh menyatukan hati kalian?!, kenapa kalian tidak menjawabnya, wahai sekalian Anshar?” . Mereka berkata, “Dengan apa dapat kami jawab, wahai Paduka! Padahal semua keutamaan dan hutang budi hanya kepada Alloh dan rosul-NYA!…” [Bukhori 8/37,42 dan Muslim (1061)]

Begitulah, belum lagi Nabi dipanggil oleh Alloh kecuali Dia telah menyempurnakan agama-Nya. Beberapa bulan sebelum beliau meninggal, tepatnya pada haji wada’, Alloh menurunkan ayat-NYA yang terakhir,

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu dan Aku sempurnakan nikmat-Ku kepada kalian, dan Aku telah ridho Islam sebagai agama kalian”. [Q.S. AI – Maidah (5): 3]

Berkata Abdullah bin ‘Abbas dalam menafsirkan ayat ini, “Alloh mengabarkan Nabi-NYA serta kaum mukminin, bahwa Dia telah menyempurnakan bagi mereka keimanan, sehingga tidak perlu bagi mereka mencari penambahan lagi, Alloh telah menyempurnakan lslam sehingga tidak perlu lagi pengurangan, Dia telah ridho yang tidak akan murka dengan iman tersebut” (Tafsir Ibnu Katsir 2/12)

Hal ini diperkuat pula persaksian NabiNya, dari riwayat Abu Darda’ dari Nabi bersabda,

“…dan demi Alloh, aku tinggalkan kalian di atas jalan yang terang, malamnya bagaikan siang” (Sunan Ibnu Majah no. 5 dan dihasankan oleh Al Albani di Shahih Ibnu Majah 1/6)

Dalam hadits Irbadh bin Sariah ,”… tidak mungkin seseorang menyeleweng setelahku nanti, kecuali yang mau binasa (sendiri).” (Musnad Ahmad 4/126, Sunan Ibnu Majah 1/16 dan hadits dishohihkan oleh Al Albani melalui semua jalannya di “Zhilalil Jannah Takhrij Kitabus Sunnah” hal. 26)

Abu Darda’ berkata : “Telah benar Rosululloh sungguh ia telah meninggalkan kami seperti jalan yang terang, malam dan siangnya sama” (Musnad Ibnu Majah 1/6 setelah menukilkan hadits di atas)

Dalam praktek dan pengamalan Islam, maka semua sahabat mendapatkan pengajaran yang sempurna sesuai dengan yang diinginkan Alloh. Dalam koridor ittiba’ dan iqtida’ (menurut dan memanut syariat) yang tidak pernah dikenal oleh sejarah, dan juga pakar sejarah tidak pernah melihat orang-orang yang mengelilingi panutannya dalam hal ittiba’ sebagaimana para sahabat mengikuti Rosululloh. Akidah, ibadah, akhlak, muamalah dan semua kehidupan mereka adalah praktek nyata dari Kitab dan Sunnah. Dengan pemahaman yang mendalam dan analisa yang tajam, tanpa berlebih-lebihan dan memaksa-maksakan. (Silakan Lihat “Al-Fikrus Shufi” 1/25)

Karena pada dasarnya Islam itu sendiri adalah agama yang sesuai dengan fitrah, bukan agama pengalaman atau ilmu coba-coba! Agama yang mudah, bukan agama filsafat yang selalu menyulitkan dan menimbulkan masalah! Agama untuk yang mau berkarya dan berbuat, bukan agama orang-orang yang patah semangat dan padam motivasi. Dengan kesederhanaan tersebut, mereka membawa aqidah yang bersih dari segala debu syirik kepada peradaban Islam, mereka penuhi dunia dengan keindahan Islam, dan mereka merdekakan manusia dari jajahan animisme dan penyembahan berhala, dan mereka tanggalkan belenggu-belenggu penghambaan kepada manusia dan menukarnya dengan peribadatan kepada Alloh Dzat Yang Maha Kuasa.

Begitulah keadaan berlangsung, hidup di alam luas ittiba’ semasa hidup Rosululloh dan dua masa pemerintahan Khulafaurrasyidin Abu Bakar dan Umar. Tidak membiarkan “akal syaithan” merusak dengan semaunya, atau perasaan dan kalbu iblis mempermainkan agama hanif ini, atau ‘pengalaman spiritual Fir’aun’ memburaikan tatanan hukum syariat. Begitu pula yang berlaku pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, tidak ada bid’ah yang berani mendongakkan kepalanya, kecuali diakhir masa pemerintahannya, tatkala bala tentara iblis tidak kuat Iagi menghadapi bala tentara Islam dengan perang secara frontal.

Dengan bertujuan merusak Islam dari dalam, sebagai bentuk perlawanan orang-orang pengecut dan berjiwa lemah, masuklah ke dalam Islam orang-orang yang kalah tersebut. Bersamaan dengan itu penaklukan kota dan negeri-negeri membuat orang berbondong – bondong masuk Islam tanpa pemahaman yang benar dan pengetahuan yang memadai tentang Islam. Begitulah hukum yang berlaku pada setiap zaman, jika berkumpul orang-orang yang berniat buruk dengan gerombolan kebodohan, maka yang akan terjadi adalah kerusakan.

Hal itulah yang terjadi pada masa akhir pemerintahan Ustman, dengan datangnya gerombolan dungu dan sampah manusia yang dipimpin oleh seorang Yahudi licik Abdullah bin Saba’ ke kota Madinah, setelah ia berletih dan berpeluh selama puluhan tahun pindah dari negeri ke negeri untuk mengumpulkan orang-orang tersebut. Hingga terbunuhlah sang khalifah – menantu Rosululloh. Itulah awal kelemahan dan percikan api perpecahan umat.

Pada masa Ali bin Abi Tholib, permasalahan terbunuhnya Utsman semakin memperburuk keadaan, dengan munculnya dua kelompok yang saling berlawanan pemahaman. Khowarij yang mengkafirkan Ali dan sebagian para sahabat, dan Rafidhah yang mandakwakan kenabian bahkan ketuhanan Ali, lalu beruntutlah firqah-firqah setelah itu.

Pada masa tabi’ in yaitu pada masa akhir masa khilafah Bani Umayyah, muncullah bid’ah Jahmiah dan Musyabbihah, dan kelompok di atas menjadi pokok-pokok firqah yang datang setelahnya. (Silakan lihat tentang awal perkembangan firqoh-firqoh dalam Islam; Minhajussunnah 6/230-232, Siyar A’lamin Nubala’ 11/236).

4.1. Islam = Salaf = Ahlussunnah

Ketika Islam yang murni – Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad -Shollallohu ‘alaihi wa sallam- telah tercampuri dengan pemahaman dan pemikiran lain, dan masuk ke dalam Islam yang bukan berasal darinya, hingga muncullah kelompok-kelompok yang telah melenceng dari jalan kebenaran, dan seluruhnya mendakwakan mereka sebagai penganut Islam, maka para pengikut sejati Islam merasa berkewajiban memperkenalkan diri dengan nama yang membedakan mereka dengan firqah-firqah yang lainnya. Muncullah nama-nama lain yang disyariatkan untuk pemanggilan orang-orang yang memeluk agama Islam sebenarnya, yaitu

Ahlussunnah wal Jamaah, Salaf, Firqah Najiah, Thaifah Manshurah.

Semua penamaan di atas mengarah kepada satu makna dan pemahaman yaitu Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad -Shallallohu ‘alaihi wa sallam- dan yang dipraktekkan oleh para sahabat. Penamaan tersebut bukanlah nama-nama yang dibuat oleh para ulama tanpa ada dalil syar’i, sebaliknya nama tersebut sebagian diambil dari sabda Nabi dan sebagian lagi diperoleh sebagai bukti mereka telah mempraktekkan Islam dengan cara yang benar. Penamaan seperti Firqah Najiah atau Thaifah Manshurah dua nama yang diberi oleh Nabi kepada pengikut beliau yang menegakkan Islam sebagaimana yang dibawa oleh Nabi .

Berbeda dengan penamaan firqah-firqah yang lain, mereka menamakan kelompoknya dengan menisbatkan kepada pendirinya, seperti; Jahmiah – nisbat kepada pendirinya Jaham bin Shafwan, Kullabiah – nisbat kepada Abdullah bin Kullab, Karramiah – nisbat kepada Muhammad -Shallallohu ‘alaihi wa sallam- bin Karram, dan Asy’ ariah – nisbat kepada Abut Hasan Al-Asy’ ari. Atau mereka mengambil nama firgahnya dari asal kata perbuatan bid’ ah mereka, seperti; Rafidhah karena mereka menolak Zaid bin Ni atau mereka menolak kepimpinan Abu Bakar dan Umar, Nawashib karena mereka memancang permusuhan kepada Ahlul Bait, Qadariah karena mereka berbicara tentang gadar, dan Murji’ah karena mereka mengakhirkan amal dari iman. Atau gelar yang diberikan kepada mereka karena melencengnya mereka dari pengajaran kaum muslimin, seperti; Khawarij karena keluarnya mereka kepada Amirul Mukminin Ni bin Abu Thalib, dan Mu’ tazilah karena pemimpin mereka (Washil bin Atha`) mengasingkan diri dari majlis Hasan Bashri dan begitu seterusnya.

Jadi, manakah firqah-firqah di atas yang penamaan sesuai dengan nash dan syariat? Satu firqah menamakan kelompoknya berdasarkan hawa nafsu dan akal pemikiran. Dan firqah yang satu lagi menggunakan nama yang diberikan oleh syariat, sebagai bentuk penghargaan bagi siapa saja yang bergabung dengannya.

Syaikh Bakar Abu Zaid -hafizhahulloh- menyimpulkan bahwa, penamaan yang mulia menyelisihi semua nama dan gelar kelompok manapun dari beberapa segi, yaitu:

  1. Penamaan itu tidak pernah tanggal satu detikpun dari kaum muslimin semenjak dibentuk pada masa kenabian, ia mencakup seluruh kaum muslimin yang benar-benar di atas manhaj generasi pertama Islam, dan orang-orang yang mengikuti mereka dan menyadap ilmu dan cara memahaminya dan mengikuti cara berdakwahnya.
  2. la mencakup semua makna Islam (yaitu Kitab dan Sunnah), dia tidak hanya khusus pada sebuah metode yang menyelisihi Kitab dan Sunnah baik dalam penambahan maupun dalam pengurangan.
  3. Penamaan tersebut diantaranya sah dari sunnah yang shahih, dan diantaranya hanya dimunculkan ketika hendak menghadang metode Ahlul ahwa dan firqah-firqah yang sesat, untuk membantah bid’ah mereka dan membedakan diri dengan mereka.
  4. Sesungguhnya buhul wala’ dan bara’ – loyalitas!, membenci dan mencinta bagi mereka hanya terhadap Islam, tidak dengan yang lainnya, tidak dengan nama tertentu atau tata-cara tertentu, akan tetapi hanya dengan Kitab dan Sunnah saja.
  5. Nama-nama di atas tidak akan menjadikan mereka ta’ashsub kepada seseorang kecuali hanya kepada Rosululloh .
  6. Penamaan itu tidak mengantarkan mereka kepada perbuatan bid’ah atau maksiat, dan tidak membuat mereka fanatik kepada seseorang atau golongan tertentu. (Silakan lihat, Hukmul Intima’ Hal 31-37)

Dan kekhususan di atas tidaklah dimiiiki oleh kelompok manapun, dapat kita lihat bagaimana seseorang jika telah masuk ke dalam salah satu kelompok, maka ia akan menutup matanya dari semua atau sebagian penyelewengan kelompok tersebut yang telah nyata penyelisihannya terhadap Kitab dan Sunnah dan ia rela membela hidup atau mati di atasnya. Maka, kita akan temui seorang yang masuk ke jamaah Hizbut Tahrir, misalnya! Sekalipun telah nyata baginya bahwa hadits ahad itu sah digunakan dalam beraqidah baik secara akal maupun nash, tetapi mereka tetap membela ajaran HT-nya bahwa hadits ahad tidak bisa dijadikan hujjah dalam aqidah. Kita temukan juga seseorang yang telah menyatakan dirinya Ikhwan Muslimin, sekalipun telah nyata baginya bahwa metode semua Nabi dan Rosul serta seluruh para sahabat adalah memulai dakwah dengan tauhid, akan tetapi mereka tetap bersikukuh dengan menutup mata dan telinga mereka bahwa dakwah harus dengan kekuasaan.

Kenapa bisa terjadi hal demikian? Kenapa harus berloyal di atas kebathilan? Saya kira jawabannya adalah itulah dampak hizbiah (fanatik kelompok), akibat kebanyakan kaum muslimin bergolongan-golongan, setiap kelompok bangga dengan kelompoknya. Jadi, hizbiahlah yang menyebabkan perpecahan umat ini, golongan – golongan itu yang merongrong persatuan Islam!! Dialah akar tunggang perpecahan umat, panghalang kaum muslimin untuk berpegang teguh dengan Kitab dan Sunnah Nabi mereka!!

Oleh karena itu, Salaf mencela seseorang yang menceburkan diri ke dalam sebuah kelompok dengan berhidup-mati di atasnya, kecuali terhadap Islam itu sendiri atau nama yang semakna dengannya.

Imam Malik berkata, “Ahlussunnah tidak memiliki gelar yang dikenal, mereka tidak bergelar Jahmiah, atau Qadariah atau Rafidhah”.

Dari Abdullah bin Abbas berkata, “Barang siapa yang mengakui satu nama dari nama-nama yang Baru tersebut, berarti ia telah mananggalkan baju Islam”.

Berkata Malik bin Mighwal, “Jika seseorang mengambil nama selain dari Islam dan Sunnah, maka kelompokkan ia kepada agama yang engkau sukai”. (Lihat Mauqif Ahlissunnah 1/39-40)

Jadi, seorang yang telah berikrar mengikuti ajaran Islam yang murni bersumberkan ajaran asli yang dibawa oleh Rosululloh, maka ia tidak diperkenankan mencari Cara dan metode selain Islam itu sendiri, dan juga ia tidak diperkenankan menisbatkan diri kepada selain dan Islam atau yang semakna dengannya. Alloh berfirman,

“Barang siapa yang mencari selain dari Islam sebagaimana Dien (aturan dan hukum), Alloh tidak akan menerima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang – orang yang merugi”. [Q.S. Ali Imran (3): 85]

 

[Bersambung Insya Alloh…]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 4 December 2011 in Hadits, Islam

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s