RSS

Percakapan Yang Aneh

20 Jul

Percakapan #1:

Pak TR: “Jadi bapak tiap hari melewati jalan yang rusak bolong – bolong, kalau hujan becek parah dan akhirnya kalau kering jadi berdebu itu, ya?”

Pak TS: “Ya memang jalan itu parah sekali sebenarnya. Apalagi saya ini kan pengendara motor, harus ekstra hati – hati terlebih jika malam hari.”

Pak TR: “Apa memang tidak ada jalan alternatif lain yang lebih nyaman dan aman, Pak? Biarpun harus memutar dan lebih jauh begitu?”

Pak TS: “Ya memang saya pun sebenarnya tidak mau lewat jalan itu, tapi saya setiap hari selama beberapa tahun ini pilih jalan itu saja. Lebih dekat, sudah biasa jadinya biarpun akhirnya motor saya lebih cepat rusak dan lebih butuh banyak perawatan.”

*****

Percakapan #2:

Ikhwan: “Yaa Ukhti, kenapa ukhti menempelkan foto tanpa hijab di akun FB anti?” kan itu dikategorikan tabarruj.”

Akhwat: “Kata siapa tabarruj? Ana pasang foto yang biasa – biasa saja tuh.”

Ikhwan: “Ukh, yang menganggap biasa – biasa saja kan hanya anti, tapi bagaimana jika orang lain apalagi ajnabi yang melihatnya? Dalam Islam kan ada prinsip yang mengutamakan untuk menutup pintu yang bisa mendatangkan mudhorot.”

Akhwat: “Ah, mereka saja yang punya pikiran miring ke ana, ana hanya positive thinking saja laah, khusnudzon saja laahh.”

Ikhwan: “Yaa Ukhti….ingatkah tentang godhul bashor (menundukkan pandangan) yang ada di An – Nuur: 31?”

Akhwat: “Akh, ana tidak pernah melihat wajah ajnabi dengan rasa yang lebih kok, kenapa anta bicara seperti itu?”

Ikhwan: “Ukh, kewajiban godhul bashor bukan hanya untuk akhwat saja. Lihatlah ayat sebelumnya, kewajiban menundukkan pandangan itu juga disyari’atkan bagi para Ikhwan. Nah, bagaimana para Ikhwan bisa menundukkan pandangan apabila para akhwat memajang “foto biasa – biasa saja” mereka sejelas – jelasnya?”

Ikhwan: ”Syukron sudah diingatkan. Urusan dosa ini biarlah menjadi urusan ana dan Alloh SWT.”

*****

Percakapan #3:

Akhi MAP: “Ah, masa sih Maulidan dan Tahlilan tidak diperbolehkan? Ana saja dulu waktu selama Madrosah diajarkan keutamaan – keutamaan tersebut.”

Akhi FP: “Memangnya hadits apa yang menjadi dalil tersebut, Akh?”

Akhi MAP: “Ana lupa tepatnya dalil hadits dan kitab Maqolahnya. Lagipula lihatlah para Habib dan para Habaib yang ada mengadakan perayaan tersebut kok.”

Akhi FP: “Hah? Bukankah para Salaf 3 generasi terbaik ummat tidak pernah merayakannya? Nabi SAW., pun tidak pernah kok, Akh.”

Akhi MAP: “Wah, itu sih Salaf yang berpaham Wahabi. Wahabi dan Khowarij sudah ada pada zaman tersebut.”

*****

Percakapan #4:

Pemuda: “Yaa Ukhti…ikutilah jalan Alloh SWT., mulailah berhijab fisik.”

Pemudi: “Thank’s sudah diingatkan. Lebih baik jilbabkan hati terlebih dulu.”

Pemuda: “Jilbab? Hijab tepatnya, ya?”

Pemudi: “Ya itulah.”

Pemuda: “So, mulai kapan mulai belajar berhijab fisik?”

Pemuda: “Sekarang lagi belajar untuk berhijab hati dulu, Alloh kan tidak melihat rupa dan penampilan kita, tetapi melihat hati dan iman kita!”

*****

Percakapan #5:

Wanita 1: “(sambil berbicara ke temannya) Yaahh…payah lu, sendirian di rumah aja pake takut kudu ditemani segala.”

Wanita 2: “Ya tapi kan rumah itu emang angker. Lihat aja pohon – pohon jati emas yang ada di depan rumah, tambah angker lah.”

Wanita 1: “Yah…masa lu lupa sama ayat kursi? Baca aja ayat itu, juga surat Al – Ikhlash dan surat An – Naas, kalau enggak setel aja murottal surat Al – Baqoroh”

Wanita 2: “Aduh, makhluk lain yang ada kaya’nya lebih kuat deh.”

Wanita 1: “Masa lu takut sama sesama makhluk-NYA? Takut mah sama Alloh SWT., iya gak Pak?” (sambil berbicara ke seorang pria yang ada)

Pria: “Iya takut hanyalah kepada Alloh SWT. Tapi by the way, Ibu kok tidak berhijab? Ga takut sama Alloh SWT?”

*****

Percakapan #6:

Pemuda: “Yaa Ukhti…kembalilah jalan Alloh SWT., ingatlah kesalahan – kesalahan di masa lalu. Taubatlah dengan Taubatan Nasuuha.”

Pemudi: “Aku memang pendosa, dan selamanya dosa itu akan menempel padaku. Tetapi aku akan mencari ampunan-NYA dengan jalanku sendiri.”

*****

Percakapan #7:

Bapak: “Jikalau Bapak meninggal nanti, apakah kalian akan mengadakan acara tahlilan?”

Anak: “Tidak Pak, bukankah memang tidak ada tuntunannya dari Nabi SAW?”

Bapak: “Bakal kugentayangin kalian semua.”

*****

Percakapan #8:

Muslim: “Ga jadi nonton band itu tapi jadinya nonton konser musik itu, trim’s Guys!”

Muslimah: “You’re wellcome. Heuwwhh…aq bakal merindukan malam senang2 kaya’ gini lagi :))”

Muslim: “Gpp, kita sambung senang – senang kita tahun depan…Insya Alloh.”

Kafir: “Thanx a lot to All My Lovely Brothers & Sister to accompany me in the last music concert. Jd sedih, kapan bisa kumpul kaya’ gini lagi.”

Muslimah: “Iya aq jg jd sedih…tapi mdh2an taun depan n taun2 berikutnya kita bakal terus ky gini. Amiiiinnn…long live us!! Haduh, hari ini aq byk tertawa. Senangnya… :)) You made my day so cheerfull. Jd pgen jalan2 lagi, 1 hari bersama kalian tnp mikirin apapun slain tertawa.”

*****

Percakapan #9:

Muslimah: “Jadi sedih, keingatan hari ini hari meninggalnya almarhum suami.”

Muslim: “Banyak berdo’a saja untuk almarhum.”

Muslimah: “Iya, itulah yang menguatkan saya dalam hal mendidik anak – anak kami.”

Muslim: “Iya bagus. Banyak – banyaklah berdo’a, almarhum pasti mendengar kok di alam sana.”

*****

Percakapan #10:

Presenter: “Siapa yang berhak mendefinisikan pokok – pokok ajaran agama dan nilai – nilai ajaran agama? Karena setiap orang bisa meng-klaim berhak untuk mendefinisikan.”

Profesor Sepilis: “Siapapun berhak untuk melakukan definisi, tetapi pemerintah tinggal melihat apakah koridornya itu sesuai dengan Pancasila, UUD ’45, sesuai dengan prinsip ke-Bhinneka-an kita, dan sesuai dengan prinsip NKRI kita. Jadi 4 koridor ini jelas sekali.”

Presenter: “(sambil menahan tawa) Penafsiran agama Islam-pun menurut anda ukurannya dengan 4 hal itu?”

Profesor Sepilis: “Karena kita di Indonesia, kan? Prinsip yang kita anut harus sesuai dengan paham berbangsa dan bernegara. Selama ini tidak ada pertentangan kok antara ajaran agama dengan 4 prinsip yang saya katakan tadi.”

*****

Ihdinashshiroothol Mustaqim, Yaa Robbana Yaa Karim.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 20 July 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s