RSS

Dimanakah Qona’ah?

06 Jul

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Segala puja dan puji hanyalah milik-NYA, Alloh SWT., Robbul ‘Alamin, yang sampai saat ini masih memberikan nikmat Iman, Islam dan kesehatan. Kepada-NYA-lah semua do’a dan harap seharusnya kita gantungkan, karena DIA-lah Ash – Shomad. Sholawat serta salam semoga juga selalu tercurah pada Rosululloh Muhammad SAW., yang telah menuntunkan risalah-NYA di jalan yang diridhoi-NYA, jalan yang hanif, jalan yang lurus, jalan Islam Rohmatan lil ‘Alamin.

Alloh SWT., telah berfirman dalam Kitabul Karim:

Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada tiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Robbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Q.S. An – Naazi’aat (79): 34 – 41)

Ikhwanul Akhwat Fillah. Pernahkah merasa letih akan usaha dalam memenuhi kebutuhan hidup? Sejenak, pikirkanlah. Bagi antum yang telah terikat dalam kontrak hitam putih kerja, berapa jam dalam sehari dan dalam seminggu antum mencari gaji? Atau bahkan menambah hari libur untuk menambah penghasilan? Makan untuk hidup? atau hidup untuk makan? Atau bahkan sampai menyerempet daerah abu – abu untuk memperoleh penghasilan? 1001 alasan dan 1001 cara bani Adam dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tidak, Alloh SWT., tidak melarang kita untuk bekerja mencari penyambung kebutuhan hidup, karena di Q.S. Ar – Ro’du telah difirmankan-NYA bahwa Alloh SWT., tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri yang merubahnya. Namun, sejenak pikirkanlah. Semua itu ada konsekuensinya yang harus dibayar. Mulai dari efek sederhana yaitu kelelahan, sampai melepaskan ibadah sunnah bahkan Naudzubillahi min dzaalik sampai meninggalkan yang wajib, melupakan kewajiban tholabul ‘ilmi dan mendidik keluarga, melupakan sanak saudara yang lain dan hidup bertetangga, dan lain sebagainya.

Ikhwanul Akhwat Fillah. Barangkali kurangnya qona’ah? Atau terbiasa hidup mewah? Atau sedang membiasakan diri untuk hidup mewah? Atau karena tuntutan kelompok kita? Rosul SAW., telah bersabda:

“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

Kurangkah dengan keadaan saat ini? apa yang sedang antum cari? Padahal hari – hari dicukupkan umur sesuai qodar-NYA adalah langkah yang selalu kita dekati. Sekali lagi, apakah kita lupa perihal Qona’ah? Dari Abdullah bin Umar RA., Rosul SAW., bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang telah masuk Islam, ia dikaruniai kecukupan dan yang menerima dengan puas apa yang diberikan Alloh kepadanya.” (HR. Muslim)

Motor terbaru? Mobil terbaru? Rumah Baru? Blackberry baru? Mari kita ikuti perjalanan perkembangan teknologi ini. Antum punya motor dan mobil baru sesuai impian dan keinginan? ucapkanlah Alhamdulillah, tetappi pernahkah terpikir apabila motor dan mobil keluaran terbaru itu terkadang pajaknya lebih besar dan biaya perawatan, suku cadang maupun bahan bakarnya lebih boros dari yang sebelumnya? Juga demi diterima di kelompok klub kendaraan tertentu harus membeli kendaraan dengan tipe dan warna tertentu? Antum punya rumah baru yang lebih bagus dan besar? Ucapkanlah hamdalah juga. Tetapi pernahkah terpikir apabila rumah baru dan lebih besar itu biaya perawatan, biaya perabotan, listrik juga pajaknya lebih besar dari sebelumnya? Antum punya blackberry atau handphone keluaran terbaru dan terkini? kembali ucapkanlah hamdalah. Tetapi pernahkah terpikir bahwa biaya kerusakan, fasilitas fitur paket yang menambah pengeluaran pulsa, padahal kebutuhan kita hanya telepon dan sms saja? Atau agar bisa mendapat fasilitas syetan untuk ikhtilat terselubung dan pemborosan pulsa dan waktu?

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Huud (11): 15 – 16)

Sungguh, satu hal yang terlupa adalah apabila kita mempunyai keinginan akan kehidupan dunia, tetapi kita hanya berlomba – lomba mengejar target tersebut dengan melupakan efek samping yang juga harus dikeluarkan. Apakah akibatnya? Tidak akan pernah merasa cukup, tidak akan pernah selesai! Dulu antum berpikir dengan rumah, kendaraan, handphone akan tenang dalam hidup dan beribadah, tetapi setelah efek samping tersebut terlupakan dan akhirnya menjadi target baru, maka akan kembali terlupakan perkara ibadah ini. Pastilah kita bisa menghela napas sementara ketika kendaraan, mobil, handphone dan lainnya telah dimiliki. Tetapi untuk berapa lama? Apabila sebenarnya usaha lebih maksimal harus juga menanti untuk dikeluarkan untuk menjaga target yang telah diperoleh tersebut.

Ikhwanul Akhwat Fillah. Apakah kita sedang merasa kurang saat ini karena dulu terbiasa hidup mewah? Atau memang sedang membiasakan hidup mewah dengan pemborosan disana – sini? Ingatlah bahwa Alloh SWT., telah berfirman:

“Sesungguhnya pemboros – pemboros itu adalah saudaranya syetan.” (Q.S. Al – Isro’ (17): 27)

Ada 2 pilihan sebenarnya untuk problematika ini. Antum diberikan harta yang banyak ketika antum bermaksiat pada-NYA? Atau diberikan harta secukupnya tapi antum bisa taat pada-NYA? Tentulah pilihan kedualah yang seharusnya kita jalani. Coba sekali lagi pikirkanlah, antum bisa sholat berjama’ah di masjid selepas kerja dan ketika libur dalam keadaan saat ini, tapi masih bisakah istiqomah ketika kita sedang mencari tambahan untuk “taraf hidup yang lebih baik?”

Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.(Q.S. Al – A’laa (87): 16 – 17)

Afwan Yaa Ikhwatul Iman, pernahkah terpikir apa bedanya nasi warteg dengan lauk tumis kangkung dan 2 iris tempe jika dibandingkan sepotong hotdog, spaghetti atau burger? Bukankah lidah pemberian-NYA ini mudah sekali ditipu? Bukankah dengan kemajuan teknologi semuanya bisa direkayasa? Sudah ada yang membuat tiruan rasa pisang dan durian dalam es krim, food Engineer telah mampu membuat daging sintesis tiruan dari tempe dan tahu. Antum paham? Yang namanya makanan itu hanyalah terasa lezat di lidah – mulut saja.

Yaa Ummi Sholehah… bagaimana manajemen anti sekalian dalam menjadi partner suamimu di dalam keluarga? Banyak sekali saat ini yaa ummi, muslimah yang membenarkan ayat-NYA akan istri dan anak itu adalah fitnah. Tengoklah diri kita. Pernahkah anti sekalian membujuk rayu suamimu untuk membelikan perhiasan emas terbaru yang padahal kita belum tentu membutuhkannya saat ini? pernahkah anti sekalian merajuk pada suami agar membeli kendaraan terbaru padahal kendaraan saat ini masih lebih dari cukup? Atau apabila semua itu tidak bisa diberikan suamimu lantas anti mengadu dan bahkan meminta diberikan ke orangtua? Robbana Yaa Kariim. Ingatlah Rosululloh SAW., pernah bersabda:

“Alloh tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i)

Ikhwanul Akhwat Fillah. Apa efek ketiga setelah kita mengejar efek samping akan target “taraf hidup yang lebih baik” ini? perkara ketiga itu adalah sifat kikir – pelit. Apa yang terjadi apabila pendapatan hidup tidak jua bertambah, tetapi efek samping dari “kebendaan” itu harus tetap diusahakan? Akhirnya pintu – pintu untuk berbagi kepada yang membutuhkan semakin dikecilkan bahkan akhirnya ditutup rapat.

Terkadang kita sering melupakan satu hal, hak – hak saudara kita yang kekurangan telah dititipkan-NYA juga pada kita. Tetapi, apa yang terjadi dalam do’a kita? Kita selalu meminta pada-NYA yang Maha Kaya, agar memberikan harta dan rizki yang banyak, tetapi kita sering melupakan untuk bermunajat pada-NYA agar diberi harta dan rizki yang banyak agar bisa lebih banyak berbagi kepada faqir miskin dan anak yatim.

“Dan orang – orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih – lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah – tengah antara yang demikian.” (Q.S. Al – Furqon (25): 67)

Begitu pula dari Hakim bin Hizam RA., Rosul SAW., bersabda:

“Tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah, dan dahulukan orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik – baik sedekah ialah sedekah yang dikeluarkan dari orang yang mempunyai kelebihan. Barangsiapa yang menjaga kehormatannya, niscaya Alloh akan menjaganya. Dan barangsiapa yang merasa dirinya cukup, niscaya Alloh akan mencukupinya.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Sebagai penutup. Apa yang ada di dunia dan seisinya ini merupakan sarana yang diberikan Alloh Ar – Rohman kepada setiap hamba-NYA tanpa kecuali. Sarana berupa rizki dari-NYA yang bersifat umum dan khusus yang ada, merupakan modal, merupakan kendaraan menuju derajat iman dan takwa yang tentunya harus lebih baik dari hari ini. Jagalah Alloh, maka Alloh SWT., akan menjagamu (Q.S. Muhammad (47): 7). Akan tetapi, apabila peringatan-NYA selalu kita nafikan, Alloh SWT., telah berfirman:

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.(Q.S. Al – An’am (6): 44)

Wallohu A’lam. Billahit taufiq wal hidayah.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 6 July 2011 in Hadits, IPTEK, Islam, Muslimah

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s