RSS

Hari – hari Bersama Al – Qur’an

24 Jun

Assalāmu’alaikum Warohmatullohi Wabarokātuh.

Alhamdulillah wa Syukurillah, kita masih diberi-NYA kesempatan untuk menikmati Iman dan Islam, juga kesempatan dari-NYA sampai hari Jum’at ini dalam rangka mengisi kadar umur ini untuk mencari bekal menuju hari setelah kehidupan di dunia ini.

Ingatkah salah satu rukun ke-Iman-an? Salah satu diantaranya adalah beriman kepada Qur’an. Pengertian ber-Iman pada Al – Qur’an itu apa dan bagaimana? Al – Qur’anul Karim, Al – Qur’an yang Mulia, mempunyai banyak fungsi, yang salah satu diantaranya adalah Al – Furqon, pembeda dan pemutus syari’at Nabi dan Rosul terdahulu. Bila ditanyakan kepada setiap Muslim wal Muslimah, apakah kiranya mu’jizat yang Alloh SWT., berikan kepada Rosul Muhammad SAW? Mu’jizat terbesar bagi Rosul SAW., adalah Qur’an.

Ikhwanul Akhwat Fillah. Sudah seharusnya dan merupakan kewajiban, tuntunan Alloh Azza wa Jalla dalam Al – Qur’an menjadi pembeda antara seorang Muslim dengan ummat lainnya. Namun akuilah oleh kita, terkadang kita bisa dengan mudahnya melupakan dan pura – pura melupakan isi Qur’an dengan mudahnya, tetapi tidak demikian dengan adat istiadat dan hukum buatan manusia. Bagaimana kiranya 3 generasi terbaik ummat terdahulu, sehingga bisa disebut generasi terbaik ummat seperti dalam hadits? Jawabnya adalah karena mereka hidup bersama Al – Qur’an dalam langkahnya.

Berikut akan dijelaskan beberapa kewajiban seorang Muslim, akhlak seorang Muslim kepada Qur’an:

1. Mengimani

Sekali lagi, beriman kepada Al – Qur’an dan “keberadaanya” merupakan rukun dalam ke-Iman-an, wajib hukumnya. Alloh SWT., berfirman:

ذَٰ لِكَ الْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدً ى لِّلْمُتَّقِينَ (٢) وَلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَ بِاالْأَ خِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ(٤)

“Kitab (Al – Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa…. (yaitu) mereka yang beriman kepada kitab (Al – Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab – kitab yang telah diturunkan sebelummu.” (Q.S. Al – Baqoroh (2): 2 dan 4)

Mengapa kita harus beriman? Karena di zaman pada saat Rosul SAW mulai berdakwah, para kaum kuffar Quraisy sering sekali menganggap bahwa Al – Qur’an merupakan syair, puisi dan karangan dari Rosul SAW. Imanilah bahwa Al – Qur’an adalah wahyu Alloh SWT., sebagai petunjuk dan penjelas petunjuk.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَ ىٰٓ (٣) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَىٰ(٤)

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (Q.S. An – Najm (53): 3 – 4)

Sifat manusia pada umumnya yang terjadi saat ini adalah mengimani hanya sebagian isi tuntunan Alloh SWT., dalam Qur’an, apabila mendukung hawa nafsunya dan perilaku dan tujuannya baru akan diikuti, juga sebaliknya apabila dianggap mengekang kebebasan dan  hawa nafsunya yang hanya berdasarkan otak dan nafsu niscaya akan ditinggalkan. Ummahatul Mukminin Aisyah RA., ketika dimintai pendapatnya mengenai muslimah yang masih berpakaian tapi telanjang, beliau berkata: “wanita yang masih berpakaian seperti itu (berpakaian tapi telanjang) masih belum beriman kepada surat An – Nuur.” Naudzubillahi min dzaalik, jauhilah oleh kita semua sifat parsial dalam ke-Iman-an akan tuntunan-NYA dalam Qur’an.

2. Tilawah

Kewajiban kedua adalah tilawah – membacanya. Kira – kira, sudah berapa kalikah Al – Qur’an kita khatamkan sampai umur ini? tiadalah “bacaan” yang sesempurna Qur’an, mengapa? Tengoklah makhroj – “tanda baca” dalam Qur’an, panjang pendek cara membaca dan ilmu tajwid, Subhanalloh, benar – benar telah diatur-NYA, tidak ada kitab suci agama lain yang begitu mengatur dengan sempurna semua tanda baca dan cara membaca kitabnya. Kelalaian sudah ada pada diri kita apabila ayat – ayat-NYA hanya dibaca dengan lurus – lurus saja tanpa mengikuti kaidah. Sungguh, Alloh SWT., telah memberi kemuliaan bagi setiap Muslim dengan membekali kita dengan Qur’an.

Rosululloh SAW., bersabda: “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

Dari Anas RA., Rosul SAW., bersabda: “Sinari rumah – rumahmu dengan sholat (sunnat) dan membaca Al – Qur’an.” (HR. Baihaqi)

Subhanalloh, dalam sebuah riwayat diceritakan sekelompok Jin mengucapkan kalimah Syahadat ketika Rosul SAW., sedang sholat membacakan salah satu ayat yang menceritakan kisah Nabi Musa AS. Kaum Jin tersebut merasa kagum dan membenarkan keberadaan isi Qur’an, karena kaum Jin tersebut beriman kepada syariat Alloh SWT., yang diturunkan kepada Nabi Musa AS sampai mereka mendengar ayat tersebut. Alloh SWT., telah menjelaskan kisah ini dalam Q.S. Al – Ahqoof (46): 29 – 32.

وَإِذْصَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓاْ أَنْصِتُواْ ۖ فَلَمَّا قُضِىَ وَلَّوْاْ إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُّنذِرِينَ (٢٩) قَالُواْ يَــٰقَوْمَنَآ إِنَّا سَمِعْنَا كِتَـــٰبًا أُنْزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِىٓ إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (٣٠) يَـــٰقَوْمَنَآ أَجِيبُواْ دَا عِىَ اللهِ وَءَامِنُواْ بِهِ يَغْفِرْلَكُمْ مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (٣١) وَمَنْ لَّا يُجِبْ دَاعِىَ اللهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِٓ أَوْلِيَآءُ ۚ أُواْلَىٰٓىِٕكَ فِى ضَلَــٰلٍ مُّبِينٍ(٣٢)

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al – Qur’an, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum Kami, Sesungguhnya Kami telah mendengarkan kitab (Al – Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab – Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.Hai kaum Kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Alloh dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Alloh akan mengampuni dosa – dosa kamudan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Alloh, maka Dia tidak akan melepaskan diri dari azab Alloh di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Alloh, mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (Q.S. Al – Ahqaaf (46): 29 – 32).

Dengan tilawah, kita pun telah melaksanakan salah satu metoda syiar dakwah. Banyak sekali kisah para muallaf yang akhirnya bersyahadat karena mendengar indahnya lantunan Al – Qur’an yang dibacakan, meskipun pada awalnya mereka tidak tahu apa artinya. Namun, bagaimana bila musik – musik cinta adalah yang kita pilih untuk kita nyanyikan? Dimanakah kewajiban dakwah kita letakkan saat menyanyikan lagu – lagu itu?

Ikhwanul Akhwat Fillah. Pernahkah kita mendengarkan ketika Qur’an ditilawahkan? Adab apa yang harus kita lakukan? Apakah kemudian menaikkan volume TV dan musik yang sedang kita simak, atau malah pergi karena (malah) merasa terganggu?

وَإِذَاقُرِىَٔ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ، وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ(٢٠٤)

“Dan apabila dibacakan Al – Qur’an maka dengarkanlah baik – baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al – A’rof (7): 204)

Selain itu, tilawatil Qur’an, bisa menjadi amaliah andalan kita yang bisa diamalkan sehari – hari, sehingga Qur’an yang terkadang diselipkan sebagai mahar pernikahan tidak selalu tampak baru di raknya karena jarang bahkan tidak pernah dibaca.

Rosululloh SAW., bersabda: “Permisalan seorang muslim yang membaca Al – Qur’an bagaikan buah jeruk, baunya wangi dan rasanya lezat, sedangkan orang mukmin yang tidak membaca Al – Qur’an bagaikan buah kurma yang tidak ada baunya dan rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al – Qur’an bagaikan kemangi yang baunya wangi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca Al – Qur’an bagaikan labu yang tidak ada wanginya dan rasanya pahit.” (H.R. Bukhori – Muslim).

3. Memahami

Alloh SWT., telah menurunkan Al – Qur’an lewat Rosululloh SAW., mempunyai fungsi sebagai Al – Huda dan Bayyinati minal Huda, artinya sebagai petunjuk dan penjelas petunjuk. Ayat – ayat-NYA merupakan rambu – rambu dan tanda – tanda-NYA, bukankah pepatah mengatakan “malu bertanya sesat di jalan?” Jikalau antum melihat sebuah rambu di jalan, antum akan tahu bahwa itu adalah sebuah petunjuk, tetapi apakah antum tahu artinya? Wajib pula hukumnya kita memahami artinya. Kira – kira masih adakah diantara antum yang masih belum tahu minimal dari arti “Yaa Ayyuhaladziina ‘Aamanu?”, “Laallakum Tattaquun?” “Wattaqulloh?”.

Pasti diantara kita ada yang telah mampu menghapal beberapa surat Al – Qur’an. Pernahkah kita menangis ketika tilawatul Qur’an? Atau susah? Atau bahkan tidak bisa? Mengapa? Apa kita tidak mengerti artinya? Kita ambil contoh Surat Yaasin. Diceritakan dalam sebuah kisah hidup seorang musisi yang telah bergelar almarhum, salah satu lagu yang akan dikenang oleh pengagumnya adalah lagu yang beberapa liriknya diambil dari surat Yaasin. Ikhwanul Akhwat Fillah, judul lagu tersebut adalah “Ketika Tangan dan Kaki Bicara” dari almarhum Chrisye. Lagu tersebut dalam cerita perekamannya hanya dilakukan satu kali, karena almarhum selalu gagal dan menangis ketika mencoba menyanyikannya, mengapa? Karena almarhum tahu potongan lirik lagu tersebut diambil dari surat Yaasin, yang menceritakan bagaimana tangan dan kaki kita semua akan mempertanggungjawabkan semua yang dilakukannya di At – Taghobun kelak.

وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَٰهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا ۚ وَلَىِٕنِ التَّبَعْتَ أَهْوَآ ءَهُمْ بَعْدَمَاجَآءَ كَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللهِ مِن وَلِىٍّ وَلَا وَاقٍ(٣٧)

“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al – Qur’an itu dengan peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali – kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Alloh.” (Q.S. Ar – Ro’du (13): 37)

Apakah lantas kita berpikir alangkah enaknya mejadi seorang Arabi yang memang berbahasa Arab? Jawabnya adalah belum tentu! Seorang Arab pun belum tentu akan bisa memahami secara jelas akan ayat – ayat-NYA jika tidak mencoba mengkaji dan memahaminya. Tahukah antum berapa kali Alloh SWT., memanggil kita dengan sebutan “Yaa Ayyuhaladziina ‘Aamanu” dalam ‘Ain pertama Surat Al – Ma’idah? Kira – kira, adakah diantara kita yang bisa mengartikan langsung potongan surat Al – Anfal dalam bahasa Inggris di bawah ini?

Satu hal lagi yang tidak boleh kita lupakan, dalam memahami Qur’an tidak boleh mengartikannya dengan hawa nafsu maupun pikiran versi pribadi. Tengoklah bagaimana akibatnya pada ummat JIL, memahami isi Qur’an dengan penuh semangat, yang akhirnya malah menjadi berpaham sekular, plural dan liberal. Ikutilah kajian Qur’an, bacalah kitab ulama Salaf, bertanyalah pada yang lebih ‘Alim. Insya Alloh, para malaikat pun menaungi merendahkan sayap – sayapnya dan mendo’akan perjalanan kita menuju tempat kajian dan majelis ilmu seperti disebutkan dalam sebuah hadits.

4. Mengamalkan

Selanjutnya apa yang seharusnya kita lakukan apabila kita telah mengkaji dan paham akan ketentuan Alloh Azza wa Jalla dalam Kitab Qur’an? Al – Qur’an hanya akan kembali menjadi pajangan saja apabila tidak diamalkan isinya, adalah sebuah kepincangan hidup seorang Muslim. Alloh SWT., telah berfirman:

وَهَـٰذَا كِتَــٰبٌ أَنْزَلْنَــٰهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْ حَمُونَ(١٥٥)

“Dan Al – Qur’an itu adalah kitab yang kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat.” (Q.S. Al – An’am (6): 155)

Tetapi akuilah bahwa pengamalan akan rambu – rambu-NYA dalam Qur’an terkadang selalu di-pending oleh kita, entah karena menghambat karir, menghalangi kebebasan dan gerak langkah. Adalah yang sering kita lupakan hukum-NYA diturunkan pada awalnya yang dimulai dari Al – Alaq ayat 1 – 5 sampai Al – Ma’idah ayat 3, dimulai dengan perintah untuk Iqro – membaca, mengapa? Karena Dien ini telah sempurna dan satu – satunya yang diridhoi-NYA. Alloh SWT., telah berfirman;

وَأَنَّ هَــٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ(١٥٣)

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan – jalan (yang lain), karena jalan – jalan itu mencerai – beraikan kamu dari jalan-NYA. Demikian itu diperintahkan Alloh kepadamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al – An’am (6): 153)

Rosul SAW., bersabda: “Tidak berlaku iri kecuali terhadap dua orang, seseorang yang dianugrahi Alloh Al – Qur’an, lantas dia mengamalkannya sepanjang malam dan sepanjang siang dan seseorang yang dianugerahi Alloh harta lantas dia menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang.” (H.R. Bukhori dan Muslim).

5. Mendakwahkan dan Memasyarakatkan

Ikhwanul Akhwat Fillah. Antum tidak hidup sendirian di muka bumi ini, kan? Apakah antum berpikir telah sempurna ke-Iman-an apabila belum menolong saudaranya yang masih bergelimang kelalaian dalam bermaksiat? Islam identik dengan dakwah, seperti yang telah Aloh SWT., sebutkan dalam Q.S. Ali Imron 110. Alloh SWT., telah menyebut kita sebagai Khoiru Ummat, yaitu apabila kita menyeru menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, juga untuk beriman kepada Alloh SWT.

Alloh SWT., pun telah berfirman:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْ عُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُوْلَىٰٓىِٕكَ هُمُ الْمُفلِحُونَ(١٠٤)

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yan mungkar, merekalah orang – orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imron (3): 104)

Perhatikanlah bagaimana Rosul SAW., dalam berdakwah. Mulai dari berdakwah secara langsung maupun tidak langsung dengan cara mengirim surat untuk mentauhidkan Alloh SWT., kepada raja – raja dan pembesar saat itu. Apa yang diharapkan Rosul SAW? hanyalah Ridho-NYA. Ini terbukti akan sumpahnya ketika kaum Kafir saat itu yang menawarkan isi dunia untuk membuatnya berhenti berdakwah:

“Matahari di tangan kananku, dan rembulan di tangan kiriku, aku tetap tidak akan berhenti.”

Begitu pula halnya dalam kemurnian isi dakwah, tidak ada yang namanya mengurangi ataupun menambah sesuatu yang baru yang sering dilakukan atas dasar pluralisme. Ketahuilah Asbabun Nuzul surat Al – Kafiruun. Rosul SAW., diminta untuk “menghormati” peribadatan kaum kafir saat itu dengan bergantian mengerjakan peribadatan mereka. “Lakum Dinukum waliyadin” menjadi penutup surat tersebut.

Sampaikanlah apa – apa dari-NYA walaupun hanya satu ayat, terlepas target dakwah kita menerima atau tidak, kita kembalikan ranah hidayah itu pada Alloh SWT., juga selalu mendo’akan saudara – saudara kita agar selalu tercurah hidayah kepada mereka.

Akhirul kalam, jangan pernah lewatkan hari – hari kita tanpa Qur’an. 5 kewajiban kita akan Al – Qur’an adalah harga mutlak yang bukan hanya merupakan tuntutan, melainkan juga merupakan kebutuhan. Semoga kajian kali ini dapat menambah ke-Iman-an dan membuka mata hati kita, juga semoga Rahmat dan Hidayah-Nya selalu tercurahkan kepada para semua pengamal Qur’an. Amien. Wallohu A’lam bish Showab.

Wassalāmu’alaikum Warohmatullohi Wabarokātuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 24 June 2011 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s