RSS

Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 3-3

10 Jun

Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 3-3

Ustadz Armen Halim Naro

MENUJU CARA BERAGAMA YANG BENAR

[Sambungan Dari Untukmu Yang Berjiwa Hanif Bag. 3-2]

Dari apa materi sabar dan yakin terbuat? Apa hakikat dan keutamaannya? Bagaimana cara syariat merajut benangnya? Seberapa dalam pengaruhnya pada penghidupan orang-orang shalih? Di bawah ini kita bentang pembahasannya dan kita rentangkan akar masalahnya.

D.I Sabar

Seringkali kesadaran timbul pada seseorang, sebagai pertanda hidayah akan tiba menghampirinya. ltulah yang disebut dengan panggilan batin, kesadaran fitrah, karena penciptaaan manusia itu sendiri dari dua alam yang berlawanan, alam ruh dan alam tanah, ia saling menarik, saling menekan. Ketika posisi sifat tanah melemah dan menyerah, terasa alam ruh akan menguasai dirinya, dengan itu timbullah kesadaran. Kadang-kadang kesadaran itu timbul setelah seharian badannya mengejar dunia, sekarang badannya ia hempaskan ke kasur, pikirannya ia biarkan lepas terbang, nun jauh di alam lain. Disanalah baru terpikir akan kehidupan yang berbeda dari kehidupan dunia ini, setelah penat memuaskan kebutuhan tubuhnya, mau kemana dirinya akan dibawa?

Terpikir pula kezhaliman dan kejahatan yang telah dilakukannya, kapan ia akan mendapatkan hukumannya? Atau kebaikan yang pernah ia lakukan, kapan akan ia peroleh sanjungannya? Rasanya dunia terlampau hina untuk menentukan dan menetapkan kebahagiaan dan kesengsaraan bagi seseorang!! Karena ia melihat sendiri berapa banyak orang yang buruk ‘bahagia’ dan berapa banyak orang yang baik ‘sengsara’?! Dari sebanyak itu ia berpikir, akhirnya dia akan tersungkur juga ke dalam lembah fitrah yang sangat dalam. Itulah awal dari pertanda hidayah telah mulai menampakkan jemarinya, menggapai dinding kalbu meminta diangkat ke langit. Orang yang telah ditentukan baginya kesesatan, sering mencampakkan hidayah itu jauh-jauh atau tidak mempedulikannya dengan mencoba lari dari kenyataan dengan minuman keras, berzina atau menghabiskan masa dengan teman dunianya.

Yang jelas, ia akan lakukan apapun demi hilangnya kesadaran itu. Tapi bagi orang yang telah ditarik ubun-ubunnya oleh Zat Yang Maha Kuasa, ia akan sentuh hidayah tersebut, ia akan sapa dan bertanya tentang keinginannya. Akan tetapi, sangat disayangkan! Banyak pula orang yang tidak bisa mengolah perubahan dirinya menjadi sebenar-benar hidayah. Sudah beberapa kali muncul kesadaran itu, akan tetapi sebanyak itu pula ia tidak berhasil mempertahankannya, ia seakan-akan begitu lemah untuk mempertahankan dan memeliharanya. Seorang ikhwan berkata kepadaku, “Taubat ini sudah untuk kedua kalinya, tadz!”, yang berarti setelah taubatnya yang pertama dia kembali ke alam jahiliahnya, dia kembali memperturutkan hawa nafsunya. Apa sebabnya? Apa jawabanya dari semua permasalahan di atas? Maka aku katakan, “Sebabnya adalah kurang sabar dan kurang yakin”. Dan itu pula solusinya, harus sabar dan yakin sekaligus. Di bawah ini kita akan menjelaskan permasalahan sabar, semoga Alloh SWT., memberi kesabaran kepada kita semua.

Alloh SWT., menyebutkan lafadz sabar dalam Al – Quran lebih dari 9 tempat, dan Imam Ibnul Qoyyim menyebutkan 16 ragam pembahasan yang disebutkan Alloh SWT., dalam Al – Quran, yaitu:

Perintah Alloh SWT., untuk bersabar, sebagaimana firman Alloh SWT:

“Hai orang-orang beriman, minta bantulah dengan sabar dan sholat”

[Q.S. Al – Baqoroh (2): 153]

“Minta bantulah dengan sabar dan sholat”. [Q.S. AI – Baqoroh (2): 45]

“Hai orang-orang beriman, bersabarlah dan tegalah dalam kesabaran”

[Q.S. Ali Imron (3): 200]

“Bersabarlah, tidaklah sabarmu itu melainkan hanya dengan Alloh SWT.”

[Q.S. An – Nahl (16): 127]

1. Alloh SWT., melarang hambaNya dari sifat tidak bersabar, sebagaimana firman Alloh SWT:

“Bersabarlah sebagaimana para Rosul Ulul ‘azmi, dan janganlah tergesa-gesa”

[Q.S. Al – Ahqof (46): 35]

“Dan janganlah kalian lari dari peperangan” [Q.S. Al-Anfal (8 ): 15], karena lari dari peperangan, berarti meninggalkan sabar dan ketegaran.

“Janganlah kalian mernbatalkan amal perbuatan kalian” [Q.S. Muhammad (47): 33], dengan membatalkannya, berarti tidak sabar meninggalkannya.

“Janganlah kalian merasa lemah dan bersedih” [Q.S. Ali Imron (3): 139], penyakit al – wahan akibat tidak punya kesabaran.

2. Alloh SWT., memuji orang yang menghiasi dirinya dengan kesabaran, sebagaimana dalam firman Alloh SWT:

“orang-orang yang sabar dan orang-orang yang jujur…” [Q.S. Ali Imron (3): 17]

“…dan orang-orang yang bersabar di masa sempit dan lapang, dan ketika terjadi peperangan, mereka itulah orang-orang yang jujur dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. [Q.S. AI – Baqoroh (2): 177]

3. Lekatnya tali kasih Alloh SWT., kepada mereka yang bersabar, sebagaimana firman Alloh SWT:

“Dan Alloh SWT., mencintai orang-orang yang bersabar”. [Q.S. Ali Imron (3): 146]

4. Pantasnya mereka memperoleh keistimewaan yaitu kebersamaan dengan Alloh SWT., yang berarti pemeliharaan dan pembelaan Alloh SWT., kepadanya, bukan hanya kebersamaan dalam arti umum tetapi kebersamaan dalam hal ilmu dan perhatianNya, sebagaimana dalam firman-NYA:

“Dan bersabarlah kalian, sesungguhnya Alloh SWT., bersama orang-orang yang sabar”. [Q.S. Al – Anfal (8 ): 46]

5. Bahwa dengan sabar berarti ia telah mengambil tindakan yang paling tepat, sebagaimana firman Alloh SWT:

“Sekiranya kalian bersabar, niscaya sebuah sikap yang baik bagi orang-orang yang bersabar”.

[Q.S. An – Nahl (16): 126]

“Jikalau kalian sabar, hal itu lebih baik bagi kalian”. [Q.S. An – Nisaa’ (4): 25]

6. Alloh SWT., memberi ganjaran lebih baik dari amalan yang mereka kerjakan, sebagaimana Alloh SWT., berfirman:

“Niscaya Kami akan memberi ganjaran terhadap orang-orang yang bersabar lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan”. [Q.S. An – Nahl (16): 96]

7. Alloh SWT., memberi ganjaran tanpa batas bagi yang bersabar, sebagaimana dalam firman Alloh SWT.:

“Sesungguhnya Kami akan penuhi ganjaran tanpa batas kepada orang-orang yang bersabar”. [Q.S. Az – Zumar (39): 10]

8. Alloh SWT., selalu memberikan berita gembira bagi pelaku kesabaran.

“Dan Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar dan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berbahagialah orang-orang yang sabar”. [Q.S. Al – Baqoroh (2): 155]

9. Jaminan kemenangan dan pertolongan bagi orang yang bersabar, sebagaimana dalam firman Alloh SWT:

“Benar (telah cukup), jika kalian bersabar dan bertaqwa dan mereka menyerang kalian dengan seketika itu juga, niscaya AIlah menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda”. [Q.S. Ali Imron (3): 125]

Dan sebagaimana sabda Rosululloh, “Ketahuilah, bahwa kemenangan diraih bersama kesabaran” [HR. Ahmad dan Baihaqi]

10. Alloh SWT., memberitahukan bahwa orang yang bersabar, merekalah orang yang punya kemauan keras, sebagaimana dalam firman-NYA:

“Akan tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sungguh hal itu merupakan perkara yang besar”. [Q.S. As – Syuro (42): 43]

11. Alloh SWT., memberitakan bahwa semua amal sholih dan semua ganjaran tidak akan dapat diperoleh kecuali orang yang sabar, sebagaimana firman Alloh SWT:

“Celaka kalian, ganjaran dari Alloh SWT., lebih baik bagi yang beriman dan beramal shalih, dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh orang-orang yang sabar”. [Q.S. Al – Qoshosh (28 ): 80]

“Sifat-sifat yang baik itu tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugrahkan kecuali kepada orang yang memperoleh keberuntungan besar”. [Q.S. Fushshilat (41): 35]

12. Alloh SWT., menyatakan bahwa orang yang bersabarlah yang mengambil manfaat dengan ayat – ayat atau menjadikan pelajaran, sebagaimana Alloh SWT., firmankan kepada Musa AS.:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Alloh SWT., Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Alloh SWT.,) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” [Q.S. Ibrohim (14): 5]

13. Alloh SWT., berfirman tentang penduduk Saba’:

“…maka Kami jadikan mereka sebagai cerita mulut dan Kami cabik-cabik mereka dengan sebenarnya, sesungguhnya hal itu sebagai tanda-tanda kekuasaan Alloh SWT., bagi orang yang benar-benar bersabar dan bersyukur”. [QS. Saba’ (34): 19]

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-NYA ialah kapal-kapal di tengah (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaannya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur”. [Q.S. As- Syuro (42): 32-33]

14. Alloh SWT., memberitakan bahwa kesuksesan dalam meraih yang diangankan dan bahtera penyelamat dari yang dibenci serta masuk surga hanya bisa diperoleh dengan kesabaran, sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh SWT:

“Dan para malaikat masuk ke mereka pada setiap penjuru pintu. (Mereka berkata); “Salam sejahtera bagi kalian, dari semua kesabaran kalian”, dan (surga itu) alangkah sebaik-baiknya tempat tinggal”. [QS. Ar-Ro’du (13): 23-24]

15. Pelaku sabar menjadi pewaris tunggal kepemimpinan, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam, “Dengan sabar dan yakin akan diperoleh kepemimpinan daam agama”, lalu beliau membaca firman Alloh SWT., As – Sajdah: 24.

16. Eratnya hubungan dengan pondasi Islam dan Iman, sebagaimana Alloh mempertalikannya dengan yakin dan iman, atau taqwa dan tawakkal, dan mem-pertemukan dengan syukur, amal shalih dan rahmat. Oleh karena itu, sabar menempati posisi kepala pada tubuh, dan tidak ada iman bagi yang tidak bersabar.

Umar bin Khattab berkata, “Senikmat-nikmat hidup, kami temukan pada kesabaran”, dan Nabi SAW., telah mengabarkan bahwa kesabaran adalah cahaya, dan beliau bersabda, “Barang siapa menyabar-nyabarkan dirinya, maka Alloh SWT., akan memberinya kesabaran”. [HR Bukhari dan Muslim]

Dalam hadits, “Sungguh aneh perkara seorang mukmin, semua perkaranya baik, dan hal demikian tidak dimiliki kecuali bagi seorang mukmin. Sekiranya ditimpakan kepadanya kelapangan ia bersyukur, dan itulah yang terbaik baginya, dan sekiranya ditimpakan kepadanya kesusahan ia bersabar, dan itulah yang terbaik baginya”. [HR. Muslim]

Beliau berkata kepada wanita yang berkulit hitam yang sering menderita kesurupan, ketika ia meminta beliau mendoakannya. Beliau bersabda, “Kalau engkau mau, maka bersabarlah dan bagimu surga, dan kalau engkau mau aku berdoa untukmu agar engkau disembuhkan”, lalu wanita itu berkata, “(Kalau aku kesurupan), pakaianku sering terbuka, doakanlah agar jangan lagi terbuka”, lalu beliau mendoakannya. [HR. Muttafaqun ‘Alaihi]

Dan beliau perintahkan orang-orang Anshor untuk bersabar ketika mereka menemukan kebakhilan setelahnya, hingga bertemu dengannya nanti di telaga. Beliau perintahkan juga agar bersabar ketika bertemu musuh, dan juga beliau perintahkan juga untuk bersabar ketika terjadi musibah, dan beliau pula yang mengabarkan:

“Sesungguhnya kesabaran itu, hanya pada pukulan pertama”. [HR. Muttafaqun ‘alaih]

Beliau juga yang mengabarkan bahwa kesabaran semuanya baik, beliau bersabda,

“Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih bagus dari sabar”. [HR. Ahmad dan Abu Daud]

Sabar dalam bahasa adalah menahan dan memenjarakan, sedangkan dalam istilah adalah menahan diri dari gundah dan rasa tidak terima, menjaga lidah dari keluhan dan menjaga badan dari hal-hal yang tidak layak. Orang yang baru mengenal hidayah tidak boleh lepas dari kesabaran, karena ia baru berkenalan dengan aturan dan amalan yang selama ini belum terbiasa. Hari-hari yang dilaluinya merupakan hari baru dalam hidayah yang sebelumnya ia sudah terbiasa dengan maksiat dan pembangkangan, maka ia harus menahan dirinya. Ia harus bersabar agar istiqomah di jalan kebenaran, untuk menjalani kehidupan hidayahnya. Ia harus bersabar dalam 2 kondisi, yaitu:

1. Kondisi pertama: Sabar dalam ‘afiat

Ketika Alloh SWT., menganugerahkan semua maksud dan keinginan manusia dari nikmat kesehatan, harta, kedudukan dan banyaknya kerabat serta pengikut, maka ketika itu pula keberadaan sabar sangat diperlukan, sehingga ia bisa menjaga hak Alloh SWT., dalam harta dan kesehatan badannya. Bersabar dalam harta yaitu ia dapat bersyukur dengan menunaikan kewajiban harta yaitu berzakat atau bersedekah, dan bersabar dengan kesehatan jasmani dengan menuntunnya untuk beribadat kepada Alloh SWT. Selama ia tidak bisa dikekang dengan kesabaran, tentu akan membawanya kepada sikap sombong dan melampaui batas. Sehingga banyak ulama mengatakan, “Banyak orang yang sanggup bersabar dalam musibah, tetapi shiddiqlah (orang yang sudah mencapai pada tingkat kejujuran) yang sanggup bersabar dalam kesehatan”.

Berkata Abdurrohman bin ‘Auf , “Ketika kami dicoba dengan kesusahan, kami bisa bersabar, lalu kami dicoba dengan kelapangan, kamipun tidak dapat bersabar”. Alloh SWT., menyebutkan bahwa anak dan istri merupakan fitnah:

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Alloh SWT.,-lah pahala yang besar”. [Q.S. Al – Anfal (8 ): 28]

2. Keadaan yang kedua: Sabar dari hawa nafsu

Seorang yang hendak istiqomah, hendaklah ia bersabar dari hal-hal yang disukai oleh hawa nafsu, karena biasanya, hawa nafsu selalu condong kepada keburukan dan maksiat, dan ia terbagi 3 macam, yaitu:

a. Sabar dalam melakukan ketaatan, karena pada dasarnya manusia tidak hendak melakukan peribadatan, dia mau bebas dengan hawa nafsunya. Kadang-kadang ibadah menjadi berat karena malas, seperti dam menegakkan sholat atau karena bakhil diri seperti dalam menunaikan zakat, atau karena keduanya seperti dalam menunaikan haji.

Dalam melakukan ibadah seseorang harus selalu menggunakan senjata kesabaran, dengan bersabar dalam tiga kondisi:

a. 1. Sabar sebelum melakukan ibadah dengan meluruskan niat dan ikhlas hanya semata karena Alloh SWT., dan membersihkan diri dari riya’.

a. 2. Sabar dalam melakukan ibadah dengan selalu ingat kepada-NYA selama beribadah dan tidak bermalas-malasan dalam mengerjakan sunnah-sunnah ibadah dan adabnya, sehingga ia harus tidak futur.

a. 3. Sabar setelah beribadah dengan menahan diri berbuat riya’, yaitu tidak menyebut – nyebut ibadah tersebut.

b. Sabar dari perbuatan maksiat, yaitu menahan diri dari larangan Alloh SWT. Alangkah seorang hamba sangat membutuhkannya.

c. Sabar dalam mengajak orang untuk melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat. Ketika seseorang telah bersabar dalam melakukan ibadah dan meninggalkan larangan, ia dituntut untuk mengajak manusia kepadanya. Dalam berdakwah tentu ia temukan kendala dan tantangan, pada saat itulah ia memerlukan kesabaran.

D.II. Yakin

Kedudukan yakin dengan iman seperti kedudukan ruh dengan jasad, dengan yakin pula kedudukan orang-orang shalih berbeda-beda dalam derajat dan tingkatan. Alloh mengkhususkan hanya orang yang yakin saja – yang dapat memanfaatkan ayat-ayat dan dalil. Alloh berfirman, dan Dia adalah Zat Yang Maha Jujur:

“Dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?” [Q.S. Az-Zariat (51): 21]

Alloh mengkhususkan pemilik yakin dengan petunjuk dan kebahagiaan dari seluruh alam, Alloh berfirman:

“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Robb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”. [Q.S. Al – Baqoroh (2): 4-5]

Lalu Dia mengkabarkan bahwa penyebab penduduk neraka masuk neraka, karena mereka bukanlah orang yang yakin, Alloh berfirman:

Dan apabila dikatakan (kepadamu): “Sesungguhnya janji Alloh itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya”, niscaya kamu menjawab: “Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)” [Q.S. Al – Jatsiah (45): 32]

Maka, yakin adalah ruh perbuatan hati sebagaimana hati adalah ruh dari perbuatan badan, dialah hakikat shiddiqah (kejujuran/ketulusan) dan ia adalah poros semua perkara.

Ketika yakin masuk ke lubuk hati, ia akan dipenuhi oleh cahaya dan penerangan, akan sirna semua keraguan, kebimbangan dan kebencian serta sedih dan duka cita. Dan semuanya akan berganti dengan kecintaan, takut, ridho, syukur, tawakkal dan kepasrahan kepada Allah , dia adalah pokok dari semua derajat dan kedudukan.

Yakin dalam bahasa adalah `hilangnya keraguan’, dan para utama berselisih tentang definisi yakin, sebagiannya berkata, “yakin adalah mukasyafah (terbukanya tabir) yaitu penampakan sesuatu pada hati seperti nampaknya sesuatu oleh mata ketika memandang”.

Seorang muslim dituntut untuk yakin tentang semua yang dikabarkan oleh Alloh dari semua perintah dan larangan-NYA. Yakin yang lahir dari ilmu dan pemahaman yang benar tentang agama, inilah yang mengantarkan seorang muslim untuk tetap istiqamah di atas agama Alloh, sekaIipun semua penduduk bumi menyelisihinya.

Perumpamaan yang tepat dalam hat ini adalah yakinnya Abu Bakar terhadap semua yang dikabarkan oleh Rosululloh SAW., sehingga beliau diberi gelar dengan “Shiddiq”.

[Bersambung. Insya Alloh….]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 10 June 2011 in Hadits, Islam

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s