RSS

Commitment as a Moslem

06 Jun

Assalāmu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Manusia adalah makhluk sosial, tidak ada yang bisa menafikannya. Biarpun datang ke dunia ini dalam keadaan sendiri dan akan kembali untuk mempertanggung jawabkan semuanya seorang diri pula, tetapi dalam perjalanan hidupnya akan bersinggungan dan akan selalu membutuhkan orang lain. Dalam kontak sosial hablum minan naas inilah manusia akan menghadapi berbagai friksi, cobaan, gangguan, kesenangan dan kesepahaman. Inilah yang terkadang menjadi dasar pemikiran untuk membentuk suatu ikatan atau komunitas yang entah apapun disebutnya, mulai dari kesamaan Dien, pola pikir, visi-misi-tujuan, hobi, suku, latar belakang keilmuan dan lain sebagainya.

Namun perlu diingat terkadang komunitas yang sekali lagi bisa disebut apapun namanya, menuntut sesuatu hal yang sampai harus dikorbankan atas dasar konsekuensi, baik yang akan menguntungkan maupun merugikan secara sadar ataupun tidak sadar. Seorang Muslim yang telah mengakui Alloh SWT sebagai Robb semesta alam, juga Rosul Muhammad SAW., sebagai utusan-NYA, secara tidak sadar terkadang juga terjerumus oleh hal ihwal atas dasar konsekuensi. Apa akibatnya? Komitmen dan kecintaan pada Alloh SWT., dan Rosul-NYA berupa syahadat akan terlupakan sekali lagi karena atas dasar konsekuensi, yang sebenarnya tidak sesuai dengan konteks sebagai abdi-NYA. Waktu, tangis, air mata, bahkan darah bisa tertumpah karena membela komunitas. Alloh SWT., telah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُمِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًايُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖوَالَّذِينَءَامَنُوٓاْ أَشَدُّحُبًّ لِّلَّهِ ۗوَلَوْيَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ إِذْيَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًاوَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُالْعَذَابِ (١٦٥)١

“Dan diantara manusia ada orang – orang yang menyembah tandingan – tandingan selain Alloh, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang – orang yang beriman amat besar cintanya kepada Alloh. Dan jika seandainya orang – orang yang berbuat zalim itu mengatahui ketika mereka melihat sika (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu milik Alloh semuanya, dan Alloh amat besar siksa-NYA.” (Q.S. Al – Baqoroh (2): 165)

Kira – kira, komitmen macam apa dan kepada siapakah yang telah kita buat saat ini? apa efeknya dan tuntutannya? Apakah sampai harus mengenakan pakaian dengan motif dan warna tertentu? Apakah sampai harus menyetorkan persenan uang dari pendapatan kita? Apakah sampai harus mengorbankan waktu untuk ibadah wajib, sunnah dan kewajiban untuk tholabul ‘ilmi? Apakah harus sampai mengorbankan keluarga? Apakah harus sampai berikrar sumpah setia versi ngawur yang tidak sesuai tuntunan Rosul SAW? Jikalau salah satu tuntutan tersebut di atas adalah salah satu diantaranya, bukankah terkadang memang kaki dan hati “terpaksa” dilangkahkan atas dasar konsekuensi?

Bagaimana Islam mengatur simpul ikatan dalam Dien yang diridhoi-NYA ini? Subhanalloh wa bihamdihi. Apabila seorang muslim telah mengaku beriman kepada Alloh Azza wa Jalla dan Rosul-NYA, tentunya haruslah memperkokoh pondasi – pondasi di bawah ini:

1. Loyalitas ke Ikatan Robbani

Banyak sekali Ibroh dalam Qur’an. Lihatlah bagaimana Nabi, Rosul dan orang – orang yang mengaku telah beriman pada-NYA mendapatkan cobaan. Mengapa dengan cobaan? Alloh SWT., telah berfirman;

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (٢) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖفَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَٰذِبِينَ (٣)٣

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang – orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang – orang yang benar dan sesungguhnya DIA mengetahui orang – orang yang dusta.” (Q.S. Al – Ankabut (29): 2 – 3)

Mari kita lihat ke diri sendiri dan contoh di sekitar kita. Bagaimana jika ada keluarga terdekat seperti orang tua kita telah dipanggil-NYA kembali? Apakah lantas kita meratap saja tanpa mendapat Ibroh dari persitiwa tersebut? Mungkin selemah – lemah iman yang ada, apabila orang tua kita meninggal kita hanya mendo’akan, mensholatkan dan mengantarnya ke liang lahatnya pada saat kematiannya saja.

Sikap Wala’ – loyal/ setia kepada ikatan Robbani, haruslah lebih kuat dari segalanya. Mengapa harus demikian? Karena nantinya dalam hidup ini seorang muslim akan menyesuaikan diri dengan ikatan yang lebih kuat daripada sekedar ikatan hobi dan pemikiran, karena pengaruh ikatan atas berdasarkan hobi dan pemikiran itu hanyalah temporer. Apakah lantas jika karena hobi dan pemikiran tidak sama lagi kita lalu akan memaksakan diri?

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (٢) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِ ينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖفَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَـٰذِبِينَ(٣)٣

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang – orang yang tidak mengetahui.” (Q.S. Al – Jaatsyiyah (45): 18)

2. Disiplin dan Taat

Ingatkah cerita Nabi Ibrohim AS., yang diperintah-NYA menyembelih Ismail AS? Ingatkah Nabi Nuh AS., Rosul pertama yang diperintah-NYA untuk membuat bahtera yang besar? Ingatkah Nabi Luth yang diperintah-NYA untuk keluar dari kampungnya? Apakah jawaban para Nabi dan Rosul tersebut? Sami’na wa Atho’na! Salah satu konsekuensi keimanan adalah ketaatan dan disiplin dalam menjalankan perintah-NYA.

Terkadang manusia selalu berpikir ke arah untung rugi apabila memandang syari’at, padahal terkadang pula manusia tidak berpikir jauh dan berulang – ulang mengapa Alloh SWT., mewajibkan demikian. Allohu Aliimun, Alloh selamanya Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-NYA.

وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَ اللَّهُ وَرَسُولُهُٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِن أَمْرِ هِم ۗوَمَن يَعصِ اللَّهَ وَرَسُولُهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَـٰلًا مُّبِينًا (٣٦)٣٦

“Dan tidaklah patut bagi laki – laki yang beriman dan tidak (pula) bagi wanita yang beriman, apabila Alloh dan Rosul-NYA telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-NYA maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Q.S. Al – Ahzab (33): 36)

Dengan demikian, jelaslah bahwa ketaatan pada-NYA menjauhkan kita dari kesesatan. Ketaatan pun akan melatih kedisplinan. Kira – kira adakah dari ajaran Dien lain yang mengatur kapan waktu ibadah? batasan ibadah? Dengan sholat kita akan disiplin waktu, dengan shoum kita akan disiplin dalam mengatur kondisi fisik, dengan infak-shodaqoh-zakat kita akan disiplin dalam mengatur harta.

Kira – kira bagaimanakah sikap kita apabila mendapati Alloh SWT telah menetapkan batasan hijab fisik yang jelas bagi para muslimah? Apakah lantas mencari celahnya lagi dengan menyebutkan hijabkan dulu hati? Atau mengganti jilbab dengan paduan kerudung dengan celana jeans ketat?

(يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُو هُهُمْ فِى النَّارِ يَقُولُو نَ يَٰلَيْتَنَآ أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَاْ (٦٦

“Pada hari ketika muka mereka dibolak – balikkan dalam neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya andaikata kami taat kepada Alloh dan taat (pula) kepada Rosul.” (Q.S. Al – Ahzab (33): 66)

Bukankah tidak ada ketaatan pada kemaksiatan?

3. Cinta dalam Ukhuwah

Bagaimanakah jika kita melihat kemungkaran yang dilakukan saudara kita secara terang – terangan? Sejatinya tidak ada yang namanya prinsip komensalisme dalam Islam! Alangkah lucu apabila kita sering bersikap acuh tak acuh dengan kelalaian saudara kita dengan berprinsip asal kita tidak dirugikan. Rosul SAW., bersabda:

“Tidaklah sempurna iman seorang diantara kamu, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Namun, ada beberapa diantara kita malah marah, tertutup dan bahkan cenderung ofensif apabila diingatkan. Bagaimana kira – kira orangtua yang memarahi anak gadisnya yang pulang larut malam pulang dari konser musik? Sang anak lantas ikut balik marah karena merasa “hak – haknya” dikekang. Mungkin anak gadis tersebut lupa bahwa orangtuanya begitu mencintainya yang ditunjukkan dengan marahnya orangtuanya, rasa sayanglah yang ada pada orangtuanya saat itu, sebagaimana titipan-NYA yang dulu dirindukan akan adanya keturunan ketika masih pengantin baru, akan dimintai pertanggung jawabannya.

Dalam contoh lain, mungkin cap “annoying – penggangu” akan disematkan pada kita apabila kita mengingatkan saudara kita akan syari’at-NYA yang sebenarnya melindungi. Apakah karena disampaikan bukan oleh orang yang dicintai atau disukainya? Lihatlah apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan! Karena kebenaran itu berasal dari Alloh Al – Haqq.

4. Kerjasama dalam Kebaikan

Siapa yang tidak ingin lingkungannya sejalan dengan prinsip Islam? Akan tetapi apakah sumbangsih kita pada lingkungan kita untuk keinginan mulia tersebut? Apakah hanya duduk diam di rumah? Ingatlah bahkan para “knight of templar” saat ini telah menggandeng praktisi keilmuan dalam “pelayanan” mereka.

Sayang, amat disayangkan apabila kita lebih memilih kerjasama dengan kaum “walan tardho” hanya karena lebih menguntungkan finansial. Lagi – lagi, atas dasar tujuan ngawur dan hobi, kita lebih mudahnya mengeluarkan uang dari dompet untuk acara mereka yang lebih menarik dan bisa menghilangkan kesedihan secara temporer.

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَ ىٰ ۖوَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى الْإِ ثْمِ وَالْعُدوَٰنِ (٢)٢

“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-NYA.” (Q.S. Al – Ma’idah (5): 2)

5. Taushiyah dalam Haqq

Hilangkanlah dulu kesan tidak mau dianggap sok alim. Sampaikanlah apa yang ada dari-NYA walaupun hanya satu ayat! Tidak ada manusia yang luput dari kelalaian dan dosa, karena terkadang kita melupakan untuk menyegarkan dahaga kita akan ilmu agama.

Banyak sekali saat ini kajian  yang rutin maupun insidentil. Tidak ada salahnya jika kita memulai untuk mencoba untuk dakwah secara kecil – kecilan. Ilmu baru disebut bermanfaat apabila dipraktekkan dan disebarluaskan. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, syaithon yang tertangkap mencuri pun mengajarkan seorang sahabat akan keutamaan membaca ayat Kursi, Rosul SAW., pun membenarkan keutamaan tersebut. Tidak malukah?

وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَواْ بِالْحَقِّ وَتَوَاصَواْ بِالصَّبْرِ(٣)٣

“Demi Masa.”

“Sesungguhnya manusia itu benar – benar ada dalam kerugian,”

“Kecuali orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat – menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat – menasehati supaya mentaati kesabaran.”

(Q.S. Al – Ashr (103): 1 – 3)

Semoga kajian kali ini membuka mata hati kita, juga dapat mengingatkan komitmen seorang muslim yang seharusnya akan konsekuensi kalimat syahadat yang diucapkan. Semoga fanatisme terhadap ikatan kelompok kita tersadarkan, sehingga tidak ada lagi yang bangga menyebut diri sebagai kelompok begundal, agar kita sadar mengapa sampai disebut-NYA sebagai Khoiru Ummat. Amien.

Billahit Taufiq. Wallohu A’lam bish showab.

Wassalāmu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 6 June 2011 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s