RSS

Pursuit of Happiness

19 May

[Mengejar kebahagiaan. Apakah dengan berani mengambil resiko untuk sebuah pilihan? Dengan selalu mengharap yang terbaik juga siap untuk hal terburuk?]

Assalamu’alaikum Wr., Wb.

Segala puji dan rasa syukur kehadirat Alloh SWT., kita dipertemukan-NYA kembali dengan hari Jum’at, satu hari yang dimuliakan dalam Islam. Sholawat serta salam tidaklah lupa selayaknya kita haturkan kepada Junjungan Alam Rosululloh Muhammad SAW., Laa Nabiyyal Ba’da, untuk menjadi utusan-NYA sebagai Rohmatan lil ‘Alamin.

Apa yang terbersit di benak kita apabila ditanyakan apakah kebahagiaan itu? Jawabannya sangatlah beragam, ambigu, dan sangat relatif. Mungkin jawabannya adalah naik kelas dan mendapat hadiah konsol PS3 dari seorang anak SD. Mungkin jawabannya adalah mendapat NEM terbaik dan masuk SMP/ SMU favorit dari seorang ABG. Mungkin jawabannya adalah masuk PTN dengan jurusan favorit, mendapatkan Blackberry dan kendaraan bagi seorang Mahasiswa. Mungkin jawabannya adalah mendapat pasangan hidup yang sholeh/ sholehah, cakep/ cantik dan kaya bagi seorang pemuda/ pemudi. Mungkin jawabannya adalah mendapat pekerjaan dengan gaji dan fasilitas menarik bagi para suami, atau memperoleh keturunan lucu menggemaskan bagi seorang Ibu. Variatif, relatif dan sangatlah temporer Saudaraku!

(Lamborghini, anyone?)

Sayangnya, kebahagiaan versi keinginan manusia itu selalu temporer. Mengapa disebut temporer? Karena “tuntutan kebahagiaan” itu berjalan dan berubah seiring langkah dan usia kehidupan kita. Apakah sah – sah saja jika kita mempunyai  “tuntutan kebahagiaan” dengan level tinggi? Ataukah cukup dengan mensyukuri yang sudah ada (biarpun) dan tidak sesuai impian tuntutan kebahagiaan tersebut? Tafadhol antum sekalian. Tetapi, lihatlah bagaimana firman Alloh SWT., dalam Kitabul Furqon:

قُلْ يَٰعِبَادِالَّذِينَءَامَنُواْ ﭐ تَّقُواْرَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُواْ فِى هَٰذِ هِ ﭐلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ﭐللَّهِ وَٰ سِعَةٌ قلى إِنَّمَا يُوَفَّى ﭐلصَّٰبِرُ و نَ أَ جْرَهُم بَغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Robb-mu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Alloh itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S. Az Zumar (39): 10)

Juga dalam ayat yang lain:

وَأَنِ ﭐسْتَغْفِرُواْرَبَّكُمْ ثُمَّ تُو بُوۤ اْإِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَٰعًا حَسَنًا إِلَٰىۤ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَ يُؤْ تِ كُلَّ ذِى فَضْلٍ فَضْلَهُ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (Q.S. Huud (11): 3).

Sekali lagi, mengapa disebut temporer? Tengoklah diri ini. Adakah atau pernahkah salah satu “tuntutan kebahagiaan” kita pernah terpenuhi sesuai ketetapan-NYA? Ucapkanlah kalimat tahmid itu, saudaraku! Andaikan contoh mobil telah kita punyai, di awal umur kepemilikan kita selalu rajin mencucinya, rutin mengecek mesin dan menambah aksesorisnya, diberi nama kesayangan, dibawa untuk ditunjukkan kepada rekan ataupun keluarga. Seiring berjalannya waktu akan datang merk dan tipe mobil lainnya yang lebih mutakhir dan lebih menarik. Sadarkah? tuntutan kebahagiaan itu muncul kembali, keinginan untuk menjadikannya pengganti mobil sebelumnya di garasi akhirnya muncul, yang bahkan rutinitas mencuci dan mengecek mesin akan semakin ditinggalkan.

Contoh lainnya. Betapa bahagianya pasangan yang baru saja melangsungkan akad nikah dan resepsi pernikahan, karena “tuntutan kebahagiaannya” telah terpenuhi. Tidak perduli masih dengan gaji yang pas – pasan untuk hidup berdua dengan rumah di kompleks “mertua indah”, asalkan dengan pasangan yang syah semua itu akan dijalani. Seiring berjalannya kehidupan berumah tangga, “tuntutan kebahagiaan” lain datang. Keinginan mendapatkan keturunan, rumah pribadi biarpun sederhana, kendaraan biarpun dengan kredit, ataupun berpoligami dengan alasan “mengikuti sunnah”?

Rosululloh SAW., pernah bersabda:

Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.(HR. Bukhori dan Muslim)

Sadarilah, betapa manusia tidak akan pernah cukup juga berhenti apabila satu “tuntutan kebahagiaan” itu telah terpenuhi. Akan selalu ada, akan selalu bertambah, akan selalu berubah.  Dari gelar ST., ingin menjadi MT., ingin menjadi DR., ingin menjadi Professor dan seterusnya. Tetapi mungkin kita melupakan bahwa gelar terakhir yang diberi manusia adalah “Almarhum – Almarhumah.” Bagaimana dengan panggilan dan gelar Alloh SWT., pada Bani Adam? Bukankah juga berakhir pada gelar yang sama; “Almarhum – Almarhumah.”

Alloh SWT., tidak pernah melarang kita untuk kaya, mendapat pasangan hidup cantik/ tampan, mendapat mobil – motor atau kendaraan lainnya. Meminjam bahasa iklan, “semua itu adalah pilihan.” Bukankah Alloh SWT., tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga kaum tersebut merubah nasibnya sendiri? (Q.S. Ar – Ro’du (13): 11). Hingga tibalah pertanyaan yang mendasari artikel ini. Bagaimana Islam mengatur “pencarian kebahagiaan”?

Apa gunanya harta? Apa gunanya makan-minum? Apa gunanya menuntut ilmu? Apa gunanya menikah? Apa gunanya beramal sholeh dan mengerjakan amaliah wajib juga sunnah? Jawabnya adalah: Semua itu hanyalah alat, semua itu adalah jalan, semua itu adalah kendaraan untuk menggapai kebahagiaan hakiki dan abadi yang akan kita dapatkan kelak dari-NYA!

لِّلَّذِ ينَ أَحْسَنُو اْ فِى هَٰذِهِ ﭐلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُﭐ ْلأَخِرَ ةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ ﭐلْمُتَّقِينَ

Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.(Q.S. An – Nahl (16): 30)

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ، حَيَوٰ ةً طَيِّبَةً صلى

Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.(Q.S. An Nahl (16): 97)

وَﭐبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَٰكَ ﭐللَّهُ ﭐلدَّارَ ﭐْلأَخِرَةَ ۖ وَلاَ تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ﭐلدُّ نْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (Q.S. Al – Qoshshosh (28): 77)

Janganlah kita pernah memutarbalikkan fakta bahwa semua “tuntutan kebahagiaan” ini hanyalah alat, jalan dan kendaraan. Alangkah lucunya apabila kita hanya menyebutkan makan untuk menyambung hidup, kita belajar agar mendapat pekerjaan dan gaji yang baik, kita menikah hanya untuk meruntuhkan syahwat dan lainnya. Jika itu yang terjadi, maka “tuntutan kebahagiaan” berikutnya akan selalu datang dan menuntut takkan pernah habisnya. Apakah kita akan terus mengejar untuk membeli mobil merek tertentu? Apakah kita akan terus mengejar IPK tinggi sampai harus menambah umur kuliah? Apakah kita akan terus mengejar seseorang karena hanya orang itu yang kita yakini bisa membuat kita bahagia? Sampai kapan?

Alloh SWT., berfirman:

…فَمَا مَتَٰعُ ﭐلْحَيَوٰةِ ﭐلدُّ نْيَا فِى ﭐْلأَخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ

Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.(QS. At – Taubah: 38)

Jika “tuntutan kebahagiaan” itu dijadikan tujuan bahkan tujuan akhir bukan sebagai sarana, maka hidup ini layaknya diisi oleh obsesi semu belaka. Padahal bukankah tujuan akhir kita adalah ridho-NYA akan Jannah yang dijanjikan-NYA? Stress, ketakutan, depresi, tangis akan datang apabila semua tujuan “tuntutan kebahagiaan” tidak kita peroleh. Mungkin, kata bersyukur itu telah hilang dalam benak kita, mungkin kita lupa untuk melihat ke bawah, mungkin kita tidak melihat kanan – kiri, atau mungkin kita telah melupakan Alloh SWT., dan Rosul-NYA dalam mengejar kebahagiaan?

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍمِّنَ ﭐلْخَوْفِ وَﭐلْجُو عِ وَنَقْصٍ مِّنَﭐ ْلأَمْوَٰ لِ وَﭐ ْلأَنْفُسِ وَﭐلثَّمَرَٰ تِ ۗ وَبَشِّرِﭐ لصَّٰبِرِ ينَ (١٥٥) ﭐلَّذِينَ إِذَ آ أَصَٰبَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰ جِعَُونَ (١٥٦) أُوْلَٰۤئِكَ عَلَيهِمْ صَلَوَٰ تٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُوْلَٰۤئِكَ هُمُ ﭐ لْمُهتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. Al Baqoroh (2): 155 – 157)

Jawaban untuk ini telah dijawab-NYA juga dalam Al – Qur’an:

ﭐلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُو بُهُمْ بِذِكْرِﭐللَّهِ ۗ أَلاَ بِذِكْرِ ﭐللَّهِ تَطْمَئِنُّ ﭐلْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh-lah hati menjadi tenteram. (Q.S. ArRo‘du (13): 28).

Betapa sempurnanya Alloh SWT., menurunkan risalah Islam lewat Rosul SAW., saudaraku. Semua tingkah laku kita dalam mencari kebahagiaan telah diarahkan dan diatur-NYA kepada tuntutan kebahagiaan hakiki; yaitu mendapat cinta, ridho dan ampunan-NYA dalam jalan Islam. Gelar tambahan terakhir bagi para almarhum – almarhumah adalah Khusnul Khotimah. Allohu Ghoyatuna! Alloh SWT., tujuan kami! Amien!

Wallohu A’lam.

Wassalamu’alaikum Wr., Wb.

[Ibunda Aisyah RA., berkata: “aku sangat bahagia karena aku dilahirkan dalam keadaan Islam, Ayah dan Ibuku telah memeluk Islam sebelum aku lahir”].

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 19 May 2011 in Hadits, Islam, Muslimah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s