RSS

Memilih Teman ala Abu Hurairoh RA.

13 May

Abu Hurairoh RA. Bernama asli Abdus Syams, setelah mengucapkan dua kalimat syahadat namanya diganti Rosululloh SAW., menjadi Abdu Rohman. Sahabat Nabi SAW., yang satu ini dikenal sebagai periwayat hadits terbanyak, padahal layaknya Rosul SAW., kekasihnya setelah Ar – Rohman, beliau adalah seorang yang ummi – tidak bisa baca tulis.

Abu Hurairoh RA., lahir di Yaman, masa kecilnya dihabiskan sebagai penggembala kambing. Beliau masuk Islam lewat hasil dakwah Thufail bin Amr Ad – Dusy. Alloh Ar – Rohman memberinya kenikmatan berupa daya pikir yang sangat kuat, sehingga tidak aneh beliau menjadi periwayat hadits terbanyak. Adalah Abdullah bin Amru bin Ash RA., yang menjadi periwayat hadits nomor 2 terbanyak (dalam versi ulama lain, Ibunda Aisyah RA., adalah periwayat hadits ke-2 terbanyak). Beda antara Abu Hurairoh RA., dengan Abdullah bin Amru bin Ash RA., adalah pada bagaimana cara penyimpanan hadits Nabi SAW. Selain menghapal hadits, Abdullah bin Amru bin Ash RA., juga menuliskannya dalam mushaf, sedangkan Abu Hurairoh RA., hanya menyimpannya dalam memori ingatannya.

Lantas mengapa Abdu Rohman dikenal dengan nama Abu Hurairoh? Pada suatu ketika Rosul SAW., sedang mendidik para sahabat – sahabat tentang risalah Islam, Rosul SAW., melihat ada sesuatu yang bergerak – gerak dari balik lengan pakaiannya. Ketika Rosul SAW., menanyakan apa yang berada dan bergerak – gerak dari balik lengan pakaiannya, Abdu Rohman mengeluarkan seekor anak kucing. Melihat anak kucing tersebut, Rosul SAW., tersenyum dan memberinya gelar Abu Hurairoh, yang artinya “Bapak para Kucing.” Ya, kucing adalah hewan kesayangan Abu Hurairoh RA., beliau senang sekali bermain – main dan menggendong kucing – kucing.

Abu Hurairoh, tidaklah mendapat predikat periwayat hadits terbanyak pertama hanya dengan mengikuti bimbingan Islam setelah sholat kepada para sahabat seperti yang dilakukan Nabi SAW. Abu Hurairoh layaknya siluet bayangan Rosul SAW., karena kemanapun kaki Rosul SAW., melangkah, kesanalah kakinya dilangkahkan selalu terjaga tidak mengikuti kesenangan duniawi. Beliau sering mengikuti Rosul SAW., untuk bersama mendirikan Qiyamul Lail, tidak heran beliau juga sampai tertidur di depan pintu rumah Nabi SAW. Subhanalloh, kecintaan yang luar biasa kepada Junjungan Alam dan pemberi syafa’at semua manusia kelak yang tetap istiqomah di jalan yang diridhoi-Nya.

Tentu saja kaki Rosul SAW., sering menyentuh kakinya ketika hendak berangkat sholat ke masjid, saat itu pula Abu Hurairoh langsung bangun dan mengikuti kekasihnya tersebut tanpa banyak tanya dan ikut sholat. Pernah suatu ketika, Abu Hurairoh menahan laparnya perut yang belum diisi sampai beliau tidur memeluk mimbar masjid. Para sahabat lain yang melihatnya, menganggapnya telah menjadi gila ataupun berhalusinasi karena laparnya perut. Mendengar itu Rosul SAW., mendatangi sahabatnya tersebut dan memanggilnya. “Labbaik Ya Rosul”, jawab beliau. Rosul SAW., mengajaknya ke rumahnya dan tanpa bertanya apa – apa lagi beliau mengikutinya, ternyata sesampainya di rumah Nabi SAW., beliau diberi semangkuk susu.

Kecintaannya pada Rosul SAW., sangatlah luar biasa. Beliau pernah menghamparkan surbannya (versi riwayat ulama lain menyebutkan jubahnya) untuk menjadi alas duduk Nabi SAW., sampai akhirnya Rosul SAW., bermunajat pada Alloh SWT., untuk memberikan kenikmatan memori yang kuat padanya karena keinginan Abu Hurairoh untuk mendalami hadits. Pernah pula pada suatu ketika, Rosul SAW., mengacungkan tongkat kepadanya. Melihat hal tersebut beliau tertawa dan berkata, “dipukul Rosul lebih aku sukai daripada setumpuk kekayaan.” Sebagai wujud kecintaannya pada Nabi SAW., di akhir hayatnya Abu Hurairoh RA., menjadi rujukan para sahabat dan tabi’in untuk bertanya dalam hal hadits dan sunnah, juga beliau pulalah yang menjadi imam sholat jenazah untuk Ibunda Aisyah RA.

Subhanalloh wa bihamdihi.

Saudaraku Muslim wal Muslimah. Pelajaran mencari teman dan berteman dari Abu Hurairoh RA., ini benar – benar berharga. Betapa tidak? Di tengah kehidupan akhir zaman ini, di zaman – zaman yang benar – benar sulit untuk memegang berpegang pada sunnah, yang disebutkan Rosul SAW., layaknya memegang bara api, yang namanya teman dan berteman menjadi hal yang sering kita kesampingkan.

Berkacalah pada diri ini, bahkan pada kaca yang buram sekalipun, bagaimanakah tipikal kita dalam mencari teman dan berteman? Seberapa seringkah kita mengikuti dan mengajak teman kita untuk meniti jalan-NYA? mendatangi kajian agama, menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, ingat mengingatkan dalam hal kebaikan takwa dan sabar, yang Insya Alloh lebih diridhoi-NYA. Sayang sekali, di masa ini, di masa sulitnya memegang sunnah Nabi SAW, banyak diantara kita yang anehnya lebih menyukai dan mengikuti perilaku orang – orang di luar Dien ini sebagai pilihan.

Sadarkah? Kita lebih sering mengikuti perilaku mereka, mungkin karena bisa melupakan kesendirian, tangisan dan kesedihan, sehingga diambillah jalan semu yang temporer itu. Mendatangi karaoke, acara tahun baru Masehi, bioskop, konser musik, ghibah, mengikuti cara berbicara, berpakaian, bangga untuk memanggil dan menjadikan mereka sebagai brother & sister, lebih memilih membantu mereka, lebih memperhatikan mereka, bahkan mengiyakan pemahaman konsep ke-Tuhanan mereka karena semboyan “kasih untuk sesama” dan “Tuhan kita satu, jalan kita saja yang berbeda.” Naudzubillahi min dzaalik. Semua hijab, Izzah dan Iffah seakan – akan luntur demi kesenangan duniawi, juga atas dasar alasan “Teman”. Sadarilah itu saudaraku. Biarpun kita memang telah menjadikan mereka sebagai target syi’ar dakwah kita, janganlah sampai budaya mereka kita bawa dan ikuti juga dalam kehidupan sehari – hari.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Alloh supaya kamu mendapat rahmat.”(Q.S. Al Hujurot (49): 10 )

“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.”(HR. Al Bukhori dan Muslim)

Wallohu A’lam.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 13 May 2011 in Hadits, Islam

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s